Mendadak ke Bandung, part 1

IMG_20171209_170749

Semua berawal dari lembur pertama kali di kantor baru yang membuat saya jadi ngobrol dengan teman melalui aplikasi LINE sehingga menghasilkan sebuah pertanyaan,

Jadi, sudah mau 2018 dan kamu masih belum main ke Bandung juga?

Yang membuat saya merasa senewen sendiri dan impulsif membeli tiket kereta api Bandung-Jakarta selama tiga hari dua malam setelah pulang lembur. Sebenarnya bukan karena itu juga sih. Setelah selesai lembur, saya sempat diminta pak bos untuk menemani minum. Saya lalu mencoba ikutan minum beberapa teguk dan perasaan saya langsung bebas,,,lepas,,tenang,,,ambyar.. Saya ingat saya sempat merocos beberapa hal ke pak bos yang membuat saya ketakutan ”anjir w minum berapa teguk aja udah kayak gini, apalagi minum satu gelas” hhh. Setelah minum-minum itu mendadak kaki saya bergerak sendiri ke minimarket untuk membeli tiket. Tanpa sadar.

Saya pernah ke Bandung sekali saat SMA. Tidak menginap langsung pulang pada suatu hari Senin naik bus besar khas bus pariwisata. Yang menjadi masalah: itu adalah kali pertama saya naik bus besar lagi setelah hampir lima tahun tinggal di Jakarta. Langsung mabuk ra karuan sampai-sampai saya tidak turun dari bus untuk berkeliling ke tempat wisata saking lemas keseringan muntah.

Kalau ditanya ”Bandung”, yang terlintas di kepala saya adalah ingatan buruk: saya yang memakai tiga lapis jaket + badan bau minyak kayu putih + terbujur meringkuk lemas dan kuyu nyender di jendela bus karena terlalu sering mabuk. Bukan jenis ingatan menarik untuk dikenang hh

Sejak saat itu saya belum pernah lagi main ke Bandung. Kebetulan tidak memiliki saudara yang menetap disana atau punya kenalan/pacar yang minat buat jalan-jalan ke Bandung. Itulah sebabnya saya memiliki keinginan untuk bisa ke Bandung entah itu sendiri atau bersama teman untuk mengganti kenangan buruk saya beberapa tahun silam. Dulu rencananya harus bisa terlaksana sebelum saya berusia 20. Sudah terlewat dan ternyata tak kesampaian sampai akhirnya kemarin teman saya kembali mengingatkan.

***

Saya membeli tiket kelas Ekonomi untuk perjalanan pulang dan pergi. Sebenarnya yang pulang mau beli yang kelas Bisnis tapi setelah dipikir lagi kayaknya bakal sama aja jadi ya keduanya saya pilih kelas ekonomi. Pemilihan tempat duduknya asal. Bahkan yang tiket pulang saya pasrah dipilihkan oleh sistem komputer. Saya berangkat dari Jakarta Sabtu setelah Maghrib dan dijadwalkan sampai Bandung pukul 10 malam kurang 15 menit. Dan yang membuat saya kagum, tumben banget jadwal keberangkatan dan waktu tibanya tepat sesuai jadwal! Benar-benar tepat waktu jam dan menitnya.

Saya hanya membawa sedikit bawaan: 2 baju, 2 pakaian dalam, 2 jilbab, 1 buku tulis dan pulpen, alat mandi dan skincare, charger, 1 totebag dan 1 kamera serta 1 botol minum ukuran 1 liter. Sudah. Saya lupa bawa sarung (saya selalu bawa sarung tiap bepergian. Bisa dipakai buat selimut, solat ataupun rok dadakan hhe) dan sengaja tidak membawa jaket. Saya memiliki alergi dingin dan saya tau Bandung (apalagi menjelang musim hujan) bakalan super dingin. Tapi saya sengaja tidak bawa jaket. Semacam ingin menguji diri saya sendiri untuk menahan dinginnya Bandung wqwq. Saya juga tidak memakai sepatu atau kaus kaki. Hanya pakai celana chino tipis serta sendal gunung. Pakaian yang saya bawa juga yang berbahan katun linen tipis. Meski begitu saya membawa outer sebuah blazer-parka berbahan kanvas gitu (yang sangat tidak membantu karena ukurannya ngatung dan tidak membantu menahan dingin).

Selain karena ditantang teman ”kapan mau ke Bandung udah mau 2018”, alasan lain saya melakukan perjalanan mendadak ini karena pikiran saya juga sedang ruwet galauin hal yang gak jelas. Saya pikir dengan melakukan perjalanan ini mungkin pikiran saya akan sedikit tercerahkan.

***

Ada satu kejadian menarik ketika saya mau berangkat. Jadi tempat duduk saya adalah gerbong Ekonomi A nomor 14B. Waktu saya tanya ke petugas di peron, Ekonomi A adalah gerbong paling ujung. Yaudah saya masuk ke ujung, lalu duduk. Partner sebelah saya adalah seorang mbak muda yang tak banyak bicara dan hanya memberikan sekilas senyum ketika saya duduk di sebelahnya.

Sudah. Kereta mulai jalan. Ketika sampai stasiun Bekasi, kereta berhenti untuk menaikkan penumpang. Tiba-tiba datang pasangan suami istri yang sudah kakek-nenek  dan mengatakan bahwa tempat duduk saya adalah milik si kakek.

