Uncategorized

2 Hari seru di Ennichisai 2017 Jakarta

+Pada 13 dan 14 Mei kemarin, saya berkunjung ke Ennichisai Jakarta yang berlokasi di Blok M. Ini kunjungan pertama saya ke acara ini sekaligus acara Jejepangan pertama yang saya datangi tahun ini.

Ennichisai ini hampir sama seperti Jak Japan Matsuri. Penjelasan perbedaan antara JakJapan dan Ennichisai sendiri saya juga masih belum paham ya (hadeeh) (maaf malas riset, wq).

Yang jelas kalau Jak Japan itu berlangsung sekitar pertengahan tahun. Kalau Ennichisai itu masih di awal atau seperempat tahun pertama.

Pada hari pertama, saya datang setelah pulang kerja. Kebetulan saya sengaja pakai seragam kerja saya hari Senin biar sekalian cosplay ala-ala mb OL (office lady, sebutan untuk pekerja wanita di Jepang) gitu.

Tapi yang ada saya malah kayak mb kantoran rombongan krl di Tanah Abang-Tangerang. Pakai ransel+totebag di pundak kanan-kiri yang berisi berkas kerjaan wqwq.

Di hari pertama, saya berangkat dari Kantor pukul 3 sore karena saya menunggu kurir yang mengantarkan paket roll film yang ternyata gak datang.

Jadi roll film saya hanya tersisa yang ada di kamera yaitu 14 film. Padahal saya ingin memotret beberapa momen terbaik di Ennichisai

Saya tiba di lokasi acara pukul 5 sore. Ya. Dari Glodok sampai Blok M memakan waktu 2 jam. Yang bikin lama sih dari Bundaran Senayan sampai Blok M-nya. Macetnya luarrrrrrr biasaaaa.

Dan ya, karena sudah bosan dan terlanjur malas karena macet ini, pas akhirnya sampai di lokasi, saya cuma mencari lokasi tenda untuk volunteer Mikoshi, trus udah pulang lagi.

IMG_20170514_152443

Iya.

2 jam perjalanan buat gitu doang T_T.

Dah keburu bosen dan capek karena bawa banyak dokumen dan sepatu juga lagian hhh.

***

Keesokan harinya saya bangun pukul 5 pagi. Terus mandi, mulai berkemas dan memaksakan diri membuang semua jenis “kotoran” dari tubuh.

Berdasarkan pengalaman di JakJapan kemarin, toilet di lokasi acara itu kurang nyaman. Jadi jangan sampai saat acara berlangsung nanti saya merasa sakit perut atau hal-hal sejenis itu. Kebetulan juga saya sedang haid, jadi setelah selesai mandi itu saya benar-benar melakukan pembersihan diri.

Saya sebenarnya masih belum tau sih di acara ini toiletnya bagaimana. Cuma untuk mengantisipasi dan lagian malas juga kalau harus mampir-mampir ya jadi saya benar-benar mencoba mencegah dulu,hehe.

Pukul 9 pagi tepat saya berangkat. Pukul 10.10 saya sampai di sekitaran Monas. Kebetulan masih ada CFD (Car Free Day) di sekitar situ sampai Blok M. Jadi jalanan super lancar dan saat melihat beberapa orang yang beraktivitas di jalanan (CFD-an), saya benar-benar kagum dan kaget.

Sejak diadakan CFD di Jakarta (entah itu tahun berapa) sampai sekarang, saya sama sekali belum pernah berpartisipasi/lewat di daerah yang termasuk area CFD itu.

Apa ya, malas aja sih rasanya. Kayak, kenapa harus berolahraga di area CFD sih? Sama aja kan kayak lari di jalanan depan rumah(?) Dan ya, pemikiran-pemikiran seperti itulah wqwq.

Ramai ya ternyata. Padahal sudah hampir pukul 11 pagi. Ada yang jualan di pinggir jalan, sepedaan, main skate, duduk di tengah jalan, jalan bersama Anjing, selfie dan lain sebagainya. Saya lupa foto saking kagum (dan norak) (sampai mulut saya ternganga lebar melihat keramaian di jalanan) (hadeeh).

Pukul 11 kurang sedikit saya tiba di lokasi. Lapor dengan Kak Nadya, salah satu koordinasi dari team Mikoshi universitas Binus. Yap, saya gabung dengan team dari Binus. Sehari numpang jadi mahasiswi Binus xD.

