Mendadak ke Bandung, part 2

Part 1

***

IMG_20171210_071013

Saya terbangun pukul 5 pagi sebelum alarm berbunyi. Walaupun beberapa minggu lalu pola tidur saya sempat kacau karena tanpa sadar mengikuti pola tidur seseorang, tapi untung hari itu tidak terjadi. Kebetulan saya sedang tidak solat jadi langsung bangun, mematikan alarm dan mulai beberes.

Pemandangan di luar hostel lumayan mendung dan tidak lama kemudian muncul gerimis. Untuk pengalaman lengkap menginap dan review hostel tempat saya menginap bisa dilihat di sini

Suasana pagi dalam hostel cukup ramai. Ada beberapa tamu yang sudah bangun dan mulai ngopi juga ada yang sudah mandi. Selesai beberes saya akhirnya mulai nimbrung. Karena saya jarang suka minum penghangat badan di pagi hari dan kurang bisa sarapan juga, saya hanya mengamati dan sesekali menyimak percakapan yang ada.

Akhirnya saya kebagian juga jadi pihak yang ditanya. Rasanya aneh sudah lama sekali tidak ada yang mengajak ngobrol saya secara langsung untuk mengenal dan basa-basi gini wqwq. Habis biasanya basa-basi dan kenalan lewat media online saja sih. Mahluk asing di internet memang wqwq 😥

Pertanyaan yang diajukan standar sih. Namanya siapa, apakah sendiri, asal darimana tujuannya mau kemana, kuliah atau kerja. Ada beberapa hal menarik dari percakapan ini. Seperti misal mereka langsung bertanya ”saya kuliah dimana” yang bikin saya merasa nganu. Hahhh, saya dikira masih kuliah ya…memang sudah seharusnya kuliah sih ya…

Oiya, pas ditanya asal saya darimana juga membuat saya bingung. Maksud asal ini asal tempat lahir atau domisili saya tinggal sekarang ya?wqwq. Saya sempat mengajukan pertanyaan itu sih dan ketika saya ceritakan bahwa saya asli Yogya tapi sekarang menetap di Jakarta akhirnya malah menimbulkan banyak percakapan baru lagi.

Trus waktu saya bilang kalau ini pertama kalinya saya ke Bandung dan pertama kalinya jalan-jalan sendiri, mereka pada kaget dan tertawa. ”Bandung cuma 3 jam lho dari Jakarta” begitu kata mereka. Mereka juga langsung tidak sungkan memberi saran sebaiknya kemana. Sebagian besar dari mereka menyarankan jalan-jalan ke Lembang atau Kawah Putih atau Bukit Moko. Kebetulan ada rombongan yang mau ke Lembang dan saya diajak gabung. Tapi saya menolak, ”mau keliling kota Bandung dulu aja” begitu jawab saya.

Selain dadakan, sebenarnya saya juga tidak tau ke Bandung mau ngapain aja. Saya bukan tipe orang yang gemar membuat daftar rencana atau hal-hal sejenis itu. Tipe orang yang lebih suka dadakan dan go-show. Mungkin ini juga yang bikin hidup saya gini-gini aja. Saya tidak pernah merencanakan masa depan saya hhhhhhhhhhh

Ada beberapa tempat yang menjadi wishlist sih. Seperti misal Bukit Moko dan beberapa distro buat belanja sepatu dan baju. Tapi tujuan saya saat ini bukan untuk belanja. Mau menenangkan diri sejenak. Jadinya saya mempercayakan saran tempat yang bisa dikunjungi di Bandung dari aplikasi Google Trips. Saya tertarik main ke alun-alun, mengunjungi beberapa taman yang ada di Bandung, ke kebun binatang, ke Babakan Siliwangi dan ke perpustakaan serta toko buku Kineruku. Kita lihat saja nanti jadinya gimana~

***

Semalam saya sempat mengobrol dengan tukang ojek online yang mengantar kalau katanya di Bandung tidak semua jalanan mengadakan CFD. Jadi pada hari minggu angkutan umum masih beroperasi seperti biasa. Tukang ojek itu tidak menyarankan naik kendaraan umum kalau mau keliling kota Bandung. Rutenya muter-muter dan bikin lama di jalan. Beliau lebih menyarankan naik ojek online biar langsung pas ke tujuan atau rental motor. Kecuali kalau saya minat mau ke daerah Lembang dan yang bukan di kotanya. Bisa naik angkot atau DAMRI.

