life

Buku, Film dan Twitter

Semenjak lulus sekolah dan menunda melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, saya akhirnya mulai merasakan dunia kerja di sebuah restoran kecil di pinggir laut utara Jakarta. Tidak berlangsung lama sih, hanya beberapa minggu karena kemudian saya mendapatkan pekerjaan lain.

Pekerjaannya bukan saya banget. Saat sekolah dulu, saya pernah punya keinginan bila seandainya harus bekerja, saya mau punya pekerjaan yang mengharuskan saya banyak bergerak dan bertemu banyak orang; 2 hal yang sangat saya sukai.

Sementara pekerjaan yang saya dapatkan adalah asisten seorang dokter kulit. Enak sih, jalan-jalan terus ke tempat pasien. Tapi entah mengapa saya kurang sreg. Dan pekerjaan ini tidak bertahan lama.Saya kemudian di rekomendasikan ke teman dokter tersebut untuk bekerja menjadi seorang customer service sebuah perusahaan kecil karena pekerjaan saya cukup baik. Saya bekerja disini sampai 1 tahun lebih sedikit.

Saya kemudian di rekomendasikan ke teman dokter tersebut untuk bekerja menjadi seorang customer service sebuah perusahaan kecil karena pekerjaan saya cukup baik. Saya bekerja disini sampai 1 tahun lebih sedikit.

Karena perusahaan tempat saya bekerja cukup kecil dan tidak banyak customer yang datang, saya memiliki cukup banyak waktu luang. Bersyukur saya mengenal internet. Pada saat itu, waktu luang di kala kerja banyak saya habiskan dengan berselancar di dunia maya terutama untuk main twitter.

Sejak lulus sekolah, selain menunda melanjutkan pendidikan saya juga merombak habis citra diri saya di dunia maya. Saya menghapus pertemanan dengan beberapa teman sekolah di berbagai sosial media; twitter, facebook, instagram. Saya mulai mencari ”teman” baru dari twitter. Teman yang benar-benar tidak saya ketahui bagaimana rupa aslinya atau bahkan lokasi tinggalnya di peta.

Apa ya, semacam ingin mengenal dunia baru saja sih. Kalau seharusnya saya kuliah kan saya akan mendapat teman baru (secara nyata). Nah karena saya menunda kuliah dan kebetulan di lingkungan kerja saya tidak ada partner lain sehingga saya tidak memiliki teman, maka saya memutuskan mencari teman baru dari dunia maya.

Dan berhasil.

Saya lupa bagaimana ceritanya tapi yang jelas saya sempat bergabung ke beberapa circle geng tubir (tubir=ribut) yang ”cukup” terkenal di twitter. Saya kenal dengan beberapa pengguna akun twitter, kerap bercengkrama dan bertemu juga melalui komunitas Commutrip, komunitas yang hobinya jalan-jalan naik commuter line di Jabodetabek juga beberapa komunitas organisasi dan volunteer lain.

Lalu pada suatu ketika, saya mengenal seorang lawan jenis yang cukup menarik dan kami sempat dekat (silahkan artikan sendiri). Kami dekat, dekat, dekat lalu kami memiliki suatu kebiasaan kecil berkirim paket tiap bulan. Lokasi tinggal kami berjauhan dan kami suka saling berkirim paket yang isinya pinjaman buku / makanan ringan buatan sendiri atau flash drive yang isinya film.

Sejak kecil saya paling susah menonton film. Mata saya termasuk tidak cukup kuat menatap layar terlalu lama. Kalau dipaksakan, pasti saya akan ketiduran. Ini tidak hanya terjadi pada layar televisi tetapi juga dengan layar bioskop. Makanya selama saya pacaran beberapa kali, bisa dihitung dengan 10 jari berapa kali saya kencan ke bioskop xD.

Sejak dekat dengan seseorang ini, saya di perkenalkan dengan dunia film. Saya ingat waktu pertama kali beliau mengirimkan flashdrive berisi beberapa film dan sebuah surat. Dalam surat itu, kalau tidak salah ia menulis sebuah kutipan yang kira-kira seperti ini,

Dengan menonton satu film sehari, maka kita tidak lagi membutuhkan dokter.

Kurang ingat bagaimana pastinya tapi kira-kira begitu (suratnya masih saya simpan tapi malas tak bongkar di tumpukan file). Beberapa inti lain dari surat itu kalau tidak salah adalah, 1). Dengan menonton film, kita bisa jadi belajar tentang ”hidup” orang lain. 2). Menonton film dengan tema berbeda tiap harinya bisa membuat kita lebih bahagia.

Ya kira-kira seperti itulah, hh..

Beberapa film pertama yang ia kirimkan pada hari itu diantaranya adalah Taiyou no Uta (2006), Densha Otoko the Movie (2005), Koizora (2007) dan Collage of Our Life (2003). Ya, saya diberi film-film Jepang karena memang saya pernah bilang kalau saya tidak bisa menikmati ”gaya” film amerika.

Itu adalah kali pertama saya menonton film Jepang dan saya langsung suka. Dan kami jadi semakin sering berkirim paket. Kadang dalam sebulan bisa saling berkirim 2x kadang hanya sekali. Karena koleksi buku saya banyak, biasanya saya berkirim buku dan beliau yang mengirim film.

Tidak hanya film, saya juga sempat dikenalkan dengan seri drama Jepang. Beberapa seri drama awal perkenalan dan memiliki kesan menyenangkan bagi saya di antaranya, Rich Man Poor Woman (2013), Gokusen (2002), Hana Kimi (2007), Brother Beat (2005) dan Hotaru no Hikari (2007).