Saya dapat seragam dan diminta berganti. Dan tak lama kemudian anggota lain berdatangan.

***

Pukul 12.40 adalah acara pengangkatan Mikoshi yang pertama. Di rundown acara yang dibagikan sih seharusnya tim pria, tim wanita dan tim anak-anak mengangkat semua. Tapi ternyata yang mengangkat hanya tim wanita dan anak-anak.

Di pengangkatan yang pertama ini, saya memilih lokasi di sebelah kanan. Ngangkatnya di bahu kanan gitu. Cuaca siang itu cukup sejuk(?). Gak mendung, gak panas dan cukup berangin gitu lah.

Karena saya belum berkeliling ke semua lokasi, saya jadi kurang tau ya rute pengangkatan mikoshi ini kemana saja. Dan ternyata,,,,rutenya cukup panjang T_T. Tim mikoshi sampai harus beristirahat sebanyak 6x.

IMG_20170514_131444

di pertengahan jalan tiba-tiba panas

Sekitar pukul 13.50an pengangkatan akhirnya selesai. Peserta volunteer dapat makan siang. Selesai makan, saya mencoba menjelajah ke semua lokasi dan stand di ennichisai ini.

Waktu menjelajah, saya agak pusing. Ramainya bukan main. Dan karena saya menjelajah sendiri, jadi agak canggung gitu. Soalnya di kanan-kiri pada sama pasangan atau sama teman. Mana saya masih pakai kostum mikoshi lagi wqwq. Tapi ya PD aja sih.

Untuk mengurangi rasa canggung, saya sambil memotret ke beberapa momen yang menurut saya menarik. Tapi cuma dapat sedikit karena roll film saya habis.

Saya mampir ke stand penjual gantungan kunci. (Saya lemah dengan gantungan kunci dan kaus kaki). Kebanyakan gantungan kunci yang tersedia adalah gantungan karakter terbuat dari rubber atau akrilik bergambar tokoh anime.

Sayangnya, gak ada satupun tokoh anime yang saya tahu wqwqwq. Gak ada Yotsuba, atau Crayon shinchan, atau Dragon Ball atau Dr. Slump gitu (emang mereka anime ya, Mai?). Ada sih One piece, Naruto, Doraemon dan Totoro. Cuma kayaknya udah terlalu biasa.

Saya akhirnya membeli gantungan bel karakter Line, Brown dan Cony. Ini gantungannya bisa bunyi “kleneng-kleneng”. Saya suka gantungan kunci yang bersuara.

Soalnya saya suka pergi sendirian, dan suara lonceng itu kayak “teman” saya gitulah biar gak sepi-sepi banget kalau berjalan di tempat sepi. Saya membeli 2 gantungan ini dengan harga Rp10.000/pcs.

Saya juga mampir ke stand penjual tas-tas kerajinan asli dari Jepang. Saya sebenarnya sedang mencari tas slempang (biar gampang kalau jalan-jalan bawa kamera). Dan ada sih tasnya, cuma mahal banget Rp250.000,-

Akhirnya saya cuma membeli pouch seharga Rp15.000,- yang pas banget buat tas kamera. Habis itu saya mencoba melirik beberapa stand makanan yang ada (yang sayangnya penuh dan antre semua) (malas). Akhirnya saya mampir ke stand Glico. Membeli 3pcs es krim yang kebetulan sedang promo dengan harga 3/10.000,-

Hadeh, padahal saya belum pernah makan makanan jejepangan gitu. Penasaran. Tapi gatau kenapa kalau ada yang jual selalu malas beli😅.

***

Pukul 16.00, pengangkatan Mikoshi yang kedua pun dimulai. Pada pengangkatan kedua ini tim pria juga ikut mengangkat. Kali ini saya mengubah posisi mengangkat di bahu sebelah kiri yang kemudian saya sesali karena entah mengapa kalau di bahu kiri rasanya lebih berat.

Pada pengangkatan kedua ini ada orang yang naik ke atas mikoshinya. Trus di rombongan saya juga ada beberapa personel idol yang ikut menggotong juga untuk keperluan komersil di Jepang. Nama grupnya kalau gak salah KissBee. Anggotanya ada 4 orang, lucu dan menggemaskan semua.

