life

Belajar Membuat Podcast Bersama menyadapsuara

MENYADAPSUARA

Berawal dari iseng, tahun ini saya mencoba untuk membuat sebuah saluran podcast di Soundcloud. Niatnya sendiri sudah ada sejak awal kemunculan Soundcloud. Tapi karena waktu itu saya tidak memiliki peralatan merekam yang memadai, saya hanya bisa menjadi pendengar saja.

Seperti banyak project yang membuat saya tertarik dan membuat saya penasaran, proses pembuatan podcast ini juga terjadi secara spontan tanpa persiapan apapun. Pada suatu sore yang sepi, tiba-tiba saya langsung mengambil handphone, merekam suara, berbicara apa saja dan wuzz, chapter pertama podcast saya sudah terbit.

Sehari setelah podcast tersebut saya unggah, timbul semacam candu dalam diri untuk terus berbicara. Jika sedang berjalan kaki atau dalam keadaan sendiri, kadang tanpa sadar saya jadi suka berbicara sendiri meski tidak saya rekam. Dan beberapa hari kemudian, saya langsung berhasil membuat chapter 2, 3, 4 dan 5 yang semuanya juga lagi-lagi saya buat secara spontan.

Ketika saya menulis ini dan mendengarkan ulang podcast-podcast tersebut, saya jadi belajar bahwa….podcast saya ancur banget xD

Saya paling tidak bisa dan tidak suka untuk membuat daftar rencana terlebih dahulu, sebab biasanya saya malah jadi terfokus kesitu dan malah kurang kreatif. Semacam jadi terkekang. Tapi setelah mendengarkan 5 podcast yang sudah saya unggah, saya menyadari bahwa kali ini saya harus membuat daftar perencanaan yang matang.

Saya harus mulai membuat daftar rencana perihal konten yang ingin saya unggah. Rencana perihal urutan pembahasan, salam pembuka, penutup atau yang lainnya. Saya mulai harus membuat daftar rencana dan riset tentang apa yang akan saya ucapkan dan bahas. Ketika podcast tersebut sudah saya unggah, maka saya harus bertanggung jawab dengan ”isinya”. Meski saya mengatakan saya akan bicara apa saja yang terlintas di kepala, tapi harus ada tanggung jawab, harus ada batasan tertentu juga tentang apa yang harus saya katakan dan rekam.

Selain itu, dulu saya sempat mengira bahwa membuat podcast itu mudah. Tinggal merekam suara dan bicara, selesai. Berbicara jarang sekali menjadi sebuah kesulitan untuk saya karena ya memang saya suka berbicara. Tapi setelah melihat kembali 5 podcast yang sudah tayang, saya menyadari bahwa cara berbicara saya masih memiliki banyak kesalahan.

Saya masih sering menggunakan banyak pengulangan kata, artikulasi saya masih banyak yang tidak jelas, kadangkala saya masih berbicara terlalu cepat dan mungkin akan sulit ditangkap oleh pendengar.

Ternyata untuk urusan kali ini saya tidak bisa ”spontan”. Harus ada rencana yang matang, harus ada rencana yang jelas dan terancang dengan pasti.

Ahahahah, ketika menyadari hal ini, saya benar-benar merasa tersentil. Sebagai orang yang tidak gemar membuat rencana dan cenderung tidak suka patuh pada aturan, kira-kira saya bisa tidak ya untuk melakukan perubahan ini? Tunduk dan taat pada komitmen?

Ketika saya membuat tulisan ini, saya memutuskan untuk berhenti sejenak sampai di chapter 5. Saya mau memikirkan ulang kembali, benarkah saya hanya ingin membuat podcast menyadapsuara ini sebagai kegiatan iseng saja? Maksudnya, saya tidak berharap ini menjadi sesuatu yang wah gitu juga sih. Hanya saja saya tidak ingin membuat podcast yang terlalu ”asal”, setidaknya harus ada manfaatnya gitu lah hhh

Kira-kira saya sanggup tidak ya?

Hhh, kadang saya suka membenci sifat spontan dan asal-asalan yang saya miliki ini 😥

Jika tertarik untuk mendengarkan beberapa podcast yang sudah saya buat, silakan mampir!

Advertisements

Mendadak ke Bandung, part 1

IMG_20171209_170749

Semua berawal dari lembur pertama kali di kantor baru yang membuat saya jadi ngobrol dengan teman melalui aplikasi LINE sehingga menghasilkan sebuah pertanyaan,

Jadi, sudah mau 2018 dan kamu masih belum main ke Bandung juga?

