life

2 Hari seru di Ennichisai 2017 Jakarta

+Pada 13 dan 14 Mei kemarin, saya berkunjung ke Ennichisai Jakarta yang berlokasi di Blok M. Ini kunjungan pertama saya ke acara ini sekaligus acara Jejepangan pertama yang saya datangi tahun ini.

Ennichisai ini hampir sama seperti Jak Japan Matsuri. Penjelasan perbedaan antara JakJapan dan Ennichisai sendiri saya juga masih belum paham ya (hadeeh) (maaf malas riset, wq).

Yang jelas kalau Jak Japan itu berlangsung sekitar pertengahan tahun. Kalau Ennichisai itu masih di awal atau seperempat tahun pertama.

Pada hari pertama, saya datang setelah pulang kerja. Kebetulan saya sengaja pakai seragam kerja saya hari Senin biar sekalian cosplay ala-ala mb OL (office lady, sebutan untuk pekerja wanita di Jepang) gitu.

Tapi yang ada saya malah kayak mb kantoran rombongan krl di Tanah Abang-Tangerang. Pakai ransel+totebag di pundak kanan-kiri yang berisi berkas kerjaan wqwq.

Di hari pertama, saya berangkat dari Kantor pukul 3 sore karena saya menunggu kurir yang mengantarkan paket roll film yang ternyata gak datang.

Jadi roll film saya hanya tersisa yang ada di kamera yaitu 14 film. Padahal saya ingin memotret beberapa momen terbaik di Ennichisai

Saya tiba di lokasi acara pukul 5 sore. Ya. Dari Glodok sampai Blok M memakan waktu 2 jam. Yang bikin lama sih dari Bundaran Senayan sampai Blok M-nya. Macetnya luarrrrrrr biasaaaa.

Dan ya, karena sudah bosan dan terlanjur malas karena macet ini, pas akhirnya sampai di lokasi, saya cuma mencari lokasi tenda untuk volunteer Mikoshi, trus udah pulang lagi.

IMG_20170514_152443

Iya.

2 jam perjalanan buat gitu doang T_T.

Dah keburu bosen dan capek karena bawa banyak dokumen dan sepatu juga lagian hhh.

***

Keesokan harinya saya bangun pukul 5 pagi. Terus mandi, mulai berkemas dan memaksakan diri membuang semua jenis “kotoran” dari tubuh.

Berdasarkan pengalaman di JakJapan kemarin, toilet di lokasi acara itu kurang nyaman. Jadi jangan sampai saat acara berlangsung nanti saya merasa sakit perut atau hal-hal sejenis itu. Kebetulan juga saya sedang haid, jadi setelah selesai mandi itu saya benar-benar melakukan pembersihan diri.

Saya sebenarnya masih belum tau sih di acara ini toiletnya bagaimana. Cuma untuk mengantisipasi dan lagian malas juga kalau harus mampir-mampir ya jadi saya benar-benar mencoba mencegah dulu,hehe.

Pukul 9 pagi tepat saya berangkat. Pukul 10.10 saya sampai di sekitaran Monas. Kebetulan masih ada CFD (Car Free Day) di sekitar situ sampai Blok M. Jadi jalanan super lancar dan saat melihat beberapa orang yang beraktivitas di jalanan (CFD-an), saya benar-benar kagum dan kaget.

Sejak diadakan CFD di Jakarta (entah itu tahun berapa) sampai sekarang, saya sama sekali belum pernah berpartisipasi/lewat di daerah yang termasuk area CFD itu.

Apa ya, malas aja sih rasanya. Kayak, kenapa harus berolahraga di area CFD sih? Sama aja kan kayak lari di jalanan depan rumah(?) Dan ya, pemikiran-pemikiran seperti itulah wqwq.

Ramai ya ternyata. Padahal sudah hampir pukul 11 pagi. Ada yang jualan di pinggir jalan, sepedaan, main skate, duduk di tengah jalan, jalan bersama Anjing, selfie dan lain sebagainya. Saya lupa foto saking kagum (dan norak) (sampai mulut saya ternganga lebar melihat keramaian di jalanan) (hadeeh).

Pukul 11 kurang sedikit saya tiba di lokasi. Lapor dengan Kak Nadya, salah satu koordinasi dari team Mikoshi universitas Binus. Yap, saya gabung dengan team dari Binus. Sehari numpang jadi mahasiswi Binus xD.

Saya dapat seragam dan diminta berganti. Dan tak lama kemudian anggota lain berdatangan.

***

Pukul 12.40 adalah acara pengangkatan Mikoshi yang pertama. Di rundown acara yang dibagikan sih seharusnya tim pria, tim wanita dan tim anak-anak mengangkat semua. Tapi ternyata yang mengangkat hanya tim wanita dan anak-anak.

Di pengangkatan yang pertama ini, saya memilih lokasi di sebelah kanan. Ngangkatnya di bahu kanan gitu. Cuaca siang itu cukup sejuk(?). Gak mendung, gak panas dan cukup berangin gitu lah.

Karena saya belum berkeliling ke semua lokasi, saya jadi kurang tau ya rute pengangkatan mikoshi ini kemana saja. Dan ternyata,,,,rutenya cukup panjang T_T. Tim mikoshi sampai harus beristirahat sebanyak 6x.