IMG_20170514_153759

Saya gak sempat tanya-tanya, twoshoot bareng atau hal-hal sejenis itu. Sudah malas dan capek duluan wq. Tapi ada 1 yang berambut pendek dan bikin “yaroobb” banget.

Dan ada 1 orang juga yang saat pengangkatan berlangsung sibuk teriak-teriak histeris sendiri karena kaget (dan mungkin kesakitan). Melihat dia teriak-teriak membawa hiburan tersendiri yang membuat saya semangat mengangkat saat itu wqwq.

Selesai mengangkat, saya sempat istirahat dan tidur sekitar 20 menit. Kebetulan banyak volunteer yang tidak bisa ikut mengangkat secara full 3x dan izin pulang. Jadi tenda istirahatnya cukup lenggang.

Saya terbangun saat adzan isya. Langsung pusing karena tidur sore-sore. Tapi badan juga jadi agak segar.

Pukul 19.40 pengangkatan terakhir sekaligus penutupan dimulai. Kali ini terdiri dari tim wanita, tim pria, dan tim bapak-bapak gabungan dari warga Indonesia, Jepang dan luar Asia. Yang tim anak-anak sudah tidak ada.

Pengangkatan terakhir ini rutenya singkat. Hanya lurus (kira-kira 5 menitan. Saya gak bisa menggambarkan dengan ukuran jarak) lalu nanti berputar-putar di depan panggung utama.

Nah, karena ada cukup banyak volunteer wanita yang tadi pada pulang, akhirnya beberapa ibu-ibu Jepang pun ikut membantu mengangkat. Dan padahal sudah ada bantuan ya, tapi pas pengangkatan pertama, mikoshinya sempat hampir jatuh karena tinggi peserta volunteer tidak seimbang dan jumlahnya masih kurang.

Tapi akhirnya bisa naik sih. Walaupun, yarobb, rasanya super berat banget. Saat istirahat sejenak di pertengahan jalan, saya dipindahkan ke depan oleh pimpinan rombongan. Katanya saya super bersemangat, jadi saya diminta ke depan untuk menyemangati peserta yang lain juga.

Dari acara pengangkatan pertama dan volunteer tahun lalu biasanya saya selalu di bagian belakang dekat mikoshinya gitu. Lebih enak aja. Dan ini pertama kalinya di depan, rasanya deg-degan banget. Di depan itu lumayan berat karena dia menanggung beban pertama.

Saat ketakutan seperti itu, saya ditepuk oleh salah satu mb dari Jepang yang naik ke mikoshi (yang kebetulan jadi partner saya juga di mikoshi jakjapan lalu).

IMG_20170514_191441

Partner terbaik! 2x berturut-turut dapat ketua mikoshi beliau terus. Ramah, baik dan murah senyum. Tapi saya gak tau namanya wqwq. Nanti kalau ikut di Jakjapan, saya janji bakal ajak kenalan dan foto bareng ah xD

Dia menyemangati dan menggengam tangan saya mengatakan “ganbare, semangat”. Saya hanya bisa bengong. Tangannya hangat. Dan entah mengapa saya jadi super bersemangat.

Dan saat pengangkatan di mulai…ah rasanya campur aduk banget deh. Bebannya berat. Trus suara saya hampir habis dan rasanya super haus karena harus berteriak menyemangati. Berkali-kali mikoshinya juga oleng karena peserta lain juga mulai kelelahan. Tapi mb yang naik ke atas mikoshinya rajin menyemangati.

Trus pas mulai berparade dan berputar di depan panggung utama itu ya…rasanya luar biasa. Saya sampai nangis karena kesakitan+keringat yang masuk ke mata dan bibir. Capek, sakit, tapi pas mendengar teriakan “ganbaree” “ganbaree” dari pemimpin mikoshi juga jadi bersemangat.

Rasanya lepas.

Lega.

Setelah parade selesai, Ennichisai pun resmi ditutup. Ada kembang api yang dinyalakan dari atas atap Blok M square. Kembang apinya indaaah banget.

Pas liat kembang apinya, saya nangis. Kangen. Tapi gatau kangen sama siapa

Saya nonton sambil ngobrol dengan salah satu bapak-bapak dari Jepang. Dan pas kembang apinya selesai, kami bersalaman dan dia berkali-kali menepuk punggung saya mengatakan “terima kasih, kamu kuat, kamu kuat”.