Yang membuat saya merasa senewen sendiri dan impulsif membeli tiket kereta api Bandung-Jakarta selama tiga hari dua malam setelah pulang lembur. Sebenarnya bukan karena itu juga sih. Setelah selesai lembur, saya sempat diminta pak bos untuk menemani minum. Saya lalu mencoba ikutan minum beberapa teguk dan perasaan saya langsung bebas,,,lepas,,tenang,,,ambyar.. Saya ingat saya sempat merocos beberapa hal ke pak bos yang membuat saya ketakutan ”anjir w minum berapa teguk aja udah kayak gini, apalagi minum satu gelas” hhh. Setelah minum-minum itu mendadak kaki saya bergerak sendiri ke minimarket untuk membeli tiket. Tanpa sadar.

Saya pernah ke Bandung sekali saat SMA. Tidak menginap langsung pulang pada suatu hari Senin naik bus besar khas bus pariwisata. Yang menjadi masalah: itu adalah kali pertama saya naik bus besar lagi setelah hampir lima tahun tinggal di Jakarta. Langsung mabuk ra karuan sampai-sampai saya tidak turun dari bus untuk berkeliling ke tempat wisata saking lemas keseringan muntah.

Kalau ditanya ”Bandung”, yang terlintas di kepala saya adalah ingatan buruk: saya yang memakai tiga lapis jaket + badan bau minyak kayu putih + terbujur meringkuk lemas dan kuyu nyender di jendela bus karena terlalu sering mabuk. Bukan jenis ingatan menarik untuk dikenang hh

Sejak saat itu saya belum pernah lagi main ke Bandung. Kebetulan tidak memiliki saudara yang menetap disana atau punya kenalan/pacar yang minat buat jalan-jalan ke Bandung. Itulah sebabnya saya memiliki keinginan untuk bisa ke Bandung entah itu sendiri atau bersama teman untuk mengganti kenangan buruk saya beberapa tahun silam. Dulu rencananya harus bisa terlaksana sebelum saya berusia 20. Sudah terlewat dan ternyata tak kesampaian sampai akhirnya kemarin teman saya kembali mengingatkan.

***

Saya membeli tiket kelas Ekonomi untuk perjalanan pulang dan pergi. Sebenarnya yang pulang mau beli yang kelas Bisnis tapi setelah dipikir lagi kayaknya bakal sama aja jadi ya keduanya saya pilih kelas ekonomi. Pemilihan tempat duduknya asal. Bahkan yang tiket pulang saya pasrah dipilihkan oleh sistem komputer. Saya berangkat dari Jakarta Sabtu setelah Maghrib dan dijadwalkan sampai Bandung pukul 10 malam kurang 15 menit. Dan yang membuat saya kagum, tumben banget jadwal keberangkatan dan waktu tibanya tepat sesuai jadwal! Benar-benar tepat waktu jam dan menitnya.

Saya hanya membawa sedikit bawaan: 2 baju, 2 pakaian dalam, 2 jilbab, 1 buku tulis dan pulpen, alat mandi dan skincare, charger, 1 totebag dan 1 kamera serta 1 botol minum ukuran 1 liter. Sudah. Saya lupa bawa sarung (saya selalu bawa sarung tiap bepergian. Bisa dipakai buat selimut, solat ataupun rok dadakan hhe) dan sengaja tidak membawa jaket. Saya memiliki alergi dingin dan saya tau Bandung (apalagi menjelang musim hujan) bakalan super dingin. Tapi saya sengaja tidak bawa jaket. Semacam ingin menguji diri saya sendiri untuk menahan dinginnya Bandung wqwq. Saya juga tidak memakai sepatu atau kaus kaki. Hanya pakai celana chino tipis serta sendal gunung. Pakaian yang saya bawa juga yang berbahan katun linen tipis. Meski begitu saya membawa outer sebuah blazer-parka berbahan kanvas gitu (yang sangat tidak membantu karena ukurannya ngatung dan tidak membantu menahan dingin).

Selain karena ditantang teman ”kapan mau ke Bandung udah mau 2018”, alasan lain saya melakukan perjalanan mendadak ini karena pikiran saya juga sedang ruwet galauin hal yang gak jelas. Saya pikir dengan melakukan perjalanan ini mungkin pikiran saya akan sedikit tercerahkan.

***

Ada satu kejadian menarik ketika saya mau berangkat. Jadi tempat duduk saya adalah gerbong Ekonomi A nomor 14B. Waktu saya tanya ke petugas di peron, Ekonomi A adalah gerbong paling ujung. Yaudah saya masuk ke ujung, lalu duduk. Partner sebelah saya adalah seorang mbak muda yang tak banyak bicara dan hanya memberikan sekilas senyum ketika saya duduk di sebelahnya.

