Author: Mai

a Reader

[Product Review] Katering Salad Enak di se.rasa Jakarta

Jadi beberapa minggu yang lalu saya mencoba untuk langganan katering makan siang salad sayuran di sebuah katering lokal Bandung yang kebetulan membuka cabang di Blok M, Jakarta bernama se.rasa.

Saya tau katering ini secara tidak sengaja saat sedang menjelajah toko-toko yang menjual berbagai macam bahan organik di instagram. Dan karena harga langganan kateringnya cukup ramah di kantong yaitu Rp200.000,-/5 hari (belum termasuk ongkos kirim), saya pun iseng mencoba langganan satu minggu. Kebetulan menu yang saat itu tersedia adalah menu katering yang ini.

(klik pada gambar untuk memperbesar)

Pemesanan dan pembayaran dilakukan sebelum H-1. Karena dikirim ke kantor saya, jadi total yang harus saya bayar kira-kira Rp280.000,-. Oiya, kita bisa memilih waktu pengiriman makanannya apakah mau dikirim seminggu tiga kali atau seminggu dua kali. Saya memilih seminggu dua kali yaitu pada hari Senin dan Rabu.

Hari 1.

Green Fiesta Salad.

DSC_0107

Salad yang datang ada dua ya, menu untuk hari Senin dan Selasa. Produk dikemas dalam kotak makan plastik yang cukup kokoh. Ada tulisan nama salad-nya juga di luar kemasan. Sayang tidak ada penjelasan komposisinya.

Kalau berdasarkan pamflet, menu Green Fiesta Salad ini terdiri dari Romaine lettuce, champignon, mushroom, corn, broccoli and potato with pesto dressing. Oiya, kateringnya datang sebelum pukul dua belas siang diantar pakai salah satu ojek online. Ntap.

DSC_0110DSC_0114

Saya tidak tau kapan terakhir kalinya makan sayur, nah pas makan salad ini saya benar-benar super beringas xD

Brokolinya enak bangeeeett. Rasanya manis gitu. Dan pas dituang ke bumbu dressing-nya pun juga segar. Sebelumnya saya sudah pernah makan brokoli juga, tapi brokoli ini super enak banget. Rasanya manis, segar dan gurih.

Saya makan sampai habis tak tersisa dan rasanya super kenyang. Kalau gak salah, saya gak makan malam lagi karena rasanya masih kenyang. Dan tumben gak tertarik buat ngemil yang macam-macam juga. Mantap!

Hari 2.

Tartar Salad.

DSC_0118

Karena kebetulan saya tidak berangkat kerja, jadi saya makan ini di rumah. Sebelumnya saya menyimpan produk ini dalam kulkas. Dan pas dimakan rasanya sungguh segar. Saya bahkan bisa mendengar suara ”kriuk kriuk” pas gigit seladanya hhh.

Tartar salad ini terdiri dari mix lettuce, endive, cucumber, mix bellpepper with tomato, watermelon and tartar dressing. Setelah makan salad kedua ini, saya jadi dapat sedikit pengetahuan kalau sepertinya dressing saladnya itu ada dua jenis. Yang berbahan dasar oil dan cream. Yang menu hari senin kemarin dressing-nya agak berminyak dan yang hari selasa ini agak krim dan terasa asam sedikit mirip yogurt. Saya kurang ngerti tentang jenis-jenis makanan, tapi menu hari selasa ini enak banget. Bikin nambah energi dan bersemangat perpaduan dari rasa gurih dan manis dari salad serta asam dari dressing-nya.

DSC_0128

Hasil akhir kotak makan katering hari pertama dan kedua. Nyaris bersih tak tersisa, bahkan rasanya pengen tak jilatin kotak makannya saking super-enaknya xD

Hari 3.

Caesar Salad.

DSC_0133

Menu hari ketiga dressing-nya berbahan cream. Komposisi produknya terdiri dari lettuce head, romaine lettuce, shredded carrotat, toasted croitons, cheese, with caesar dressing. Satu yang saya rasakan setelah makan ini: seret. Gak tau kenapa pas selesai makan malah bikin haus wqwq. Tapi wortel dan tomatnya segarr.

Hari 4.

Salad Roll.