IMG_20170514_131444

di pertengahan jalan tiba-tiba panas

Sekitar pukul 13.50an pengangkatan akhirnya selesai. Peserta volunteer dapat makan siang. Selesai makan, saya mencoba menjelajah ke semua lokasi dan stand di ennichisai ini.

Waktu menjelajah, saya agak pusing. Ramainya bukan main. Dan karena saya menjelajah sendiri, jadi agak canggung gitu. Soalnya di kanan-kiri pada sama pasangan atau sama teman. Mana saya masih pakai kostum mikoshi lagi wqwq. Tapi ya PD aja sih.

Untuk mengurangi rasa canggung, saya sambil memotret ke beberapa momen yang menurut saya menarik. Tapi cuma dapat sedikit karena roll film saya habis.

Saya mampir ke stand penjual gantungan kunci. (Saya lemah dengan gantungan kunci dan kaus kaki). Kebanyakan gantungan kunci yang tersedia adalah gantungan karakter terbuat dari rubber atau akrilik bergambar tokoh anime.

Sayangnya, gak ada satupun tokoh anime yang saya tahu wqwqwq. Gak ada Yotsuba, atau Crayon shinchan, atau Dragon Ball atau Dr. Slump gitu (emang mereka anime ya, Mai?). Ada sih One piece, Naruto, Doraemon dan Totoro. Cuma kayaknya udah terlalu biasa.

Saya akhirnya membeli gantungan bel karakter Line, Brown dan Cony. Ini gantungannya bisa bunyi “kleneng-kleneng”. Saya suka gantungan kunci yang bersuara.

Soalnya saya suka pergi sendirian, dan suara lonceng itu kayak “teman” saya gitulah biar gak sepi-sepi banget kalau berjalan di tempat sepi. Saya membeli 2 gantungan ini dengan harga Rp10.000/pcs.

Saya juga mampir ke stand penjual tas-tas kerajinan asli dari Jepang. Saya sebenarnya sedang mencari tas slempang (biar gampang kalau jalan-jalan bawa kamera). Dan ada sih tasnya, cuma mahal banget Rp250.000,-

Akhirnya saya cuma membeli pouch seharga Rp15.000,- yang pas banget buat tas kamera. Habis itu saya mencoba melirik beberapa stand makanan yang ada (yang sayangnya penuh dan antre semua) (malas). Akhirnya saya mampir ke stand Glico. Membeli 3pcs es krim yang kebetulan sedang promo dengan harga 3/10.000,-

Hadeh, padahal saya belum pernah makan makanan jejepangan gitu. Penasaran. Tapi gatau kenapa kalau ada yang jual selalu malas beli😅.

***

Pukul 16.00, pengangkatan Mikoshi yang kedua pun dimulai. Pada pengangkatan kedua ini tim pria juga ikut mengangkat. Kali ini saya mengubah posisi mengangkat di bahu sebelah kiri yang kemudian saya sesali karena entah mengapa kalau di bahu kiri rasanya lebih berat.

Pada pengangkatan kedua ini ada orang yang naik ke atas mikoshinya. Trus di rombongan saya juga ada beberapa personel idol yang ikut menggotong juga untuk keperluan komersil di Jepang. Nama grupnya kalau gak salah KissBee. Anggotanya ada 4 orang, lucu dan menggemaskan semua.

IMG_20170514_153759

Saya gak sempat tanya-tanya, twoshoot bareng atau hal-hal sejenis itu. Sudah malas dan capek duluan wq. Tapi ada 1 yang berambut pendek dan bikin “yaroobb” banget.

Dan ada 1 orang juga yang saat pengangkatan berlangsung sibuk teriak-teriak histeris sendiri karena kaget (dan mungkin kesakitan). Melihat dia teriak-teriak membawa hiburan tersendiri yang membuat saya semangat mengangkat saat itu wqwq.

Selesai mengangkat, saya sempat istirahat dan tidur sekitar 20 menit. Kebetulan banyak volunteer yang tidak bisa ikut mengangkat secara full 3x dan izin pulang. Jadi tenda istirahatnya cukup lenggang.

Saya terbangun saat adzan isya. Langsung pusing karena tidur sore-sore. Tapi badan juga jadi agak segar.

Pukul 19.40 pengangkatan terakhir sekaligus penutupan dimulai. Kali ini terdiri dari tim wanita, tim pria, dan tim bapak-bapak gabungan dari warga Indonesia, Jepang dan luar Asia. Yang tim anak-anak sudah tidak ada.

Pengangkatan terakhir ini rutenya singkat. Hanya lurus (kira-kira 5 menitan. Saya gak bisa menggambarkan dengan ukuran jarak) lalu nanti berputar-putar di depan panggung utama.

Nah, karena ada cukup banyak volunteer wanita yang tadi pada pulang, akhirnya beberapa ibu-ibu Jepang pun ikut membantu mengangkat. Dan padahal sudah ada bantuan ya, tapi pas pengangkatan pertama, mikoshinya sempat hampir jatuh karena tinggi peserta volunteer tidak seimbang dan jumlahnya masih kurang.

Tapi akhirnya bisa naik sih. Walaupun, yarobb, rasanya super berat banget. Saat istirahat sejenak di pertengahan jalan, saya dipindahkan ke depan oleh pimpinan rombongan. Katanya saya super bersemangat, jadi saya diminta ke depan untuk menyemangati peserta yang lain juga.

