Mendadak Menonton Konser Adhitia Sofyan #IfYouStayIWillStay Jakarta

Saya sudah mengetahui Adhitia Sofyan sejak SMP. Teman sebangku saya dulu sangat menggilai beliau. Tapi kala itu saya belum ikut terjebak dan suka. Soalnya dulu menurut saya lagunya terlalu ”hadeh” dan tidak cocok dengan image tomboy dan rebel yang saya miliki wqwq.

Yang saya ingat, saya pernah menonton mas Adhit ini tampil secara langsung di sebuah pensi SMA yang pernah saya datangi. Kala itu mas Adhit sedang menyanyikan lagu Blue Sky Collapse. Walaupun tidak menikmati dengan baik, tapi saya ingat bahwa hampir seluruh penonton yang hadir di pensi itu sangat menikmati dan ikut menyanyikan bersama lagu itu dengan khidmat. Saya sih tidak terlalu terbawa suasana banget. Apalagi setelah lagunya selesai, idola saya langsung tampil. Jadinya saya tidak terlalu mikirin penampilan mas Adhit.

Empat tahun kemudian, saya mengenal dan menyukai seorang pria. Ia cukup tertutup. Ia memasang tembok yang tinggi sekali di sekitar dan membuat saya penasaran, sebenarnya apa yang ia coba sembunyikan. Saya mencari tahu tentang pria tersebut dan suatu hari saya menemukan blog yang sepertinya ia tulis di awal tahun pertama bekerja. Setelah saya menyelam sampai pos pertama, saya menemukan sebuah tulisan yang membuat saya tertegun.

capture-20180224-094631

Sejak membaca itu, saya langsung mencari tau tentang Adhitia Sofyan, mengunduh, mendengar dan mulai membayangkan. ”apa yang ada di pikirannya ya ketika mendengarkan lagu ini? Memori apa ya yang ia punya dan memiliki hubungan dengan lagu ini?”

Banyak, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang terlintas di kepala saya tapi tak ada jawaban yang tersedia karena saya tak berani untuk bertanya secara langsung dan karena ia sulit untuk saya jangkau. Hari itu, Blue Sky Collapse juga resmi menjadi lagu kesukaan saya.

***

Bulan berganti, hubungan kami tidak bisa dikatakan menjadi lebih baik atau memburuk. Ia masih memasang tembok tinggi pun mendorong saya mundur begitu jauh ketika saya mencoba mendekat. Dan saya masih kerap mendengar lagu Adhitia Sofyan satu atau dua kali.

Sampai suatu hari pria itu menghilang. Ia menghilang begitu saja, tanpa kabar dan pemberitahuan. Sebenarnya ini hak dia juga sih. Toh diantara kami memang tak ada hubungan yang spesial. Sayanya saja yang terlalu berlebihan bereaksi dengan kepergiannya. Tapi yang jelas sejak kepergian tersebut. saya merasakan sakit, perih, dan ngilu tak terkira.

Saya masih setia menunggu ia kembali dari balik tembok tinggi yang sempat ia buat. Masih setia. Hingga suatu hari, ada beberapa ”orang” baik yang datang menghampiri saya yang selalu setia menunggu sosoknya tiba. Orang-orang baik ini niat awalnya hanya menyapa iseng saja. Tapi entah bagaimana, seiring berjalannya waktu ada beberapa orang baik yang menjadi istimewa bagi saya. Dan saya menyadari bahwa kini saya tak lagi setia menunggu dibalik tembok. Bahkan pernah saya hanya sklebat menatap saja, tak lagi penasaran menunggu kedatangannya.

Beberapa waktu lalu Adhitia Sofyan membuat pengumuman di akun instagram miliknya bahwa ia akan membuat konser terbatas di Jakarta. Walaupun saya tidak terlalu suka banget, entah kenapa saya langsung segera membeli tiket tanpa pikir panjang. Yang saya ingat, Februari adalah bulan pertama saya berkenalan dengan pria yang menghilang tersebut, dan ini sudah masuk tahun ketiga saya menunggu tanpa tahu apa yang sebenarnya saya tunggu.