DSC_0139

Seperti namanya, salad kali ini berbentuk roll seperti sushi. Komposisinya terdiri dari Bell pepper, kyuri (gatau apaan dan yg mana), red cabbage, carrot with Japanese seaweed dressing. Porsi roll-nya lumayan besar dan gak bisa ditelan dalam sekali gigit. Dan karena hal itu pas makan ini lumayan berantakan karena saya susah gigitnya.

Satu porsi ini ada sepuluh roll dengan ukuran berbeda tapi kebanyakan ukurannya besar. Kekurangan dari menu ini cuma satu, dressing-nya terlalu sedikit. Tapi dimakan tanpa dressing pun tetap enak sih. Rasanya manis dan segar.

Hari 5.

Edamame Salad.

DSC_0148

Menu ini terdiri dari Lettuce head, romaide, red cabbage, cherry tomato, edamame, zucchini, corn with mexican dressing. Saya makan ini pas udah agak siang banget dan beberapa sayuran sudah ada yang menguning. Tapi rasanya masih enak. Yang paling saya suka baby tomato-nya. Enak. Kacang edamamenya sendiri saya malah kurang suka.

Dan selesai!

Menu katering lima harinya sudah selesai dan saya cukup puas dengan menunya.

Kalau ditanya menu favorit saya mungkin yang jadi nomor satu itu menu hari ketiga, Caesar Salad. Rasanya enak, segar dan mengenyangkan walaupun akhirnya bikin seret. Saya juga lebih suka dressing yang berbahan dasar krim daripada oil. Soalnya kalau dressing oil ini pas selesai makan meninggalkan bekas minyak di bibir yang kurang enak.

Kelebihan produk ini apa ya, hmm, mungkin dari segi kualitas sayurannya kali ya. Sayurannya segar dan gak ada yang layu semua ini bisa dikatakan nilai +++++ banget. Saya jadi ingat waktu makan brokoli di hari pertama. Rasanya super manis dan empuk banget. Top lah.

Saya tertarik untuk langganan katering lagi tapi mungkin bulan depan sambil lihat-lihat menu yang lain hehe. Untuk hasil ke tubuh saya sendiri, seingat saya buang air besar saya jadi lancar dan saya jadi lama kenyangnya. Gak tertarik untuk ngemil-ngemil atau jajan gitu. Ini merupakan nilai positif banget buat saya soalnya saya suka banget ngemil kacang atau biskuit kalau lagi bengong (yang bikin kantong jadi jebol karena jajan-jajan terus).

Oiya, serasa ini tidak hanya menjual katering salad tetapi juga menjual dressing dalam kemasan jar (siapa tau kamu mau membuat salad sendiri di rumah). Mereka juga menjual smoothie bowl yang sayangnya baru tersedia di Bandung. Saya jadi penasaran mau mencoba semua!

Untuk yang tertarik lebih jauh tentang produk mereka, bisa kunjungi di akun instagram mereka disini.

Sampai jumpa di review berikutnya dan terima kasih untuk se.rasa Jakarta yang sudah menunjukkan enaknya makan sayur!

Advertisements

[Product Review] Snapkik, Feelm Classic and GudakCAM A Disposable Camera For Your Phone!

Beberapa waktu lalu saya iseng melihat sebuah tagar di instagram dengan nama #gudak. Hasil yang muncul adalah beberapa foto yang sebagian besar di unggah oleh pengguna instagram dari negeri Korea dengan filter cukup menarik seperti diambil pakai kamera analog dan terlihat sangat aesthetic (kalau kata anak-anak zaman sekarang).

hasil pencarian #gudak di instagram

Karena penasaran dan cukup terpesona dengan filter yang dihasilkan oleh ”sesuatu” yang bernama gudak ini, akhirnya saya mencoba cari di google dan menemukan hasil bahwa ternyata Gudak adalah sebuah aplikasi buatan Korea yang mirip disposable camera analog tapi menggunakan kamera handphone dan sayangnya baru tersedia untuk pengguna non android saja (iOS). (sampai dengan saat ini 03/10/2017. Katanya sih akan dibuat untuk versi android juga tapi belum pasti kapan).