Dari acara pengangkatan pertama dan volunteer tahun lalu biasanya saya selalu di bagian belakang dekat mikoshinya gitu. Lebih enak aja. Dan ini pertama kalinya di depan, rasanya deg-degan banget. Di depan itu lumayan berat karena dia menanggung beban pertama.

Saat ketakutan seperti itu, saya ditepuk oleh salah satu mb dari Jepang yang naik ke mikoshi (yang kebetulan jadi partner saya juga di mikoshi jakjapan lalu).

IMG_20170514_191441

Partner terbaik! 2x berturut-turut dapat ketua mikoshi beliau terus. Ramah, baik dan murah senyum. Tapi saya gak tau namanya wqwq. Nanti kalau ikut di Jakjapan, saya janji bakal ajak kenalan dan foto bareng ah xD

Dia menyemangati dan menggengam tangan saya mengatakan “ganbare, semangat”. Saya hanya bisa bengong. Tangannya hangat. Dan entah mengapa saya jadi super bersemangat.

Dan saat pengangkatan di mulai…ah rasanya campur aduk banget deh. Bebannya berat. Trus suara saya hampir habis dan rasanya super haus karena harus berteriak menyemangati. Berkali-kali mikoshinya juga oleng karena peserta lain juga mulai kelelahan. Tapi mb yang naik ke atas mikoshinya rajin menyemangati.

Trus pas mulai berparade dan berputar di depan panggung utama itu ya…rasanya luar biasa. Saya sampai nangis karena kesakitan+keringat yang masuk ke mata dan bibir. Capek, sakit, tapi pas mendengar teriakan “ganbaree” “ganbaree” dari pemimpin mikoshi juga jadi bersemangat.

Rasanya lepas.

Lega.

Setelah parade selesai, Ennichisai pun resmi ditutup. Ada kembang api yang dinyalakan dari atas atap Blok M square. Kembang apinya indaaah banget.

Pas liat kembang apinya, saya nangis. Kangen. Tapi gatau kangen sama siapa

Saya nonton sambil ngobrol dengan salah satu bapak-bapak dari Jepang. Dan pas kembang apinya selesai, kami bersalaman dan dia berkali-kali menepuk punggung saya mengatakan “terima kasih, kamu kuat, kamu kuat”.

Nangisnya makin kejer😭😭

***

Selesai penutupan sempat ada selfie bersama dari panggung. Cuma saya gak begitu peduli karena udah capek. Tim mikoshi pun balik lagi ke tempat semula dan ya seperti biasa, dibagikan Sake dalam gelas untuk yang memang ingin mengkonsumsi.

Tahun lalu saya mencoba setengah gelas aqua kecil. Trus kemarin, saya minum 3 gelas😅. Pertama satu gelas penuh. Trus gatau kenapa saya nambah lagi 1 gelas penuh. Eh pas udah abis, dituangin lagi setengah wqwq.

Rasanya masih aneh dan bikin tenggorokan panas. Tapi saya ingat, begitu saya sampai rumah, saya bisa tertidur pulas dengan sangat nyaman tanpa kesakitan.

3 gelas.

Gapapalah ya, pengalaman sebelum menginjak usia 21😅.

Selesai minum-minum, saya pun berganti pakaian bersiap untuk pulang. Sebelum pulang, peserta volunteer dibagikan souvenir sebuah kantung kecil. Katanya ini asli dari Jepang. Ada warna Hijau dan Merah. Saya dapat yang Merah. Jadi agak menyesal tadi udah beli kantung kecil wqwq.

Dan sebelum pamit, ka Nadya sempat bilang ke saya,

“kak Mai jangan kapok ya! Sampai jumpa di Jak Japan dan Ennichisai tahun depan!”

Saat perjalanan menuju halte Transjakarta, saya sempat membatin dan berpikir akan banyak hal.

Waktu datang kesini, mood saya sebenarnya sedang kacau walaupun sudah melakukan pembersihan badan.

Saya lagi kangen, tapi gatau kangen sama siapa.

Saya lagi bosan sama kerjaan juga. Bingung mikirin kuliah yang gak jadi-jadi dan nafsu duniawi yang tidak ada habisnya (dan saya yang selalu berhasil terjerat hawa nafsu itu).

Waktu mengangkat mikoshi dan memberi serta diberi semangat oleh banyak orang tadi, perasaan saya benar-benar campur aduk. Lega, lepas, tenang.

Capek, tapi di satu sisi juga entah mengapa rasanya lega. Seperti ada beban berat yang terangkat. Saya kayak diyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa ketakutan saya akan masa depan itu tidak akan terjadi, masa depan tidak akan seburuk itu. Semuanya akan baik-baik saja.

Jadi ingat waktu di semangati mb dari Jepang tadi. “Ganbare, semangaaat”. Ah, kebahagiaan dan kesedihan itu menular. Energi manusia itu tidak main-main, bisa berpengaruh. Hubungan antar manusia itu ajaib.

Dan, ah, bertemu banyak orang memang selalu menyenangkan. Kalau kata orang-orang, energi extrovert saya benar-benar terisi penuh.