Nangisnya makin kejer😭😭

***

Selesai penutupan sempat ada selfie bersama dari panggung. Cuma saya gak begitu peduli karena udah capek. Tim mikoshi pun balik lagi ke tempat semula dan ya seperti biasa, dibagikan Sake dalam gelas untuk yang memang ingin mengkonsumsi.

Tahun lalu saya mencoba setengah gelas aqua kecil. Trus kemarin, saya minum 3 gelas😅. Pertama satu gelas penuh. Trus gatau kenapa saya nambah lagi 1 gelas penuh. Eh pas udah abis, dituangin lagi setengah wqwq.

Rasanya masih aneh dan bikin tenggorokan panas. Tapi saya ingat, begitu saya sampai rumah, saya bisa tertidur pulas dengan sangat nyaman tanpa kesakitan.

3 gelas.

Gapapalah ya, pengalaman sebelum menginjak usia 21😅.

Selesai minum-minum, saya pun berganti pakaian bersiap untuk pulang. Sebelum pulang, peserta volunteer dibagikan souvenir sebuah kantung kecil. Katanya ini asli dari Jepang. Ada warna Hijau dan Merah. Saya dapat yang Merah. Jadi agak menyesal tadi udah beli kantung kecil wqwq.

Dan sebelum pamit, ka Nadya sempat bilang ke saya,

“kak Mai jangan kapok ya! Sampai jumpa di Jak Japan dan Ennichisai tahun depan!”

Saat perjalanan menuju halte Transjakarta, saya sempat membatin dan berpikir akan banyak hal.

Waktu datang kesini, mood saya sebenarnya sedang kacau walaupun sudah melakukan pembersihan badan.

Saya lagi kangen, tapi gatau kangen sama siapa.

Saya lagi bosan sama kerjaan juga. Bingung mikirin kuliah yang gak jadi-jadi dan nafsu duniawi yang tidak ada habisnya (dan saya yang selalu berhasil terjerat hawa nafsu itu).

Waktu mengangkat mikoshi dan memberi serta diberi semangat oleh banyak orang tadi, perasaan saya benar-benar campur aduk. Lega, lepas, tenang.

Capek, tapi di satu sisi juga entah mengapa rasanya lega. Seperti ada beban berat yang terangkat. Saya kayak diyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa ketakutan saya akan masa depan itu tidak akan terjadi, masa depan tidak akan seburuk itu. Semuanya akan baik-baik saja.

Jadi ingat waktu di semangati mb dari Jepang tadi. “Ganbare, semangaaat”. Ah, kebahagiaan dan kesedihan itu menular. Energi manusia itu tidak main-main, bisa berpengaruh. Hubungan antar manusia itu ajaib.

Dan, ah, bertemu banyak orang memang selalu menyenangkan. Kalau kata orang-orang, energi extrovert saya benar-benar terisi penuh.

Dan saat dalam transjakarta di sebuah lampu merah, saya tiba-tiba ingat lagi ucapan kak Nadya yang membuat saya membatin,

“tahun depan ya…, Umur saya sampai gak ya,,,”

ps: spot saya saat mengangkat mikoshi sebenarnya cukup strategis. Di depan dan pinggir. Dan selama pengangkatan ini seingat saya banyak orang yang mendokumentasikan dalam bentuk video ataupun gambar. Pagi tadi sudah saya telusuri semua postingan di instagram dengan hashtag #Ennichisai #Ennichisai2017 #mikoshi tapi entah mengapa tidak ada post foto yang ada sayanya ataupun foto yang bagus. Jadi gak saya cantumkan disini wqwq.

Kalau nanti saya nemu foto/video yang bagus akan saya lampirkan deh xD

dan ah, foto lainnya akan saya unggah di akun flickr pribadi saya ya!

Main – main ke Lowlight Bazaar 10

Pada 1 Mei kemarin, saya berkunjung ke salah satu acara yang sepertinya rutin diadakan oleh JellyPlayGround, salah satu komunitas penggemar kamera analog di Indonesia yaitu Lowlight Bazaar.

IMG_20170501_164148

Lowlight Bazaar ini adalah acara dimana kalian bisa bertemu langsung dengan penjual kamera film/analog dan berbagai perlengkapannya. Seperti misal penjual lensa, kamera, atau mungkin ada yang mau drop film untuk dicuci/cetak dan yang lainnya.