IMG_20171003_121156

Disposable camera sendiri adalah kamera analog sekali pakai yang biasanya berisi 27 atau 39(agak lupa) film. Hanya bisa dipakai sekali saja. Jadi ketika kita mau develop filmnya ya kameranya langsung dibuang. Tidak bisa di isi ulang. Di luar negeri sendiri kalau tidak salah cukup populer dan dijual cukup terjangkau untuk orang-orang yang ingin menggunakan kamera analog tapi tidak punya kameranya.

Nah karena saya bukan pengguna iOS, tentu saja saya sempat kecewa. Tapi saya tetap iseng mencari tahu tentang Gudak ini karena sepertinya menarik. Belakangan ini saya melihat bahwa banyak sekali brand yang membuat campaign ”nostalgia” tentang masa lalu atau rebranding produk yang dulunya laris namun sekarang sudah agak terlupakan dan terbukti memang lumayan sukses. Beberapa contoh yang saya ingat itu ada dari produk Indomie, produk makanan yang mengeluarkan packaging edisi Jadul.

Saya sendiri tidak membeli produk itu karena rasa produknya menurut saya sama saja hanya kemasannya saja yang vintage dan bonus totebag-nya sendiri menurut saya kualitasnya jelek. Tapi hampir seluruh keluarga besar saya beli hhh. Jadi ya begitulah. Saya sendiri juga heran sih, kenapa ya kita suka sama hal-hal berbau vintage tapi kalau ada yang mengungkit kesalahan atau hal-hal konyol yang kita lakukan di masa lalu kitanya malah marah(?) xD

Balik lagi ke Gudak, menurut website resmi Gudak, mereka membuat aplikasi ini berdasarkan filosofi sebagai berikut;

IMG_20171003_124905

Dan jujur saya sangat suka dan setuju banget sama filosofi ini!

Di zaman digital ini pasti bukan cuma saya saja deh yang kalau memotret sesuatu, gak cukup sekali tapi harus berkali-kali. Iya gak? Atau mungkin ada juga yang udah memotret sesuatu sampai puluhan kali eh pas dilihat hasilnya jelek trus ulang lagi ambil puluhan foto, gitu terus sampai capek xD. Bukan hanya saya saja kan yang begitu?

Nah, keberadaan Gudak ini semacam membuat kita kembali pada masa dulu saat kita menggunakan kamera film dan membuat kita tidak bisa melihat langsung hasilnya karena harus menunggu sampai roll filmnya habis dulu. Persis seperti filosofi Gudak lanjutannya,

IMG_20171003_124914

Previews kills the momment.

Itu bener banget!

Dengan kembali ke era roll film seperti ini, kita jadi belajar sabar dan bisa terlatih untuk peka terhadap lingkungan sekitar dan memotret objek yang benar-benar penting saja buat kita.

Nah, kalau pada roll film analog itu ada 36 film dan pada disposable camera asli ada 27 dan 39 film, kalau dari aplikasi Gudak ini hanya ada 24 film/roll. Selain itu, kalau kita mau mendapatkan filter agak kehijauan atau kuning kan biasanya kita pakai roll film kodak Colorplus atau Fujicolor200. Nah kalau aplikasi ini tidak. Dalam 1 roll film ini dia punya banyak filter berbeda yang langsung terproses secara acak dan bisa menghasilkan banyak filter dalam satu roll. Misalnya bisa saja foto pertama kamu mood fotonya berwarna kehijauan seperti efek foto pakai Fujicolor200 lalu foto kedua agak kuning seperti pakai kodak Colorplus. Menurut saya ini cukup menarik karena kamu tidak akan pernah tau ”filter” seperti apa yang akan kamu dapatkan dari setiap foto yang kamu ambil.

Nah, kalau cuci cetak foto pakai kamera analog (untuk saat ini) kan biasanya selesai dalam waktu seminggu (biasanya kalau kita cetak di develop scan yang ada di Bandung atau di STC Senayan). Kalau aplikasi Gudak ini memakan waktu 3 hari untuk memproses foto-foto yang sudah kita ambil.

