life

22

Beberapa hari yang lalu saya genap berusia 22 tahun. Rasanya sungguh ajaib bahwa ternyata saya masih bisa terus lanjut sampai hari ini sebab beberapa tahun yang lalu sekitar dua minggu sebelum ulang tahun ke 17, saya pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan menenggak lotion nyamuk rasa jeruk.

Ada banyak hal yang membuat saya melakukan hal tersebut. Yang paling utama adalah saya takut dengan usia 17 tahun. Saya takut dengan sebuah tanggungjawab. Saya takut dengan masa depan, tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana. Masalah lain yang membuat saya semakin berani melakukan hal tersebut karena saya memiliki masalah keluarga yang cukup pelk, untuk pertama kalinya saya jadi ranking 2 di kelas (iya cuma turun 1 ranking saja tapi sudah stress), dan saya masih dihantui mantan pacar saya yang cukup posesif.

Saat usia 16 tahun saya pernah pacaran dengan seseorang yang cukup sakit dan meninggalkan trauma yang cukup membekas hingga saat ini. Saat akhirnya bisa lepas, rasanya senang sekali. Tapi rupanya ia tidak tinggal diam. Masih kerap mengejar saya dan membuat ketakutan. Parahnya, ketika itu saya tidak pernah berani untuk cerita pada siapapun.

Karena gabungan beberapa masalah dan ketakutan itulah saya memutuskan untuk mengakhiri hidup. Kala itu saya tidak takut dosa, masuk neraka atau hal-hal sejenis itu. Saya hanya ingin berlari. Menyudahi semua ketakutan dan rasa sakit karena merasa sendiri dan tidak mampu melewati. Menenggak lotion nyamuk saya pilih karena kala itu saya memiliki pikiran tidak ingin menyakiti tubuh fisik saya.

Mental dan hati saya sudah sakit dan tidak saya rawat dengan baik, saya tidak ingin melakukan hal yang sama untuk fisik saya. Menenggak lotion nyamuk juga saya pilih karena beberapa bulan sebelumnya, tetangga saya ada yang melakukan hal serupa juga karena masalah cinta yang cukup pelik dan ia memutuskan mengakhiri rasa sakit dengan menenggak anti nyamuk tapi versi cair. Saya memilih yang berbentuk lotion karena waktu itu saya sudah tidak memiliki waktu lagi untuk membeli dulu yang versi cair. Jadi saya memilih yang berbentuk lotion. Yang ada di kepala saya hanya satu: ini sama-sama anti nyamuk dan racun, jadi pasti bakal mati.

Proses eksekusi terjadi pada suatu hari Minggu sore yang sepi. Hanya ada saya di rumah. Saudara dan keluarga sedang bepergian dan memiliki aktivitas masing-masing. Saya melakukan eksekusi di kamar, langsung saya minum dua bungkus lotion nyamuk rasa jeruk. Saya ingat bahwa rasa panas langsung terasa sampai membuat telinga perih ketika pertama kali lotion tersebut menyentuh lidah. Setelah itu hitam. Saya pingsan dan baru tersadar empat hari kemudian.

Yang pertama kali saya rasakan ketika tersadar adalah sensasi rasa super panas di perut. Bukan panas seperti kalau terlalu banyak makan pedas. Tapi panas yang benar-benar seperti akan meledak. Lalu yang kedua adalah rasa haus tak terperi. Tenggorokan rasanya perih, panas tapi juga kering dehidrasi seperti sudah lama sekali tidak kena air. Dan yang ketiga adalah rasa perih di lidah, hidung dan telinga disusul dengan sensasi aroma Jeruk yang aneh. Ketika saya membuka mulut, menyeka hidung, menguap dan mencoba bersuara, aroma jeruk memabukkan langsung menguar hebat dan membuat saya pusing dan mual.