”saya pesan bangku no 14 B dan 14 C soalnya mau duduk seberangan sama istri saya. mbak kursinya dimana?”

Dan ternyata setelah diteliti, saya salah gerbong…harusnya gerbong saya itu paling depan hhh.

Asli saya malu tapi juga merasa senang karena si kakek malah mengajak saya bercanda. Beliau juga mengantarkan saya ke gerbong A karena takutnya saya nyasar lagi wqwq. Saya inget banget pas akhirnya sampai dan mulai duduk, beliau menepuk pundak saya pelan mengatakan ”hati-hati ya mbak” setelah itu langsung bergegas kembali. Saya lupa bertanya siapa nama atau kemana tujuannya. Hanya mampu mengucapkan terima kasih dan terdiam sambil malu sendiri.

Di gerbong A ini entah kenapa lebih ramai dari gerbong awal yang salah itu. Kebetulan tepat di depan saya ada anak kecil yang berisik banget nangis mlulu bikin pusing. Saya akhirnya memasang lagu tapi entah kenapa suara berisiknya masih terdengar. Di sebelah saya ada seorang ayah muda yang sedang melakukan video call dengan anaknya. Di depan saya ada balita yang menangis berisik entah karena apa. Samar-samar juga terdengar beberapa obrolan dari gerombolan ibu-ibu muda yang sepertinya habis belanja membahas beberapa hasil buruannya tadi sambil sesekali tertawa di kejauhan.

Hari itu adalah pertama kalinya saya bepergian seorang diri naik kereta api (bukan commuterline). Saya tau bahwa mungkin di gerbong atau di kereta itu bukan hanya saya yang melakukan perjalanan seorang diri. Tapi entah mengapa saya merasa begitu ngenes dan hggg, rasanya seperti ada yang mencungkil dada saya sedikit demi sedikit. Sekitar pukul delapan lewat beberapa menit saya akhirnya tertidur sambil menanggesss.

IMG-20171209-WA0000

Perjalanan macam apa ya yang menunggu saya di depan sana…

***

Ketika tiba di stasiun, gigi saya langsung bergemelutuk ra karuan. ANJEEEERRR DENGEN BANGEEETTT T_T. Saya langsung pakai outer (yang sama sekali gak mempan dan malah makin dingin). Ketika keluar stasiun, ada banyak orang dengan tatapan penasaran dan menunggu dengan cemas. Ada beberapa pasang wajah yang langsung tersenyum ceria ketika orang yang mereka tunggu sudah tiba dan ada juga yang masih sibuk mengamati penumpang kereta yang mengular, mencari sosok yang ditunggu.

Saya ingat dengan jelas perasaan yang saya rasakan malam itu.

Sepi. Sendiri. Bingung.

Anjir gue ke Bandung mau ngapain sih??????????

Hhh, karena bingung dan terlalu ramai, saya akhirnya buru-buru berjalan ke tempat parkir. Benar-benar gak tau mau kemana. Rencana awal saya adalah mau jalan-jalan dulu di sekitar alun-alun untuk melihat kehidupan malam karena menurut peta sepertinya lokasinya tidak begitu jauh. Tapi membayangkan kalau disana bakal ramai ditambah cuaca dinginnya gak nahan seperti ini…saya akhirnya memesan ojek online untuk mengantarkan saya ke penginapan. Tidak sampai dua menit ojeknya langsung datang. Seorang Aa muda pakai motor yamaha Nmax (ya allah gede banget susah naiknya T_T) dengan senyum manis segera mengantarkan saya sampai ke penginapan.

Untungnya malam itu jalanan cukup padat tapi lancar. Jadi motor tidak bisa terlalu ngebut sehingga saya tidak terlalu kedinginan (walaupun tetap bikin gigi saya bergemelutuk hebat). Karena kebetulan lokasi penginapan saya agak susah (di tengah kota tapi akses kesananya muter-muter), supir ojeknya sempat membawa saya untuk melihat sejenak jalanan malam kota Bandung.

Indah. Dingin. Terlihat ramai tapi sepi.

Tidak sampai 15 menit akhirnya saya tiba di penginapan. Begitu sampai saya langsung check-in (baca review lengkap tentang penginapan di sini). Saya menginap di sebuah hostel dan kebetulan ketika saya tiba, di ruang utama ada sekitar 5 orang yang sedang mengobrol dan menonton televisi.

Saya termasuk orang yang senang basa-basi dan bersemangat kenal orang baru. Tapi entah kenapa ketika sudah dapat kunci kamar, saya langsung pamit tanpa perlu repot-repot menyapa beberapa pengunjung yang ada atau mengajak berkenalan mas pemilik hostel itu juga. Sampai di kamar saya langsung ambil perlengkapan mandi, bersih-bersih, pakai skincare malam hari dan langsung tidur sambil menahan dingin dan rasa gatal di kaki yang tiba-tiba kambuh.

Sekitar pukul dua belas malam setelah sempat mengabari beberapa kenalan bahwa saya sudah sampai Bandung dengan selamat, akhirnya saya tertidur. Cukup pulas meskipun sesekali saya menggaruk kaki karena rasanya dingin.

Serius, saya masih tidak tau tujuan saya ke Bandung itu mau ngapain….

Dan saya juga masih belum tau petualangan macam apa yang menunggu saya besok.

Hadehhhhh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s