Saya ingin semua ini berakhir.

Capek.

Dan menonton konser Adhitia Sofyan saya jadikan sebagai titik permulaannya.

***

Konser #IfYouStayIWIllStay dilaksanakan di IFI Thamrin. Penonton terbatas hanya 100 orang dengan harga tiket Rp100.000,- untuk durasi konser selama sekitar 100 menit. Yang menarik, konser ini membuat aturan bebas pilih kursi. Jadi semakin cepat kamu datang, kamu bisa memilih tempat nonton di depan.

20180224_095328-COLLAGE

Saya datang cukup awal, pukul 17.07 WIB, 7 menit pertama setelah penukaran tiket dibuka. Saya memilih kursi nomor L13, baris kedua di depan. Saat penukaran tiket, pengunjung juga dapat bracelet manis buatan dari Mahde Craft, saya dapat bracelet cantik dengan kombinasi warna kesukaan saya: hijau kebiruan – biru navy dan coklat khaki. Suka banget <3.

Pukul 19.00 WIB penonton sudah boleh masuk tapi konser baru mulai pukul 19.30. Posisi duduk saya ternyata asem. sebelah kanan saya, L11-L12 adalah pasangan, sebelah kiri saya, L14-L15 juga pasangan. Yang lebih apes, kanan dan kiri saya sama-sama pria hhhhhh. Ambyar banget, salah pilih tempat duduk.

Saya tak memiliki ekspetasi apapun ketika menunggu mas Adhit muncul. Konser terakhir yang saya datangi itu konsernya Silent Siren 2016 lalu dan Konser Believe tim K3 JKT48 tahun 2017. Keduanya saya tonton dengan berdiri dan jenis musiknya asik buat goyang. Sementara konser ini saya saksikan dengan posisi duduk, lagunya termasuk pelan dan baper. Saya jarang menonton konser dengan jenis musik seperti ini. Jadi sambil menunggu mas Adhit, saya mencoba untuk relaks dan tidak membayangkan yang macam-macam biar bisa menikmati dengan baik.

Dan ketika mas Adhit membuka konser dengan lagu How To Stop Time, airmata saya langsung mbrebes ra karuan. Taaeeeeeeeeeeeee T_T </3

Masuk lagu kedua yaitu Forget Jakarta, ingus saya makin mbleber deras. Saya ingat bahwa saya benar – benar terisak hebat sampai tak bisa bersuara. Tidak tau dengan jelas sebenarnya apa yang saya tangisi. Rasanya perih, ngilu, kosong, hampa, kangen tapi di satu sisi juga semacam bersemangat dan yakin bahwa saya bisa melalui dengan baik semua ini. Nah, ”Semua ini”nya tu apa tapi gak jelas.

Ugh, saya ingat bahwa saya merasa ngenes banget. Bahu saya benar – benar terguncang hebat trus karena gak ada yang pukpuk, saya jadi mendelep di kursi nangis sendirian. HHHHH, nulis ini bikin nangis lagi. Saya ingat, mas-mas di sebelah kanan saya sempat panik dan menengok tapi setelah itu tak melakukan apapun. Saya merasa tak butuh bantuan juga sih. Ada saputangan yang sudah jadi korban peperan umbel dan airmata mbuh gak jelas nangisin apa.

Kampret bener emang.

Dan blas.

Lagu ketiga beralih menjadi sedikit ceria (dan saya tidak tau itu judulnya apaan), saya mulai lebih tenang dan rileks. Saya kemudian tersadar, saat menangis tadi saya sempat membayangkan, seandainya pria yang pergi ini menonton konser ini juga, ekspresi macam apa yang akan ia buat ya?

Dan saya menangis karena tak bisa membayangkan.

Selesai lagu ketiga, mas Adhit mulai menyapa sejenak penonton. Saya banyak ketawa karena ternyata, duh, mas Adhit ramah dan lucu bangeeett. Dan wes, sampai konser berakhir saya lebih banyak tertawa dan sesekali ikut bernyanyi bersama. Sempat menangis juga sih di beberapa lagu selanjutnya: In To You, Midnight, Sesuatu di Jogja dan Secret Kode.