Yang menarik, beberapa film dan seri drama yang saya sebutkan di atas itu pilihan dari beliau. Bukan dari saya. Dan entah mengapa, setiap film dan serial drama yang dikirimkan selalu ”pas” dengan kondisi terakhir hidup saya gitu wqwq (cocoklogi). Biasanya kalau selesai nonton, saya dan beliau akan membahasnya entah itu melalui chat atau telepon berjam-jam.

Tapi dari semua itu, ada 2 film yang benar-benar membekas dalam benak saya yang menyangkut hidup dan hubungan kami berdua juga. Eat Sleep Die (2012) dan Solanin (2010).

Film pertama saya tonton ketika saya resign dari pekerjaan customer service dengan alasan ingin melanjutkan kuliah tapi ternyata saya malah main-main. Saya ingat, waktu menonton film itu saya menangis ra karuan karena saya juga sedang mengalami kebingungan seperti tokoh dalam film tersebut karena tidak memiliki kepastian pekerjaan dan masa depan.

Sementara film kedua, Solanin, saya menontonnya bersama beliau. Tidak, kami menonton di rumah masing-masing. Cuma nontonnya barengan gitu. Saat menonton film itu kondisi kami berdua sebenarnya dalam keadaan sehabis berantem. Lalu saat sudah selesai menonton itu, saya nangis super kejer sampai beberapa jam. Tokoh Meiko sedikit mirip saya.

Kami berdua sempat berbicara di telepon setelah selesai menonton film Solanin. Curhat akan banyak hal termasuk membahas sedikit soal pertengkaran kecil diantara kami beberapa hari sebelumnya. Seperti halnya dalam film Solanin, kami berdua juga mengucapkan janji kecil-kecilan untuk tidak saling meninggalkan dan tetap bersama. (hadeeh), yang sayangnya beberapa bulan kemudian malah saya langgar dan menyebabkan kami berpisah.

Dan ya, begitulah. Kami berpisah. Kebiasaan mengirim film itu terhenti. Saya pun berhenti menonton film, melanjutkan hidup hingga akhirnya resmi menunda kuliah lagi dan mendapatkan pekerjaan baru.

***

Beberapa waktu setelah saya resmi berpisah dengan beliau ini, saya sempat menghindari twitter, tempat kami berdua saling mengenal. Tapi tidak bertahan lama soalnya saya berhasil menemukan hal lain dari twitter yang lebih menyenangkan.

Saya lalu mendalami beberapa ilmu menarik seputar dunia twitter (yang tentunya tidak perlu saya jabarkan disini). Saya sempat membuat beberapa grup ngobrol menarik yang kerap membahas rencana rencana-yang tentu saja, lagi-lagi tidak perlu saya jabarkan disini.

Saya juga kemudian bergabung dengan komunitas membaca buku, mengaktifkan akun Goodreads dan kembali giat membaca. Saya menyembuhkan patah hati dan mengobati kesedihan saya dengan banyak membaca dan bertemu orang baru. (beberapa buku menarik yang saya temukan ada di post ini)

Waktu terus berlalu, saya akhirnya mulai merasa sedikit bosan dengan ritme hidup yang gini-gini aja. Kerja-pulang kerja baca buku-tidur:diulang setiap hari. Pekerjaan baru saya adalah sosmed admin di sebuah perusahaan dan toko yang cukup besar di sebuah Spesialist Trade Mall di Barat Jakarta.

Produk yang disediakan toko saya ini cukup beragam mulai dari alat safety, alat perkebunan dan pertanian, tangga dan perkakas rumah tangga, alat listrik, alat kesehatan hingga AC serta timbangan yang dijual dalam partai besar. Selain menjual secara offline, toko tempat saya bekerja ini juga menjual secara online.

Jobdesc saya adalah menginput barang-barang yang dijual tersebut ke website resmi dan beberapa situs marketplace. Kadang saya juga membuat beberapa konten dan ikut langsung ke proyek untuk melihat dan meninjau pengajuan pembelian dari calon pembeli.

Sebenarnya pekerjaan ini cukup sulit dan sibuk, mengingat stok barang ada banyak dan terus berkurang serta bertambah tiap hari. Tapi meski sibuk, kadang saya punya beberapa waktu senggang yang kerap saya gunakan untuk twitteran hingga yang baru saya tekuni setahun terakhir yaitu mengunduh film.

Dulu kan waktu saya dekat dengan seseorang itu saya dikirimi film yang sudah dia unduh. Nah, suatu hari saya kepikiran kalau bisa dia unduh, berarti saya juga bisa dong? Trus saya cari deh ”unduh film Jepang” dari google dan muncul beberapa situs ternama dan klik klik klik, saya mulai mengunduh dan menonton film lagi.

Lalu entah bagaimana, kebiasaan menonton film ini kembali hidup dan menjadi sebuah aktivitas yang cukup penting dalam keseharian saya. Saya mengunduh dan menyimpan film itu di komputer kantor (huhu maaf pakai peralatan kantor seenaknya :'<) lalu film yang sudah saya unduh itu saya pindahkan ke handphone karena kebetulan saya tidak punya dan tidak bisa juga sih lama-lama menatap layar laptop.

Karena menonton dari hp, dalam sehari kadang saya bisa menonton sampai 5 film sekaligus. Biasanya saya nonton saat dalam perjalanan pulang-pergi kerja dan malam hari sebelum tidur. Begitu terus kebiasaan saya setiap hari.