Sudah. Kereta mulai jalan. Ketika sampai stasiun Bekasi, kereta berhenti untuk menaikkan penumpang. Tiba-tiba datang pasangan suami istri yang sudah kakek-nenek  dan mengatakan bahwa tempat duduk saya adalah milik si kakek.

”saya pesan bangku no 14 B dan 14 C soalnya mau duduk seberangan sama istri saya. mbak kursinya dimana?”

Dan ternyata setelah diteliti, saya salah gerbong…harusnya gerbong saya itu paling depan hhh.

Asli saya malu tapi juga merasa senang karena si kakek malah mengajak saya bercanda. Beliau juga mengantarkan saya ke gerbong A karena takutnya saya nyasar lagi wqwq. Saya inget banget pas akhirnya sampai dan mulai duduk, beliau menepuk pundak saya pelan mengatakan ”hati-hati ya mbak” setelah itu langsung bergegas kembali. Saya lupa bertanya siapa nama atau kemana tujuannya. Hanya mampu mengucapkan terima kasih dan terdiam sambil malu sendiri.

Di gerbong A ini entah kenapa lebih ramai dari gerbong awal yang salah itu. Kebetulan tepat di depan saya ada anak kecil yang berisik banget nangis mlulu bikin pusing. Saya akhirnya memasang lagu tapi entah kenapa suara berisiknya masih terdengar. Di sebelah saya ada seorang ayah muda yang sedang melakukan video call dengan anaknya. Di depan saya ada balita yang menangis berisik entah karena apa. Samar-samar juga terdengar beberapa obrolan dari gerombolan ibu-ibu muda yang sepertinya habis belanja membahas beberapa hasil buruannya tadi sambil sesekali tertawa di kejauhan.

Hari itu adalah pertama kalinya saya bepergian seorang diri naik kereta api (bukan commuterline). Saya tau bahwa mungkin di gerbong atau di kereta itu bukan hanya saya yang melakukan perjalanan seorang diri. Tapi entah mengapa saya merasa begitu ngenes dan hggg, rasanya seperti ada yang mencungkil dada saya sedikit demi sedikit. Sekitar pukul delapan lewat beberapa menit saya akhirnya tertidur sambil menanggesss.

IMG-20171209-WA0000

Perjalanan macam apa ya yang menunggu saya di depan sana…

***

Ketika tiba di stasiun, gigi saya langsung bergemelutuk ra karuan. ANJEEEERRR DENGEN BANGEEETTT T_T. Saya langsung pakai outer (yang sama sekali gak mempan dan malah makin dingin). Ketika keluar stasiun, ada banyak orang dengan tatapan penasaran dan menunggu dengan cemas. Ada beberapa pasang wajah yang langsung tersenyum ceria ketika orang yang mereka tunggu sudah tiba dan ada juga yang masih sibuk mengamati penumpang kereta yang mengular, mencari sosok yang ditunggu.

Saya ingat dengan jelas perasaan yang saya rasakan malam itu.

Sepi. Sendiri. Bingung.

Anjir gue ke Bandung mau ngapain sih??????????

Hhh, karena bingung dan terlalu ramai, saya akhirnya buru-buru berjalan ke tempat parkir. Benar-benar gak tau mau kemana. Rencana awal saya adalah mau jalan-jalan dulu di sekitar alun-alun untuk melihat kehidupan malam karena menurut peta sepertinya lokasinya tidak begitu jauh. Tapi membayangkan kalau disana bakal ramai ditambah cuaca dinginnya gak nahan seperti ini…saya akhirnya memesan ojek online untuk mengantarkan saya ke penginapan. Tidak sampai dua menit ojeknya langsung datang. Seorang Aa muda pakai motor yamaha Nmax (ya allah gede banget susah naiknya T_T) dengan senyum manis segera mengantarkan saya sampai ke penginapan.

Untungnya malam itu jalanan cukup padat tapi lancar. Jadi motor tidak bisa terlalu ngebut sehingga saya tidak terlalu kedinginan (walaupun tetap bikin gigi saya bergemelutuk hebat). Karena kebetulan lokasi penginapan saya agak susah (di tengah kota tapi akses kesananya muter-muter), supir ojeknya sempat membawa saya untuk melihat sejenak jalanan malam kota Bandung.

Indah. Dingin. Terlihat ramai tapi sepi.