IMG_20171003_124855

Menurut saya ini juga cukup menarik. Saya jadi ingat pas cetak foto analog pertama saya dulu perlu waktu seminggu dan degdegannya bukan main. Senengnya juga makin-makin pas fotonya sudah selesai di scan dan masuk ke inbox email saya, ya walaupun hasilnya pada goyang semua xD. Dan dengan rentang waktu 3 hari yang diberikan Gudak ini menurut saya cukup pas sih. Tidak terlalu lama ataupun sebentar.

Yang menarik, pas saya iseng cari di twitter ternyata banyak yang komplain soal ini xD

Ada banyak hal yang menggelitik benak saya pas baca ini. Pertama, orang-orang yang membuat status atau berkomentar itu sudah pasti bukan generasi yang besar dan pernah merasakan kamera analog. Karena dulu nunggu film kamera analog selesai di scan saja lama. Kedua, orang yang membuat status itu sudah pasti masih berusia 20 tahun ke bawah. Generasi tidak sabaran, maunya instant dan penasaran hanya mau mengikuti tren. Ketiga, mereka pasti bukan generasi yang ”live the moment”. Dan terakhir, mereka pasti juga nggak mengecek web resminya Gudak untuk membaca tentang apa itu Gudak dan filosofi produk mereka hhhh.

Ya sebenarnya tidak masalah juga sih. Saya sendiri jujur penasaran mencoba aplikasi ini karena penasaran juga. Tapi setidaknya saya kan sudah ”mempelajari” dulu filosofi dan makna dari aplikasi ini. Dari beberapa pencarian yang saya temukan di twitter juga memberikan hasil yang menarik. Seperti misal ada yang kecewa dengan aplikasi ini dan memilih untuk refund pembelian karena katanya tidak bisa memilih filter. HHHH susye emang bocah-bocah wqwq. Saya cukup senang sih mengamati tren ini, jadi belajar banyak hal juga. Dan soal ”trik cepetin tanggal” ini juga menarik. Kalau tanggalnya dicepetin biar bisa lihat hasilnya lebih cepat, trus gak ada bedanya kayak aplikasi foto biasa dong(?)

Naah, karena Gudak ini khusus untuk pengguna iOS saja, untuk yang penasaran silahkan coba cari di App Store. Kalau tidak salah aplikasi ini dijual seharga Rp15.000,- (belum termasuk pajak). Selain Gudak, kemarin saya juga iseng mencari di kolom pencarian twitter dan menemukan ada aplikasi yang mirip-mirip yang dibagi oleh salah satu pengguna twitter, Huji Cam dan Dispokam. Silahkan cari bila tertarik dan untuk pengguna iOS~

IMG_20171003_123036

***

Untuk pengguna Android, jangan khawatir. Aplikasi yang nyaris sama dengan Gudak ini juga ada meskipun tentu saja memiliki perbedaan. Ada 2 aplikasi yang saya temukan yaitu Feelm Classic dan SNAPKIK.

IMG_20171003_121516

Feelm Classic ini sayangnya berbayar ya. Harganya Rp18.000,- belum termasuk pajak. Waktu iseng cari di twitter, ternyata ada yang punya link download gratis untuk aplikasi ini. Saya sempat download dan ternyata aplikasinya beda sama yang berbayar. Aplikasi gratisnya cuma punya 5/6 filter gitu (saya lupa tepatnya) dan yang berbayar punya 12 filter.

12 filter dari aplikasi Feelm

Aplikasi Feelm ini mungkin lebih tepat disebut sebagai aplikasi penambah filter seperti film analog saja kali ya. Soalnya fiturnya ya cuma gitu. Begitu buka aplikasi langsung ke layar kamera. Kita tinggal pilih filter trus klik foto. Foto otomatis tersimpan dan tidak perlu menunggu 3 hari untuk develop. Ada pilihan editnya juga bila kita mau edit foto yang sudah kita punya tapi mau kita beri efek mirip film analog.

Ini ada beberapa foto yang saya sudah pernah saya shoot. Yang foto keyboard itu saya ambil pakai kamera biasa lalu di edit pakai filter feelm.