Dan yah, pada post kali ini saya ingin membuat daftar 30 film favorit yang tanpa sadar mempengaruhi dan membentuk pola pikir hingga sekarang saat saya hampir memasuki usia 21 tahun. Tadinya saya mau membuat 21 film tapi sulit menentukan pilihan. Jadi saya genapkan menjadi 30 hehe.

Iya, beberapa hari lagi saya berusia 21 tahun. Hm, kalau saya jadi mahasiswi maka saya sudah di semester akhir ya….HHH tidak. Yang mau kita bahas sekarang film bukan galauin masa depan. Langsung saja, ini 30 film kesukaan saya.

Kebanyakan film Jepang/Asia karena saya belum tertarik menjelajah film dari benua lain. Kebanyakan film juga bergenre drama-family-friend-youth karena saya belum berani nonton film yang banyak darah atau film setan.

Ini 30 film tersebut di urutkan berdasarkan abjad, bukan rating atau urutan kesukaan.

17-06-14-12-42-50-004_deco17-06-14-12-44-19-258_deco17-06-16-15-02-22-970_deco

17-06-14-12-46-59-920_deco

  1. 0,5mm
  2. 10 Items or Less
  3. 5 to 7
  4. After The Storm
  5. A Letter to Momo
  6. A Story of Yonosuke
  7. Big Hero 6
  8. Castle In The Sky
  9. Chef
  10. Fallen Angel
  11. Hana-Bi
  12. Flying Colors
  13. Inside Out
  14. I Wish
  15. Kisaragi
  16. Monster University
  17. Oh Brother, Oh Sister!
  18. One Million Yen Girl
  19. Ponyo
  20. Solanin
  21. Sue, Mai, Sawa: Righting the Girl Ship
  22. Summer Wars
  23. Sunny
  24. Tampan Tailor
  25. The Secret Life of Walter Mitty
  26. Tokyo Oasis
  27. Wall – E
  28. Whisper of The Heart
  29. Wood Job
  30. Zootopia

Kalau diminta untuk membuat kesimpulan, maka yang bisa saya katakan adalah, kebanyakan film yang saya cantumkan di atas bertema family dan krisis pencarian jati diri. Lebih banyak sih yang seputar family complex: keluarga berantakan, orangtua bercerai, hubungan kakak adik, ketakutan akan masa depan dan hal-hal sejenis itu.

Saya tidak begitu paham banget soal sinematografi film. Biasa saya menonton dan mengunduh film karena siapa pemain dan sutradara, apa judulnya dan genrenya apa. Jarang saya menonton film lihat sinopsisnya dulu.

Ada beberapa film di atas yang saya sukai karena tidak sengaja mengunduh, ada juga yang rekomendasi dari teman. Intinya, kalau kamu bertanya ”Mai itu orang yang gimana sih?”. Mungkin jawabannya ada di 30 film itu. Atau mungkin kamu bertanya, ”keluarganya Mai itu kayak gimana sih? Mai mau punya hubungan di rumah tangga yang bagaimana sih?” dll, jawabannya ada di 30 film itu wqwq.

Kalau ditanya, saya tentu ingin memiliki akhir hidup yang menyenangkan seperti dalam kisah 30 film kesukaan tersebut. Tapi ah, hidup saya kan bukan film. Jadi yang bisa saya lakukan adalah tetap melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya. Semoga akhirnya baik sih, hehe

***

Lalu, kalau seandainya kamu bertanya berdasarkan apa saya memilih film-film tersebut, maka mungkin jawabannya seperti ini:

Semenjak saya tidak sekolah, saya seperti kehilangan jati diri. Di lingkungan kerja isinya orang yang lebih tua dari saya semua, tidak punya teman mengobrol dan saya terjebak dalam “rutinitas”. Tidak bisa ketemu banyak orang, jarang bicara dan terus menatap komputer dan lain sebagainya. Berselancar di internet memang menyenangkan, tapi saya tidak pernah bisa benar-benar menikmati dengan baik.

Badan rasanya ada yang “salah” kalau tidak berinteraksi dengan banyak manusia. Sebagai seorang extrovert dan ESFP sejati yang bisa stress kalau kebanyakan diam, bekerja di depan komputer sangat menyiksa saya.

Nah, kehadiran internet dan film mungkin bisa dikatakan adalah seorang “teman” pengganti yang baik. Twitter dan film menurut saya seperti sebuah “sekolah tidak resmi” bagi kehidupan saya setelah lulus. Dari twitter dan pengguna yang saya ikuti, saya mendapat banyak pengetahuan baru tentang manusia. Mempelajari status yang kerap mereka unggah, trivia yang mereka ketahui bahkan sampai kisah sehari-hari dari kantor atau hubungan dengan kekasih.

Dari film, saya seperti belajar sebuah teori. Semacam mendengarkan guru yang sedang mengajarkan sesuatu. Yang menarik, saya bisa memilih mau belajar apa hari ini: alih-alih mengikuti “jadwal” belajar. Ya, memang apa yang saya dapatkan dari film tidak semuanya berguna sih. Soalnya kan tetap, yang terpenting adalah praktek (dan tentu saja tidak semua yang saya dapatkan dari film bisa saya praktekkan dalam kehidupan yang saya jalani saat ini).

Tetapi intinya, dari menonton banyak film dan berselancar di twitter, saya jadi merasa tidak terlalu kesepian banget. Saya juga berkesempatan ikut beberapa kegiatan relawan untuk charge energi extrovert saya (seperti volunteer mikoshi kemarin). Dan ya, begitulah hal-hal yang membentuk kepribadian saya 21 tahun terakhir.