Tidak sampai 15 menit akhirnya saya tiba di penginapan. Begitu sampai saya langsung check-in (baca review lengkap tentang penginapan di sini). Saya menginap di sebuah hostel dan kebetulan ketika saya tiba, di ruang utama ada sekitar 5 orang yang sedang mengobrol dan menonton televisi.

Saya termasuk orang yang senang basa-basi dan bersemangat kenal orang baru. Tapi entah kenapa ketika sudah dapat kunci kamar, saya langsung pamit tanpa perlu repot-repot menyapa beberapa pengunjung yang ada atau mengajak berkenalan mas pemilik hostel itu juga. Sampai di kamar saya langsung ambil perlengkapan mandi, bersih-bersih, pakai skincare malam hari dan langsung tidur sambil menahan dingin dan rasa gatal di kaki yang tiba-tiba kambuh.

Sekitar pukul dua belas malam setelah sempat mengabari beberapa kenalan bahwa saya sudah sampai Bandung dengan selamat, akhirnya saya tertidur. Cukup pulas meskipun sesekali saya menggaruk kaki karena rasanya dingin.

Serius, saya masih tidak tau tujuan saya ke Bandung itu mau ngapain….

Dan saya juga masih belum tau petualangan macam apa yang menunggu saya besok.

Hadehhhhh

Mendadak ke Bandung, part 2

Part 1

***

IMG_20171210_071013

Saya terbangun pukul 5 pagi sebelum alarm berbunyi. Walaupun beberapa minggu lalu pola tidur saya sempat kacau karena tanpa sadar mengikuti pola tidur seseorang, tapi untung hari itu tidak terjadi. Kebetulan saya sedang tidak solat jadi langsung bangun, mematikan alarm dan mulai beberes.

Pemandangan di luar hostel lumayan mendung dan tidak lama kemudian muncul gerimis. Untuk pengalaman lengkap menginap dan review hostel tempat saya menginap bisa dilihat di sini

Suasana pagi dalam hostel cukup ramai. Ada beberapa tamu yang sudah bangun dan mulai ngopi juga ada yang sudah mandi. Selesai beberes saya akhirnya mulai nimbrung. Karena saya jarang suka minum penghangat badan di pagi hari dan kurang bisa sarapan juga, saya hanya mengamati dan sesekali menyimak percakapan yang ada.

Akhirnya saya kebagian juga jadi pihak yang ditanya. Rasanya aneh sudah lama sekali tidak ada yang mengajak ngobrol saya secara langsung untuk mengenal dan basa-basi gini wqwq. Habis biasanya basa-basi dan kenalan lewat media online saja sih. Mahluk asing di internet memang wqwq 😥

Pertanyaan yang diajukan standar sih. Namanya siapa, apakah sendiri, asal darimana tujuannya mau kemana, kuliah atau kerja. Ada beberapa hal menarik dari percakapan ini. Seperti misal mereka langsung bertanya ”saya kuliah dimana” yang bikin saya merasa nganu. Hahhh, saya dikira masih kuliah ya…memang sudah seharusnya kuliah sih ya…

Oiya, pas ditanya asal saya darimana juga membuat saya bingung. Maksud asal ini asal tempat lahir atau domisili saya tinggal sekarang ya?wqwq. Saya sempat mengajukan pertanyaan itu sih dan ketika saya ceritakan bahwa saya asli Yogya tapi sekarang menetap di Jakarta akhirnya malah menimbulkan banyak percakapan baru lagi.

Trus waktu saya bilang kalau ini pertama kalinya saya ke Bandung dan pertama kalinya jalan-jalan sendiri, mereka pada kaget dan tertawa. ”Bandung cuma 3 jam lho dari Jakarta” begitu kata mereka. Mereka juga langsung tidak sungkan memberi saran sebaiknya kemana. Sebagian besar dari mereka menyarankan jalan-jalan ke Lembang atau Kawah Putih atau Bukit Moko. Kebetulan ada rombongan yang mau ke Lembang dan saya diajak gabung. Tapi saya menolak, ”mau keliling kota Bandung dulu aja” begitu jawab saya.