Dan saat dalam transjakarta di sebuah lampu merah, saya tiba-tiba ingat lagi ucapan kak Nadya yang membuat saya membatin,

“tahun depan ya…, Umur saya sampai gak ya,,,”

ps: spot saya saat mengangkat mikoshi sebenarnya cukup strategis. Di depan dan pinggir. Dan selama pengangkatan ini seingat saya banyak orang yang mendokumentasikan dalam bentuk video ataupun gambar. Pagi tadi sudah saya telusuri semua postingan di instagram dengan hashtag #Ennichisai #Ennichisai2017 #mikoshi tapi entah mengapa tidak ada post foto yang ada sayanya ataupun foto yang bagus. Jadi gak saya cantumkan disini wqwq.

Kalau nanti saya nemu foto/video yang bagus akan saya lampirkan deh xD

dan ah, foto lainnya akan saya unggah di akun flickr pribadi saya ya!

Advertisements

Main – main ke Lowlight Bazaar 10

Pada 1 Mei kemarin, saya berkunjung ke salah satu acara yang sepertinya rutin diadakan oleh JellyPlayGround, salah satu komunitas penggemar kamera analog di Indonesia yaitu Lowlight Bazaar.

IMG_20170501_164148

Lowlight Bazaar ini adalah acara dimana kalian bisa bertemu langsung dengan penjual kamera film/analog dan berbagai perlengkapannya. Seperti misal penjual lensa, kamera, atau mungkin ada yang mau drop film untuk dicuci/cetak dan yang lainnya.

Saya mengetahui kegiatan ini dari instagram dan setelah saya telusuri lebih jauh, ternyata ini adalah ke-10 kalinya acara ini diadakan (makanya namanya Lowlight Bazaar 10 xD).

Acara diadakan di Qubicle yang terletak di Senopati 79 Kebayoran Baru, Jakarta. Saya datang pukul 11 pagi (1 jam setelah acara ini resmi di buka) dan sudah ramai banget!

Kalau mau masuk ke bazaar ini, kita harus membayar tiket masuk seharga Rp10.000. Nanti saat beli tiket, kita harus mengisi form nama, email dan akun instagram. Setelah itu tangan kita akan diberi cap dan juga dikasih stiker (stiker yang saya dapatkan lupa ditaruh mana wqwq).

cap di tangan yang sudah pudar.

Venue acaranya sendiri bisa dikatakan cukup kecil tapi ya masih bisa untuk bergerak dengan bebas. Jumlah tenant yang tersedia kalau tidak salah ada sekitar 15an. Waktu saya datang itu sudah ramai banget (gak sempet foto).

Ada beberapa pengunjung yang langsung sibuk mampir ke beberapa tenant, ada juga yang sibuk menangkap momen dengan kamera analog andalan mereka, ada juga yang berdiri di beberapa spot kosong bertukar cerita macam-macam.

Tujuan saya kesini adalah beli kamera gara-gara sehari sebelumnya pada 30 April, saya habis dari bazaar buku Big Bad Wolf dan sempat ”parkir” di stand photography selama 1 jam dan liat koleksi yang ada trus nangis hh.

Selama ini saya tidak pernah menekuni suatu kegiatan/hobi dengan serius. Beberapa hobi yang pernah saya geluti diantaranya adalah BMX dan menulis. Hobi-hobi itu hanya saya coba sambil lalu saja yang membuat saya selalu merasa kesulitan ketika ditanya ”hal apa yang kamu sukai?”.

1493795295577

Yang saya sukai banyak. Tapi yang benar-benar saya tekuni hingga mahir nggak ada. Dan pas ”parkir” sejenak di stand Photography kemarin, entah mengapa saya seperti mendapat sebuah bisikan untuk menekuni dunia memotret.

Tidak harus sampai memiliki target jadi tukang foto senior deh. Minimal saya tau beberapa teknik dasar dan juga perbedaan jenis kamera juga gapapa. Yang penting saya tahu. Jadi tidak hanya sekedar jepret saja.

Dan yap, setelah menimbang dan memilih, saya akhirnya membeli 2 buku ini. Entahlah. Saya berpikir mungkin suatu saat akan berguna bagi saya aja gitu, hehe.

***

Balik lagi ke Lowlight Bazaar, pencarian kamera yang ingin saya beli ini agak susah ya. Karena saya sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang kamera analog, jadi saya pengennya cari penjual yang bisa ditanya-tanya gitu. Masalahnya, hampir semua stand penuh.

Dan akhirnya setelah 3x kali muterin semua tenant sekalian liat range price dari beberapa kamera yang dijual, saya berhenti di tenant milik HipercatLab, toko dari Bandung.

Ownernya cukup ramah. Ada 2 orang, seorang mas dan mbak. Kamera yang dijual juga cukup beragam dan entah mengapa saya langsung jatuh cinta sama kamera Olympus yang terpajang disana.

IMG_20170501_115116

Oiya, sebelum pergi kesini sebenarnya saya sudah menetapkan target untuk tidak menghabiskan uang lebih dari Rp500.000,- dan kalau bisa beli kamera yang merk-nya pasaran biar kalau gak tau bisa cari review atau tutorialnya di youtube.

Nah, waktu naksir si Olympus ini, saya gak sempat googling dulu karena entah kenapa hp saya gak dapat sinyal dan ya tau-tau udah kebeli aja gitu. Dan pas sampai rumah dan bisa internetan, saya langsung agak menyesal karena review atau tutorial di youtube-nya gak ada T_T.