***

Beberapa waktu lalu saya mengikuti kegiatan buka bersama dengan teman-teman semasa sekolah. Obrolan yang terjadi tentu bisa ditebak, ada beberapa yang mulai membahas tugas akhir kuliah, ada juga sih yang sibuk membahas diskon pakaian anak. Jujur, saya agak merasa sedih.

Dulu saat sekolah saya cukup berprestasi, eh tapi malah menunda kuliah. Ya memang tidak ada yang salah sih. Hanya saja kalau habis menonton film yang endingnya bahagia gitu kadang saya suka kepikiran, mau sampai kapan “sampai kantor download sampai rumah nonton film terus?”. “Mau kerjaannya gini-gini doang duduk depan komputer?”. “Emangnya gak mau ketemu dengan banyak orang secara real dan bekerja dengan banyak gerak?”. Dan masih banyak pikiran-pikiran lain yang tidak ada habisnya membuat khawatir.

Tetapi, yah, begitulah. Keinginan untuk menjadi lebih baiknya sih ada. Tapi mungkin nanti aja.

Kapan?

Kapan-kapan.

Hhhhh 😥

Kalau mau jujur, 30 film yang saya pilih adalah film-film yang menggambarkan tentang, keluarga-pertemanan-percintaan-dan karir yang saya harapkan dan inginkan di masa depan. Kira-kira, ada gak ya, dari 30 film itu yang endingnya bisa terjadi sama saya di dunia nyata(?)

Hhaaaaaahhh, sisa beberapa hari lagi sebelum saya berusia 21.

Saya penasaran, kira-kira hal menarik macam apa ya yang menunggu di depan sana?

 

 

*Pada post ini saya ingin mengucapkan spesial terima kasih kepada Dony Iswara, pengguna twitter pertama yang mengikuti balik akun saya dan “tanpa disadari” memperkenalkan saya pada geng CPS, Commutrip, dll, dsb, dst.

***Juga pada -Jaeger Admin y?- yang memperkenalkan saya pada film, JKT48 dan dunia Jepang lebih luas. s(y)g.

***Pada Burhan, Paidi, Badrun! 3 tokoh fiktif twitter kesayangan. Terima kasih sudah mampir ke warkop ci mai<3

****Pada reixha, kaknash, bangsop, ranANNISrun, ghaida farisya, viviyona apriani, cindy yuvia. Teman curhat, oshi kesayangan dan senpai baik hati<3

*****Pada semua following twitter saya sejak 2014 baik yang sudah kopdar atau masih tidak diketahui bagaimana bentuk aslinya, kalian mewarnai masa pencarian jati diri saya, terima kasih!

2 Hari seru di Ennichisai 2017 Jakarta

+Pada 13 dan 14 Mei kemarin, saya berkunjung ke Ennichisai Jakarta yang berlokasi di Blok M. Ini kunjungan pertama saya ke acara ini sekaligus acara Jejepangan pertama yang saya datangi tahun ini.

Ennichisai ini hampir sama seperti Jak Japan Matsuri. Penjelasan perbedaan antara JakJapan dan Ennichisai sendiri saya juga masih belum paham ya (hadeeh) (maaf malas riset, wq).

Yang jelas kalau Jak Japan itu berlangsung sekitar pertengahan tahun. Kalau Ennichisai itu masih di awal atau seperempat tahun pertama.

Pada hari pertama, saya datang setelah pulang kerja. Kebetulan saya sengaja pakai seragam kerja saya hari Senin biar sekalian cosplay ala-ala mb OL (office lady, sebutan untuk pekerja wanita di Jepang) gitu.

Tapi yang ada saya malah kayak mb kantoran rombongan krl di Tanah Abang-Tangerang. Pakai ransel+totebag di pundak kanan-kiri yang berisi berkas kerjaan wqwq.

Di hari pertama, saya berangkat dari Kantor pukul 3 sore karena saya menunggu kurir yang mengantarkan paket roll film yang ternyata gak datang.

Jadi roll film saya hanya tersisa yang ada di kamera yaitu 14 film. Padahal saya ingin memotret beberapa momen terbaik di Ennichisai

Saya tiba di lokasi acara pukul 5 sore. Ya. Dari Glodok sampai Blok M memakan waktu 2 jam. Yang bikin lama sih dari Bundaran Senayan sampai Blok M-nya. Macetnya luarrrrrrr biasaaaa.

Dan ya, karena sudah bosan dan terlanjur malas karena macet ini, pas akhirnya sampai di lokasi, saya cuma mencari lokasi tenda untuk volunteer Mikoshi, trus udah pulang lagi.

IMG_20170514_152443

Iya.

2 jam perjalanan buat gitu doang T_T.

Dah keburu bosen dan capek karena bawa banyak dokumen dan sepatu juga lagian hhh.

***

Keesokan harinya saya bangun pukul 5 pagi. Terus mandi, mulai berkemas dan memaksakan diri membuang semua jenis “kotoran” dari tubuh.

Berdasarkan pengalaman di JakJapan kemarin, toilet di lokasi acara itu kurang nyaman. Jadi jangan sampai saat acara berlangsung nanti saya merasa sakit perut atau hal-hal sejenis itu. Kebetulan juga saya sedang haid, jadi setelah selesai mandi itu saya benar-benar melakukan pembersihan diri.

Saya sebenarnya masih belum tau sih di acara ini toiletnya bagaimana. Cuma untuk mengantisipasi dan lagian malas juga kalau harus mampir-mampir ya jadi saya benar-benar mencoba mencegah dulu,hehe.