Selain dadakan, sebenarnya saya juga tidak tau ke Bandung mau ngapain aja. Saya bukan tipe orang yang gemar membuat daftar rencana atau hal-hal sejenis itu. Tipe orang yang lebih suka dadakan dan go-show. Mungkin ini juga yang bikin hidup saya gini-gini aja. Saya tidak pernah merencanakan masa depan saya hhhhhhhhhhh

Ada beberapa tempat yang menjadi wishlist sih. Seperti misal Bukit Moko dan beberapa distro buat belanja sepatu dan baju. Tapi tujuan saya saat ini bukan untuk belanja. Mau menenangkan diri sejenak. Jadinya saya mempercayakan saran tempat yang bisa dikunjungi di Bandung dari aplikasi Google Trips. Saya tertarik main ke alun-alun, mengunjungi beberapa taman yang ada di Bandung, ke kebun binatang, ke Babakan Siliwangi dan ke perpustakaan serta toko buku Kineruku. Kita lihat saja nanti jadinya gimana~

***

Semalam saya sempat mengobrol dengan tukang ojek online yang mengantar kalau katanya di Bandung tidak semua jalanan mengadakan CFD. Jadi pada hari minggu angkutan umum masih beroperasi seperti biasa. Tukang ojek itu tidak menyarankan naik kendaraan umum kalau mau keliling kota Bandung. Rutenya muter-muter dan bikin lama di jalan. Beliau lebih menyarankan naik ojek online biar langsung pas ke tujuan atau rental motor. Kecuali kalau saya minat mau ke daerah Lembang dan yang bukan di kotanya. Bisa naik angkot atau DAMRI.

Karena saya tidak punya SIM dan tidak bisa mengendarai motor juga, akhirnya saya 100% mengandalkan ojek online Grab sebagai moda transportasi. Kenapa saya pakai Grab ini murni karena saya cuma install ini ya wqwq. Eh, seingat saya juga seringnya nemu ojek pakai jaket grab sih. Tapi gatau juga ya kalau abang Gojek gak pakai jaket mereka mengingat dulu pernah ada masalah antara supir angkot + ojek pangkalan vs transportasi online.

Yang saya suka dari Grab, dapat supirnya cepat. Tidak sampai satu menit selalu dapat, tarifnya kebetulan selalu Rp8.000/10.000 saja untuk jarak yang lumayan jauh dan cukup muter-muter. Yang nyebelin: dapetnya motor gede terus T_T. Berdasarkan catatan perjalanan, saya naik grab sebanyak 6x. 3x dapat Yamaha NMax, 2x dapat honda CBR yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa dan 1x dapat Honda Vario. Capek euy motor gede gitu naiknya susah trus rasanya awkward wqwq. Kayaknya sih memang di Bandung motornya begini semua karena kontur jalan yang naik-turun(?)

Meski begitu, saya senang supirnya ramah-ramah. Beberapa ada yang mengajak ngobrol dan tak sungkan memberikan rekomendasi lokasi wisata dan ada juga yang menolak uang tip katanya sebagai bentuk keramahan biar saya betah dan mau main ke Bandung lagi. Ya aja deh bg wqwq

***

Saya keluar dari hostel pukul 7 pagi. Cuaca cukup mendung dan superrrrrdiiiiinggggiiin. Saya memutuskan berjalan kaki dulu sampai ke alun-alun. Kata satpam dan beberapa orang di hostel sih cukup dekat tinggal lurus saja dari hostel. Lokasi hostel kebetulan berada di Jl. Lengkong Kecil. Berdasarkan peta memang terlihat lurus saja. Kalau nyasar ya gampanglah ntar. Trus yaudah saya langsung asal jalan kaki sambil mendengarkan lagu.

Sepanjang lurus jalan Lengkong dan sekitarnya itu lumayan sepi banget ya. Tujuan saya jalan kaki sebenarnya siapa tau bisa menemukan abang mie ayam gerobak seperti di Jakarta gitu. Tapi sampai alun-alun, saya sama sekali tidak menemukan abang gerobak pinggir jalan atau warung-warung kecil. Entah karena memang tidak ada (hari Minggu tidak berjualan) atau karena saya menginap bukan di daerah perkampungan atau memang mereka patuh tidak berjualan sembarangan.

Sekitar jalan yang mirip Glodok~ (klik pada gambar untuk memperbesar)

Sepanjang jalan saya banyak terdiam ya. Pertama karena dingin, kedua karena lagu yang tak sengaja tersetel pas dapat yang galau jadinya sambil nanggess, dan ketiga karena sambil mikir banyak hal. Sepanjang jalan sampai alun-alun ini mirip banget sama daerah Glodok dan Pinangsia. Bedanya kalau disini gak banyak abang jualan makanan atau warung rokok. Tukang becak, tatanan parkir sampai ornamen beberapa lokasinya mirip banget kayak di Pinagsia-Glodok-Asemka. Bedanya saat saya melewati bapak-bapak yang lagi pada ngobrol, mereka ngobrol dan mengumpat pakai bahasa sunda alih-alih pakai logat betawi, medan atau cina.