Saya mengetahui kegiatan ini dari instagram dan setelah saya telusuri lebih jauh, ternyata ini adalah ke-10 kalinya acara ini diadakan (makanya namanya Lowlight Bazaar 10 xD).

Acara diadakan di Qubicle yang terletak di Senopati 79 Kebayoran Baru, Jakarta. Saya datang pukul 11 pagi (1 jam setelah acara ini resmi di buka) dan sudah ramai banget!

Kalau mau masuk ke bazaar ini, kita harus membayar tiket masuk seharga Rp10.000. Nanti saat beli tiket, kita harus mengisi form nama, email dan akun instagram. Setelah itu tangan kita akan diberi cap dan juga dikasih stiker (stiker yang saya dapatkan lupa ditaruh mana wqwq).

cap di tangan yang sudah pudar.

Venue acaranya sendiri bisa dikatakan cukup kecil tapi ya masih bisa untuk bergerak dengan bebas. Jumlah tenant yang tersedia kalau tidak salah ada sekitar 15an. Waktu saya datang itu sudah ramai banget (gak sempet foto).

Ada beberapa pengunjung yang langsung sibuk mampir ke beberapa tenant, ada juga yang sibuk menangkap momen dengan kamera analog andalan mereka, ada juga yang berdiri di beberapa spot kosong bertukar cerita macam-macam.

Tujuan saya kesini adalah beli kamera gara-gara sehari sebelumnya pada 30 April, saya habis dari bazaar buku Big Bad Wolf dan sempat ”parkir” di stand photography selama 1 jam dan liat koleksi yang ada trus nangis hh.

Selama ini saya tidak pernah menekuni suatu kegiatan/hobi dengan serius. Beberapa hobi yang pernah saya geluti diantaranya adalah BMX dan menulis. Hobi-hobi itu hanya saya coba sambil lalu saja yang membuat saya selalu merasa kesulitan ketika ditanya ”hal apa yang kamu sukai?”.

1493795295577

Yang saya sukai banyak. Tapi yang benar-benar saya tekuni hingga mahir nggak ada. Dan pas ”parkir” sejenak di stand Photography kemarin, entah mengapa saya seperti mendapat sebuah bisikan untuk menekuni dunia memotret.

Tidak harus sampai memiliki target jadi tukang foto senior deh. Minimal saya tau beberapa teknik dasar dan juga perbedaan jenis kamera juga gapapa. Yang penting saya tahu. Jadi tidak hanya sekedar jepret saja.

Dan yap, setelah menimbang dan memilih, saya akhirnya membeli 2 buku ini. Entahlah. Saya berpikir mungkin suatu saat akan berguna bagi saya aja gitu, hehe.

***

Balik lagi ke Lowlight Bazaar, pencarian kamera yang ingin saya beli ini agak susah ya. Karena saya sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang kamera analog, jadi saya pengennya cari penjual yang bisa ditanya-tanya gitu. Masalahnya, hampir semua stand penuh.

Dan akhirnya setelah 3x kali muterin semua tenant sekalian liat range price dari beberapa kamera yang dijual, saya berhenti di tenant milik HipercatLab, toko dari Bandung.

Ownernya cukup ramah. Ada 2 orang, seorang mas dan mbak. Kamera yang dijual juga cukup beragam dan entah mengapa saya langsung jatuh cinta sama kamera Olympus yang terpajang disana.

IMG_20170501_115116

Oiya, sebelum pergi kesini sebenarnya saya sudah menetapkan target untuk tidak menghabiskan uang lebih dari Rp500.000,- dan kalau bisa beli kamera yang merk-nya pasaran biar kalau gak tau bisa cari review atau tutorialnya di youtube.

Nah, waktu naksir si Olympus ini, saya gak sempat googling dulu karena entah kenapa hp saya gak dapat sinyal dan ya tau-tau udah kebeli aja gitu. Dan pas sampai rumah dan bisa internetan, saya langsung agak menyesal karena review atau tutorial di youtube-nya gak ada T_T.

Kamera yang saya beli adalah Olympus oz 70 panorama zoom yang dijual seharga Rp450.000,-. Fungsi semua kamera masih ok. Saya juga beli isi film Fujicolor seharga Rp100.000,- dapat 2 (masing-masing berisi 36 film). Oiya, saya masih belum tau nih soal jenis-jenis isi film gini. Katanya beda merk beda hasilnya gitu. Itu saya main asal beli yang termurah aja. Masih perlu belajar dan riset soal ini hmm.