Karena saya tidak punya SIM dan tidak bisa mengendarai motor juga, akhirnya saya 100% mengandalkan ojek online Grab sebagai moda transportasi. Kenapa saya pakai Grab ini murni karena saya cuma install ini ya wqwq. Eh, seingat saya juga seringnya nemu ojek pakai jaket grab sih. Tapi gatau juga ya kalau abang Gojek gak pakai jaket mereka mengingat dulu pernah ada masalah antara supir angkot + ojek pangkalan vs transportasi online.

Yang saya suka dari Grab, dapat supirnya cepat. Tidak sampai satu menit selalu dapat, tarifnya kebetulan selalu Rp8.000/10.000 saja untuk jarak yang lumayan jauh dan cukup muter-muter. Yang nyebelin: dapetnya motor gede terus T_T. Berdasarkan catatan perjalanan, saya naik grab sebanyak 6x. 3x dapat Yamaha NMax, 2x dapat honda CBR yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa dan 1x dapat Honda Vario. Capek euy motor gede gitu naiknya susah trus rasanya awkward wqwq. Kayaknya sih memang di Bandung motornya begini semua karena kontur jalan yang naik-turun(?)

Meski begitu, saya senang supirnya ramah-ramah. Beberapa ada yang mengajak ngobrol dan tak sungkan memberikan rekomendasi lokasi wisata dan ada juga yang menolak uang tip katanya sebagai bentuk keramahan biar saya betah dan mau main ke Bandung lagi. Ya aja deh bg wqwq

***

Saya keluar dari hostel pukul 7 pagi. Cuaca cukup mendung dan superrrrrdiiiiinggggiiin. Saya memutuskan berjalan kaki dulu sampai ke alun-alun. Kata satpam dan beberapa orang di hostel sih cukup dekat tinggal lurus saja dari hostel. Lokasi hostel kebetulan berada di Jl. Lengkong Kecil. Berdasarkan peta memang terlihat lurus saja. Kalau nyasar ya gampanglah ntar. Trus yaudah saya langsung asal jalan kaki sambil mendengarkan lagu.

Sepanjang lurus jalan Lengkong dan sekitarnya itu lumayan sepi banget ya. Tujuan saya jalan kaki sebenarnya siapa tau bisa menemukan abang mie ayam gerobak seperti di Jakarta gitu. Tapi sampai alun-alun, saya sama sekali tidak menemukan abang gerobak pinggir jalan atau warung-warung kecil. Entah karena memang tidak ada (hari Minggu tidak berjualan) atau karena saya menginap bukan di daerah perkampungan atau memang mereka patuh tidak berjualan sembarangan.

Sekitar jalan yang mirip Glodok~ (klik pada gambar untuk memperbesar)

Sepanjang jalan saya banyak terdiam ya. Pertama karena dingin, kedua karena lagu yang tak sengaja tersetel pas dapat yang galau jadinya sambil nanggess, dan ketiga karena sambil mikir banyak hal. Sepanjang jalan sampai alun-alun ini mirip banget sama daerah Glodok dan Pinangsia. Bedanya kalau disini gak banyak abang jualan makanan atau warung rokok. Tukang becak, tatanan parkir sampai ornamen beberapa lokasinya mirip banget kayak di Pinagsia-Glodok-Asemka. Bedanya saat saya melewati bapak-bapak yang lagi pada ngobrol, mereka ngobrol dan mengumpat pakai bahasa sunda alih-alih pakai logat betawi, medan atau cina.