Kamera yang saya beli adalah Olympus oz 70 panorama zoom yang dijual seharga Rp450.000,-. Fungsi semua kamera masih ok. Saya juga beli isi film Fujicolor seharga Rp100.000,- dapat 2 (masing-masing berisi 36 film). Oiya, saya masih belum tau nih soal jenis-jenis isi film gini. Katanya beda merk beda hasilnya gitu. Itu saya main asal beli yang termurah aja. Masih perlu belajar dan riset soal ini hmm.

Kalau ditanya kenapa saya naksir ini, gatau juga ya. Pokoknya pas lihat langsung naksir aja. Padahal kamera ini agak berat dan menurut saya kurang mini (saya suka yang kecil-kecil). Sebenarnya ada lagi seri olympus lain, cuma dia gak ada fitur zoom. Saya milih ini karena ada fitur zoom-nya gitu.

Alasan yang aneh memang wqwq. Dan hh, sebenarnya masih banyak yang belum saya ketahui perihal kamera ini. Agak nyesel karena gak ada review atau pun artikel tentang ini kamera padahal penasaran maksud dari panorama zoom itu apa dan lain sebagainya.

Alasan lain kenapa saya membeli kamera adalah karena sebentar lagi bulan Juni. Selain suka menghitung mundur menuju hari-hari penting dalam hidup, saya juga suka memberi suatu benda mahal/pergi ke suatu tempat untuk menyegarkan pikiran sejenak sebagai bentuk kado untuk diri saya sendiri.

Yap, bulan depan kalau saya diberi umur panjang, saya akan ulang tahun. Dan saya sudah duluan memberi kado untuk diri sendiri dari sekarang wqwq. Gapapa kan ya? xD

Kemarin saya sudah jalan-jalan ke Semarang sih (dan uh, soal ini kayaknya gak bakal saya tulis karena udah mager duluan wqwq). Tapi entah mengapa saya merasa masih ada yang kurang. Pengen beli kamera juga untuk mengabadikan sesuatu.

Tadinya saya mau membeli kamera instax karena tidak perlu repot mencuci cetak lagi. Tapi kayaknya instax terlalu ”modern” banget. Trus tadinya mau langsung beli kamera digital aja tapi sebenarnya saya sudah punya kamera saku pemberian dari oom saya.

Jadi ya, akhirnya beli kamera analog ini. Hitung-hitung sebagai kenangan juga sih. Siapa tau bisa diturunkan kepada anggota keluarga yang lain atau mungkin dijual lagi. Saya jadi ingat dulu waktu kecil sering dipotret oleh ayah saya pakai kamera analog juga.

Waktu kecil ayah saya pernah bekerja jadi tukang cuci foto di sebuah stand Fujifilm resmi di daerah Lembah sungai gajahwong, Yogya. Makanya foto kecil saya cukup banyak karena sering diabadikan. Lain halnya dengan adik saya yang kayaknya cuma ada sekitar 20an foto saja karena setelah adik saya lahir, ibu dan ayah saya berpisah.

Dan ah, ketika tulisan ini dibuat, saya sudah menghabiskan 1 roll film untuk memotret beberapa sudut rumah saya yang kebetulan sedang direnovasi (ditinggikan dan di cat ulang), memotret tempat kerja saya di Glodok dan…apa lagi ya…lupa wqwq.

Nanti kalau kedua roll film itu sudah terpakai dan sudah di cuci-scan, akan saya unggah di akun flickr atau akun instagram saya. Ah, rasanya jadi tidak sabar menunggu hasilnya xD

Dan ah, masih tersisa 42 hari lagi menuju hari ulang tahun saya, ada kejutan apa ya yang menunggu saya di depan sana(?)

IMG_20170503_110130

Sejauh ini, 3 benda berharga yang saya miliki; Olympus oz 70 panorama zoom, smartfren andromax haier EC dan canon PowerShoot A800. (gambar di potret menggunakan lenovo p1a42)

A lot can happen in a year (Cerita tentang patah hati dan hal lain di tahun 2016)

blue-valley

img_20161108_101607

Saya mengawali tahun ini dengan keadaan sedang tidak baik-baik saja. Pada Desember 2015, seorang Pakde saya meninggal. Saat meninggal, saya kebetulan sedang mengajak anak pertamanya, Adit yang berusia 8 tahun bermain PS di rental yang tak jauh dari rumah.

Saya ingat dengan jelas perasaan bingung dan waspada yang saya rasakan saat pulang dari rental PS dan mendapati ada bendera kuning serta banyaknya orang yang berkumpul di depan rumah saya.

Kala itu saya takut yang berpulang adalah ibu- yang ternyata bukan dan membuat saya merasa lega namun langsung digantikan dengan perasaan cemas saat Adit mengenggam tangan saya dengan erat dan dipenuhi rasa takut sambil menangis.

Istri pakde saya kebetulan masih muda dan memiliki perbedaan usia 12 tahun dengan pakde. Bulan sebelumnya kebetulan baru saja melahirkan anak laki-laki keduanya. Dan saat pakde saya berpulang, kondisi Bude saya belum 100% pulih setelah bersalin. Bisa dibayangkan bagaimana ”berubah”nya pola kehidupan keluarga saya berikutnya.

Saya ingat bahwa 2 bulan pertama semenjak kejadian itu adalah masa yang cukup berat bagi saya dan keluarga. Karena kebetulan saat itu saya belum bekerja, sayalah yang ditugaskan nenek untuk menemani bude.