Kalau ditanya kenapa saya naksir ini, gatau juga ya. Pokoknya pas lihat langsung naksir aja. Padahal kamera ini agak berat dan menurut saya kurang mini (saya suka yang kecil-kecil). Sebenarnya ada lagi seri olympus lain, cuma dia gak ada fitur zoom. Saya milih ini karena ada fitur zoom-nya gitu.

Alasan yang aneh memang wqwq. Dan hh, sebenarnya masih banyak yang belum saya ketahui perihal kamera ini. Agak nyesel karena gak ada review atau pun artikel tentang ini kamera padahal penasaran maksud dari panorama zoom itu apa dan lain sebagainya.

Alasan lain kenapa saya membeli kamera adalah karena sebentar lagi bulan Juni. Selain suka menghitung mundur menuju hari-hari penting dalam hidup, saya juga suka memberi suatu benda mahal/pergi ke suatu tempat untuk menyegarkan pikiran sejenak sebagai bentuk kado untuk diri saya sendiri.

Yap, bulan depan kalau saya diberi umur panjang, saya akan ulang tahun. Dan saya sudah duluan memberi kado untuk diri sendiri dari sekarang wqwq. Gapapa kan ya? xD

Kemarin saya sudah jalan-jalan ke Semarang sih (dan uh, soal ini kayaknya gak bakal saya tulis karena udah mager duluan wqwq). Tapi entah mengapa saya merasa masih ada yang kurang. Pengen beli kamera juga untuk mengabadikan sesuatu.

Tadinya saya mau membeli kamera instax karena tidak perlu repot mencuci cetak lagi. Tapi kayaknya instax terlalu ”modern” banget. Trus tadinya mau langsung beli kamera digital aja tapi sebenarnya saya sudah punya kamera saku pemberian dari oom saya.

Jadi ya, akhirnya beli kamera analog ini. Hitung-hitung sebagai kenangan juga sih. Siapa tau bisa diturunkan kepada anggota keluarga yang lain atau mungkin dijual lagi. Saya jadi ingat dulu waktu kecil sering dipotret oleh ayah saya pakai kamera analog juga.

Waktu kecil ayah saya pernah bekerja jadi tukang cuci foto di sebuah stand Fujifilm resmi di daerah Lembah sungai gajahwong, Yogya. Makanya foto kecil saya cukup banyak karena sering diabadikan. Lain halnya dengan adik saya yang kayaknya cuma ada sekitar 20an foto saja karena setelah adik saya lahir, ibu dan ayah saya berpisah.

Dan ah, ketika tulisan ini dibuat, saya sudah menghabiskan 1 roll film untuk memotret beberapa sudut rumah saya yang kebetulan sedang direnovasi (ditinggikan dan di cat ulang), memotret tempat kerja saya di Glodok dan…apa lagi ya…lupa wqwq.

Nanti kalau kedua roll film itu sudah terpakai dan sudah di cuci-scan, akan saya unggah di akun flickr atau akun instagram saya. Ah, rasanya jadi tidak sabar menunggu hasilnya xD

Dan ah, masih tersisa 42 hari lagi menuju hari ulang tahun saya, ada kejutan apa ya yang menunggu saya di depan sana(?)

IMG_20170503_110130

Sejauh ini, 3 benda berharga yang saya miliki; Olympus oz 70 panorama zoom, smartfren andromax haier EC dan canon PowerShoot A800. (gambar di potret menggunakan lenovo p1a42)

Sepatu

Saya suka berjalan kaki dan kurang suka bepergian naik motor ataupun mobil pribadi. Jalan kaki, naik kereta api dan bus kota adalah pilihan utama saya jika mau bepergian-kemanapun.

Ini mungkin menurun dari nenek karena sejak kecil saya terbiasa diajak jalan-jalan oleh beliau naik kendaraan umum. Jadi ketika terpaksa naik kendaraan pribadi atau yang kendaraan yang hanya bisa memuat 1-2 penumpang, saya jadi merasa tertekan dan tidak enak badan. Seperti ada sesuatu yang salah dan saya jadi tidak bisa menikmati perjalanan dengan baik.

Saya sangat suka berjalan kaki.