Pukul 9 pagi tepat saya berangkat. Pukul 10.10 saya sampai di sekitaran Monas. Kebetulan masih ada CFD (Car Free Day) di sekitar situ sampai Blok M. Jadi jalanan super lancar dan saat melihat beberapa orang yang beraktivitas di jalanan (CFD-an), saya benar-benar kagum dan kaget.

Sejak diadakan CFD di Jakarta (entah itu tahun berapa) sampai sekarang, saya sama sekali belum pernah berpartisipasi/lewat di daerah yang termasuk area CFD itu.

Apa ya, malas aja sih rasanya. Kayak, kenapa harus berolahraga di area CFD sih? Sama aja kan kayak lari di jalanan depan rumah(?) Dan ya, pemikiran-pemikiran seperti itulah wqwq.

Ramai ya ternyata. Padahal sudah hampir pukul 11 pagi. Ada yang jualan di pinggir jalan, sepedaan, main skate, duduk di tengah jalan, jalan bersama Anjing, selfie dan lain sebagainya. Saya lupa foto saking kagum (dan norak) (sampai mulut saya ternganga lebar melihat keramaian di jalanan) (hadeeh).

Pukul 11 kurang sedikit saya tiba di lokasi. Lapor dengan Kak Nadya, salah satu koordinasi dari team Mikoshi universitas Binus. Yap, saya gabung dengan team dari Binus. Sehari numpang jadi mahasiswi Binus xD.

Saya dapat seragam dan diminta berganti. Dan tak lama kemudian anggota lain berdatangan.

***

Pukul 12.40 adalah acara pengangkatan Mikoshi yang pertama. Di rundown acara yang dibagikan sih seharusnya tim pria, tim wanita dan tim anak-anak mengangkat semua. Tapi ternyata yang mengangkat hanya tim wanita dan anak-anak.

Di pengangkatan yang pertama ini, saya memilih lokasi di sebelah kanan. Ngangkatnya di bahu kanan gitu. Cuaca siang itu cukup sejuk(?). Gak mendung, gak panas dan cukup berangin gitu lah.

Karena saya belum berkeliling ke semua lokasi, saya jadi kurang tau ya rute pengangkatan mikoshi ini kemana saja. Dan ternyata,,,,rutenya cukup panjang T_T. Tim mikoshi sampai harus beristirahat sebanyak 6x.

IMG_20170514_131444

di pertengahan jalan tiba-tiba panas

Sekitar pukul 13.50an pengangkatan akhirnya selesai. Peserta volunteer dapat makan siang. Selesai makan, saya mencoba menjelajah ke semua lokasi dan stand di ennichisai ini.

Waktu menjelajah, saya agak pusing. Ramainya bukan main. Dan karena saya menjelajah sendiri, jadi agak canggung gitu. Soalnya di kanan-kiri pada sama pasangan atau sama teman. Mana saya masih pakai kostum mikoshi lagi wqwq. Tapi ya PD aja sih.

Untuk mengurangi rasa canggung, saya sambil memotret ke beberapa momen yang menurut saya menarik. Tapi cuma dapat sedikit karena roll film saya habis.

Saya mampir ke stand penjual gantungan kunci. (Saya lemah dengan gantungan kunci dan kaus kaki). Kebanyakan gantungan kunci yang tersedia adalah gantungan karakter terbuat dari rubber atau akrilik bergambar tokoh anime.

Sayangnya, gak ada satupun tokoh anime yang saya tahu wqwqwq. Gak ada Yotsuba, atau Crayon shinchan, atau Dragon Ball atau Dr. Slump gitu (emang mereka anime ya, Mai?). Ada sih One piece, Naruto, Doraemon dan Totoro. Cuma kayaknya udah terlalu biasa.

Saya akhirnya membeli gantungan bel karakter Line, Brown dan Cony. Ini gantungannya bisa bunyi “kleneng-kleneng”. Saya suka gantungan kunci yang bersuara.

Soalnya saya suka pergi sendirian, dan suara lonceng itu kayak “teman” saya gitulah biar gak sepi-sepi banget kalau berjalan di tempat sepi. Saya membeli 2 gantungan ini dengan harga Rp10.000/pcs.

Saya juga mampir ke stand penjual tas-tas kerajinan asli dari Jepang. Saya sebenarnya sedang mencari tas slempang (biar gampang kalau jalan-jalan bawa kamera). Dan ada sih tasnya, cuma mahal banget Rp250.000,-

Akhirnya saya cuma membeli pouch seharga Rp15.000,- yang pas banget buat tas kamera. Habis itu saya mencoba melirik beberapa stand makanan yang ada (yang sayangnya penuh dan antre semua) (malas). Akhirnya saya mampir ke stand Glico. Membeli 3pcs es krim yang kebetulan sedang promo dengan harga 3/10.000,-

Hadeh, padahal saya belum pernah makan makanan jejepangan gitu. Penasaran. Tapi gatau kenapa kalau ada yang jual selalu malas beli😅.

***

Pukul 16.00, pengangkatan Mikoshi yang kedua pun dimulai. Pada pengangkatan kedua ini tim pria juga ikut mengangkat. Kali ini saya mengubah posisi mengangkat di bahu sebelah kiri yang kemudian saya sesali karena entah mengapa kalau di bahu kiri rasanya lebih berat.

Pada pengangkatan kedua ini ada orang yang naik ke atas mikoshinya. Trus di rombongan saya juga ada beberapa personel idol yang ikut menggotong juga untuk keperluan komersil di Jepang. Nama grupnya kalau gak salah KissBee. Anggotanya ada 4 orang, lucu dan menggemaskan semua.