Kebetulan ibu saya juga ditinggal oleh ayah (walaupun hanya bercerai). Meskipun ditinggalnya hanya bercerai dan masih bisa bertemu, tapi saya tau bahwa kehilangan: seperti apapun bentuknya, tidak akan pernah mudah untuk dihadapi.

Malam itu 1 Desember 2016, bude dan ibu saya menangis dalam diam sambil berpelukan untuk mengenang pakde. Dan kala itu, saya sempat memiliki sebuah pemikiran untuk tidak menikah.

Semacam apa ya. Saya tidak mau pergi meninggalkan ataupun ditinggal seseorang. Biarlah hidup sendiri saja dan yang kehilangan hanya pihak keluarga. Tidak membuat beban ataupun duka untuk banyak orang. Kehilangan tidak pernah menjadi suatu hal yang mudah untuk beberapa orang; termasuk saya.

Waktu saya mengatakan hal itu kepada sahabat saya, ia malah memarahi saya dan mengatakan,

”tau gak sih, tujuan kita menikah itu untuk memperoleh keturunan dan biar kalau mati ada yang doain. Lo mau mati trus gak ada yang doain?”

Saya langsung merasa ……

Benarkah memperoleh doa hanya bisa dari anak saja? Bagaimana dengan sedekah dan berbagi ilmu yang bermanfaat pada orang lain?

Saya juga cukup merasa miris saat mendengar jawaban teman saya tersebut. Memiliki anak hanya untuk mendoakan? Sesederhana itu?

***

Lepas dari masalah ini, 2016 pun saya jalani dengan hal lain yang (masih) membuat hidup saya tidak baik-baik saja. Saya mengalami putus cinta. Err, sebenarnya putus cinta ini sudah terjadi sejak pertengahan 2015. Tapi saya dan dia masih beberapa kali berkomunikasi satu sama lain meski hanya sekedar menanyakan kabar.

Pada Maret hingga Mei 2016 lah kami benar-benar lost contact, ia menghapus akun twitter tempat kami berkenalan dulu dan juga,,,ia memiliki calon perempuan baru.

Saya ingat bagaimana hidup saya kala itu. Kacau. Berantakan. Seperti tidak lagi memiliki alasan dan tujuan untuk hidup

Yang menarik adalah, saya justru tidak banyak menangis. Saat saya mengetahui siapa calonnya, kegiatan yang mereka lakukan berdua bahkan sampai status-status yang ia buat untuk menyatakan kerinduan,,,saya tidak merasakan rasa perih atau cemburu semacam itu. Saya justru malah penasaran dan tertarik dengan hubungan mereka.

Kayak apa ya, penasaran aja gitu. Dulu dia bilang selama ini jarang berinteraksi dengan perempuan, saya pacar pertamanya dan juga [insert janji-janji manis saat berpacaran disini]. Dan ketika akhirnya sekarang ia memiliki calon kekasih baru yang lokasinya tak jauh dari rumahnya bisa berinteraksi secara rutin…bagaimana ya? Saya jadi malah mbayangin dan diam-diam mendukung mereka gitu. Pasti lucu waktu mereka ketemuan dan ngobrol untuk yang pertama kalinya. Jadi gemas sendiri wq

Meski tidak menangis atau melakukan banyak hal konyol yang dilakukan oleh orang patah hati, saya tau ada yang berubah dan tidak beres dengan diri saya. Diam-diam tanpa saya sadari, saya jadi tidak pernah lagi nafsu untuk makan. Tidur lebih banyak dari biasanya dan sering bengong.

Puncaknya adalah ketika suatu hari saya diajak pergi oleh nenek dan saat saya hendak memakai celana kesukaan saya, celana tersebut mlorot dengan bebas dari pinggang. Ukurannya menjadi gombrong karena saya menjadi kurus. Padahal celana itu sudah ukuran terkecil.

Saya kurusan.

Dan tiba-tiba saya menangis. Saya ingat hari itu, 3 Juni 2016, saya menangis untuk yang pertama kali karena patah hati.

Setelah puas nangis, malamnya saya iseng ke klinik terdekat untuk cek dan timbang badan. Dan sebuah rekor berhasil dibuat.

Waktu kelas 6 SD, berat badan saya itu 32kg. Dan hari itu, berat badan saya adalah 28kg. Lebih kurus daripada saat saya kelas 6 SD! Surem bahkan ukuran sepatu saya lebih besar dari berat badan saya!

Saya juga masih ingat dengan jelas saat beberapa kali datang ke acara buka puasa bersama. Banyak orang yang kaget melihat diri saya dan bahkan ada yang memarahi katanya saya sengaja diet. Ada juga yang marah karena tidak lagi bisa mencubit pipi gembul milik saya.

Diet apaan 😥

Masa-masa itu adalah masa yang cukup…apa ya, menantang hidup saya banget. Saya ingat saya tidak lagi bisa duduk lama-lama di ubin tanpa alas. Tidak kuat mandi air dingin dan yang paling parah, saya tidak lagi punya celana panjang yang muat. Saya sampai ngecilin semua koleksi celana saya agar bisa dipakai yang ujungnya tetap gak muat juga dan sampai udah gak bisa dikecilin lagi saking terlalu sering dikecilin.

Saya juga jadi mudah masuk angin dan sakit-sakitan. Kalau pagi saat berangkat kerja harus selalu menggunakan jaket atau outer karena tidak kuat dengan AC pagi transjakarta atau krl. Badan saya jadi mudah ngilu dan pegal-pegal karena hanya tulang doang. Untung ini tidak berlangsung lama karena nafsu makan saya bisa pulih, tapi entah mengapa berat badan saya tidak juga kunjung bertambah.