Oiya, satu lagi yang baru saya sadari. Di sekitar jalan itu jarang ada minimarket! Saya cuma menemukan 2 toko Circle K di sekitar museum Asia Afrika dan Jl. Braga. Baru menemukan Indomaret pas sudah melewati Alun-Alun Bandung!

IMG_20171210_081628

Saya berjalan sampai Alun-alun tapi saya terus lanjut. Ini memang sengaja saya lakukan soalnya saya penasaran dari semalam kayaknya belum liat indomaret wqwq. Begitu ketemu rasanya super senang banget. Saya langsung beli kopi (padahal gakbisa ngopi????) dan beberapa cemilan pengganjal perut. Selesai belanja dan ngemil baru deh saya muter balik lagi ke Alun-Alun.

Satu hal yang saya sadari ketika jalan-jalan pagi itu: jalanan Bandung sudah sangat ramah untuk pejalan tapi sayangnya banyak sekali tunawisma berkeliaran. Saya pernah jalan kaki keliling kota gini juga di Malang, Bogor, Bekasi dan Semarang. Berdasarkan ingatan saya sih kalau dibuat urutan kota yang paling parah banyak tunawismanya itu maka jawaban saya adalah Bogor, Bekasi, Bandung, Semarang, Malang. Di Bogor sama Bekasi tuh pengamen dan tunawismanya beneran super banyak banget sepanjang jalan ada entah itu kawasan wisata atau bukan. Nah kalau di Bandung ini sih saya nemunya tunawisma atau pemulung gerobakan gitu aja ya. Untuk pengamennya jarang (dalam kondisi pagi hari). Jakarta banyak tunawisma dan pengamen juga tapi lebih sering ada di tempat wisata, terminal atau komplek tertentu saja. Eh….gaktau juga ding,,,,saya kalau jalan kaki di Jakarta jarang wqwq

IMG_20171210_075332

Mau mencoba sepeda untuk keliling Bandung tidak bisa. Harus pakai KTP dan dikembalikan di tempat peminjaman asal tidak bisa drop di tempat lain kalau bukan warga asli/daftar anggota dulu.

IMG_20171210_075715IMG_20171210_081210

Trotoar Bandung yang cukup ramah dengan papan penanda jalan yang cukup jelas dan lengkap serta ada beberapa kursi di tempat terbuka juga stop kontak untuk charge hp sambil istirahat.

IMG_20171210_082325

Tunawisma ke 21 yang saya temui pagi itu. Lokasi di sekitar Jl. Sudirman(?) Saya menghitung karena cukup terganggu dan penasaran hhh

Dan akhirnya saya sampai juga di Alun-Alun Bandung…

Saya cuma beberapa menit aja ya disini wqwq. Karena kebetulan tadi sempat sedikit gerimis, rumput sintetisnya jadi basah-basah blenyek gitu hii. Tidak bisa dipakai untuk duduk atau tiduran juga. Lagipula saya pakai celana chino berwarna terang kalau dipaksa duduk bakal nyeplak basah.

Trus karena kebetulan saya lebih suka memotret orang dan gak ada teman yang bisa disuruh buat bergaya dan tak potret, jadinya saya cuma muterin kawasan rumput sintetis itu sekali trus udah selesai. Gak minat potret candid orang-orang di sekitar juga karena entah kenapa rasanya ngenes. Yang lain pada hepi berlarian sama keluarga trus selfie pakai tongsis sama geng-nya gitu sementara saya sendiri sambil nenteng botol minum dan sandal…..rasanya aneh wqwq

Padahal selama ini saya gak pernah ada masalah kalau ngapa-ngapain sendiri. Tapi pas kemarin itu, saya beneran ngerasa ngenes. Sempat membayangkan kalau saya pergi sama teman, kira-kira dia bakal saya minta untuk bergaya seperti apa ya biar bisa tak foto hhh 😥

Waktu menunjukkan pukul 9 tepat. Berdasarkan keterangan di Google Trips sih Kebun Binatang Bandung sudah buka sejak pukul 8 pagi. Karena malas bertanya ke orang kalau mau kesana harus naik angkutan umum apa, akhirnya saya langsung pesan ojek online. Dan wuzzz, dalam waktu 10 menit sudah sampai.

IMG_20171210_091947IMG_20171210_092107

Ada satu kekecewaan: saya tidak sempat cek atau cari review dulu seperti apa kebun binatangnya, berapa harga tiket serta hal-hal yang seperti itu. Jadi pas sampai loket dan melihat bahwa harga tiket masuknya Rp40.000 (berapa kali lipat dari harga di Ragunan coba????!!!!) saya benar-benar super kaget. Anjir mahal bat. Kebetulan di depan saya ada rombongan keluarga sebanyak 8 orang yang sepertinya pengunjung entah darimana. Mereka lebih kaget dari saya wqwq

Ya karena saya sudah sampai sini dan gak tau mau kemana lagi ditambah penasaran juga dalamnya kayak apa, saya akhirnya beli. Tiketnya keren sih ya, kayak buat nonton konser gitu dalam bentuk gelang serta ada barcode. Kalau di Ragunan kan pakai sistem tap dengan e-money keluaran bank DKI. Rasanya hampir mirip kalau mau naik commuterline atau transjakarta dan tidak ada bukti tiket dalam bentuk fisiknya. Tapi ya tetap saja 40ribu terlalu mahal T_T.

Ada lagi satu tambahan kekecewaan: sama sekali tidak ada peta penunjuk atau papan lokasi binatang atau papan penanda dimana saya sekarang sedang berada. Jadi begitu masuk langsung ada pertigaan. Satu menuju pintu keluar dan dua lagi entah kemana. Yang tengah sih kalau saya lihat sekelebat sepertinya menuju pusat burung. Akhirnya saya memilih jalan yang paling ujung, asal jalan dan langsung ketemu sama Singa dan kawan-kawannya.

klik pada gambar tuk memperbesar

Yang menarik, di kandang hewan buas ini tidak ada sekat penjagaan yang cukup jauh. Mereka memang ditaruh di kandang dengan pembatas semacam plastik yang cukup kokoh. Tapi tidak ada sekat pembatas lain. Jadi kalau kamu mau nyender ke plastik pembatas itu untuk melihat lebih jelas bisa. Walaupun binatangnya terlihat santai dan plastik pembatasnya burem sehingga binatangnya tidak terlihat jelas, saya sih gak berani ya buat nyender dan ngintip lebih dekat gitu. Ngeri buozz hiii

Di kandang Zebra juga gak kalah menarik. Mereka di taruh di lapangan terbuka gitu aja. Ini gak takut binatangnya kabur apa ya wqwq. Saya lihat sih mereka cuek dan makan rumput biasa aja. Nah pas lagi melihat Zebra ini saya langsung teringat Jerapah. Mau cari mereka. Karena kebetulan di sekitar situ ada petugas yang lagi membawa makanan Zebra, saya iseng bertanya dan di jawab dengan cengengesan ”wah gak ada jerapah teh”

APAAAANANNN

KEBUN BINATANG MACAM APA YANG TAK PUNYA JERAPAAAHHH

sad.

langsung lemas 😥

Tak jauh dari tempat Zebra kebetulan ada tempat bermain. Saya langsung mampir buat duduk sebentar masih lemes karena 40ribu terasa sia-sia tanpa bisa lihat Jerapah. Taman bermainnya gak kalah serem ya. Beberapa wahana ada yang sudah karatan dan tua seolah bisa tumbang kapan saja. Ya wajar sih, wahana outdoor gak ada tenda pengaman atau pelindung jadi terkikis hujan dan panas. Agak sedih lihatnya. Semacam penasaran juga tentang sejarah mereka. Kalau bisa ngomong, mereka pasti bercerita akan banyak hal…

IMG_20171210_093641

Setelah menenangkan diri sejenak, saya memutuskan untuk terus lanjut berjalan. Penasaran mau lihat butuh waktu berapa lama untuk mengelilingi seluruh tempat ini. Kalau tidak salah pas istirahat sejenak itu waktu menunjukkan tepat pukul 10 pagi. Trus yaudah saya langsung mulai jalan berkeliling.