IMG_20170514_153759

Saya gak sempat tanya-tanya, twoshoot bareng atau hal-hal sejenis itu. Sudah malas dan capek duluan wq. Tapi ada 1 yang berambut pendek dan bikin “yaroobb” banget.

Dan ada 1 orang juga yang saat pengangkatan berlangsung sibuk teriak-teriak histeris sendiri karena kaget (dan mungkin kesakitan). Melihat dia teriak-teriak membawa hiburan tersendiri yang membuat saya semangat mengangkat saat itu wqwq.

Selesai mengangkat, saya sempat istirahat dan tidur sekitar 20 menit. Kebetulan banyak volunteer yang tidak bisa ikut mengangkat secara full 3x dan izin pulang. Jadi tenda istirahatnya cukup lenggang.

Saya terbangun saat adzan isya. Langsung pusing karena tidur sore-sore. Tapi badan juga jadi agak segar.

Pukul 19.40 pengangkatan terakhir sekaligus penutupan dimulai. Kali ini terdiri dari tim wanita, tim pria, dan tim bapak-bapak gabungan dari warga Indonesia, Jepang dan luar Asia. Yang tim anak-anak sudah tidak ada.

Pengangkatan terakhir ini rutenya singkat. Hanya lurus (kira-kira 5 menitan. Saya gak bisa menggambarkan dengan ukuran jarak) lalu nanti berputar-putar di depan panggung utama.

Nah, karena ada cukup banyak volunteer wanita yang tadi pada pulang, akhirnya beberapa ibu-ibu Jepang pun ikut membantu mengangkat. Dan padahal sudah ada bantuan ya, tapi pas pengangkatan pertama, mikoshinya sempat hampir jatuh karena tinggi peserta volunteer tidak seimbang dan jumlahnya masih kurang.

Tapi akhirnya bisa naik sih. Walaupun, yarobb, rasanya super berat banget. Saat istirahat sejenak di pertengahan jalan, saya dipindahkan ke depan oleh pimpinan rombongan. Katanya saya super bersemangat, jadi saya diminta ke depan untuk menyemangati peserta yang lain juga.

Dari acara pengangkatan pertama dan volunteer tahun lalu biasanya saya selalu di bagian belakang dekat mikoshinya gitu. Lebih enak aja. Dan ini pertama kalinya di depan, rasanya deg-degan banget. Di depan itu lumayan berat karena dia menanggung beban pertama.

Saat ketakutan seperti itu, saya ditepuk oleh salah satu mb dari Jepang yang naik ke mikoshi (yang kebetulan jadi partner saya juga di mikoshi jakjapan lalu).

IMG_20170514_191441

Partner terbaik! 2x berturut-turut dapat ketua mikoshi beliau terus. Ramah, baik dan murah senyum. Tapi saya gak tau namanya wqwq. Nanti kalau ikut di Jakjapan, saya janji bakal ajak kenalan dan foto bareng ah xD

Dia menyemangati dan menggengam tangan saya mengatakan “ganbare, semangat”. Saya hanya bisa bengong. Tangannya hangat. Dan entah mengapa saya jadi super bersemangat.

Dan saat pengangkatan di mulai…ah rasanya campur aduk banget deh. Bebannya berat. Trus suara saya hampir habis dan rasanya super haus karena harus berteriak menyemangati. Berkali-kali mikoshinya juga oleng karena peserta lain juga mulai kelelahan. Tapi mb yang naik ke atas mikoshinya rajin menyemangati.

Trus pas mulai berparade dan berputar di depan panggung utama itu ya…rasanya luar biasa. Saya sampai nangis karena kesakitan+keringat yang masuk ke mata dan bibir. Capek, sakit, tapi pas mendengar teriakan “ganbaree” “ganbaree” dari pemimpin mikoshi juga jadi bersemangat.

Rasanya lepas.

Lega.

Setelah parade selesai, Ennichisai pun resmi ditutup. Ada kembang api yang dinyalakan dari atas atap Blok M square. Kembang apinya indaaah banget.

Pas liat kembang apinya, saya nangis. Kangen. Tapi gatau kangen sama siapa

Saya nonton sambil ngobrol dengan salah satu bapak-bapak dari Jepang. Dan pas kembang apinya selesai, kami bersalaman dan dia berkali-kali menepuk punggung saya mengatakan “terima kasih, kamu kuat, kamu kuat”.

Nangisnya makin kejer😭😭

***

Selesai penutupan sempat ada selfie bersama dari panggung. Cuma saya gak begitu peduli karena udah capek. Tim mikoshi pun balik lagi ke tempat semula dan ya seperti biasa, dibagikan Sake dalam gelas untuk yang memang ingin mengkonsumsi.

Tahun lalu saya mencoba setengah gelas aqua kecil. Trus kemarin, saya minum 3 gelas😅. Pertama satu gelas penuh. Trus gatau kenapa saya nambah lagi 1 gelas penuh. Eh pas udah abis, dituangin lagi setengah wqwq.

Rasanya masih aneh dan bikin tenggorokan panas. Tapi saya ingat, begitu saya sampai rumah, saya bisa tertidur pulas dengan sangat nyaman tanpa kesakitan.

3 gelas.

Gapapalah ya, pengalaman sebelum menginjak usia 21😅.

Selesai minum-minum, saya pun berganti pakaian bersiap untuk pulang. Sebelum pulang, peserta volunteer dibagikan souvenir sebuah kantung kecil. Katanya ini asli dari Jepang. Ada warna Hijau dan Merah. Saya dapat yang Merah. Jadi agak menyesal tadi udah beli kantung kecil wqwq.