Dan pada masa-masa itu, teman-teman dari twitter dan JKT48 lah yang membantu saya untuk pulih. Saya mengenal beberapa mbak penyuka JKT48. Kami mengadakan pertemuan dan nonton teater JKT48 bersama dan yah, saat melihat adik-adik yang ceria dan bersemangat di panggung untuk meraih mimpi…kok ya rasanya jadi malu sendiri.

Usia saya dan mereka tidak beda jauh tapi kenapa mereka terlihat begitu berbeda?

Ngapain sih galau karena mau ditinggal nikah dan diputusin pacar. Liat tuh mereka masih muda udah cakep-cakep dan semangat meraih mimpi.

Itu 2 pikiran yang terlintas di pikiran saya saat nonton teater untuk yang pertama kalinya hari itu. Dan yah perlahan saya langsung move on. Nggak langsung 100% move on sih karena saya pernah beberapa kali lanjut nonton teateran dan malah nangis mbayangin dia 

‘oy, itu oshimu tuh. coba kamu ada disini ya kita nonton bareng’

surem.

Ya gitulah hhhh

***

Hari yang menjadi awal perubahan diri saya untuk bangkit terjadi beberapa hari sebelum saya berulang tahun. Titik perubahan itu terjadi setelah saya membaca sebuah novel yang saya beli sebagai kado ulang tahun untuk diri saya sendiri, Restart karya mbak Nina Ardianti.

Cerita yang diangkat novel itu adalah tentang move on dan me-restart hidup setelah berpisah. Dan ya memang setelah sampai halaman terakhir membaca buku itu, saya langsung merasa lega, optimis dan apa ya,,,jadi senyum senyum sendiri gitu. Kalau tokoh fiksi saja bisa, maka saya yang menjadi tokoh dan sosok di dunia nyata juga pasti bisa untuk memulai hal baru dan bahagia.

Dan mulailah.

Saya juga me-restart hidup saya dengan mengalihkan perhatian melalui hobi: menghidupkan kembali blog ini, mulai banyak membaca buku, membuat 100 list yang tujuan awalnya iseng tapi banyak yang terkabul, hingga mencoba banyak hal yang dulunya tidak pernah saya suka; menonton film, pergi ke bioskop, dan juga belajar dandan.

Berat memang. Dan cukup sulit. Pada beberapa kesempatan saya masih sering terdiam dan diam-diam berharap dalam hati ”coba ada kamu disini” dan pernah beberapa kali juga tangan rasanya gatal ingin menyapa dan berbagi kejadian yang dirasakan hari ini pada dia.

Tapi toh ternyata saya berhasil melaluinya setelah mencoba memaksakan diri dan nawaitu tolong segera di ikhlaskan-in. Bahkan sudah berapa lama ya saya tidak men-stalk akun instagram miliknya(?)

Saya ingat, dulu hampir tiap 10 menit sekali saya pasti membuka instagram dan stalk akun miliknya walaupun tidak ada post terbaru. Saya juga tidak pernah lagi memimpikan dia. Mengingat dia di kala sedih ataupun senang juga sudah tidak lagi…bahkan namanya sudah tidak lagi otomatis muncul di kepala saat saya sedang merasa sedih ataupun gembira.

Saya ingat kalau dulu saya sering-teramat sering terbangun saat tengah malam dan tiba-tiba menangis memanggil namanya sampai membuat orang serumah bangun. Semacam kangen. Tidak siap untuk saling tidak mengenal dan berpisah. Tidak siap untuk kehilangan.

Dan ternyata semuanya sudah berlalu dan saya masih baik-baik saja.

Pada beberapa kesempatan, saya sering dapat pertanyaan ataupun terlintas sklebat dalam pikiran ”kamu nggak cari pacar baru mai?” yang saya pikir…nggak usah lah ya.

Bukan karena saya takut menyakiti atau disakiti lagi sih. Tapi karena, ya saya merasa untuk saat ini, nggak butuh banget sosok seorang pacar. Waktu saya mengiyakan untuk berpacaran dulu saya juga sempat merasa ragu karena terakhir pacaran itu 2012 dan sudah terlanjur nyaman dengan keadaan sendiri.

Dan saat ini..ya bisa dikatakan saya sudah kembali lagi menjadi saya yang dulu yang sudah menyesuaikan dan membiasakan untuk sendiri. Ah, tapi saya nggak 100% sendiri juga sih. Masih ada terlalu banyak tokoh fiksi di dalam film dan buku yang menunggu untuk saya kenal hhe.

Sendiri nggak menyedihkan banget kok. Ya walaupun ada beberapa artikel dan film yang saya tonton dan bertema kesedihan yang mengatakan bahwa sendiri itu bisa menjadi berbahaya.

Dan ya, walaupun kalau lagi nonton ataupun membaca buku roman rasanya jadi aneh karena tidak punya sosok yang ”jelas” untuk dibayangkan. Soalnya dulu kalau membaca hal-hal berbau roman pasti membayangkan dia.

Tapi yaudahlah, saya masih muda. Masih banyak yang belum saya coba dan saya raih. Ghaida dan Yona saja udah S2 dan peringkat 3 SSK JKT48, masak kamu kamu mau gini-gini aja Mai.

