[Product Review] Body Scrub & Lip balm from Evete Naturals

Jadi beberapa minggu yang lalu saya mendapatkan bingkisan menarik kerjasama dari majalah Gogirl! dan Evete Naturals. Produk yang saya dapatkan adalah Body Scrub dan Lipbalm yang terbuat dari bahan alami buatan lokal dari Evete Naturals yang berasal dari Yogyakarta.

IMG_20170417_121844

Seminggu terakhir ini saya rutin memakai kedua produk yang saya dapatkan tersebut dan saya puas banget!

Dan yap, mari kita mulai reviewnya saja ya!

Evete Naturals Body Scrub Chocolate Mint

Saya berkesempatan mencoba body scrub yang varian chocolate mint. Body scrubnya ada 2 varian. Varian lain yang tersedia adalah varian Coffee.

Produk di kemas dalam plastik kemasan berwarna putih yang cukup kuat dan tidak murahan. Ada logo kemasan dan stiker expired produk yang tertera dibawah kemasan. Menurut saya packingnya ini cukup menarik. Kesan naturalnya dapet dengan kemasan berwarna putih seperti ini xD

Kemasan ini dilengkapi dengan klip yang memudahkan untuk membuka-menutup produk. Dengan isi 150gram, menurut saya produk ini bisa dipakai sampai 2-3 bulan dengan pemakaian seminggu 2x.

Sayang butiran scrub yang terdapat di produk ini lumayan besar ya…agak sakit kalau digosok ke badan. Tapi lama-lama enak kok, hehe

Produk ini dibuat dari Coffee, Brown sugar, chocolate powder, sea salt, coconut oil, almond oil, vitamin E dan peppermint essential oil. Tapi ketika produk ini dibuka, bau yang langsung bisa saya kenali hanya bau mint dan kopinya saja xD

Selama seminggu kemarin, saya mencoba memakai produk ini tiap 2 hari sekali saat mandi pagi. Sensasi saat memakai produk ini tuh kayak mandi pakai penyegar mulut. Tau kan penyegar mulut yang biasa dipakai sehabis sikat gigi itu?

Nah, sensasi yang tubuh saya rasakan ketika memakai produk ini tuh persis seperti itu. Adem-adem semriwing gitu wqwq.

Enak sih, tubuh jadi segar dan langsung ”ON” siap beraktivitas gitu rasanya. Cuma pernah, saya terlalu banyak memakai di daerah ketiak dan paha. Nah, sensasi dinginnya gak hilang-hilang dan saya jadi kedinginan sendiri gitu wqwq.

Setelah pakai produk ini kulit jadi agak berminyak sedikit gitu tapi setelah dikeringkan pakai handuk, kulit jadi lebih kenyal dan bersih. Entah ini sugesti atau gimana, tapi setelah pakai scrub, badan kayak jadi entengan karena kulit mati di tubuh sudah agak lebih bersih gitu hehe

Cara pakai produk ini sama seperti body scrub biasa ya. Pakai di kulit yang sudah dibasahi, gosok perlahan, diamkan beberapa menit, bilas.

Saya sangat merekomendasikan produk ini dan yap, saya akan repurchase! Puas dan seneng banget!!!

Evete Naturals Lip Balm Vanilla

THIS IS GOLDDDDD!!!! VERY MOISTURIZING1111!!!!

Sejak mengenal lipstik matte, saya jadi cukup selektif dalam memilih lip balm untuk membantu merawat bibir. Hampir semua merk lip balm mulai dari yang bentuknya colek, stik, marker pernah saya coba tapi semuanya mengecewakan. Ujungnya kalau sehari lupa pakai, besoknya bibir jadi pecah-pecah gitu hingga akhirnya saya menyerah dan mencoba pakai madu aja.

Tapi saya madu juga masih mengecewakan. Kadang walau sudah pakai madu, bibir masih suka pecah-pecah juga 😥

Nah, waktu dapat lip balm ini, saya sempat agak takut nih. Sempat mikir ”alah, paling ini gak bakal kepake karena bikin bibir pecah-pecah juga”.

TAPI TERNYATA TIDAK!