201709291709542017093014275220171002171337Screenshot_2017-10-03-12-14-13-141

Hasilnya sendiri menurut saya lumayan apik sih. Agak mirip kalau kita shoot pakai film Kodak Colorplus yang sudah expired. Oiya, di kolom pencarian twitter saya sempat menemukan beberapa twit yang komplain katanya Feelm kurang bagus kalau di tempat gelap dan saya cukup setuju. Tapi saya kira memang ya begitu dari sananya. Soalnya kan memang meniru filter dari film kamera analog asli.

Lalu, kita pindah ke SNAPKIK.

Screenshot_2017-10-04-15-58-24-227

SNAPKIK ini menurut saya memiliki kemiripan 80% seperti Gudak ya. Dari tampilan aplikasinya saja sudah mirip dan cara kerjanya juga sama. Bedanya, kalau Gudak butuh waktu 3 hari untuk develop film, SNAPKIK cuma butuh sehari saja.

Satu roll film ini berisi 24 film dan viewfinder kameranya cuma kotak kecil seperti yang terlihat pada gambar itu saja. Waktu pertama kali coba, saya langsung arahin layar hp ke muka lho refleks kayak mau pakai kamera analog beneran wqwq. Kekurangan aplikasi ini cuma satu, gak ada fitur zoom seperti di kamera analog beneran hhe.

Ini contoh ketika saya foto dan jumlah film di kameranya berkurang, bisa lihat di bagian yang saya lingkari tadinya ada 24 jadi 23 ketika saya memotret keyboard komputer.

Screenshot_2017-10-04-15-58-58-463Screenshot_2017-10-04-15-58-38-645

Nah, kalau 24 roll film kamu sudah habis, kamu tinggal menekan tombol hijau itu untuk melanjutkan ke proses developing yang memakan waktu 24jam. Setelah kamu tekan tombol hijau itu, kamu bisa menunggu sekitar 1 jam dan nanti kamu akan dapat roll film baru secara otomatis dan bisa foto-foto lagi tanpa menunggu proses developnya selesai!

Saya lupa screenshoot pas proses develop-nya. Tapi yang jelas ada penghitung mundurnya gitu dan pas sudah tepat 24 jam, handphone akan bergetar tanda proses develop sudah selesai. Dan inilah contoh ketika film pertama saya sudah selesai.

Kita bisa memberikan judul untuk roll film tersebut. Disitu saya pakai judul Jakarta 1. Oiya, kalau kita tidak suka dengan filter acak yang sudah dipilihkan dan dibuat oleh SNAPKIK ini, kita bisa memilih fitur acak yang terdapat di pojok dekat tombol share.

 

Kita bisa memilih tukar-tukar filter atau membuat filternya sama untuk semua foto. Fitur ini bisa kita dapatkan 7 hari pertama setelah film selesai di develop. Kalau sudah lewat 7 hari filternya sudah tidak bisa lagi diubah.

Ini beberapa foto yang menjadi kesukaan saya yang diambil menggunakan SNAPKIK,

IMG_20171003_072004631IMG_20171003_071242288IMG_20171003_064521131IMG_20171003_064507080

SUKA BANGEEEET, asli menangis pas lihatnya hh. Perasaan yang saya rasakan pas nunggu scan ini selesai sama persis kayak pas nerima scan analog pertama saya dulu huhu.

Aplikasi ini berbayar sebesar Rp12.000 (belum termasuk pajak) di play store yang sayangnya, kemarin malam aplikasi ini dicabut dari playstore karena banyak komplain dan review kalau katanya aplikasinya jelek.

IMG_20171003_132047

Tapi gatau kenapa di handphone saya aplikasinya gak rusak atau hilang wqwq. Jadi ya saya cukup beruntung dan sayang sekali buat yang mau coba aplikasi ini gak bisa hhh.

Jadi, sampai sini kira-kira sudah dapat gambaran sedikit ya tentang apa itu Gudak dan disposable camera dan kenapa kita harus menunggu 3 hari? hhe

Secara keseluruhan saya cukup suka kedua aplikasi yang saya punya tersebut, Feelm Classic dan SNAPKIK. Gak nyesel belinya. Dan soal Gudak, well kita tunggu saja sampai rilis di android ya!

Review akan saya perbaharui kalau ada info terbaru atau alternatif aplikasi serupa.

Sampai bertemu di review lainnya!