Kalau mau dibuat kesimpulan, kebun binatang Bandung ini jauh lebih bersih daripada kebun binatang Ragunan. Pengunjung juga tidak terlalu ramai walau sekarang akhir pekan (saya menduga karena tiketnya yang super mahal wqwq). Kalau di Ragunan, baru beberapa menit buka saja tuh biasanya sudah super ramai ada rombongan dari luar kota atau anak-anak muda yang memutuskan pacaran keliling kebun binatang.

Satu hal lain yang saya sadari setelah keliling, sepertinya kebun binatang sedang dalam masa renovasi karena ada beberapa kandang yang tutup dengan papan tanda ”perbaikan”. Yang bikin kecewa lagi itu soal track jalannya ya. Kontur dan track jalannya sama kayak Ragunan, naik-turun gitu. Agak kurang ramah memang kalau untuk difabel. Tapi kalau di Ragunan enak, jalanan sudah aspal. Kalau di Bandung ini enggak. Ada yang masih tanah dan becek bahkan banyak juga yang masih bebatuan kerikil bikin kesandung.

Tapi saya cukup suka sih pas jalan keliling gitu. Naik-turun bukit, hawa segar pagi hari trus liat yang hijau-hijau gitu bikin saya senyum dan ketawa sendiri mlulu. Rasanya seneng bangeet. Apalagi pas akhirnya nemu kandang Kuda Nil.

JAGOANKUUUUUU

Waktu kecil saya pernah melihat langsung pawang binatang kasih makan ke Kuda nil dan Buaya. Trus saya sering main ke kandang Unta dan Jerapah juga. Jadi karena hal itu, entah kenapa kalau main ke kebun binatang saya pasti bakal betah dan anteng di kandang binatang tersebut. Saya diam di kandang kuda nil itu hampir 10 menit ada kali ya. Saya ajak ngobrol dan panggil ”woy, sombong u, keluar dong nongol jangan berendem mlulu, dingin-dingin berendem u” dan akhirnya berhasil. Tadinya dia berendam di tengah gitu trus lama-lama ke pinggir. Seneng banget walaupun sebenarnya saya pengen melihat dia mangap dan memperlihatkan gigi-giginya. Sayang gak kesampaian, dia cuma ngintip-ngintip kayak kzl ”ni bocah ngapain dah brisik bat” gitu doang wqwq

Tadinya saya mau berhenti lebih lama. Tapi kemudian saya menyadari ada yang tak beres dengan kaki. Perpaduan antara cuaca dingin + terus diam tak bergerak + di tengah kebun bikin kaki saya kambuh gatal karena digigit nyambuk dan kedinginan. Nyamuknya gede-gede banget hiii. Ini catatan penting (yang saya sering lupa juga hh) kalau mau ke kebun binatang jangan lupa pakai pakaian tertutup dan nyaman atau bawa obat nyamuk spray!

Dari kandang ini saya main ke kandang buaya. Ini lebih ngeselin banget, dia diem mlulu tak panggil nggak nengok atau bergeming sama sekali wqwq. Dari sini akhirnya saya juga ketemu pasangan anak muda pertama yang berkencan ke kebun binatang. Romantis, lucu dan saya membatin ”wah, cowoknya leh juga ni mau ngeluarin 40 ribu buat kencan kesini wqwq”

Saya memutuskan merasa cukup berkeliling ketika waktu menunjukkan pukul 12. Kayaknya sudah keliling semua kandang juga sih walaupun kandang ular dan burung tak skip karena saya kurang suka. Saya menyudahi karena perut mulai terasa lapar. Waktu lihat ke peta, kawasan Dago atas dan babakan siliwangi itu tidak jauh dari peta. Tapi karena saya tidak tau disana ada apa aja, jadinya saya memutuskan untuk mencoba ke Chinatown-nya Bandung. Saya tau lokasi ini pas gak sengaja muncul di tab explore Instagram. Tujuan saya cuma satu: makan mie ayam wqwq.

Trus yaudah, pesan ojek online dan cus~

Lokasinya ternyata cukup jauh dari kebun binatang. Cuaca siang itu lumayan terik tapi masih terasa dingin. Karena supir ojek baru pertama kali mendengar Chinatown-nya Bandung, saya diturunkan di depan sebuah vihara dan saya memutuskan makan mie di penjual pertama yang saya lihat tepat di sebelah pintu masuk vihara.

IMG_20171210_120819

Saya lupa foto mie-nya karena terlalu lapar. Sayangnya rasanya mengecewakan hh. Kebetulan tidak habis juga, porsinya terlalu banyak bikin eneg. Yang bikin ngenes, harga satu porsinya Rp35.000…..Nangeeesss. Ini adalah mie ayam termahal yang saya makan tahun ini,,,gak abis,,,dan rasanya gak enak,,cry.

Tapi gak apa deh. Pengalaman.

Nah, karena sudah terlanjur kecewa dan sebal duluan gara-gara makan siang ini, saya jadi malas buat mampir ke vihara atau ke Chinatown-nya. Vihara terbuka untuk umum sementara Chinatown bayar tiket masuk 10-15ribu gitu tergantung hari. Saya cuma sklebat lewat doang tidak minat masuk karena berpikir makanan di dalam pasti gak kalah mahal dan belum tentu enak. Belum siap kecewa lagi 😥

IMG_20171210_120945

Tidak lama setelah melewati Chinatown, mendadak gerimis. Karena bingung tidak tau harus ngapain, akhirnya saya memesan ojek online dan memutuskan untuk pergi ke Kineruku. Saya memiliki janji temu dengan teman pukul 2.

Haah, semoga saja Kineruku-nya tidak mengecewakan ya…

 

Advertisements

3 comments

  1. Makanan di Bandung lebih mahal dari Jakarta ya, saya tinggal di Jakarta beberapa tahun, waktu balik ke Bandung agak shock. Hahaha.

    Contoh masakan padang dengan jumlah lauk yang sama, di Jakarta paling habis 25-30rb, di Bandung bisa 40-50rb. Terus chinese food di Jakarta paling abis 200rb, di Bandung bisa 500rb dengan jenis dan jumlah makanan yang sama (porsi keluarga).
    Nasi uduk pinggir jalan, di Jakarta 20rb di Bandung 35rb.

    Dan lagi di Bandung sangat tidak aman jalan kaki malam hari, karena banyak preman, pengemis, pengamen, geng motor. Kalau di Jakarta pemda sering mengadakan razia preman, jadi jalan sendiri jam 12 malam juga tidak pernah ketemu preman.

    Btw, itu kebun binatang terlihat mengenaskan, jadi tidak tega rasanya melihat binatang disana, dulu saat saya kecil (tahun 90an), kebun binatang itu bagus terawat.

    Like

    1. hmm, perihal harga makanan ini sepertinya tergantung di sebelah mana kamu berkunjung deh. soalnya di Jakarta juga bisa menemukan harga yang mahal seperti itu juga.

      karena kemarin saya berkunjung ke daerah wisata, harga makanan memang yang saya temukan mahal semua. tapi pas saya mampir ke perkampungan sempat nemu kok makanan murah dengan rasa yang yahud.

      iya, setelah dari kebun binatang kemarin saya memang sedikit agak trauma dan tidak berminat berkunjung ke kebun binatang lagi untuk sementara waktu hhe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s