Sepatu

Saya suka berjalan kaki dan kurang suka bepergian naik motor ataupun mobil pribadi. Jalan kaki, naik kereta api dan bus kota adalah pilihan utama saya jika mau bepergian-kemanapun.

Ini mungkin menurun dari nenek karena sejak kecil saya terbiasa diajak jalan-jalan oleh beliau naik kendaraan umum. Jadi ketika terpaksa naik kendaraan pribadi atau yang kendaraan yang hanya bisa memuat 1-2 penumpang, saya jadi merasa tertekan dan tidak enak badan. Seperti ada sesuatu yang salah dan saya jadi tidak bisa menikmati perjalanan dengan baik.

Saya sangat suka berjalan kaki.

Kalau mau membuat catatan perjalanan, mungkin jumlah jarak yang saya lewati dalam sebulan bisa tak terhitung saking banyaknya. Jalan kaki enak. Yah, meskipun di tempat tinggal saya, Jakarta, fasilitas untuk pejalan kakinya masih kurang memuaskan. Trotoar malah diisi oleh pedagang kaki lima dan lain sebagainya.

Saya kurang suka bepergian (dibonceng) naik motor.

Selama 20 tahun saya hidup, mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali saya dibonceng naik motor. Bahkan saat berpacaran dulu pun, saya lebih sering meminta untuk bepergian naik kendaraan umum (padahal saya pernah 2x pacaran sama anak motor xD).

Selama beberapa kali dibonceng naik motor, saya mengamati suatu hal. Semua orang yang naik dan mengendarai motor, tiba-tiba berubah menjadi monster yang menyeramkan.

Saat mereka belum naik motor, mereka terlihat begitu ramah, menyenangkan dan lucu. Tapi saat pantat sudah menduduki jok motor dan mesin motor mulai berjalan, kepribadian mereka berubah. Mereka jadi orang yang menyeramkan; gemar mengumpat, tidak sabaran, ngebut tak karuan, tiba-tiba jadi pemarah dan semua kosakata kotor keluar dari mulut mereka.

Saya takut.

Seingat saya, kayaknya saya jarang menemukan ada pengendara motor yang tidak mengumpat sama sekali ketika berkendara bersama saya. Bahkan pernah saya pergi dengan gebetan baru saya yang terlihat jaim, alim dan rupawan sekaligus tapi saat sudah naik motor rajin mengumpat kasar tak karuan yang membuat saya bergidik ngeri.

Apa ya, saya selalu merasa bahwa ”wajah” dan kepribadian yang mereka tampilkan di jalanan adalah wujud asli mereka gitu, dan saya takut 😥

Ya, saya tau sih. Dengan kondisi jalanan Jakarta (dan mungkin tempat lainnya) yang super macet dan banyaknya kasus kecelakaan juga pengendara yang seenaknya di jalan, bukan tidak mungkin rasanya untuk tidak mengumpat karena kesal. Tapi menurut saya mengumpat atau marah-marah tidak membantu menyelesaikan apapun. Jadi ya sia-sia.

Selain hal itu, yang membuat saya kurang begitu menyukai dibonceng naik motor adalah karena naik motor membuat pegal. Apalagi kalau perjalanan jauh. Gak usah perjalanan jauh deh, jarak dari ITC Mangga dua ke LTC Glodok yang cuma melewati satu lampu merah aja kadang saya sudah merasa pegal gak karuan :'(. Saya lebih suka dan memilih berdiri dan berdesakan di kendaraan umum daripada duduk tapi naik motor.

Dibonceng naik motor juga punya banyak rintangan fisik. Kalau pergi pagi-pagi, dingin karena angin pagi dan kalau siang-siang panas. Tapi bukan berarti lantas saya menyukai naik mobil pribadi yang ber-AC gitu. Saya juga gak pernah bisa naik mobil pribadi. Pasti selalu mabuk kendaraan.

Saya tidak pernah cocok naik mobil pribadi. Gaya mengemudi mobil orang berbeda-beda. Dan kadang butuh waktu lama bagi saya untuk bisa menyesuaikan mereka. Kalau tidak cocok biasanya saya hanya akan diam terus selama perjalanan, keringat dingin dan kalau sudah tidak tahan bisa mabuk kendaraan.

Satu-satunya orang yang cocok dan menurut saya bisa mengemudi mobil dengan baik adalah almarhum Pakde saya yang meninggal tahun lalu. Gaya mengemudinya enak. Dan yah, semenjak kepergiannya saya belum pernah naik mobil pribadi lagi-termasuk taksi (eh tapi kemarin saat liburan ke Semarang saya sempat naik mobil pribadi lebih dari 7 jam dan syukur saya baik-baik saja meski sepanjang perjalanan lebih banyak diam karena menahan keringat dingin dan pusing hh).