Oiya, satu lagi yang baru saya sadari. Di sekitar jalan itu jarang ada minimarket! Saya cuma menemukan 2 toko Circle K di sekitar museum Asia Afrika dan Jl. Braga. Baru menemukan Indomaret pas sudah melewati Alun-Alun Bandung!

IMG_20171210_081628

Saya berjalan sampai Alun-alun tapi saya terus lanjut. Ini memang sengaja saya lakukan soalnya saya penasaran dari semalam kayaknya belum liat indomaret wqwq. Begitu ketemu rasanya super senang banget. Saya langsung beli kopi (padahal gakbisa ngopi????) dan beberapa cemilan pengganjal perut. Selesai belanja dan ngemil baru deh saya muter balik lagi ke Alun-Alun.

Satu hal yang saya sadari ketika jalan-jalan pagi itu: jalanan Bandung sudah sangat ramah untuk pejalan tapi sayangnya banyak sekali tunawisma berkeliaran. Saya pernah jalan kaki keliling kota gini juga di Malang, Bogor, Bekasi dan Semarang. Berdasarkan ingatan saya sih kalau dibuat urutan kota yang paling parah banyak tunawismanya itu maka jawaban saya adalah Bogor, Bekasi, Bandung, Semarang, Malang. Di Bogor sama Bekasi tuh pengamen dan tunawismanya beneran super banyak banget sepanjang jalan ada entah itu kawasan wisata atau bukan. Nah kalau di Bandung ini sih saya nemunya tunawisma atau pemulung gerobakan gitu aja ya. Untuk pengamennya jarang (dalam kondisi pagi hari). Jakarta banyak tunawisma dan pengamen juga tapi lebih sering ada di tempat wisata, terminal atau komplek tertentu saja. Eh….gaktau juga ding,,,,saya kalau jalan kaki di Jakarta jarang wqwq

IMG_20171210_075332

Mau mencoba sepeda untuk keliling Bandung tidak bisa. Harus pakai KTP dan dikembalikan di tempat peminjaman asal tidak bisa drop di tempat lain kalau bukan warga asli/daftar anggota dulu.

IMG_20171210_075715IMG_20171210_081210

Trotoar Bandung yang cukup ramah dengan papan penanda jalan yang cukup jelas dan lengkap serta ada beberapa kursi di tempat terbuka juga stop kontak untuk charge hp sambil istirahat.

IMG_20171210_082325

Tunawisma ke 21 yang saya temui pagi itu. Lokasi di sekitar Jl. Sudirman(?) Saya menghitung karena cukup terganggu dan penasaran hhh

Dan akhirnya saya sampai juga di Alun-Alun Bandung…

Saya cuma beberapa menit aja ya disini wqwq. Karena kebetulan tadi sempat sedikit gerimis, rumput sintetisnya jadi basah-basah blenyek gitu hii. Tidak bisa dipakai untuk duduk atau tiduran juga. Lagipula saya pakai celana chino berwarna terang kalau dipaksa duduk bakal nyeplak basah.

Trus karena kebetulan saya lebih suka memotret orang dan gak ada teman yang bisa disuruh buat bergaya dan tak potret, jadinya saya cuma muterin kawasan rumput sintetis itu sekali trus udah selesai. Gak minat potret candid orang-orang di sekitar juga karena entah kenapa rasanya ngenes. Yang lain pada hepi berlarian sama keluarga trus selfie pakai tongsis sama geng-nya gitu sementara saya sendiri sambil nenteng botol minum dan sandal…..rasanya aneh wqwq

Padahal selama ini saya gak pernah ada masalah kalau ngapa-ngapain sendiri. Tapi pas kemarin itu, saya beneran ngerasa ngenes. Sempat membayangkan kalau saya pergi sama teman, kira-kira dia bakal saya minta untuk bergaya seperti apa ya biar bisa tak foto hhh 😥

Waktu menunjukkan pukul 9 tepat. Berdasarkan keterangan di Google Trips sih Kebun Binatang Bandung sudah buka sejak pukul 8 pagi. Karena malas bertanya ke orang kalau mau kesana harus naik angkutan umum apa, akhirnya saya langsung pesan ojek online. Dan wuzzz, dalam waktu 10 menit sudah sampai.