Saya menandai bahwa masa setelah saya siuman adalah salah satu masa terrrrrrrr terrrrr dalam hidup saya. Saya kurang suka buah Jeruk. Tapi karena tragedi itu, setiap saya mau beraktivitas apapun (bahkan buang air) jadi bau jeruk! Yang paling epik sih pas saya coba makan, Makanan pertama yang saya konsumsi kala itu adalah telur balado pedas dan nasi putih hangat. Tapi ketika saya coba makan, rasa pedasnya hilang malah berganti jeruk. Pokoknya dulu saya bingung banget setiap merasa lapar atau haus. Soalnya yang masuk mulut semua jadi rasa jeruk dan menimbulkan rasa mual.

Drama jeruk ini baru bisa hilang selama hampir seminggu kemudian dengan bantuan banyak cairan pencuci mulut dan sikat gigi tak terhitung berapa kali dalam sehari. Tidak ada satu pun pihak keluarga saya mengetahui tentang ini. Pada saat saya tidak sadarkan diri hingga empat hari, kebetulan orang rumah tidak ada semua. Ada satu orang rumah tapi mengira saya pergi. Kebetulan beliau tidak main atau mampir ke kamar saya juga jadinya tidak tau. Sampai kini kisah ini juga tidak saya ceritakan kepada keluarga. Malu.

Tapi pihak sekolah dan beberapa teman saya tau. Soalnya saya sempat dipanggil wali kelas karena saya membolos lebih dari tiga hari. Waktu saya menghadap wali kelas saya dulu, entah kenapa saya langsung jujur dan cerita semua. Padahal tadinya saya mau alasan ada acara keluarga atau apa gitu. Tapi guru saya sudah curiga juga sih soalnya badan saya bau lotion nyamuk rasa jeruk banget. Saya ingat sekali saat saya cerita sambil menangis, guru saya menatap saya dengan pandangan campuran ingin tertawa, marah, heran dan berbagai ekspresi lainnya. Ketika saya selesai cerita, kepala saya langsung dipukul meledek dan saya dipeluk.

”Jangan ulangi lagi” begitu katanya dulu.

Karena takut saya masih belum stabil dan mengulangi lagi, wali kelas saya memanggil dua teman yang menurut beliau sangat dekat dengan saya. Sejak dulu saya tidak memiliki teman sekelas yang benar-benar dekat, saya kaget kenapa guru saya tersebut memilihkan dua orang itu sebagai orang yang menurutnya dekat dengan saya. Reaksi dua orang tersebut setelah dipanggil dan diceritakan kisah saya sangat ajaib. Mereka berdua memarahi, memukul dan malah meledek menyumpahi padahal hubungan kami bertiga tidak dekat-dekat amat.

”kenapa gak mati sekalian aja lo?” begitu kata mereka dulu dengan nada gemas dan kesal yang sampai sekarang masih selalu membuat saya malu sendiri dan menimbulkan perasaan hangat di dada kalau mengingat.

Saya tidak tau apa saja yang disampaikan wali kelas saya pada dua orang itu. Tapi kini dua orang tersebut menjadi sahabat baik saya hingga saat ini. Bersama mereka, saya tidak lagi merasa sendiri. Bersama mereka, saya tidak lagi ingin berlari, melakukan percobaan bodoh dan konyol yang membahayakan diri. Bersama mereka, saya ingin hidup lebih lama lagi.

***

Sudah hampir lima tahun berlalu sejak kasus itu terjadi. Pada setahun pertama menuju usia 18 tahun, kadang pikiran ingin mengakhiri hidup masih kerap hadir. Beberapa kali saya juga masih suka menulis ”ingin mati” ketika menulis curhatan di buku diari. Tapi seiring berjalannya waktu dan banyaknya orang baru yang saya kenal dan temui, keinginan untuk mengakhiri hidup sudah tidak hadir lagi.

Ada banyak kegiatan yang saya lakukan setelah tragedi itu terjadi. Saya mengawali dengan mencoba membuka diri pada orang lain, mencoba menjalin hubungan pertemanan dengan beberapa orang. Saya mencoba untuk berani jatuh cinta lagi dan melakukan keberanian menyatakan penolakan ketika mantan pacar saya yang sakit masih menghantui. Kalau mengingat itu kadang saya suka kagum dan suka tidak percaya kalau saya ternyata bisa dan berani untuk bersuara.

Setelah tragedi itu, saya mencoba banyak aktivitas baru. Ikut berbagai komunitas hobi, membaca banyak buku, menonton banyak film, belajar menekuni kegiatan memotret, mencoba menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga, bertemu banyak orang dengan berbagai macam latar belakang pendidikan, budaya dan usia yang berbeda. Dan yang terakhir saya lakukan dan membuat saya menjadi ingin terus bertahan hidup: saya akhirnya melanjutkan kuliah.

Keinginan ingin mengakhiri hidup masih saya rasakan ketika saya tamat sekolah dan terpaksa tidak lanjut karena keterbatasan biaya dan juga saat mendapati bahwa dunia kerja ternyata begitu menyeramkan. Tapi untung saya segera mendapat atasan yang menyenangkan meski pekerjaannya masih membuat pusing.

Dari beberapa kali pindah kerja, saya jadi menyadari bahwa atasan dan rekan kerja yang menyenangkan jauh lebih penting dari jenis pekerjaan yang kamu lakukan. Atasan dan rekan kerja saya yang sekarang sangat baik dan mendukung perkembangan saya. Karena hal ini, beban kerja yang berat kadang jadi tidak terasa soalnya malah timbul motivasi ingin terus hidup dan memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Apalagi ketika saya akhirnya sudah memiliki biaya untuk kuliah dan atasan saya mendukung dengan baik. Rasanya jadi ingin terus hidup.

***

Beberapa minggu lalu sebelum saya ulang tahun ke 22, saya pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Saat melewati etalase pelengkap rumah tangga, saya tertegun saat melihat bahwa kini anti nyamuk rasa jeruk yang pernah saya pakai itu kini memiliki versi cair dalam kemasan spray. Sejak tragedi itu kebetulan saya berhenti menggunakan berbagai macam anti nyamuk, takut kalau suatu hari kalap. Jadi pas menemukan varian baru tersebut, saya langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai membuat beberapa pengunjung supermarket di sekitar menatap ke arah saya dengan heran.

capture-20180622-123337

Saya memutuskan untuk membeli anti nyamuk berbentuk spray tersebut. Setelah sampai rumah, segera saya potret dan kirim melalui pesan ke sahabat saya. Responnya luar biasa, salahs satu sahabat saya langsung melakukan panggilan telepon karena mengira saya akan mengulangi tragedi itu lagi hhhhhh. Setelah ia puas memarahi saya karena membuat dia kaget, kami akhirnya malah tertawa puas menertawakan kebodohan yang pernah saya lakukan kala itu. Saat teman saya menutup telepon, ia sempat mengancam,

”awas kalau habis telepon ini mati trus lo ikutan mati”

Yang membuat saya mau tidak mau jadi tersenyum sangat lebar. Tuhan, saya beruntung sekali masih diberi kesempatan hidup.

Setelah hari itu, banyak sekali hal ajaib yang terjadi pada hidup saya. Banyak juga masalah lain yang tidak kalah berat dari masalah dulu. Tapi ternyata saya bisa melalui semuanya dengan baik. Kalau ada satu masalah yang sudah beres, kadang saya kerap membatin, kenapa dulu kok rasanya bodoh banget ya pengen lari dan mengakhiri hidup? hh. Tapi di satu sisi, kadang saya sedikit bersyukur karena saya pernah melakukan percobaan bunuh diri itu.

Soalnya setelah tragedi itu, saya jadi lebih terbuka pada orang lain. Saya juga tidak malu menceritakan ini pada orang-orang. Tapi tetap sih masih saya rahasiakan ke pihak keluarga. Tidak siap dengar reaksi mereka soalnya meski sudah berlalu. Cerita ke keluarga takut tapi cerita ke kenalan atau orang asing malah berani. Kadang malah suka saya jadikan trivia dan bahan obrolan gitu. Saya tau ini agak bodoh. Hal memalukan gitu kok ya malah diumbar. Tapi saat melihat orang yang mendengar cerita saya tertawa lepas dengan tatapan tak percaya bahkan tanpa sadar malah membuat mereka jadi ceria, saya malah jadi bersyukur karena pernah melakukan kebodohan itu. Tragedi saya bisa membawa tawa untuk orang lain. Dan, hei, bukannya memang tragedi, hal bodoh dan memalukan yang sudah pernah kita lakukan itu memang harusnya kita tertawakan ya? Iya, harus kita tertawakan. Kita tertawakan dan tutup dengan rasa syukur karena ternyata masa itu sudah berlalu dan ternyata kita bisa melaluinya dengan baik.

Tapi bukan berarti saya jadi merekomendasikan untuk melakukan percobaan bunuh diri juga ya, hhh, jangan!

Belajarlah untuk berani terbuka pada orang lain. Jangan takut untuk membuka diri, meminta pertolongan dan mulai bercerita. Akan selalu ada orang yang bersedia menyediakan waktunya untukmu.

Jangan menyerah, yang menunggu di depan sana itu hal-hal yang menyenangkan. Terus berjalan.

***

Sudah hampir lima tahun berlalu sejak hari itu. Sudah tidak lagi takut dengan usia 17 tahun. Sekarang sudah tidak lagi bisa disebut sebagai anak kecil. Sekarang sudah mencoba banyak masalah lain yang jauh lebih serius dan berat dari masalah yang dulu terasa sangat berat.

Tidak banyak yang saya pinta pada usia baru ini.

Kepada Maila yang beberapa hari lalu tepat berusia 22,

Semoga di usia baru ini, kamu terus diberi nikmat sehat dan kekuatan untuk terus selalu berjalan. Banyak petualangan ajaib yang menunggu di depan sana. Saya yakin, seperti yang sudah-sudah: kamu pasti bisa melaluinya dengan baik.

Menjadi dewasa itu sulit, maka jalanilah dengan penuh rasa riang gembira dan ceria. Sesekali menangis tak apa, menangis terus juga tidak masalah. Tidak ada yang salah dengan mengeluarkan semua perasaan yang kamu miliki dan rasakan. Menangis bukan tanda kamu lemah. Berani mengeluarkan apa yang kamu rasakan bukan suatu kesalahan.

Menjadi dewasa itu tidak pernah mudah. Hidup itu keras dan akan ada banyak terus cobaan dan petualangan dengan level-level baru yag terus menunggu di depan sana. Selalu ingat untuk terus bersyukur dan berusaha untuk memberikan yang terbaik.

Beranjak dewasa itu sulit,
maka kamu harus riang dan gembira menjalaninya.

Kamu pasti bisa.

Advertisements

Mendadak Menonton Konser Adhitia Sofyan #IfYouStayIWillStay Jakarta

Saya sudah mengetahui Adhitia Sofyan sejak SMP. Teman sebangku saya dulu sangat menggilai beliau. Tapi kala itu saya belum ikut terjebak dan suka. Soalnya dulu menurut saya lagunya terlalu ”hadeh” dan tidak cocok dengan image tomboy dan rebel yang saya miliki wqwq.

Yang saya ingat, saya pernah menonton mas Adhit ini tampil secara langsung di sebuah pensi SMA yang pernah saya datangi. Kala itu mas Adhit sedang menyanyikan lagu Blue Sky Collapse. Walaupun tidak menikmati dengan baik, tapi saya ingat bahwa hampir seluruh penonton yang hadir di pensi itu sangat menikmati dan ikut menyanyikan bersama lagu itu dengan khidmat. Saya sih tidak terlalu terbawa suasana banget. Apalagi setelah lagunya selesai, idola saya langsung tampil. Jadinya saya tidak terlalu mikirin penampilan mas Adhit.

Empat tahun kemudian, saya mengenal dan menyukai seorang pria. Ia cukup tertutup. Ia memasang tembok yang tinggi sekali di sekitar dan membuat saya penasaran, sebenarnya apa yang ia coba sembunyikan. Saya mencari tahu tentang pria tersebut dan suatu hari saya menemukan blog yang sepertinya ia tulis di awal tahun pertama bekerja. Setelah saya menyelam sampai pos pertama, saya menemukan sebuah tulisan yang membuat saya tertegun.

capture-20180224-094631

Sejak membaca itu, saya langsung mencari tau tentang Adhitia Sofyan, mengunduh, mendengar dan mulai membayangkan. ”apa yang ada di pikirannya ya ketika mendengarkan lagu ini? Memori apa ya yang ia punya dan memiliki hubungan dengan lagu ini?”

Banyak, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang terlintas di kepala saya tapi tak ada jawaban yang tersedia karena saya tak berani untuk bertanya secara langsung dan karena ia sulit untuk saya jangkau. Hari itu, Blue Sky Collapse juga resmi menjadi lagu kesukaan saya.

***

Bulan berganti, hubungan kami tidak bisa dikatakan menjadi lebih baik atau memburuk. Ia masih memasang tembok tinggi pun mendorong saya mundur begitu jauh ketika saya mencoba mendekat. Dan saya masih kerap mendengar lagu Adhitia Sofyan satu atau dua kali.

Sampai suatu hari pria itu menghilang. Ia menghilang begitu saja, tanpa kabar dan pemberitahuan. Sebenarnya ini hak dia juga sih. Toh diantara kami memang tak ada hubungan yang spesial. Sayanya saja yang terlalu berlebihan bereaksi dengan kepergiannya. Tapi yang jelas sejak kepergian tersebut. saya merasakan sakit, perih, dan ngilu tak terkira.

Saya masih setia menunggu ia kembali dari balik tembok tinggi yang sempat ia buat. Masih setia. Hingga suatu hari, ada beberapa ”orang” baik yang datang menghampiri saya yang selalu setia menunggu sosoknya tiba. Orang-orang baik ini niat awalnya hanya menyapa iseng saja. Tapi entah bagaimana, seiring berjalannya waktu ada beberapa orang baik yang menjadi istimewa bagi saya. Dan saya menyadari bahwa kini saya tak lagi setia menunggu dibalik tembok. Bahkan pernah saya hanya sklebat menatap saja, tak lagi penasaran menunggu kedatangannya.

Beberapa waktu lalu Adhitia Sofyan membuat pengumuman di akun instagram miliknya bahwa ia akan membuat konser terbatas di Jakarta. Walaupun saya tidak terlalu suka banget, entah kenapa saya langsung segera membeli tiket tanpa pikir panjang. Yang saya ingat, Februari adalah bulan pertama saya berkenalan dengan pria yang menghilang tersebut, dan ini sudah masuk tahun ketiga saya menunggu tanpa tahu apa yang sebenarnya saya tunggu.

Saya ingin semua ini berakhir.

Capek.

Dan menonton konser Adhitia Sofyan saya jadikan sebagai titik permulaannya.

***

Konser #IfYouStayIWIllStay dilaksanakan di IFI Thamrin. Penonton terbatas hanya 100 orang dengan harga tiket Rp100.000,- untuk durasi konser selama sekitar 100 menit. Yang menarik, konser ini membuat aturan bebas pilih kursi. Jadi semakin cepat kamu datang, kamu bisa memilih tempat nonton di depan.

20180224_095328-COLLAGE

Saya datang cukup awal, pukul 17.07 WIB, 7 menit pertama setelah penukaran tiket dibuka. Saya memilih kursi nomor L13, baris kedua di depan. Saat penukaran tiket, pengunjung juga dapat bracelet manis buatan dari Mahde Craft, saya dapat bracelet cantik dengan kombinasi warna kesukaan saya: hijau kebiruan – biru navy dan coklat khaki. Suka banget <3.

Pukul 19.00 WIB penonton sudah boleh masuk tapi konser baru mulai pukul 19.30. Posisi duduk saya ternyata asem. sebelah kanan saya, L11-L12 adalah pasangan, sebelah kiri saya, L14-L15 juga pasangan. Yang lebih apes, kanan dan kiri saya sama-sama pria hhhhhh. Ambyar banget, salah pilih tempat duduk.

Saya tak memiliki ekspetasi apapun ketika menunggu mas Adhit muncul. Konser terakhir yang saya datangi itu konsernya Silent Siren 2016 lalu dan Konser Believe tim K3 JKT48 tahun 2017. Keduanya saya tonton dengan berdiri dan jenis musiknya asik buat goyang. Sementara konser ini saya saksikan dengan posisi duduk, lagunya termasuk pelan dan baper. Saya jarang menonton konser dengan jenis musik seperti ini. Jadi sambil menunggu mas Adhit, saya mencoba untuk relaks dan tidak membayangkan yang macam-macam biar bisa menikmati dengan baik.

Dan ketika mas Adhit membuka konser dengan lagu How To Stop Time, airmata saya langsung mbrebes ra karuan. Taaeeeeeeeeeeeee T_T </3

Masuk lagu kedua yaitu Forget Jakarta, ingus saya makin mbleber deras. Saya ingat bahwa saya benar – benar terisak hebat sampai tak bisa bersuara. Tidak tau dengan jelas sebenarnya apa yang saya tangisi. Rasanya perih, ngilu, kosong, hampa, kangen tapi di satu sisi juga semacam bersemangat dan yakin bahwa saya bisa melalui dengan baik semua ini. Nah, ”Semua ini”nya tu apa tapi gak jelas.

Ugh, saya ingat bahwa saya merasa ngenes banget. Bahu saya benar – benar terguncang hebat trus karena gak ada yang pukpuk, saya jadi mendelep di kursi nangis sendirian. HHHHH, nulis ini bikin nangis lagi. Saya ingat, mas-mas di sebelah kanan saya sempat panik dan menengok tapi setelah itu tak melakukan apapun. Saya merasa tak butuh bantuan juga sih. Ada saputangan yang sudah jadi korban peperan umbel dan airmata mbuh gak jelas nangisin apa.

Kampret bener emang.

Dan blas.

Lagu ketiga beralih menjadi sedikit ceria (dan saya tidak tau itu judulnya apaan), saya mulai lebih tenang dan rileks. Saya kemudian tersadar, saat menangis tadi saya sempat membayangkan, seandainya pria yang pergi ini menonton konser ini juga, ekspresi macam apa yang akan ia buat ya?

Dan saya menangis karena tak bisa membayangkan.

Selesai lagu ketiga, mas Adhit mulai menyapa sejenak penonton. Saya banyak ketawa karena ternyata, duh, mas Adhit ramah dan lucu bangeeett. Dan wes, sampai konser berakhir saya lebih banyak tertawa dan sesekali ikut bernyanyi bersama. Sempat menangis juga sih di beberapa lagu selanjutnya: In To You, Midnight, Sesuatu di Jogja dan Secret Kode.

Tapi bukan tangisan sedih, tangisan bahagia.

Bukan lagi pria itu yang langsung terlintas di kepala saya ketika mendengar lagu-lagu tersebut.

Puncaknya adalah saat mas Adhit membawakan lagu terakhir, Blue Sky Collapse. Saya ikut menyanyikan lagu tersebut sambil tertawa dan sedikit mengeluarkan airmata bahagia. Saya mengingat pria itu, mengingat kenangan baik yang pernah terjadi antara kita sambil perlahan mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih.

Ketika Blue Sky Collapse berakhir, saya ingat bahwa saya merapal doa perlahan yang saya ucapkan tulus dari dalam hati: selamat tinggal, terima kasih.

Selamat tinggal untuk tiga tahun masa penantian yang sungguh menyenangkan. Saya banyak belajar dan tertawa pada masa itu, meski lebih banyak tanda tanya kebingungan karena saya tidak tau sebenarnya sedang berbuat apa.

Selamat tinggal, terima kasih. Terima kasih karena telah mengizinkan saya menunggu di balik tembok yang sudah kamu buat. Karena tembok itu saya jadi bisa menunggu dengan tenang tanpa takut panas dan tanpa sengaja bertemu banyak orang lain yang jauh lebih menyenangkan. Orang – orang ini baik. Mereka membuka pandangan saya pada dunia, mereka membuat saya untuk kembali bersemangat melanjutkan hidup, terus berjalan dan bukannya malah berkubang dengan obsesi serta penantian yang tidak jelas tujuan pastinya.

Terima kasih, selamat tinggal.

Bersamaan dengan tulisan ini saya buat, saya ingin melepas kamu dengan tenang dan nyaman. Saya ingin jatuh cinta dan belajar dengan orang lain: yang lebih menghargai dan mengajak saya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Selamat tinggal, terima kasih.

***

IMG_20180223_195449_993

Saya membuat tulisan ini sambil mendengarkan lagu – lagu mas Adhit. Dan di beberapa lagu, saya sudah mulai bisa tertawa dan membayangkan orang lain. Di beberapa lagu yang bertema sedih saya malah bereaksi dengan tertawa: membayangkan kalau saya nonton versi langsung, mas Adhit akan membawakan dengan gaya yang seperti apa ya?

#IfYouStayIWillStay adalah konser pertama mas Adhit dan konser pertama yang saya tonton tahun ini. Rasanya menyenangkan. Saat menonton konser tersebut, saya bisa merasakan patah hati dan jatuh cinta lagi dalam satu waktu. Saya berhasil dibuat menangis dan tertawa bahagia dalam waktu singkat. Semacam diberi janji bahwa kalau kamu berani melepaskan, maka kamu pasti akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

Dan saya percaya dengan janji tersebut.

Saya pasti akan menonton bila mas Adhit membuat konser lagi. Mungkin tidak dalam waktu dekat, karena saya ingin kali kedua nanti saya tidak lagi menonton sendiri. Saya ingin menonton bersama orang-orang yang saya sayangi: agar gambarannya lebih jelas, agar saya bisa menatap matanya ketika mas Adhit menyanyikan lagu bahagia atau tertawa getir bersama sambil berpegangan tangan ketika lagu sedih yang mas Adhit bawakan.

Terima kasih mas Adhit. Terima kasih untuk malam yang menyenangkan dan dua jam yang benar-benar berharga meski beberapa lagu kesukaan saya tak dibawakan dan mas sempat lupa lirik di beberapa lagu.

Dan untuk pria itu, saya tidak tau apakah kamu akan membaca tulisan ini atau tidak. Tetapi yang jelas kali ini, saya sudah bisa menikmati Blue Sky Collapse dengan cara lain, bukan dengan ekspresi penuh kerut tanda tanya dan wajah sendu. Terima kasih untuk tahun – tahun menyenangkan.

Ini satu lagu untuk kamu, saya tidak akan lagi menunggu di luar tembok yang telah kamu buat. Saya ingin mencari orang yang akan membuat saya merasa visible, bukan invisible.

Selamat tinggal, terima kasih.

Belajar Membuat Podcast Bersama menyadapsuara

MENYADAPSUARA

Berawal dari iseng, tahun ini saya mencoba untuk membuat sebuah saluran podcast di Soundcloud. Niatnya sendiri sudah ada sejak awal kemunculan Soundcloud. Tapi karena waktu itu saya tidak memiliki peralatan merekam yang memadai, saya hanya bisa menjadi pendengar saja.