Dan sebelum pamit, ka Nadya sempat bilang ke saya,

“kak Mai jangan kapok ya! Sampai jumpa di Jak Japan dan Ennichisai tahun depan!”

Saat perjalanan menuju halte Transjakarta, saya sempat membatin dan berpikir akan banyak hal.

Waktu datang kesini, mood saya sebenarnya sedang kacau walaupun sudah melakukan pembersihan badan.

Saya lagi kangen, tapi gatau kangen sama siapa.

Saya lagi bosan sama kerjaan juga. Bingung mikirin kuliah yang gak jadi-jadi dan nafsu duniawi yang tidak ada habisnya (dan saya yang selalu berhasil terjerat hawa nafsu itu).

Waktu mengangkat mikoshi dan memberi serta diberi semangat oleh banyak orang tadi, perasaan saya benar-benar campur aduk. Lega, lepas, tenang.

Capek, tapi di satu sisi juga entah mengapa rasanya lega. Seperti ada beban berat yang terangkat. Saya kayak diyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa ketakutan saya akan masa depan itu tidak akan terjadi, masa depan tidak akan seburuk itu. Semuanya akan baik-baik saja.

Jadi ingat waktu di semangati mb dari Jepang tadi. “Ganbare, semangaaat”. Ah, kebahagiaan dan kesedihan itu menular. Energi manusia itu tidak main-main, bisa berpengaruh. Hubungan antar manusia itu ajaib.

Dan, ah, bertemu banyak orang memang selalu menyenangkan. Kalau kata orang-orang, energi extrovert saya benar-benar terisi penuh.

Dan saat dalam transjakarta di sebuah lampu merah, saya tiba-tiba ingat lagi ucapan kak Nadya yang membuat saya membatin,

“tahun depan ya…, Umur saya sampai gak ya,,,”

ps: spot saya saat mengangkat mikoshi sebenarnya cukup strategis. Di depan dan pinggir. Dan selama pengangkatan ini seingat saya banyak orang yang mendokumentasikan dalam bentuk video ataupun gambar. Pagi tadi sudah saya telusuri semua postingan di instagram dengan hashtag #Ennichisai #Ennichisai2017 #mikoshi tapi entah mengapa tidak ada post foto yang ada sayanya ataupun foto yang bagus. Jadi gak saya cantumkan disini wqwq.

Kalau nanti saya nemu foto/video yang bagus akan saya lampirkan deh xD

dan ah, foto lainnya akan saya unggah di akun flickr pribadi saya ya!

Main – main ke Lowlight Bazaar 10

Pada 1 Mei kemarin, saya berkunjung ke salah satu acara yang sepertinya rutin diadakan oleh JellyPlayGround, salah satu komunitas penggemar kamera analog di Indonesia yaitu Lowlight Bazaar.

IMG_20170501_164148

Lowlight Bazaar ini adalah acara dimana kalian bisa bertemu langsung dengan penjual kamera film/analog dan berbagai perlengkapannya. Seperti misal penjual lensa, kamera, atau mungkin ada yang mau drop film untuk dicuci/cetak dan yang lainnya.

Saya mengetahui kegiatan ini dari instagram dan setelah saya telusuri lebih jauh, ternyata ini adalah ke-10 kalinya acara ini diadakan (makanya namanya Lowlight Bazaar 10 xD).

Acara diadakan di Qubicle yang terletak di Senopati 79 Kebayoran Baru, Jakarta. Saya datang pukul 11 pagi (1 jam setelah acara ini resmi di buka) dan sudah ramai banget!

Kalau mau masuk ke bazaar ini, kita harus membayar tiket masuk seharga Rp10.000. Nanti saat beli tiket, kita harus mengisi form nama, email dan akun instagram. Setelah itu tangan kita akan diberi cap dan juga dikasih stiker (stiker yang saya dapatkan lupa ditaruh mana wqwq).

cap di tangan yang sudah pudar.

Venue acaranya sendiri bisa dikatakan cukup kecil tapi ya masih bisa untuk bergerak dengan bebas. Jumlah tenant yang tersedia kalau tidak salah ada sekitar 15an. Waktu saya datang itu sudah ramai banget (gak sempet foto).

Ada beberapa pengunjung yang langsung sibuk mampir ke beberapa tenant, ada juga yang sibuk menangkap momen dengan kamera analog andalan mereka, ada juga yang berdiri di beberapa spot kosong bertukar cerita macam-macam.

Tujuan saya kesini adalah beli kamera gara-gara sehari sebelumnya pada 30 April, saya habis dari bazaar buku Big Bad Wolf dan sempat ”parkir” di stand photography selama 1 jam dan liat koleksi yang ada trus nangis hh.

Selama ini saya tidak pernah menekuni suatu kegiatan/hobi dengan serius. Beberapa hobi yang pernah saya geluti diantaranya adalah BMX dan menulis. Hobi-hobi itu hanya saya coba sambil lalu saja yang membuat saya selalu merasa kesulitan ketika ditanya ”hal apa yang kamu sukai?”.

1493795295577

Yang saya sukai banyak. Tapi yang benar-benar saya tekuni hingga mahir nggak ada. Dan pas ”parkir” sejenak di stand Photography kemarin, entah mengapa saya seperti mendapat sebuah bisikan untuk menekuni dunia memotret.

Tidak harus sampai memiliki target jadi tukang foto senior deh. Minimal saya tau beberapa teknik dasar dan juga perbedaan jenis kamera juga gapapa. Yang penting saya tahu. Jadi tidak hanya sekedar jepret saja.