IMG_20171210_091947IMG_20171210_092107

Ada satu kekecewaan: saya tidak sempat cek atau cari review dulu seperti apa kebun binatangnya, berapa harga tiket serta hal-hal yang seperti itu. Jadi pas sampai loket dan melihat bahwa harga tiket masuknya Rp40.000 (berapa kali lipat dari harga di Ragunan coba????!!!!) saya benar-benar super kaget. Anjir mahal bat. Kebetulan di depan saya ada rombongan keluarga sebanyak 8 orang yang sepertinya pengunjung entah darimana. Mereka lebih kaget dari saya wqwq

Ya karena saya sudah sampai sini dan gak tau mau kemana lagi ditambah penasaran juga dalamnya kayak apa, saya akhirnya beli. Tiketnya keren sih ya, kayak buat nonton konser gitu dalam bentuk gelang serta ada barcode. Kalau di Ragunan kan pakai sistem tap dengan e-money keluaran bank DKI. Rasanya hampir mirip kalau mau naik commuterline atau transjakarta dan tidak ada bukti tiket dalam bentuk fisiknya. Tapi ya tetap saja 40ribu terlalu mahal T_T.

Ada lagi satu tambahan kekecewaan: sama sekali tidak ada peta penunjuk atau papan lokasi binatang atau papan penanda dimana saya sekarang sedang berada. Jadi begitu masuk langsung ada pertigaan. Satu menuju pintu keluar dan dua lagi entah kemana. Yang tengah sih kalau saya lihat sekelebat sepertinya menuju pusat burung. Akhirnya saya memilih jalan yang paling ujung, asal jalan dan langsung ketemu sama Singa dan kawan-kawannya.

klik pada gambar tuk memperbesar

Yang menarik, di kandang hewan buas ini tidak ada sekat penjagaan yang cukup jauh. Mereka memang ditaruh di kandang dengan pembatas semacam plastik yang cukup kokoh. Tapi tidak ada sekat pembatas lain. Jadi kalau kamu mau nyender ke plastik pembatas itu untuk melihat lebih jelas bisa. Walaupun binatangnya terlihat santai dan plastik pembatasnya burem sehingga binatangnya tidak terlihat jelas, saya sih gak berani ya buat nyender dan ngintip lebih dekat gitu. Ngeri buozz hiii

Di kandang Zebra juga gak kalah menarik. Mereka di taruh di lapangan terbuka gitu aja. Ini gak takut binatangnya kabur apa ya wqwq. Saya lihat sih mereka cuek dan makan rumput biasa aja. Nah pas lagi melihat Zebra ini saya langsung teringat Jerapah. Mau cari mereka. Karena kebetulan di sekitar situ ada petugas yang lagi membawa makanan Zebra, saya iseng bertanya dan di jawab dengan cengengesan ”wah gak ada jerapah teh”

APAAAANANNN

KEBUN BINATANG MACAM APA YANG TAK PUNYA JERAPAAAHHH

sad.

langsung lemas 😥

Tak jauh dari tempat Zebra kebetulan ada tempat bermain. Saya langsung mampir buat duduk sebentar masih lemes karena 40ribu terasa sia-sia tanpa bisa lihat Jerapah. Taman bermainnya gak kalah serem ya. Beberapa wahana ada yang sudah karatan dan tua seolah bisa tumbang kapan saja. Ya wajar sih, wahana outdoor gak ada tenda pengaman atau pelindung jadi terkikis hujan dan panas. Agak sedih lihatnya. Semacam penasaran juga tentang sejarah mereka. Kalau bisa ngomong, mereka pasti bercerita akan banyak hal…

IMG_20171210_093641

Setelah menenangkan diri sejenak, saya memutuskan untuk terus lanjut berjalan. Penasaran mau lihat butuh waktu berapa lama untuk mengelilingi seluruh tempat ini. Kalau tidak salah pas istirahat sejenak itu waktu menunjukkan tepat pukul 10 pagi. Trus yaudah saya langsung mulai jalan berkeliling.

Kalau mau dibuat kesimpulan, kebun binatang Bandung ini jauh lebih bersih daripada kebun binatang Ragunan. Pengunjung juga tidak terlalu ramai walau sekarang akhir pekan (saya menduga karena tiketnya yang super mahal wqwq). Kalau di Ragunan, baru beberapa menit buka saja tuh biasanya sudah super ramai ada rombongan dari luar kota atau anak-anak muda yang memutuskan pacaran keliling kebun binatang.

Satu hal lain yang saya sadari setelah keliling, sepertinya kebun binatang sedang dalam masa renovasi karena ada beberapa kandang yang tutup dengan papan tanda ”perbaikan”. Yang bikin kecewa lagi itu soal track jalannya ya. Kontur dan track jalannya sama kayak Ragunan, naik-turun gitu. Agak kurang ramah memang kalau untuk difabel. Tapi kalau di Ragunan enak, jalanan sudah aspal. Kalau di Bandung ini enggak. Ada yang masih tanah dan becek bahkan banyak juga yang masih bebatuan kerikil bikin kesandung.