[Product Review] LIPLAPIN LIPBALM & LIPSCRUB varian Strawberry Kiss

IMG_20170923_114914

Masih dalam rangka mencoba produk lokal, sebulan terakhir ini saya mencoba salah satu produk untuk perawatan bibir dari Liplapin. Saya tahu produk ini dari explore instagram ya, waktu itu ada salah satu selebgram yang pakai dan saya cukup tertarik.

Produk dari liplapin ada dua. All Natural Tinted lip balm dan Sugar lip scrub. Untuk tinted lip balm ada tiga varian, Red rose (merah agak oranye) , Strawberry kiss (pink kemerahan), Cocoa butter (pink kecoklatan). Saya sebenarnya tertarik membeli yang cocoa butter karena kebetulan warna bibir saya agak hitam dan kurang cocok pakai lipstik pink. Tapi karena stok kosong saya jadi mencoba yang Strawberry kiss.

Untuk lip scrubnya sendiri punya lebih banyak varian. Kalau tidak salah ada enam, strawberry, green tea, bubble gum, caramel, cotton candy dan banana. Saya beli yang strawberry dipilihkan sama sellernya habis bingung mau yang varian apa hehe.

Nah, mari kita langsung mulai reviewnya.

klik pada gambar untuk memperbesar

All Natural Tinted Lip Balm Strawberry kiss

Sesuai namanya, ini tinted lip balm yang memiliki aroma strawberry dan menghasilkan warna pink kemerahan. Menurut deskripsi di balik kemasan produk dan di instagram mereka, produk ini terbuat dari bahan alami tanpa petroleum jelly atau bahan kimia lainnya. Bahan utama produk ini adalah shea butter, cocoa butter, jojoba oil, almond oil, vitamin E serta coconut oil yang dapat melembapkan dan menyehatkan bibir.

Tekstur produknya sendiri tidak terlalu padat atau cair persis seperti shea butter sih. Cuma produk ini agak berminyak pas di aplikasikan ke bibir atau pas kita colek. Mungkin karena saya nyimpannya kurang benar (shea butternya jadi mencair) atau entah gak ngerti juga deh. Mungkin ada beberapa orang yang nantinya akan kurang suka dengan tektur produk yang berminyak ini.

Oiya, karena warna bibir saya agak menghitam, begitu di oles ke bibir saya ini warnanya gak langsung keluar ya. Perlu menunggu beberapa menit dulu untuk akhirnya bisa keluar dan jadi kayak pakai liptint korea. Warnanya cukup awet dan masih cukup mudah untuk di bersihkan. Saya pakai ini kadang di malam hari. Jadi pas bangun, bibir sudah jadi pink tapi tidak terlalu jreng banget.

Untuk Lip Scrubnya ini terbuat dari gula, madu dan coconut oil yang berfungsi sebagai exfoliator mengangkat sel kulit mati, melembapkan dan mengembalikan warna cerah pada bibir. Dari beberapa testimoni yang ada di instagram sih katanya bisa bikin warna hitam pada bibir jadi samar atau hilang. Tapi kurang yakin juga sih karena kayaknya warna hitam di bibir saya turunan, hehe. Yang jelas saya masih rajin pakai seminggu bisa empat kali sambil berharap hasil yang terbaik.

Cara pakai scrubnya sendiri mudah, cukup aplikasikan ke bibir yang bersih dan gosok secara perlahan. Butiran scrubnya menurut saya tidak terlalu kasar, persis kayak gula pasir gitu lah, jadi gak akan membuat bibir malah luka. Setelah itu bilas dengan air biar lengket dari gulanya hilang. Secara keseluruhan saya cukup suka dengan lip scrub ini, produk lip scrub pertama yang saya coba dan hasilnya kelihatan garis-garis di bibir saya terlihat samar.

warna produk ketika di coba di tangan

Dengan total produk sebanyak 10gram untuk lip balm dan 15gram untuk lip scrub, saya rasa kedua produk ini bisa dipakai setahunan kalau kita pakai hanya sesekali saja tiap minggu. Harganya sendiri cukup terjangkau, saya beli kedua produk ini sekitar Rp70.000,- saja.

Untuk yang tertarik dengan produk ini bisa langsung mampir ke akun instagram mereka disini

Sampai ketemu di review berikutnya!