Kalau mau membuat catatan perjalanan, mungkin jumlah jarak yang saya lewati dalam sebulan bisa tak terhitung saking banyaknya. Jalan kaki enak. Yah, meskipun di tempat tinggal saya, Jakarta, fasilitas untuk pejalan kakinya masih kurang memuaskan. Trotoar malah diisi oleh pedagang kaki lima dan lain sebagainya.

Saya kurang suka bepergian (dibonceng) naik motor.

Selama 20 tahun saya hidup, mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali saya dibonceng naik motor. Bahkan saat berpacaran dulu pun, saya lebih sering meminta untuk bepergian naik kendaraan umum (padahal saya pernah 2x pacaran sama anak motor xD).

Selama beberapa kali dibonceng naik motor, saya mengamati suatu hal. Semua orang yang naik dan mengendarai motor, tiba-tiba berubah menjadi monster yang menyeramkan.

Saat mereka belum naik motor, mereka terlihat begitu ramah, menyenangkan dan lucu. Tapi saat pantat sudah menduduki jok motor dan mesin motor mulai berjalan, kepribadian mereka berubah. Mereka jadi orang yang menyeramkan; gemar mengumpat, tidak sabaran, ngebut tak karuan, tiba-tiba jadi pemarah dan semua kosakata kotor keluar dari mulut mereka.

Saya takut.

Seingat saya, kayaknya saya jarang menemukan ada pengendara motor yang tidak mengumpat sama sekali ketika berkendara bersama saya. Bahkan pernah saya pergi dengan gebetan baru saya yang terlihat jaim, alim dan rupawan sekaligus tapi saat sudah naik motor rajin mengumpat kasar tak karuan yang membuat saya bergidik ngeri.

Apa ya, saya selalu merasa bahwa ”wajah” dan kepribadian yang mereka tampilkan di jalanan adalah wujud asli mereka gitu, dan saya takut 😥

Ya, saya tau sih. Dengan kondisi jalanan Jakarta (dan mungkin tempat lainnya) yang super macet dan banyaknya kasus kecelakaan juga pengendara yang seenaknya di jalan, bukan tidak mungkin rasanya untuk tidak mengumpat karena kesal. Tapi menurut saya mengumpat atau marah-marah tidak membantu menyelesaikan apapun. Jadi ya sia-sia.

Selain hal itu, yang membuat saya kurang begitu menyukai dibonceng naik motor adalah karena naik motor membuat pegal. Apalagi kalau perjalanan jauh. Gak usah perjalanan jauh deh, jarak dari ITC Mangga dua ke LTC Glodok yang cuma melewati satu lampu merah aja kadang saya sudah merasa pegal gak karuan :'(. Saya lebih suka dan memilih berdiri dan berdesakan di kendaraan umum daripada duduk tapi naik motor.

Dibonceng naik motor juga punya banyak rintangan fisik. Kalau pergi pagi-pagi, dingin karena angin pagi dan kalau siang-siang panas. Tapi bukan berarti lantas saya menyukai naik mobil pribadi yang ber-AC gitu. Saya juga gak pernah bisa naik mobil pribadi. Pasti selalu mabuk kendaraan.

Saya tidak pernah cocok naik mobil pribadi. Gaya mengemudi mobil orang berbeda-beda. Dan kadang butuh waktu lama bagi saya untuk bisa menyesuaikan mereka. Kalau tidak cocok biasanya saya hanya akan diam terus selama perjalanan, keringat dingin dan kalau sudah tidak tahan bisa mabuk kendaraan.

Satu-satunya orang yang cocok dan menurut saya bisa mengemudi mobil dengan baik adalah almarhum Pakde saya yang meninggal tahun lalu. Gaya mengemudinya enak. Dan yah, semenjak kepergiannya saya belum pernah naik mobil pribadi lagi-termasuk taksi (eh tapi kemarin saat liburan ke Semarang saya sempat naik mobil pribadi lebih dari 7 jam dan syukur saya baik-baik saja meski sepanjang perjalanan lebih banyak diam karena menahan keringat dingin dan pusing hh).

***

Karena itulah saya selalu memilih untuk naik kendaraan umum kalau bepergian, kemanapun. Dan lagi-lagi saya ingin mengatakan bahwa ini sepertinya menurun dari nenek saya.