Tapi saya cukup suka sih pas jalan keliling gitu. Naik-turun bukit, hawa segar pagi hari trus liat yang hijau-hijau gitu bikin saya senyum dan ketawa sendiri mlulu. Rasanya seneng bangeet. Apalagi pas akhirnya nemu kandang Kuda Nil.

JAGOANKUUUUUU

Waktu kecil saya pernah melihat langsung pawang binatang kasih makan ke Kuda nil dan Buaya. Trus saya sering main ke kandang Unta dan Jerapah juga. Jadi karena hal itu, entah kenapa kalau main ke kebun binatang saya pasti bakal betah dan anteng di kandang binatang tersebut. Saya diam di kandang kuda nil itu hampir 10 menit ada kali ya. Saya ajak ngobrol dan panggil ”woy, sombong u, keluar dong nongol jangan berendem mlulu, dingin-dingin berendem u” dan akhirnya berhasil. Tadinya dia berendam di tengah gitu trus lama-lama ke pinggir. Seneng banget walaupun sebenarnya saya pengen melihat dia mangap dan memperlihatkan gigi-giginya. Sayang gak kesampaian, dia cuma ngintip-ngintip kayak kzl ”ni bocah ngapain dah brisik bat” gitu doang wqwq

Tadinya saya mau berhenti lebih lama. Tapi kemudian saya menyadari ada yang tak beres dengan kaki. Perpaduan antara cuaca dingin + terus diam tak bergerak + di tengah kebun bikin kaki saya kambuh gatal karena digigit nyambuk dan kedinginan. Nyamuknya gede-gede banget hiii. Ini catatan penting (yang saya sering lupa juga hh) kalau mau ke kebun binatang jangan lupa pakai pakaian tertutup dan nyaman atau bawa obat nyamuk spray!

Dari kandang ini saya main ke kandang buaya. Ini lebih ngeselin banget, dia diem mlulu tak panggil nggak nengok atau bergeming sama sekali wqwq. Dari sini akhirnya saya juga ketemu pasangan anak muda pertama yang berkencan ke kebun binatang. Romantis, lucu dan saya membatin ”wah, cowoknya leh juga ni mau ngeluarin 40 ribu buat kencan kesini wqwq”

Saya memutuskan merasa cukup berkeliling ketika waktu menunjukkan pukul 12. Kayaknya sudah keliling semua kandang juga sih walaupun kandang ular dan burung tak skip karena saya kurang suka. Saya menyudahi karena perut mulai terasa lapar. Waktu lihat ke peta, kawasan Dago atas dan babakan siliwangi itu tidak jauh dari peta. Tapi karena saya tidak tau disana ada apa aja, jadinya saya memutuskan untuk mencoba ke Chinatown-nya Bandung. Saya tau lokasi ini pas gak sengaja muncul di tab explore Instagram. Tujuan saya cuma satu: makan mie ayam wqwq.

Trus yaudah, pesan ojek online dan cus~

Lokasinya ternyata cukup jauh dari kebun binatang. Cuaca siang itu lumayan terik tapi masih terasa dingin. Karena supir ojek baru pertama kali mendengar Chinatown-nya Bandung, saya diturunkan di depan sebuah vihara dan saya memutuskan makan mie di penjual pertama yang saya lihat tepat di sebelah pintu masuk vihara.

IMG_20171210_120819

Saya lupa foto mie-nya karena terlalu lapar. Sayangnya rasanya mengecewakan hh. Kebetulan tidak habis juga, porsinya terlalu banyak bikin eneg. Yang bikin ngenes, harga satu porsinya Rp35.000…..Nangeeesss. Ini adalah mie ayam termahal yang saya makan tahun ini,,,gak abis,,,dan rasanya gak enak,,cry.

Tapi gak apa deh. Pengalaman.

Nah, karena sudah terlanjur kecewa dan sebal duluan gara-gara makan siang ini, saya jadi malas buat mampir ke vihara atau ke Chinatown-nya. Vihara terbuka untuk umum sementara Chinatown bayar tiket masuk 10-15ribu gitu tergantung hari. Saya cuma sklebat lewat doang tidak minat masuk karena berpikir makanan di dalam pasti gak kalah mahal dan belum tentu enak. Belum siap kecewa lagi 😥

IMG_20171210_120945

Tidak lama setelah melewati Chinatown, mendadak gerimis. Karena bingung tidak tau harus ngapain, akhirnya saya memesan ojek online dan memutuskan untuk pergi ke Kineruku. Saya memiliki janji temu dengan teman pukul 2.

Haah, semoga saja Kineruku-nya tidak mengecewakan ya…