***

Karena itulah saya selalu memilih untuk naik kendaraan umum kalau bepergian, kemanapun. Dan lagi-lagi saya ingin mengatakan bahwa ini sepertinya menurun dari nenek saya.

Nenek saya bahkan pernah memiliki trauma naik kendaraan bermotor karena pernah terjebak dalam kecelakaan. Dia hanya mau naik commuter line (/kereta api) kemanapun dia pergi.

Jadi kalau ada yang mengajak nenek saya pergi, pasti dia akan bertanya ”lokasi yang kita tuju ini, ada jalur keretanya gak? seberapa jauh dari stasiun?”. Kalau tidak dilalui jalur kereta, biasanya nenek saya menolak untuk datang-tidak peduli acara itu penting atau tidak.

Untung itu bertahan hanya sekitar 10 bulan saja. Saya tidak tau dulu nenek saya bisa sembuh karena apa tapi yang jelas beliau sekarang sudah berani naik kendaraan bermotor lagi dan bahkan, nenek saya sekarang sudah bisa mengendarai motor. Saya kalah 😥 hhhh

Naik kendaraan umum itu enak.

Kita tinggal duduk dan biarkan pak supir yang bekerja. Ritme dan cara mengemudi supirnya pun seragam semua, jadi saya bisa menyesuaikan diri dengan baik tanpa perlu takut mabuk kendaraan (dalam konteks ini saya membicarakan transjakarta karena saya tidak pernah lagi naik angkutan umum lain).

Naik kendaraan umum itu enak.

Kita bisa bertemu dengan banyak penumpang lain; yang mungkin kelelahan setelah seharian bekerja dan kena marah pak bos, atau yang baru pulang sekolah dengan membawa banyak tumpukan PR dan lain sebagainya.

Mereka semua sama seperti saya. Mencoba ”menyerahkan” nasib  kepada pak supir agar bisa membawa sampai ke tujuan dengan selamat.

Makanya saya selalu lebih update tentang jadwal perjalanan kereta atau jam tiba bus daripada berita terkini yang lain. Saya juga tidak terlalu begitu peduli dengan kenaikan BBM atau sejenis itu karena tidak mempengaruhi tarif kendaraan umum.

Lalu bagaimana kalau suatu hari saya harus bepergian ke tempat yang tidak terjangkau lajur kereta api atau bus transjakarta?

Biasanya saya tetap mencoba dulu mencari jarak terdekat bisa dicapai pakai transjakarta atau kereta. Kalau sudah sampai disana biasanya saya untung-untungan mengandalkan internet dan Google Maps. Kalau kira-kira dekat maka saya akan berjalan kalau tidak biasanya saya naik angkutan umum.

Tapi pilihan kedua ini jarang. Lebih sering saya memilih berjalan kaki-tidak peduli seberapa jauhnya. Sekalian melihat lingkungan dan kehidupan sekitar gitu.

Karena kebiasaan dan kesukaan berjalan kaki ini, saya jadi memiliki beberapa kebiasaan khusus yang menurut orang mungkin agak aneh. Saya jadi suka mengamati sepatu yang sering dipakai orang.

Saya memiliki pikiran, saya suka berjalan kaki. Nah, kalau ada orang yang mau berteman dengan saya, maka minimal ia harus suka berjalan kaki juga atau setidaknya sepatu yang ia pakai nyaman sehingga kalau saya ajak jalan, dia tidak sering mengeluh lelah atau kesakitan.

Saya jadi senang menilai seseorang dari alas kaki yang ia pakai. Selain sebagai penilaian pribadi sebagai standar teman jalan, penilaian itu juga saya gunakan untuk melihat bagaimana seseorang merawat dirinya.

Kaki kan salah satu organ tubuh yang paling vital ya. Dia membantu menopang tubuh, membantu kita sampai dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Nah, dengan melihat sepatu yang ia pakai itu, saya jadi suka berpikir dan menilai apakah orang tersebut menghargai dan berterima kasih ke kakinya dengan baik dengan cara memakaikan alas yang layak ataukah hanya pakai sembarang alas yang penting pakai, dan hal-hal sejenis itu.

Bukan berarti lantas saya memandang wah orang-orang yang memakai alas kaki yang harganya mahal. Tapi minimal alas yang dipakai itu sesuatu yang ”layak” sesuai pakaian dan citra dirinya gitu lah, surem bingung juga jelasinnya 😥

Dan hh, saya jadi penasaran sepatu dan alas kaki seperti apa yang kira-kira kamu pakai…

Kira-kira kamu bisa tidak jadi teman jalan yang enak?

Hm?

img_20170127_102804-1

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s