Tapi bukan tangisan sedih, tangisan bahagia.

Bukan lagi pria itu yang langsung terlintas di kepala saya ketika mendengar lagu-lagu tersebut.

Puncaknya adalah saat mas Adhit membawakan lagu terakhir, Blue Sky Collapse. Saya ikut menyanyikan lagu tersebut sambil tertawa dan sedikit mengeluarkan airmata bahagia. Saya mengingat pria itu, mengingat kenangan baik yang pernah terjadi antara kita sambil perlahan mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih.

Ketika Blue Sky Collapse berakhir, saya ingat bahwa saya merapal doa perlahan yang saya ucapkan tulus dari dalam hati: selamat tinggal, terima kasih.

Selamat tinggal untuk tiga tahun masa penantian yang sungguh menyenangkan. Saya banyak belajar dan tertawa pada masa itu, meski lebih banyak tanda tanya kebingungan karena saya tidak tau sebenarnya sedang berbuat apa.

Selamat tinggal, terima kasih. Terima kasih karena telah mengizinkan saya menunggu di balik tembok yang sudah kamu buat. Karena tembok itu saya jadi bisa menunggu dengan tenang tanpa takut panas dan tanpa sengaja bertemu banyak orang lain yang jauh lebih menyenangkan. Orang – orang ini baik. Mereka membuka pandangan saya pada dunia, mereka membuat saya untuk kembali bersemangat melanjutkan hidup, terus berjalan dan bukannya malah berkubang dengan obsesi serta penantian yang tidak jelas tujuan pastinya.

Terima kasih, selamat tinggal.

Bersamaan dengan tulisan ini saya buat, saya ingin melepas kamu dengan tenang dan nyaman. Saya ingin jatuh cinta dan belajar dengan orang lain: yang lebih menghargai dan mengajak saya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Selamat tinggal, terima kasih.

***

IMG_20180223_195449_993

Saya membuat tulisan ini sambil mendengarkan lagu – lagu mas Adhit. Dan di beberapa lagu, saya sudah mulai bisa tertawa dan membayangkan orang lain. Di beberapa lagu yang bertema sedih saya malah bereaksi dengan tertawa: membayangkan kalau saya nonton versi langsung, mas Adhit akan membawakan dengan gaya yang seperti apa ya?

#IfYouStayIWillStay adalah konser pertama mas Adhit dan konser pertama yang saya tonton tahun ini. Rasanya menyenangkan. Saat menonton konser tersebut, saya bisa merasakan patah hati dan jatuh cinta lagi dalam satu waktu. Saya berhasil dibuat menangis dan tertawa bahagia dalam waktu singkat. Semacam diberi janji bahwa kalau kamu berani melepaskan, maka kamu pasti akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

Dan saya percaya dengan janji tersebut.

Saya pasti akan menonton bila mas Adhit membuat konser lagi. Mungkin tidak dalam waktu dekat, karena saya ingin kali kedua nanti saya tidak lagi menonton sendiri. Saya ingin menonton bersama orang-orang yang saya sayangi: agar gambarannya lebih jelas, agar saya bisa menatap matanya ketika mas Adhit menyanyikan lagu bahagia atau tertawa getir bersama sambil berpegangan tangan ketika lagu sedih yang mas Adhit bawakan.

Terima kasih mas Adhit. Terima kasih untuk malam yang menyenangkan dan dua jam yang benar-benar berharga meski beberapa lagu kesukaan saya tak dibawakan dan mas sempat lupa lirik di beberapa lagu.

Dan untuk pria itu, saya tidak tau apakah kamu akan membaca tulisan ini atau tidak. Tetapi yang jelas kali ini, saya sudah bisa menikmati Blue Sky Collapse dengan cara lain, bukan dengan ekspresi penuh kerut tanda tanya dan wajah sendu. Terima kasih untuk tahun – tahun menyenangkan.

Ini satu lagu untuk kamu, saya tidak akan lagi menunggu di luar tembok yang telah kamu buat. Saya ingin mencari orang yang akan membuat saya merasa visible, bukan invisible.

Selamat tinggal, terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s