Dan yap, setelah menimbang dan memilih, saya akhirnya membeli 2 buku ini. Entahlah. Saya berpikir mungkin suatu saat akan berguna bagi saya aja gitu, hehe.

***

Balik lagi ke Lowlight Bazaar, pencarian kamera yang ingin saya beli ini agak susah ya. Karena saya sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang kamera analog, jadi saya pengennya cari penjual yang bisa ditanya-tanya gitu. Masalahnya, hampir semua stand penuh.

Dan akhirnya setelah 3x kali muterin semua tenant sekalian liat range price dari beberapa kamera yang dijual, saya berhenti di tenant milik HipercatLab, toko dari Bandung.

Ownernya cukup ramah. Ada 2 orang, seorang mas dan mbak. Kamera yang dijual juga cukup beragam dan entah mengapa saya langsung jatuh cinta sama kamera Olympus yang terpajang disana.

IMG_20170501_115116

Oiya, sebelum pergi kesini sebenarnya saya sudah menetapkan target untuk tidak menghabiskan uang lebih dari Rp500.000,- dan kalau bisa beli kamera yang merk-nya pasaran biar kalau gak tau bisa cari review atau tutorialnya di youtube.

Nah, waktu naksir si Olympus ini, saya gak sempat googling dulu karena entah kenapa hp saya gak dapat sinyal dan ya tau-tau udah kebeli aja gitu. Dan pas sampai rumah dan bisa internetan, saya langsung agak menyesal karena review atau tutorial di youtube-nya gak ada T_T.

Kamera yang saya beli adalah Olympus oz 70 panorama zoom yang dijual seharga Rp450.000,-. Fungsi semua kamera masih ok. Saya juga beli isi film Fujicolor seharga Rp100.000,- dapat 2 (masing-masing berisi 36 film). Oiya, saya masih belum tau nih soal jenis-jenis isi film gini. Katanya beda merk beda hasilnya gitu. Itu saya main asal beli yang termurah aja. Masih perlu belajar dan riset soal ini hmm.

Kalau ditanya kenapa saya naksir ini, gatau juga ya. Pokoknya pas lihat langsung naksir aja. Padahal kamera ini agak berat dan menurut saya kurang mini (saya suka yang kecil-kecil). Sebenarnya ada lagi seri olympus lain, cuma dia gak ada fitur zoom. Saya milih ini karena ada fitur zoom-nya gitu.

Alasan yang aneh memang wqwq. Dan hh, sebenarnya masih banyak yang belum saya ketahui perihal kamera ini. Agak nyesel karena gak ada review atau pun artikel tentang ini kamera padahal penasaran maksud dari panorama zoom itu apa dan lain sebagainya.

Alasan lain kenapa saya membeli kamera adalah karena sebentar lagi bulan Juni. Selain suka menghitung mundur menuju hari-hari penting dalam hidup, saya juga suka memberi suatu benda mahal/pergi ke suatu tempat untuk menyegarkan pikiran sejenak sebagai bentuk kado untuk diri saya sendiri.

Yap, bulan depan kalau saya diberi umur panjang, saya akan ulang tahun. Dan saya sudah duluan memberi kado untuk diri sendiri dari sekarang wqwq. Gapapa kan ya? xD

Kemarin saya sudah jalan-jalan ke Semarang sih (dan uh, soal ini kayaknya gak bakal saya tulis karena udah mager duluan wqwq). Tapi entah mengapa saya merasa masih ada yang kurang. Pengen beli kamera juga untuk mengabadikan sesuatu.

Tadinya saya mau membeli kamera instax karena tidak perlu repot mencuci cetak lagi. Tapi kayaknya instax terlalu ”modern” banget. Trus tadinya mau langsung beli kamera digital aja tapi sebenarnya saya sudah punya kamera saku pemberian dari oom saya.

Jadi ya, akhirnya beli kamera analog ini. Hitung-hitung sebagai kenangan juga sih. Siapa tau bisa diturunkan kepada anggota keluarga yang lain atau mungkin dijual lagi. Saya jadi ingat dulu waktu kecil sering dipotret oleh ayah saya pakai kamera analog juga.

Waktu kecil ayah saya pernah bekerja jadi tukang cuci foto di sebuah stand Fujifilm resmi di daerah Lembah sungai gajahwong, Yogya. Makanya foto kecil saya cukup banyak karena sering diabadikan. Lain halnya dengan adik saya yang kayaknya cuma ada sekitar 20an foto saja karena setelah adik saya lahir, ibu dan ayah saya berpisah.

Dan ah, ketika tulisan ini dibuat, saya sudah menghabiskan 1 roll film untuk memotret beberapa sudut rumah saya yang kebetulan sedang direnovasi (ditinggikan dan di cat ulang), memotret tempat kerja saya di Glodok dan…apa lagi ya…lupa wqwq.

Nanti kalau kedua roll film itu sudah terpakai dan sudah di cuci-scan, akan saya unggah di akun flickr atau akun instagram saya. Ah, rasanya jadi tidak sabar menunggu hasilnya xD

Dan ah, masih tersisa 42 hari lagi menuju hari ulang tahun saya, ada kejutan apa ya yang menunggu saya di depan sana(?)

IMG_20170503_110130

Sejauh ini, 3 benda berharga yang saya miliki; Olympus oz 70 panorama zoom, smartfren andromax haier EC dan canon PowerShoot A800. (gambar di potret menggunakan lenovo p1a42)