Semua orang pernah patah hati. All you have to do is move on.

Yang bisa menyembuhkan patah hati itu 2 hal, kalau nggak waktu ya ketemu orang baru.

Dan waktu lah yang menjadi penyembuh patah hati saya kali ini*

*Dan buku Restart-nya Mbak Nina Ardianti, teman-teman twitter dan member JKT48 hhe

screenshot_2016-09-19-22-25-26

dari twit @aMrazing di twitter

***

Hal lain yang terjadi di tahun 2016….apa ya..yang benar-benar berdampak positif dan bermanfaat untuk diri saya sepertinya nggak ada sih. Kuliah masih belum jadi (padahal udah janji mau barengan ama Desy JKT48/cry/).

Tapi saya senang sih, tahun ini saya banyak sekali mencoba hal baru. Seperti menang kuis dan giveaway, Saya banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman saya, saya mencoba mengenal dunia skincare dan kosmetik juga berbagai model jilbab baru (ada yang pernah bilang kalau patah hati bisa membuatmu menjadi cantik,eh?) hingga membaca banyak buku (target tahun ini 750 buku!) dan film.

Saya juga berhasil mencoba membaca banyak jenis buku dari penulis maupun dengan tema yang dulu tidak saya sukai, Fantasi. Saya juga menemukan beberapa penulis baru kesukaan.

Saya juga berhasil menonton banyak film yang dulu saya hindari, menemukan banyak aktor-aktor ganteng yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Fangirl-ing memang 11111oNEEE1111OnEEEee111. Yah, walaupun rasanya kadang menjemukan sih, kayak, yaelah mereka aja bahkan nggak tau kalau kita ini ada wq. Tapi gapapa. Fangirl tetap asyik.

Lalu mengenai bude, pertengahan Maret lalu bude sudah kembali bekerja lagi. Deposito dan tabungan peninggalan Pakde diniatkan untuk tidak dipakai dulu. Bude saya telah siap untuk menjadi single fighter untuk membesarkan kedua anaknya yang masih kecil.

Pada beberapa kesempatan, saya masih sering mendapati beliau menangis tengah malam sambil memeluk Raffa, putra bungsunya yang baru beberapa hari yang lalu genap satu tahun. Tapi saya tau bude saya pasti bisa. Bude saya selalu percaya bahwa Pakde saya tidak pergi. Ia tetap ada: dalam wujud mata bulat dan rambut keriting milik Raffa dan keceriaan serta candaan garing milik Adit.

Semalam, saat peringatan 1 tahun kematian pakde pun bude saya bisa tersenyum dengan ceria saat menyambut banyak tamu yang datang. Bude bilang, tidak ada gunanya terus bersedih dan meratap. Tidak akan mengubah apapun. Lagipula masih ada Adit dan Raffa yang harus bude bimbing.

Benar memang kata sebuah pepatah: Anak adalah sumber kekuatan terhebat di kala kesedihan datang menerpa. Saya banyak belajar dari kehilangan yang dirasakan bude. Meskipun saya salut dengan bude saya yang mau segera bangkit demi anak-anaknya, sampai saat ini saya masih belum memiliki keinginan untuk menikah. Masih takut. Takut saya tidak bisa menjadi sekuat beliau.

Tapi yang jelas, setelah kepergian orang yang pernah menjadi sosok yang begitu penting dalam hidup, ternyata dunia tetap berjalan seperti biasanya. Dunia tidak berhenti berputar untuk ikut menangis atau meratap bersamamu.

Jadi yang harus kita lakukan ya bangkit, menyambut dan ikut berputar bersama dunia. Mencoba banyak hal baru, mengunjungi banyak hati dan pintu yang sudah maupun yang belum terbuka dan juga lebih menikmati hidup.

2016 juga mengajarkan saya akan banyak hal-selain patah hati. Tahun ini saya naik gaji dan naik pangkat!. Saya belajar banyak tentang kewajiban dan tanggung jawab dalam bekerja juga pentingnya menjaga kepercayaan. Untuk naik pangkatnya sendiri sih bukan sesuatu yang cukup menyenangkan karena saya harus sering lembur ikut ke proyek hingga tengah malam. Tapi lumayan. Sangat menyenangkan.

Dan ya, kira-kira begitulah komposisi dari tahun 2016 milik saya ini.

Meskipun 2016 masih tersisa 30 hari lagi, tapi saya sudah merasa sangat senang dan beruntung karena masih bisa bertahan sampai hari ini. Yang jelas, 2016 ini benar-benar tahun yang sangat mantap. Dan oh, ngomong-ngomong tahun ini saya juga tepat berusia 20 tahun. 6 bulan pertama di usia 20, saya sudah merasakan banyak pengalaman unik.

Penasaran, kira-kira sisa 6 bulan di usia 20 yang akan datang, petualangan macam apa ya yang menunggu saya?

Meskipun rasanya menyakitkan dan sepertinya sulit untuk dilalui, tapi saya siap untuk menghadapi berbagai macam hal ajaib yang menunggu di depan sana: ketidakpastian, tantangan baru, kehilangan, harapan yang tidak menjadi kenyataan dan keajaiban yang entah kapan datang. Saya siap. Saya kuat.

Dan kalau 19 tahun terakhir saja kamu bisa bertahan, pasti 19 tahun yang akan datang juga bisa kan, Mai?

***

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie