Uncategorized

2 Hari seru di Ennichisai 2017 Jakarta

+Pada 13 dan 14 Mei kemarin, saya berkunjung ke Ennichisai Jakarta yang berlokasi di Blok M. Ini kunjungan pertama saya ke acara ini sekaligus acara Jejepangan pertama yang saya datangi tahun ini.

Ennichisai ini hampir sama seperti Jak Japan Matsuri. Penjelasan perbedaan antara JakJapan dan Ennichisai sendiri saya juga masih belum paham ya (hadeeh) (maaf malas riset, wq).

Yang jelas kalau Jak Japan itu berlangsung sekitar pertengahan tahun. Kalau Ennichisai itu masih di awal atau seperempat tahun pertama.

Pada hari pertama, saya datang setelah pulang kerja. Kebetulan saya sengaja pakai seragam kerja saya hari Senin biar sekalian cosplay ala-ala mb OL (office lady, sebutan untuk pekerja wanita di Jepang) gitu.

Tapi yang ada saya malah kayak mb kantoran rombongan krl di Tanah Abang-Tangerang. Pakai ransel+totebag di pundak kanan-kiri yang berisi berkas kerjaan wqwq.

Di hari pertama, saya berangkat dari Kantor pukul 3 sore karena saya menunggu kurir yang mengantarkan paket roll film yang ternyata gak datang.

Jadi roll film saya hanya tersisa yang ada di kamera yaitu 14 film. Padahal saya ingin memotret beberapa momen terbaik di Ennichisai

Saya tiba di lokasi acara pukul 5 sore. Ya. Dari Glodok sampai Blok M memakan waktu 2 jam. Yang bikin lama sih dari Bundaran Senayan sampai Blok M-nya. Macetnya luarrrrrrr biasaaaa.

Dan ya, karena sudah bosan dan terlanjur malas karena macet ini, pas akhirnya sampai di lokasi, saya cuma mencari lokasi tenda untuk volunteer Mikoshi, trus udah pulang lagi.

IMG_20170514_152443

Iya.

2 jam perjalanan buat gitu doang T_T.

Dah keburu bosen dan capek karena bawa banyak dokumen dan sepatu juga lagian hhh.

***

Keesokan harinya saya bangun pukul 5 pagi. Terus mandi, mulai berkemas dan memaksakan diri membuang semua jenis “kotoran” dari tubuh.

Berdasarkan pengalaman di JakJapan kemarin, toilet di lokasi acara itu kurang nyaman. Jadi jangan sampai saat acara berlangsung nanti saya merasa sakit perut atau hal-hal sejenis itu. Kebetulan juga saya sedang haid, jadi setelah selesai mandi itu saya benar-benar melakukan pembersihan diri.

Saya sebenarnya masih belum tau sih di acara ini toiletnya bagaimana. Cuma untuk mengantisipasi dan lagian malas juga kalau harus mampir-mampir ya jadi saya benar-benar mencoba mencegah dulu,hehe.

Pukul 9 pagi tepat saya berangkat. Pukul 10.10 saya sampai di sekitaran Monas. Kebetulan masih ada CFD (Car Free Day) di sekitar situ sampai Blok M. Jadi jalanan super lancar dan saat melihat beberapa orang yang beraktivitas di jalanan (CFD-an), saya benar-benar kagum dan kaget.

Sejak diadakan CFD di Jakarta (entah itu tahun berapa) sampai sekarang, saya sama sekali belum pernah berpartisipasi/lewat di daerah yang termasuk area CFD itu.

Apa ya, malas aja sih rasanya. Kayak, kenapa harus berolahraga di area CFD sih? Sama aja kan kayak lari di jalanan depan rumah(?) Dan ya, pemikiran-pemikiran seperti itulah wqwq.

Ramai ya ternyata. Padahal sudah hampir pukul 11 pagi. Ada yang jualan di pinggir jalan, sepedaan, main skate, duduk di tengah jalan, jalan bersama Anjing, selfie dan lain sebagainya. Saya lupa foto saking kagum (dan norak) (sampai mulut saya ternganga lebar melihat keramaian di jalanan) (hadeeh).

Pukul 11 kurang sedikit saya tiba di lokasi. Lapor dengan Kak Nadya, salah satu koordinasi dari team Mikoshi universitas Binus. Yap, saya gabung dengan team dari Binus. Sehari numpang jadi mahasiswi Binus xD.

Saya dapat seragam dan diminta berganti. Dan tak lama kemudian anggota lain berdatangan.

***

Pukul 12.40 adalah acara pengangkatan Mikoshi yang pertama. Di rundown acara yang dibagikan sih seharusnya tim pria, tim wanita dan tim anak-anak mengangkat semua. Tapi ternyata yang mengangkat hanya tim wanita dan anak-anak.

Di pengangkatan yang pertama ini, saya memilih lokasi di sebelah kanan. Ngangkatnya di bahu kanan gitu. Cuaca siang itu cukup sejuk(?). Gak mendung, gak panas dan cukup berangin gitu lah.

Karena saya belum berkeliling ke semua lokasi, saya jadi kurang tau ya rute pengangkatan mikoshi ini kemana saja. Dan ternyata,,,,rutenya cukup panjang T_T. Tim mikoshi sampai harus beristirahat sebanyak 6x.

IMG_20170514_131444

di pertengahan jalan tiba-tiba panas

Sekitar pukul 13.50an pengangkatan akhirnya selesai. Peserta volunteer dapat makan siang. Selesai makan, saya mencoba menjelajah ke semua lokasi dan stand di ennichisai ini.

Waktu menjelajah, saya agak pusing. Ramainya bukan main. Dan karena saya menjelajah sendiri, jadi agak canggung gitu. Soalnya di kanan-kiri pada sama pasangan atau sama teman. Mana saya masih pakai kostum mikoshi lagi wqwq. Tapi ya PD aja sih.

Untuk mengurangi rasa canggung, saya sambil memotret ke beberapa momen yang menurut saya menarik. Tapi cuma dapat sedikit karena roll film saya habis.

Saya mampir ke stand penjual gantungan kunci. (Saya lemah dengan gantungan kunci dan kaus kaki). Kebanyakan gantungan kunci yang tersedia adalah gantungan karakter terbuat dari rubber atau akrilik bergambar tokoh anime.

Sayangnya, gak ada satupun tokoh anime yang saya tahu wqwqwq. Gak ada Yotsuba, atau Crayon shinchan, atau Dragon Ball atau Dr. Slump gitu (emang mereka anime ya, Mai?). Ada sih One piece, Naruto, Doraemon dan Totoro. Cuma kayaknya udah terlalu biasa.

Saya akhirnya membeli gantungan bel karakter Line, Brown dan Cony. Ini gantungannya bisa bunyi “kleneng-kleneng”. Saya suka gantungan kunci yang bersuara.

Soalnya saya suka pergi sendirian, dan suara lonceng itu kayak “teman” saya gitulah biar gak sepi-sepi banget kalau berjalan di tempat sepi. Saya membeli 2 gantungan ini dengan harga Rp10.000/pcs.

Saya juga mampir ke stand penjual tas-tas kerajinan asli dari Jepang. Saya sebenarnya sedang mencari tas slempang (biar gampang kalau jalan-jalan bawa kamera). Dan ada sih tasnya, cuma mahal banget Rp250.000,-

Akhirnya saya cuma membeli pouch seharga Rp15.000,- yang pas banget buat tas kamera. Habis itu saya mencoba melirik beberapa stand makanan yang ada (yang sayangnya penuh dan antre semua) (malas). Akhirnya saya mampir ke stand Glico. Membeli 3pcs es krim yang kebetulan sedang promo dengan harga 3/10.000,-

Hadeh, padahal saya belum pernah makan makanan jejepangan gitu. Penasaran. Tapi gatau kenapa kalau ada yang jual selalu malas beli😅.

***

Pukul 16.00, pengangkatan Mikoshi yang kedua pun dimulai. Pada pengangkatan kedua ini tim pria juga ikut mengangkat. Kali ini saya mengubah posisi mengangkat di bahu sebelah kiri yang kemudian saya sesali karena entah mengapa kalau di bahu kiri rasanya lebih berat.

Pada pengangkatan kedua ini ada orang yang naik ke atas mikoshinya. Trus di rombongan saya juga ada beberapa personel idol yang ikut menggotong juga untuk keperluan komersil di Jepang. Nama grupnya kalau gak salah KissBee. Anggotanya ada 4 orang, lucu dan menggemaskan semua.

IMG_20170514_153759

Saya gak sempat tanya-tanya, twoshoot bareng atau hal-hal sejenis itu. Sudah malas dan capek duluan wq. Tapi ada 1 yang berambut pendek dan bikin “yaroobb” banget.

Dan ada 1 orang juga yang saat pengangkatan berlangsung sibuk teriak-teriak histeris sendiri karena kaget (dan mungkin kesakitan). Melihat dia teriak-teriak membawa hiburan tersendiri yang membuat saya semangat mengangkat saat itu wqwq.

Selesai mengangkat, saya sempat istirahat dan tidur sekitar 20 menit. Kebetulan banyak volunteer yang tidak bisa ikut mengangkat secara full 3x dan izin pulang. Jadi tenda istirahatnya cukup lenggang.

Saya terbangun saat adzan isya. Langsung pusing karena tidur sore-sore. Tapi badan juga jadi agak segar.

Pukul 19.40 pengangkatan terakhir sekaligus penutupan dimulai. Kali ini terdiri dari tim wanita, tim pria, dan tim bapak-bapak gabungan dari warga Indonesia, Jepang dan luar Asia. Yang tim anak-anak sudah tidak ada.

Pengangkatan terakhir ini rutenya singkat. Hanya lurus (kira-kira 5 menitan. Saya gak bisa menggambarkan dengan ukuran jarak) lalu nanti berputar-putar di depan panggung utama.

Nah, karena ada cukup banyak volunteer wanita yang tadi pada pulang, akhirnya beberapa ibu-ibu Jepang pun ikut membantu mengangkat. Dan padahal sudah ada bantuan ya, tapi pas pengangkatan pertama, mikoshinya sempat hampir jatuh karena tinggi peserta volunteer tidak seimbang dan jumlahnya masih kurang.

Tapi akhirnya bisa naik sih. Walaupun, yarobb, rasanya super berat banget. Saat istirahat sejenak di pertengahan jalan, saya dipindahkan ke depan oleh pimpinan rombongan. Katanya saya super bersemangat, jadi saya diminta ke depan untuk menyemangati peserta yang lain juga.

Dari acara pengangkatan pertama dan volunteer tahun lalu biasanya saya selalu di bagian belakang dekat mikoshinya gitu. Lebih enak aja. Dan ini pertama kalinya di depan, rasanya deg-degan banget. Di depan itu lumayan berat karena dia menanggung beban pertama.

Saat ketakutan seperti itu, saya ditepuk oleh salah satu mb dari Jepang yang naik ke mikoshi (yang kebetulan jadi partner saya juga di mikoshi jakjapan lalu).

IMG_20170514_191441

Partner terbaik! 2x berturut-turut dapat ketua mikoshi beliau terus. Ramah, baik dan murah senyum. Tapi saya gak tau namanya wqwq. Nanti kalau ikut di Jakjapan, saya janji bakal ajak kenalan dan foto bareng ah xD

Dia menyemangati dan menggengam tangan saya mengatakan “ganbare, semangat”. Saya hanya bisa bengong. Tangannya hangat. Dan entah mengapa saya jadi super bersemangat.

Dan saat pengangkatan di mulai…ah rasanya campur aduk banget deh. Bebannya berat. Trus suara saya hampir habis dan rasanya super haus karena harus berteriak menyemangati. Berkali-kali mikoshinya juga oleng karena peserta lain juga mulai kelelahan. Tapi mb yang naik ke atas mikoshinya rajin menyemangati.

Trus pas mulai berparade dan berputar di depan panggung utama itu ya…rasanya luar biasa. Saya sampai nangis karena kesakitan+keringat yang masuk ke mata dan bibir. Capek, sakit, tapi pas mendengar teriakan “ganbaree” “ganbaree” dari pemimpin mikoshi juga jadi bersemangat.

Rasanya lepas.

Lega.

Setelah parade selesai, Ennichisai pun resmi ditutup. Ada kembang api yang dinyalakan dari atas atap Blok M square. Kembang apinya indaaah banget.

Pas liat kembang apinya, saya nangis. Kangen. Tapi gatau kangen sama siapa

Saya nonton sambil ngobrol dengan salah satu bapak-bapak dari Jepang. Dan pas kembang apinya selesai, kami bersalaman dan dia berkali-kali menepuk punggung saya mengatakan “terima kasih, kamu kuat, kamu kuat”.

Nangisnya makin kejer😭😭

***

Selesai penutupan sempat ada selfie bersama dari panggung. Cuma saya gak begitu peduli karena udah capek. Tim mikoshi pun balik lagi ke tempat semula dan ya seperti biasa, dibagikan Sake dalam gelas untuk yang memang ingin mengkonsumsi.

Tahun lalu saya mencoba setengah gelas aqua kecil. Trus kemarin, saya minum 3 gelas😅. Pertama satu gelas penuh. Trus gatau kenapa saya nambah lagi 1 gelas penuh. Eh pas udah abis, dituangin lagi setengah wqwq.

Rasanya masih aneh dan bikin tenggorokan panas. Tapi saya ingat, begitu saya sampai rumah, saya bisa tertidur pulas dengan sangat nyaman tanpa kesakitan.

3 gelas.

Gapapalah ya, pengalaman sebelum menginjak usia 21😅.

Selesai minum-minum, saya pun berganti pakaian bersiap untuk pulang. Sebelum pulang, peserta volunteer dibagikan souvenir sebuah kantung kecil. Katanya ini asli dari Jepang. Ada warna Hijau dan Merah. Saya dapat yang Merah. Jadi agak menyesal tadi udah beli kantung kecil wqwq.

Dan sebelum pamit, ka Nadya sempat bilang ke saya,

“kak Mai jangan kapok ya! Sampai jumpa di Jak Japan dan Ennichisai tahun depan!”

Saat perjalanan menuju halte Transjakarta, saya sempat membatin dan berpikir akan banyak hal.

Waktu datang kesini, mood saya sebenarnya sedang kacau walaupun sudah melakukan pembersihan badan.

Saya lagi kangen, tapi gatau kangen sama siapa.

Saya lagi bosan sama kerjaan juga. Bingung mikirin kuliah yang gak jadi-jadi dan nafsu duniawi yang tidak ada habisnya (dan saya yang selalu berhasil terjerat hawa nafsu itu).

Waktu mengangkat mikoshi dan memberi serta diberi semangat oleh banyak orang tadi, perasaan saya benar-benar campur aduk. Lega, lepas, tenang.

Capek, tapi di satu sisi juga entah mengapa rasanya lega. Seperti ada beban berat yang terangkat. Saya kayak diyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa ketakutan saya akan masa depan itu tidak akan terjadi, masa depan tidak akan seburuk itu. Semuanya akan baik-baik saja.

Jadi ingat waktu di semangati mb dari Jepang tadi. “Ganbare, semangaaat”. Ah, kebahagiaan dan kesedihan itu menular. Energi manusia itu tidak main-main, bisa berpengaruh. Hubungan antar manusia itu ajaib.

Dan, ah, bertemu banyak orang memang selalu menyenangkan. Kalau kata orang-orang, energi extrovert saya benar-benar terisi penuh.

Dan saat dalam transjakarta di sebuah lampu merah, saya tiba-tiba ingat lagi ucapan kak Nadya yang membuat saya membatin,

“tahun depan ya…, Umur saya sampai gak ya,,,”

ps: spot saya saat mengangkat mikoshi sebenarnya cukup strategis. Di depan dan pinggir. Dan selama pengangkatan ini seingat saya banyak orang yang mendokumentasikan dalam bentuk video ataupun gambar. Pagi tadi sudah saya telusuri semua postingan di instagram dengan hashtag #Ennichisai #Ennichisai2017 #mikoshi tapi entah mengapa tidak ada post foto yang ada sayanya ataupun foto yang bagus. Jadi gak saya cantumkan disini wqwq.

Kalau nanti saya nemu foto/video yang bagus akan saya lampirkan deh xD

dan ah, foto lainnya akan saya unggah di akun flickr pribadi saya ya!

Advertisements

Main – main ke Lowlight Bazaar 10

Pada 1 Mei kemarin, saya berkunjung ke salah satu acara yang sepertinya rutin diadakan oleh JellyPlayGround, salah satu komunitas penggemar kamera analog di Indonesia yaitu Lowlight Bazaar.

IMG_20170501_164148

Lowlight Bazaar ini adalah acara dimana kalian bisa bertemu langsung dengan penjual kamera film/analog dan berbagai perlengkapannya. Seperti misal penjual lensa, kamera, atau mungkin ada yang mau drop film untuk dicuci/cetak dan yang lainnya.

Saya mengetahui kegiatan ini dari instagram dan setelah saya telusuri lebih jauh, ternyata ini adalah ke-10 kalinya acara ini diadakan (makanya namanya Lowlight Bazaar 10 xD).

Acara diadakan di Qubicle yang terletak di Senopati 79 Kebayoran Baru, Jakarta. Saya datang pukul 11 pagi (1 jam setelah acara ini resmi di buka) dan sudah ramai banget!

Kalau mau masuk ke bazaar ini, kita harus membayar tiket masuk seharga Rp10.000. Nanti saat beli tiket, kita harus mengisi form nama, email dan akun instagram. Setelah itu tangan kita akan diberi cap dan juga dikasih stiker (stiker yang saya dapatkan lupa ditaruh mana wqwq).

cap di tangan yang sudah pudar.

Venue acaranya sendiri bisa dikatakan cukup kecil tapi ya masih bisa untuk bergerak dengan bebas. Jumlah tenant yang tersedia kalau tidak salah ada sekitar 15an. Waktu saya datang itu sudah ramai banget (gak sempet foto).

Ada beberapa pengunjung yang langsung sibuk mampir ke beberapa tenant, ada juga yang sibuk menangkap momen dengan kamera analog andalan mereka, ada juga yang berdiri di beberapa spot kosong bertukar cerita macam-macam.

Tujuan saya kesini adalah beli kamera gara-gara sehari sebelumnya pada 30 April, saya habis dari bazaar buku Big Bad Wolf dan sempat ”parkir” di stand photography selama 1 jam dan liat koleksi yang ada trus nangis hh.

Selama ini saya tidak pernah menekuni suatu kegiatan/hobi dengan serius. Beberapa hobi yang pernah saya geluti diantaranya adalah BMX dan menulis. Hobi-hobi itu hanya saya coba sambil lalu saja yang membuat saya selalu merasa kesulitan ketika ditanya ”hal apa yang kamu sukai?”.

1493795295577

Yang saya sukai banyak. Tapi yang benar-benar saya tekuni hingga mahir nggak ada. Dan pas ”parkir” sejenak di stand Photography kemarin, entah mengapa saya seperti mendapat sebuah bisikan untuk menekuni dunia memotret.

Tidak harus sampai memiliki target jadi tukang foto senior deh. Minimal saya tau beberapa teknik dasar dan juga perbedaan jenis kamera juga gapapa. Yang penting saya tahu. Jadi tidak hanya sekedar jepret saja.

Dan yap, setelah menimbang dan memilih, saya akhirnya membeli 2 buku ini. Entahlah. Saya berpikir mungkin suatu saat akan berguna bagi saya aja gitu, hehe.

***

Balik lagi ke Lowlight Bazaar, pencarian kamera yang ingin saya beli ini agak susah ya. Karena saya sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang kamera analog, jadi saya pengennya cari penjual yang bisa ditanya-tanya gitu. Masalahnya, hampir semua stand penuh.

Dan akhirnya setelah 3x kali muterin semua tenant sekalian liat range price dari beberapa kamera yang dijual, saya berhenti di tenant milik HipercatLab, toko dari Bandung.

Ownernya cukup ramah. Ada 2 orang, seorang mas dan mbak. Kamera yang dijual juga cukup beragam dan entah mengapa saya langsung jatuh cinta sama kamera Olympus yang terpajang disana.

IMG_20170501_115116

Oiya, sebelum pergi kesini sebenarnya saya sudah menetapkan target untuk tidak menghabiskan uang lebih dari Rp500.000,- dan kalau bisa beli kamera yang merk-nya pasaran biar kalau gak tau bisa cari review atau tutorialnya di youtube.

Nah, waktu naksir si Olympus ini, saya gak sempat googling dulu karena entah kenapa hp saya gak dapat sinyal dan ya tau-tau udah kebeli aja gitu. Dan pas sampai rumah dan bisa internetan, saya langsung agak menyesal karena review atau tutorial di youtube-nya gak ada T_T.

Kamera yang saya beli adalah Olympus oz 70 panorama zoom yang dijual seharga Rp450.000,-. Fungsi semua kamera masih ok. Saya juga beli isi film Fujicolor seharga Rp100.000,- dapat 2 (masing-masing berisi 36 film). Oiya, saya masih belum tau nih soal jenis-jenis isi film gini. Katanya beda merk beda hasilnya gitu. Itu saya main asal beli yang termurah aja. Masih perlu belajar dan riset soal ini hmm.

Kalau ditanya kenapa saya naksir ini, gatau juga ya. Pokoknya pas lihat langsung naksir aja. Padahal kamera ini agak berat dan menurut saya kurang mini (saya suka yang kecil-kecil). Sebenarnya ada lagi seri olympus lain, cuma dia gak ada fitur zoom. Saya milih ini karena ada fitur zoom-nya gitu.

Alasan yang aneh memang wqwq. Dan hh, sebenarnya masih banyak yang belum saya ketahui perihal kamera ini. Agak nyesel karena gak ada review atau pun artikel tentang ini kamera padahal penasaran maksud dari panorama zoom itu apa dan lain sebagainya.

Alasan lain kenapa saya membeli kamera adalah karena sebentar lagi bulan Juni. Selain suka menghitung mundur menuju hari-hari penting dalam hidup, saya juga suka memberi suatu benda mahal/pergi ke suatu tempat untuk menyegarkan pikiran sejenak sebagai bentuk kado untuk diri saya sendiri.

Yap, bulan depan kalau saya diberi umur panjang, saya akan ulang tahun. Dan saya sudah duluan memberi kado untuk diri sendiri dari sekarang wqwq. Gapapa kan ya? xD

Kemarin saya sudah jalan-jalan ke Semarang sih (dan uh, soal ini kayaknya gak bakal saya tulis karena udah mager duluan wqwq). Tapi entah mengapa saya merasa masih ada yang kurang. Pengen beli kamera juga untuk mengabadikan sesuatu.

Tadinya saya mau membeli kamera instax karena tidak perlu repot mencuci cetak lagi. Tapi kayaknya instax terlalu ”modern” banget. Trus tadinya mau langsung beli kamera digital aja tapi sebenarnya saya sudah punya kamera saku pemberian dari oom saya.

Jadi ya, akhirnya beli kamera analog ini. Hitung-hitung sebagai kenangan juga sih. Siapa tau bisa diturunkan kepada anggota keluarga yang lain atau mungkin dijual lagi. Saya jadi ingat dulu waktu kecil sering dipotret oleh ayah saya pakai kamera analog juga.

Waktu kecil ayah saya pernah bekerja jadi tukang cuci foto di sebuah stand Fujifilm resmi di daerah Lembah sungai gajahwong, Yogya. Makanya foto kecil saya cukup banyak karena sering diabadikan. Lain halnya dengan adik saya yang kayaknya cuma ada sekitar 20an foto saja karena setelah adik saya lahir, ibu dan ayah saya berpisah.

Dan ah, ketika tulisan ini dibuat, saya sudah menghabiskan 1 roll film untuk memotret beberapa sudut rumah saya yang kebetulan sedang direnovasi (ditinggikan dan di cat ulang), memotret tempat kerja saya di Glodok dan…apa lagi ya…lupa wqwq.

Nanti kalau kedua roll film itu sudah terpakai dan sudah di cuci-scan, akan saya unggah di akun flickr atau akun instagram saya. Ah, rasanya jadi tidak sabar menunggu hasilnya xD

Dan ah, masih tersisa 42 hari lagi menuju hari ulang tahun saya, ada kejutan apa ya yang menunggu saya di depan sana(?)

IMG_20170503_110130

Sejauh ini, 3 benda berharga yang saya miliki; Olympus oz 70 panorama zoom, smartfren andromax haier EC dan canon PowerShoot A800. (gambar di potret menggunakan lenovo p1a42)

[Review] Belanja di web Viva (lagi)

img_20161017_140713

Jadi, karena tingginya trafik tentang review produk viva dan kebetulan saya juga memang tertarik untuk mencoba semua produk mereka, pada Oktober 2016 lalu saya berbelanja lagi beberapa produk yang belum saya coba.

Tapi untuk post ini tidak hanya produk viva, Saya juga akan menyisipkan beberapa produk tambahan dari Emina, JustMiss dan lain-lain yang kebetulan saya beli dan saya suka juga. Dan tanpa banyak kata lagi, berikut reviewnya.

img_20161017_141547

Viva sampo Lidah buaya dengan Esktrak Gingseng, Viva Hair Tonic anti dandruff, Viva hair conditioner.

Dari ketiga produk ini kayaknya tidak akan saya repurchase dan coba varian lainnya. Di saya tidak cocok, bikin rambut gatal, panas dan rontok banyak banget 😥

Samponya sendiri sebenarnya cukup menarik. Teksturnya kuning bening dan wanginya juga mirip seperti sampo bayi. Tidak begitu wangi juga tapi menghasilkan busa yang cukup banyak. Fungsi dari varian gingseng ini untuk mengurangi rambut rontok ya, tapi rambut rontok saya malah makin banyak T_T

Untuk conditioner-nya berwarna putih tidak terlalu kental atau cair. Tidak terlalu wangi juga dan tidak licin. Saya pernah pakai beberapa produk lain, pernah jatuh ke lantai gitu dan saya kepeleset karena konditionernya licin. Nah kalau punya viva ini nggak begitu licin.

Untuk Hair tonic, ini berfungsi sebagai anti ketombe. Warna produk ini biru agak bening gitu miriiiiip banget dengan cairan penyegar mulut. Dan juga punya sensasi dingin yang sama juga. Kalau habis pakai ini rambut jadi dingin semriwing segar gitu.

Secara keseluruhan, saya kayaknya gak cocok dengan varian untuk perawatan rambut dari Viva ini. Saat review ini ditulis pun saya sudah tidak pakai produknya. Berhenti pakai karena rambut rontok saya malah tambah banyak.

 

Viva Massage Cream

Ini cream pijat pertama yang saya punya dan secara keseluruhan cukup suka. Kebetulan sehari setelah beli, nenek dan bude saya pengen di urut gitu. Biasanya pakai handbody dan minyak kelapa. Trus kemarin coba pakai viva ini dan ternyata enak banget.

Tekstur produk ini gak terlalu cair atau pun kental dengan aroma melati dan..apa gitu saya gatau. Wanginya segar, menenangkan dan bikin rileks banget. Selain buat krim urut, kadang juga suka saya pakai untuk totok wajah sendiri gitu.

Oles ke seluruh wajah, pijat perlahan-lahan. Bisa untuk pijat relaksasi untuk mencegah kerutan pada wajah. Tiap selesai pakai ini hawanya pasti langsung ngantuk gitu. Enak dan puas banget sama produk ini. Repurchase!

Viva lulur mandi varian Soybean

Ini enak banget ya….scurbnya berukuran mini nggak menimbulkan rasa sakit kalau digosok ke badan. Tapi efektif banget buat mengangkat daki. Ukurannya sama halusnya kayak viva peeling cream. Bedanya ini punya beberapa varian wangi yang berbeda.

Saya beli yang varian soybean untuk mencerahkan kulit. Wanginya suka bangeeet <3. Pakai ini tiap seminggu sekali dan selalu suka karena badan jadi bersihan gitu trus wangi dari lulurnya ini juga tahan lama. Jadi suka cium-cium badan sendiri gitu haha.

Harganya juga murah dan pasti bakal repurchase cobain varian lainnya~

img_20161019_151226

Viva Cleansing Cream, Collagen Night Cream, Moist Cream

Viva Cleansing cream ini hampir sama kayak milk cleanser viva ya. Kalau step cleansing ala korea kan pakai cleansing water-cleansing cream-toner. Nah, kalau produk Indonesia dari Viva ini bentuknya cream.

Karena makeup sehari-hari saya tidak terlalu berat, jadi biasanya setelah pakai cleansing cream ini saya langsung bersihin pakai toner aja. Trus cuci muka lagi pakai facial foam. Biasa aja sih, tidak ada efek tertentu setelah pakai. Gak tertarik untuk  repurchase.

Collagen Night cream ini krim malam yang bentuknya superrr thick banget. Bentuknya cream padat dan pas pertama beli tuh agak keras gitu. Pakainya gak bisa banyak-banyak karena bakal susah ngeratainnya.

Setelah dipakai ini bikin saya kesal ya, bikin wajah berminyak banget T_T. Tapi hasilnya bagus. Kalau bangun di pagi hari setelah pakai, wajah jadi super lembab dan halus banget. Kayak kalau pakai Laneige sleeping mask . Minus produk ini super thick dan bikin wajah berminyak aja sih yang bikin setelah pakai kita harus langsung tidur. Sisanya cukup ok. kayaknya bakal repurchase.

Moist cream ini krim pelembab ya. Bisa di pakai di pagi/malam hari tapi saya lebih suka pakai di pagi hari. Bentuk produk ini juga cukup thick dan kental tapi tidak separah yang Collagen night cream. Yang bikin seneng dari produk ini, dia cepat meresap, tidak bikin wajah berminyak dan super ringan banget.

Ini gatau karena produk ini atau yang lain ya, tapi setelah rajin pakai ini, noda hitam di wajah saya berangsur hilang dan warna kulit saya jadi merata-terutama di bagian pipi. Suka banget. Lebih suka ini daripada Himalaya Herbals hhe. Repurchase!

Untuk yang Peeling cream dan anti wrinkle cream, sudah ada reviewnya disini dan disini.

Viva Queen blush on varian A

Saya beli blush on ini karena viva fin touch blush on punya saya udah habis. Saya pikir, coba beli yang set gini aja daripada yang kecil-kecil gitu.Eh ternyata komposisi produknya beda. Kalau yang viva fin touch blush on itu hasil akhirnya matte gitu. Nah yang ini ada shimmer bling-blingnya gitu T_T

Warnanya juga kurang cocok untuk wajah saya. Dia terlalu pink sementara kulit saya lebih cocok pakai blush on warna oranye. Packing produknya lumayan lucu sih. Kotak kecil yang lumayan kokoh dan ada kaca kecil dan brush mini juga. Cuma ya, karena gak cocok jadi gak akan repurchase.

Pensil Alis JustMiss warna cokelat varian+rautan dan spuli

Ini saya iseng banget ya beli pensil alis ini. Tiba-tiba pengen aja gitu sih. Pensil alis dari Just Miss ini banyak jenisnya. Ada yang pensil aja. Ada yang pensil+Spuli, pensil+rautan. Yang saya beli pensil yang di tutupnya ada buat spuli dan rautannya juga. Dan harganya sangat terjangkau kurang dari Rp20.000

Saya beli yang varian cokelat karena kalau pakai warna hitam gitu kayaknya terlalu seram dan ketara digambar banget xD. Sampai review ini dibuat, saya belum pernah pakai sih,haha. Jadi saya cuma pakai spulinya aja buat nyikat dan merapikan alis saja. Pernah iseng pakai gitu tapi gak bisa terus dan malah jadi aneh. Jadi ya selama ini pernah pakai kalau buat coba-coba aja tapi kalau keluar rumah sama sekali gak pernah pakai.

Tekstur pensil alisnya ini creamy dan kayaknya sih waterproof. Pas saya tes di tangan dan kalau iseng pakai di rumah trus keringetan gitu gak luntur soalnya. Jadi sepertinya cukup menjanjikan. Repurchase? nggak. karena saya beli cuma iseng doang xD

img_20161228_125716

Viva body creme Varian Murberry Apple, Cocoa milk, Green tea Honey

Saya dapat ini dari paket member card Viva. Jadi kalau kita belanja di web viva, kita bisa juga sekalian mendaftar untuk mendapatkan member cardnya. Member cardnya ini bisa dipakainya di toko resmi vivanya sih, jadi kayaknya sama saya gak bakal kepake xD

Tapi gapapa, lumayan dapat sample body creme gratis.

Dari ketiga varian yang belum saya coba ini, saya suka yang varian murberry apple. Wanginya kalem dan bikin segar. Untuk 2 varian lain kurang begitu suka. Tapi tetap sih lebih nendang yang varian choco mint. Bikin melek dan seger.

Setelah dapat sample seperti ini apakah saya akan beli yang full size? Hm, sepertinya tidak. Lebih tertarik dengan hand body biasa saja hhe.

img_20161223_142248

Emina cheeklit cream blush on shade peach & Emina BB Cream shade natural

Jadi, kebetulan BB Cream Marina yang biasa saya pakai habis. Trus karena kebetulan kurang puas juga dengan blush on milik Viva, akhirnya saya beli cream blush milik Emina lagi namun kali ini mencoba yang shade Peach. Sebelumnya saya sudah mencoba yang shade pink dan cukup cocok dan memuaskan.

Shade untuk BB Creamnya sendiri ini untungnya di kulit saya cocok ya. Tidak bikin wajah pucat dan membuat wajah saya juga tidak terlalu putih banget. Dia juga gak bikin whitecast gitu. Yang saya suka lagi dari BB Creamnya, dia superrrr ringan banget. Saya suka banget pakainya, meratakannya gampang dan kadang suka merasa seperti tidak pakai BB cream. Ketahanannya juga lumayan dan juga gak bikin wajah berminyak.

Untuk cream blush on, ternyata saya gak cocok pakai cream blush warna peach gini. Di kulit sawo matang milik saya warnanya gak keluar sema sekali huhu. Wanginya juga menurut saya beda sama yang varian warna pink. Review untuk kedua produk ini cukup menyenangkan dan sepertinya akan repurchase.

Emina Greentea Latte Face Mask & Emina Sun Protection SPF30

Jadi setelah merasa cocok dengan BB Cream dan cream blush on-nya, saya mencoba lagi produk lain dari emina, sunblock dan face mask. Ini saya tertarik mencoba sunblock-nya karena coba-coba aja sih. Selama ini saya tidak memiliki masalah dengan sinar matahari (karena kebetulan tiap siang selalu di kantor juga)

Dan ternyata produknya ini cukup mengagumkan ya. Tekstur produk ini lumayan cair dan berwarna putih. Memiliki bau yang tidak begitu menganggu dan kalau dipakai di wajah, rasanya wajah langsung adem dan segar gitu.

Yang bikin saya suka sama produk ini, teksturnya superrrr ringan banget. Kalau habis pakai ini kan saya suka pakai pelembab dari Viva lagi, nah itu gak berpengaruh sama sekali. Biasanya kalau kita menimpa beberapa produk sekaligus di wajah kan bakal kerasa berat dan wajah kayak ter-set berminyak berat gitu, kalau ini nggak. Nggak bikin whirecast pun. Suka. Bakal repurchase kayaknya.

Eh, minusnya produk ini satu. Entah semua sunblock kayak gini atau hanya Emina saja ya, tapi kalau habis pakai ini, usahain tangan kita langsung di cuci. Soalnya kalau nggak trus kamu kucek mata gitu, mata kamu bakal perih. Kalau pas pakai produk ini juga jangan sampai kena area mata deh. Saya pernah pakai deket alis, deket alis loh ya, trus saya kayak nge-blendnya kurang bener dan kena mata,perih. Iseng saya kucek eh malah makin perih hh, hati-hati pakai ini 😥

Yang kedua adalah green tea face mask. Saya pikir dia teksturnya bakal kayak peel off mask gitu. Yang setelah pakai kita tunggu kering. Eh ternyata tidak. Tekstur produknya gak terlalu kental ataupun cair dan berwarna hijau. Agak bau greentea gitu tapi gak terlalu bau banget.

Ketika dipakai, dia bikin wajah berminyak banget dan pas pertama pakai tuh saya nungguin sampai lama banget trus heran sendiri kayak, lho kok gak kering-kering. Gataunya ini memang wash-off. Jadi pakai, tunggu beberapa menit trus abis itu bilas cuci muka gitu. Gak enak banget rasanya hh. Setelah pakai juga saya gak merasa dapat efek apapun, wajah gak jadi lebih segar ataupun lebih bersih. Gak akan repurchase.

Innisfree Jeju Volcanic Blackhead Out balm

Ini saya salah beli ya T_T. Harusnya tuh beli yang clay mask. Eh malah beli yang ini. Produk ini berfungsi untuk membersihkan komedo. Produknya bertekstur mirip seperti balsam warna putih dan tidak memiliki bau apapun.

Cara pakainya, oles sedikit di hidung atau area yang berkomedo, tunggu sebentar trus bilas. Ini sebenarnya saya juga bingung ya cara pakainya gimana. Soalnya dapat produk ini dari teman, trus gak ada kardus atau keterangan cara pakainya karena di badan produknya sendiri pun hanya bertuliskan huruf  Korea. Pas cari di google milik orang lain pun ternyata cara pakainya hanya gitu doang.

Tapi kalau saya pakai tidak langsung bilas. Biasanya saya usap-usap dan pakai tissue gitu dan biasanya ada 1-2 komedo yang nyangkut di tissue nya. Sejauh ini produknya bekerja sesuai klaim sih. Cuma saya kurang sreg aja. Lebih dan masih penasaran sama yang clay-masknya yang katanya juga bisa mengecilkan pori-pori hhe.

 

Viva Hand & Nail Cream

Ini saya iseng beli ya. Pertama kalinya pakai dan coba pakai hand cream gini. Dulu biasanya saya pakai handbody biasa aja buat tangan. Beberapa minggu terakhir lebih sering di kantor yang dingin, tangan dan kuku saya jadi pada kering gitu. Trus akhirnya iseng beli dan ternyata formulanya emang beda ya sama handbody :’)

Kalau handbody memang bisa menghaluskan tangan. Tapi beberapa menit kemudian, tangan kembali kering. Nah kalau pakai hand cream, terutama dari Viva ini nggak. Wanginya enak banget karena dia ada kandungan ekstra Semangka.

Setelah pakai, tangan jadi dingin lembab dan halus gitu. Asli rasanya seneng banget. Kuku juga jadi kuat dan gak rapuh. Repurchase!

Viva White Clean Mask for Oily & Acne skin

Ini saya beli setelah merasa tidak puas dengan face mask-nya Emina. Viva clean mask ini banyak varian untuk berbagai macam jenis kulitnya ya. Jadi bisa disesuaikan sesuai kebutuhan. Dan setelah hampir 2 bulan pakai, bisa saya katakan bahwa ini adalah produk kesukaan saya!

Tektur produknya tidak terlalu cair maupun kental. Mengingatkan saya pada pasta gigi. Untuk varian ini warnanya hijau sesuai dengan tempatnya. Wanginya enak dan segar. Pas dipakai di wajah, dia langsung membungkus sempurna dan cepat kering. Jadi setelah diambil harus cepat-cepat dipakai kalau nggak mau kering di tangan.

Setelah kering dan bilas, wajah jadi enak banget!!! Kenyal, segar, komedo juga jadi kayak keangkat gitu. Sedikit mengingatkan saya pada Himala Herbals. Kayaknya bakal beli lagi sih. Murah dan memuaskan banget soalnya. Biasa saya pakai 3 hari sekali atau saat saya merasa ”komedo” dan wajah saya berat.

Viva Face Mask untuk kulit berminyak

Dulu saya pernah coba Viva face mask ini yang varian bengkoang karena ada di minimarket. Hasilnya cukup memuaskan walaupun selalu malas kalau mau pakai karena harus dibuat pasta dulu. Nah, saya iseng beli dan coba ini yang varian kulit berminyak.

Produk ini berbentuk bubuk seperti bedak. Cara pakainya harus kita buat menjadi pasta dulu dengan campuran air mawar, pakai ke wajah, tunggu kering dan bilas. Sejak beli dari bulan September, produk ini baru saya pakai 3x ya karena malas bikin pastanya ini. Tapi secara keseluruhan cukup ok sih.

Wanginya melati dan ada sedikit kayak green-tea gitu. Produk juga cepat kering dan setelah pakai, wajah gak jadi kering tapi malah lembab dan kenyal gitu. Enak.

Viva Acne Gel Triple Action

Ini gel penghilang dan pereda jerawat pertama yang saya beli dan pakai. Biasanya kalau saya mau jerawatan atau ada jerawat, bakal saya uap pakai air panas trus kompres pakai es biar jerawatnya pecah dan kering.

Tapi karena makin lama makin sibuk dan melakukan kedua hal tersebut repot, saya akhirnya belilah produk ini. Produknya berwarna putih kekuningan yang kalau dipakai gak menghasilkan warna sama sekali di kulit.

Wanginya sedikit mengingatkan saya sama salep pereda gatal yang pernah saya pakai dulu xD. Tapi tidak cukup menganggu sih. Dan untuk kinerja produk ini gak begitu manjur banget ya.

Kalau kita pakai saat ada tanda-tanda mau muncul jerawat sih lumayan manjur. Besok paginya jerawatnya batal jadi besar. Tapi kalau jerawatnya sudah terlanjur besar dan pakai ini biar kering/kempes gitu kurang mempan. Perlu waktu berhari-hari.

Kalau dipakaikan ke jerawat yang sudah muncul dan besar pun rasanya lumayan sakit. Perih dan panas gitu. Kayaknya sih gak bakal beli lagi karena coba-coba saja.

Maybelline Dream Matte Mousse foundation shade Nude 04 Light

Ini pertama kalinya saya beli foundation. Tadinya bingung, mau beli ini atau bb cushion. Tapi setelah banyak baca review dan banyak yang menyarankan ini untuk kulit berminyak yaudah coba beli. Bagus  sih, tapi sayang di kulit saya gak bisa jadi matte ;’)

Dia bentuknya mousse gitu. Kayak bedak tabur tapi agak basah. Produknya dikemas begitu saja ya. Gak ada spons atau aplikatornya. Untuk aplikasi ke wajahnya bisa pakai brush, tangan ataupun beauty blender. Saya sendiri pakai brush kemudian diratain pakai beauty blender.

Shade produk ini ada banyak. Jadi kalau tertarik beli kamu bisa riset satu persatu yang mana cocok dengan kamu. Saya beli yang shade nude 04 light dan cocok. Gak terlalu gelap ataupun terang tapi cukup bikin wajah saya cerah.

img_20170119_091206

Bio Oil

Saya baru inget buat foto pas udah mau abis :’)

Saya pakai ini sudah 3 bulan terakhir ini ya. Tiap pagi dan sebelum tidur pakai. Saya pakai ini untuk penghilang stretchmark dan noda hitam pada pipi bekas jerawat dan manjur!. Sayang kalau bekas luka di kulit saya kurang manjur.

Selain itu, kadang saya juga pakai ini sebagai krim malam. Cara pakainya, setelah wajah dibersihkan, pakai ini tipis-tipis di wajah setelah itu langsung tidur. Besok paginya wajah jadi lembab dan kenyal dan superrrrrrr halus. Suka!

Terakhir, headset baru dari JakMall.

Ini saya beli lagi ya Oktober kemarin setelah beberapa headset sebelumnya yang saya beli di JakMall pada rusak. Semua kerusakannya sama, rusak sebelah karena suka tidak sengaja saya injak T_T

Saya beli ini harganya..Rp42.000,- kalau tidak salah. Sekarang produknya sudah tidak ada di Jakmall. Kabel produk ini desainnya jelek ya menurut saya. Tapi dia kuat. Sudah berapa bulan saya pakai dan gak sengaja terinjak juga tapi masih awet :’)

Suaranya juga mantep. Lubang headsetnya juga pas di telinga saya. Puas banget deh. Dan gak nyesel beli juga hehe. Semoga awet terus sih, sedih euy tiap bulan beli headset mlulu wqwq

Dan ya itulah review borongan dari saya kali ini! Sampai jumpa di belanja+review lainnya!