Seperti banyak project yang membuat saya tertarik dan membuat saya penasaran, proses pembuatan podcast ini juga terjadi secara spontan tanpa persiapan apapun. Pada suatu sore yang sepi, tiba-tiba saya langsung mengambil handphone, merekam suara, berbicara apa saja dan wuzz, chapter pertama podcast saya sudah terbit.

Sehari setelah podcast tersebut saya unggah, timbul semacam candu dalam diri untuk terus berbicara. Jika sedang berjalan kaki atau dalam keadaan sendiri, kadang tanpa sadar saya jadi suka berbicara sendiri meski tidak saya rekam. Dan beberapa hari kemudian, saya langsung berhasil membuat chapter 2, 3, 4 dan 5 yang semuanya juga lagi-lagi saya buat secara spontan.

Ketika saya menulis ini dan mendengarkan ulang podcast-podcast tersebut, saya jadi belajar bahwa….podcast saya ancur banget xD

Saya paling tidak bisa dan tidak suka untuk membuat daftar rencana terlebih dahulu, sebab biasanya saya malah jadi terfokus kesitu dan malah kurang kreatif. Semacam jadi terkekang. Tapi setelah mendengarkan 5 podcast yang sudah saya unggah, saya menyadari bahwa kali ini saya harus membuat daftar perencanaan yang matang.

Saya harus mulai membuat daftar rencana perihal konten yang ingin saya unggah. Rencana perihal urutan pembahasan, salam pembuka, penutup atau yang lainnya. Saya mulai harus membuat daftar rencana dan riset tentang apa yang akan saya ucapkan dan bahas. Ketika podcast tersebut sudah saya unggah, maka saya harus bertanggung jawab dengan ”isinya”. Meski saya mengatakan saya akan bicara apa saja yang terlintas di kepala, tapi harus ada tanggung jawab, harus ada batasan tertentu juga tentang apa yang harus saya katakan dan rekam.

Selain itu, dulu saya sempat mengira bahwa membuat podcast itu mudah. Tinggal merekam suara dan bicara, selesai. Berbicara jarang sekali menjadi sebuah kesulitan untuk saya karena ya memang saya suka berbicara. Tapi setelah melihat kembali 5 podcast yang sudah tayang, saya menyadari bahwa cara berbicara saya masih memiliki banyak kesalahan.

Saya masih sering menggunakan banyak pengulangan kata, artikulasi saya masih banyak yang tidak jelas, kadangkala saya masih berbicara terlalu cepat dan mungkin akan sulit ditangkap oleh pendengar.

Ternyata untuk urusan kali ini saya tidak bisa ”spontan”. Harus ada rencana yang matang, harus ada rencana yang jelas dan terancang dengan pasti.

Ahahahah, ketika menyadari hal ini, saya benar-benar merasa tersentil. Sebagai orang yang tidak gemar membuat rencana dan cenderung tidak suka patuh pada aturan, kira-kira saya bisa tidak ya untuk melakukan perubahan ini? Tunduk dan taat pada komitmen?

Ketika saya membuat tulisan ini, saya memutuskan untuk berhenti sejenak sampai di chapter 5. Saya mau memikirkan ulang kembali, benarkah saya hanya ingin membuat podcast menyadapsuara ini sebagai kegiatan iseng saja? Maksudnya, saya tidak berharap ini menjadi sesuatu yang wah gitu juga sih. Hanya saja saya tidak ingin membuat podcast yang terlalu ”asal”, setidaknya harus ada manfaatnya gitu lah hhh

Kira-kira saya sanggup tidak ya?

Hhh, kadang saya suka membenci sifat spontan dan asal-asalan yang saya miliki ini 😥

Jika tertarik untuk mendengarkan beberapa podcast yang sudah saya buat, silakan mampir!