Nenek saya bahkan pernah memiliki trauma naik kendaraan bermotor karena pernah terjebak dalam kecelakaan. Dia hanya mau naik commuter line (/kereta api) kemanapun dia pergi.

Jadi kalau ada yang mengajak nenek saya pergi, pasti dia akan bertanya ”lokasi yang kita tuju ini, ada jalur keretanya gak? seberapa jauh dari stasiun?”. Kalau tidak dilalui jalur kereta, biasanya nenek saya menolak untuk datang-tidak peduli acara itu penting atau tidak.

Untung itu bertahan hanya sekitar 10 bulan saja. Saya tidak tau dulu nenek saya bisa sembuh karena apa tapi yang jelas beliau sekarang sudah berani naik kendaraan bermotor lagi dan bahkan, nenek saya sekarang sudah bisa mengendarai motor. Saya kalah 😥 hhhh

Naik kendaraan umum itu enak.

Kita tinggal duduk dan biarkan pak supir yang bekerja. Ritme dan cara mengemudi supirnya pun seragam semua, jadi saya bisa menyesuaikan diri dengan baik tanpa perlu takut mabuk kendaraan (dalam konteks ini saya membicarakan transjakarta karena saya tidak pernah lagi naik angkutan umum lain).

Naik kendaraan umum itu enak.

Kita bisa bertemu dengan banyak penumpang lain; yang mungkin kelelahan setelah seharian bekerja dan kena marah pak bos, atau yang baru pulang sekolah dengan membawa banyak tumpukan PR dan lain sebagainya.

Mereka semua sama seperti saya. Mencoba ”menyerahkan” nasib  kepada pak supir agar bisa membawa sampai ke tujuan dengan selamat.

Makanya saya selalu lebih update tentang jadwal perjalanan kereta atau jam tiba bus daripada berita terkini yang lain. Saya juga tidak terlalu begitu peduli dengan kenaikan BBM atau sejenis itu karena tidak mempengaruhi tarif kendaraan umum.

Lalu bagaimana kalau suatu hari saya harus bepergian ke tempat yang tidak terjangkau lajur kereta api atau bus transjakarta?

Biasanya saya tetap mencoba dulu mencari jarak terdekat bisa dicapai pakai transjakarta atau kereta. Kalau sudah sampai disana biasanya saya untung-untungan mengandalkan internet dan Google Maps. Kalau kira-kira dekat maka saya akan berjalan kalau tidak biasanya saya naik angkutan umum.

Tapi pilihan kedua ini jarang. Lebih sering saya memilih berjalan kaki-tidak peduli seberapa jauhnya. Sekalian melihat lingkungan dan kehidupan sekitar gitu.

Karena kebiasaan dan kesukaan berjalan kaki ini, saya jadi memiliki beberapa kebiasaan khusus yang menurut orang mungkin agak aneh. Saya jadi suka mengamati sepatu yang sering dipakai orang.

Saya memiliki pikiran, saya suka berjalan kaki. Nah, kalau ada orang yang mau berteman dengan saya, maka minimal ia harus suka berjalan kaki juga atau setidaknya sepatu yang ia pakai nyaman sehingga kalau saya ajak jalan, dia tidak sering mengeluh lelah atau kesakitan.

Saya jadi senang menilai seseorang dari alas kaki yang ia pakai. Selain sebagai penilaian pribadi sebagai standar teman jalan, penilaian itu juga saya gunakan untuk melihat bagaimana seseorang merawat dirinya.

Kaki kan salah satu organ tubuh yang paling vital ya. Dia membantu menopang tubuh, membantu kita sampai dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Nah, dengan melihat sepatu yang ia pakai itu, saya jadi suka berpikir dan menilai apakah orang tersebut menghargai dan berterima kasih ke kakinya dengan baik dengan cara memakaikan alas yang layak ataukah hanya pakai sembarang alas yang penting pakai, dan hal-hal sejenis itu.

Bukan berarti lantas saya memandang wah orang-orang yang memakai alas kaki yang harganya mahal. Tapi minimal alas yang dipakai itu sesuatu yang ”layak” sesuai pakaian dan citra dirinya gitu lah, surem bingung juga jelasinnya 😥

Dan hh, saya jadi penasaran sepatu dan alas kaki seperti apa yang kira-kira kamu pakai…

Kira-kira kamu bisa tidak jadi teman jalan yang enak?

Hm?

img_20170127_102804-1