Produk dikemas dalam wadah stik putih seperti lem gitu. Produk diberi stiker merk yang entah mengapa justru jelek banget. Ini kemasan produknya menurut saya jelek ya. Stiker produknya gampang hilang, tutupnya gampang copot, dan kemasan produk yang saya dapatkan ini lumayan ringkih gitu mletot-mletot (apa bahasa yang enaknya ya?) (saya gatau produk yang lain begini juga atau tidak).

Ada 4 varian rasa lain yang tersedia. Diantaranya Chocolate mint, coconut, strawberry, dan lemon ginger. Saya pengen repurchase lagi cobain varian chocolate mint. Dari namanya saja saya sudah bisa membayangkan bakal kayak gimana produknya xD

Berat produk ini 5 gram. Hm, mungkin bisa habis dalam waktu 3 bulanan kalau rutin dipakai. Produknya berwarna putih yang ketika dioles ke bibir tidak menimbulkan warna (transparan) dan memiliki aroma vanila yang manis dan enak!

Tiap pakai ini rasanya saya jadi pengen ciuman sama orang wqwq

Dari web evete naturals, dianjurkan memakai produk ini sehari 2x. Tapi saya hanya pakai ini tiap malam sebelum tidur. Begitu bangun keesokan harinya, bibir jadi lembut dan membantu lipstik matte saya bertahan lama di bibir.

Kalau disuruh memilih antara lip balm atau body scrub, mungkin saya akan memilih lip balm ini sebagai best produk. Soalnya, bener-bener melembapkan bibir banget sampai saya nangis karena benar-benar terharu :’)

Oh, saya sudah tes coba 2 hari gak pakai produk ini dan pas pakai lagi, bibir gak malah pecah-pecah kayak produk lip balm lain. Pokoknya ini produk wajib dicoba banget deh buat orang-orang yang memiliki masalah bibir dan yang sering pakai lipstik matte! Juara!

Hanya satu kekurangan dari lip balm ini: kemasan produknya jelek 😥

Dan buat yang penasaran sama produknya, bisa berkunjung ke website resmi mereka disini. 

Review ini saya tulis karena keinginan saya sendiri untuk mendukung produk Indonesia. Mungkin kalau produk dari Evete ini mengecewakan, gak bakal saya buat reviewnya hhe.

Dan ah, terima kasih Gogirl! karena sudah mengenalkan saya dengan Evete Naturals!

Sampai jumpa di review lainnya!

 

[Product Review] Lipstick Viva Perfect Matte Lip Color shade 705 Mocha

Setelah kebanyakan postingan rant, mari kita kembalikan blog ini pada tema yang sebenarnya yaitu untuk review produk!

Kali ini saya ingin mengulas tentang produk baru Viva yang dikeluarkan sekitar awal tahun lalu, Lipstick Perfect Matte lip color. Ada 10 varian warna dengan isi 2,5gram dan kali ini saya mau mengulas 1 warna dulu (karena mampunya beli 1 xD). Sekitar bulan depan mungkin akan saya tambahkan review untuk warna lain yang menjadi best seller atau kira-kira yang warnanya cocok dengan bibir saya.

Shade yang pertama saya coba kali ini nomor 705 dengan nama Mocha.

Produk dikemas dalam kardus berukuran 10cm dengan dus berwarna kuning cerah khas Viva Queen. Untuk packing lipstik, dikemas dalam tabung kecil yang kebetulan ukurannya sama dengan produk dari lipstik purbasari.

Bedanya, kemasan produk viva ini bahannya matte kokoh. Ini ada perbandingan dengan kemasan purbasari. Kalau dari purbasari, dia kemasannya hitam agak mengkilat (kurang tau namanya apa) dan tutupnya gampang kendor. Tulisan purbasarinya juga lama-lama hilang.

Nah kalau dari Viva ini tutupnya cukup kencang dan kayaknya gak bakal kendor. Tulisan di badan lipstiknya sendiri pun nggak murahan dan kayaknya sih gak bakal pudar (nanti kita lihat setelah beberapa bulan ya).

Saya cukup suka dengan kemasannya. Terihat mahal dan mewah banget xD

Waktu saya coba aplikasikan lipstik ini ke tangan dan bibir, produk bisa mengeluarkan warna dengan cukup sempurna walaupun baru sekali oles. Tekstur produk begitu ringan dan nggak menggumpal!

Saya kebetulan coba di bibir barengan sama purbasari shade 81. Di bibir bawah pakai viva, di bibir atas pakai purbasari itu. Hasilnya beda banget.

Kalau yang purbasari, dia agak menggumpal di bibir dan ada efek basah. Sementara yang viva ini nggak. Dia langsung bisa merata dengan sempurna walaupun hanya 2 kali oles dan teksturnya pas aja gitu, gak terlalu basah ataupun kering.

Warnanya hampir mirip banget sama purbasari shade 81 ini ya. Cuma yang purbasari ini lebih coklat-merah sementara yang viva ini lebih ke coklat-oranye. Saya cukup suka sih karena cocok banget di bibir saya hehe

Oiya, soal aroma!

Yang Viva ini dia wangi vanilla mirip susu bendera xD. Saya kurang suka wanginya, bikin eneg aja gitu karena mirip banget sama susu bendera hhh. Wanginya juga lumayan awet banget di bibir. Jadi saran saya kalau kamu kurang suka wangi vanilla mungkin bisa oles 1/2 kali setelah itu diratakan pakai tangan saja biar tidak terlalu bau.

Purbasari juga wangi sih, tapi wanginya pas produknya masih utuh aja. Sekarang (yang punya saya) udah sisa setengah, udah gak begitu wangi lagi.

Ini ada foto perbandingan kedua warna lipstik tersebut swatch di tangan dalam ruangan. (gambar atas purbasari shade 81, gambar bawah viva shade 705)IMG_20170407_133926

IMG_20170407_133943

Ini foto setelah saya diamkan di tangan selama hampir 5 jam. Produk langsung berubah menjadi cukup matte (saat pertama dioles, masih agak glossy gitu). Saya bilang cukup matte karena setelah 5 jam di diamkan dan coba saya colek pakai jari dan tisu masih transfer. Jadi menurut saya kurang matte banget tapi ya boleh dicoba karena warnanya bikin segar bibir dan produknya sendiri cukup murah dan berteksur ringan.

Ini foto saat dibersihkan menggunakan viva cleanser. Cukup bisa bersih dalam beberapa kali usap.

Bila berminat untuk membeli produk ini bisa langsung ke web viva disini  Saya kurang tau harga pastinya berapa. Tapi saya pernah menemukan ada penjual yang memasang harga Rp24.000/pcs. Jadi mungkin pasarannya sekitar Rp24.000-35.000.

Kalau misal ada yang jual lebih dari harga segitu sih saya saran untuk beli di tempat lain saja xD

Sekian review saya kali ini. Bulan depan akan saya tambahkan untuk varian lain. Atau ada request sebaiknya saya beli yang varian mana?

Untuk review produk viva lain bisa dilihat disini

Sepatu

Saya suka berjalan kaki dan kurang suka bepergian naik motor ataupun mobil pribadi. Jalan kaki, naik kereta api dan bus kota adalah pilihan utama saya jika mau bepergian-kemanapun.

Ini mungkin menurun dari nenek karena sejak kecil saya terbiasa diajak jalan-jalan oleh beliau naik kendaraan umum. Jadi ketika terpaksa naik kendaraan pribadi atau yang kendaraan yang hanya bisa memuat 1-2 penumpang, saya jadi merasa tertekan dan tidak enak badan. Seperti ada sesuatu yang salah dan saya jadi tidak bisa menikmati perjalanan dengan baik.

Saya sangat suka berjalan kaki.

Kalau mau membuat catatan perjalanan, mungkin jumlah jarak yang saya lewati dalam sebulan bisa tak terhitung saking banyaknya. Jalan kaki enak. Yah, meskipun di tempat tinggal saya, Jakarta, fasilitas untuk pejalan kakinya masih kurang memuaskan. Trotoar malah diisi oleh pedagang kaki lima dan lain sebagainya.

Saya kurang suka bepergian (dibonceng) naik motor.

Selama 20 tahun saya hidup, mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali saya dibonceng naik motor. Bahkan saat berpacaran dulu pun, saya lebih sering meminta untuk bepergian naik kendaraan umum (padahal saya pernah 2x pacaran sama anak motor xD).

Selama beberapa kali dibonceng naik motor, saya mengamati suatu hal. Semua orang yang naik dan mengendarai motor, tiba-tiba berubah menjadi monster yang menyeramkan.

Saat mereka belum naik motor, mereka terlihat begitu ramah, menyenangkan dan lucu. Tapi saat pantat sudah menduduki jok motor dan mesin motor mulai berjalan, kepribadian mereka berubah. Mereka jadi orang yang menyeramkan; gemar mengumpat, tidak sabaran, ngebut tak karuan, tiba-tiba jadi pemarah dan semua kosakata kotor keluar dari mulut mereka.

Saya takut.

Seingat saya, kayaknya saya jarang menemukan ada pengendara motor yang tidak mengumpat sama sekali ketika berkendara bersama saya. Bahkan pernah saya pergi dengan gebetan baru saya yang terlihat jaim, alim dan rupawan sekaligus tapi saat sudah naik motor rajin mengumpat kasar tak karuan yang membuat saya bergidik ngeri.

Apa ya, saya selalu merasa bahwa ”wajah” dan kepribadian yang mereka tampilkan di jalanan adalah wujud asli mereka gitu, dan saya takut 😥

Ya, saya tau sih. Dengan kondisi jalanan Jakarta (dan mungkin tempat lainnya) yang super macet dan banyaknya kasus kecelakaan juga pengendara yang seenaknya di jalan, bukan tidak mungkin rasanya untuk tidak mengumpat karena kesal. Tapi menurut saya mengumpat atau marah-marah tidak membantu menyelesaikan apapun. Jadi ya sia-sia.

Selain hal itu, yang membuat saya kurang begitu menyukai dibonceng naik motor adalah karena naik motor membuat pegal. Apalagi kalau perjalanan jauh. Gak usah perjalanan jauh deh, jarak dari ITC Mangga dua ke LTC Glodok yang cuma melewati satu lampu merah aja kadang saya sudah merasa pegal gak karuan :'(. Saya lebih suka dan memilih berdiri dan berdesakan di kendaraan umum daripada duduk tapi naik motor.

Dibonceng naik motor juga punya banyak rintangan fisik. Kalau pergi pagi-pagi, dingin karena angin pagi dan kalau siang-siang panas. Tapi bukan berarti lantas saya menyukai naik mobil pribadi yang ber-AC gitu. Saya juga gak pernah bisa naik mobil pribadi. Pasti selalu mabuk kendaraan.

Saya tidak pernah cocok naik mobil pribadi. Gaya mengemudi mobil orang berbeda-beda. Dan kadang butuh waktu lama bagi saya untuk bisa menyesuaikan mereka. Kalau tidak cocok biasanya saya hanya akan diam terus selama perjalanan, keringat dingin dan kalau sudah tidak tahan bisa mabuk kendaraan.

Satu-satunya orang yang cocok dan menurut saya bisa mengemudi mobil dengan baik adalah almarhum Pakde saya yang meninggal tahun lalu. Gaya mengemudinya enak. Dan yah, semenjak kepergiannya saya belum pernah naik mobil pribadi lagi-termasuk taksi (eh tapi kemarin saat liburan ke Semarang saya sempat naik mobil pribadi lebih dari 7 jam dan syukur saya baik-baik saja meski sepanjang perjalanan lebih banyak diam karena menahan keringat dingin dan pusing hh).

***

Karena itulah saya selalu memilih untuk naik kendaraan umum kalau bepergian, kemanapun. Dan lagi-lagi saya ingin mengatakan bahwa ini sepertinya menurun dari nenek saya.

Nenek saya bahkan pernah memiliki trauma naik kendaraan bermotor karena pernah terjebak dalam kecelakaan. Dia hanya mau naik commuter line (/kereta api) kemanapun dia pergi.

Jadi kalau ada yang mengajak nenek saya pergi, pasti dia akan bertanya ”lokasi yang kita tuju ini, ada jalur keretanya gak? seberapa jauh dari stasiun?”. Kalau tidak dilalui jalur kereta, biasanya nenek saya menolak untuk datang-tidak peduli acara itu penting atau tidak.

Untung itu bertahan hanya sekitar 10 bulan saja. Saya tidak tau dulu nenek saya bisa sembuh karena apa tapi yang jelas beliau sekarang sudah berani naik kendaraan bermotor lagi dan bahkan, nenek saya sekarang sudah bisa mengendarai motor. Saya kalah 😥 hhhh

Naik kendaraan umum itu enak.

Kita tinggal duduk dan biarkan pak supir yang bekerja. Ritme dan cara mengemudi supirnya pun seragam semua, jadi saya bisa menyesuaikan diri dengan baik tanpa perlu takut mabuk kendaraan (dalam konteks ini saya membicarakan transjakarta karena saya tidak pernah lagi naik angkutan umum lain).

Naik kendaraan umum itu enak.

Kita bisa bertemu dengan banyak penumpang lain; yang mungkin kelelahan setelah seharian bekerja dan kena marah pak bos, atau yang baru pulang sekolah dengan membawa banyak tumpukan PR dan lain sebagainya.

Mereka semua sama seperti saya. Mencoba ”menyerahkan” nasib  kepada pak supir agar bisa membawa sampai ke tujuan dengan selamat.

Makanya saya selalu lebih update tentang jadwal perjalanan kereta atau jam tiba bus daripada berita terkini yang lain. Saya juga tidak terlalu begitu peduli dengan kenaikan BBM atau sejenis itu karena tidak mempengaruhi tarif kendaraan umum.

Lalu bagaimana kalau suatu hari saya harus bepergian ke tempat yang tidak terjangkau lajur kereta api atau bus transjakarta?

Biasanya saya tetap mencoba dulu mencari jarak terdekat bisa dicapai pakai transjakarta atau kereta. Kalau sudah sampai disana biasanya saya untung-untungan mengandalkan internet dan Google Maps. Kalau kira-kira dekat maka saya akan berjalan kalau tidak biasanya saya naik angkutan umum.

Tapi pilihan kedua ini jarang. Lebih sering saya memilih berjalan kaki-tidak peduli seberapa jauhnya. Sekalian melihat lingkungan dan kehidupan sekitar gitu.

Karena kebiasaan dan kesukaan berjalan kaki ini, saya jadi memiliki beberapa kebiasaan khusus yang menurut orang mungkin agak aneh. Saya jadi suka mengamati sepatu yang sering dipakai orang.

Saya memiliki pikiran, saya suka berjalan kaki. Nah, kalau ada orang yang mau berteman dengan saya, maka minimal ia harus suka berjalan kaki juga atau setidaknya sepatu yang ia pakai nyaman sehingga kalau saya ajak jalan, dia tidak sering mengeluh lelah atau kesakitan.

Saya jadi senang menilai seseorang dari alas kaki yang ia pakai. Selain sebagai penilaian pribadi sebagai standar teman jalan, penilaian itu juga saya gunakan untuk melihat bagaimana seseorang merawat dirinya.

Kaki kan salah satu organ tubuh yang paling vital ya. Dia membantu menopang tubuh, membantu kita sampai dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Nah, dengan melihat sepatu yang ia pakai itu, saya jadi suka berpikir dan menilai apakah orang tersebut menghargai dan berterima kasih ke kakinya dengan baik dengan cara memakaikan alas yang layak ataukah hanya pakai sembarang alas yang penting pakai, dan hal-hal sejenis itu.

Bukan berarti lantas saya memandang wah orang-orang yang memakai alas kaki yang harganya mahal. Tapi minimal alas yang dipakai itu sesuatu yang ”layak” sesuai pakaian dan citra dirinya gitu lah, surem bingung juga jelasinnya 😥

Dan hh, saya jadi penasaran sepatu dan alas kaki seperti apa yang kira-kira kamu pakai…

Kira-kira kamu bisa tidak jadi teman jalan yang enak?

Hm?

img_20170127_102804-1