A lot can happen in a year (Cerita tentang patah hati dan hal lain di tahun 2016)

blue-valley

img_20161108_101607

Saya mengawali tahun ini dengan keadaan sedang tidak baik-baik saja. Pada Desember 2015, seorang Pakde saya meninggal. Saat meninggal, saya kebetulan sedang mengajak anak pertamanya, Adit yang berusia 8 tahun bermain PS di rental yang tak jauh dari rumah.

Saya ingat dengan jelas perasaan bingung dan waspada yang saya rasakan saat pulang dari rental PS dan mendapati ada bendera kuning serta banyaknya orang yang berkumpul di depan rumah saya.

Kala itu saya takut yang berpulang adalah ibu- yang ternyata bukan dan membuat saya merasa lega namun langsung digantikan dengan perasaan cemas saat Adit mengenggam tangan saya dengan erat dan dipenuhi rasa takut sambil menangis.

Istri pakde saya kebetulan masih muda dan memiliki perbedaan usia 12 tahun dengan pakde. Bulan sebelumnya kebetulan baru saja melahirkan anak laki-laki keduanya. Dan saat pakde saya berpulang, kondisi Bude saya belum 100% pulih setelah bersalin. Bisa dibayangkan bagaimana ”berubah”nya pola kehidupan keluarga saya berikutnya.

Saya ingat bahwa 2 bulan pertama semenjak kejadian itu adalah masa yang cukup berat bagi saya dan keluarga. Karena kebetulan saat itu saya belum bekerja, sayalah yang ditugaskan nenek untuk menemani bude.

Kebetulan ibu saya juga ditinggal oleh ayah (walaupun hanya bercerai). Meskipun ditinggalnya hanya bercerai dan masih bisa bertemu, tapi saya tau bahwa kehilangan: seperti apapun bentuknya, tidak akan pernah mudah untuk dihadapi.

Malam itu 1 Desember 2016, bude dan ibu saya menangis dalam diam sambil berpelukan untuk mengenang pakde. Dan kala itu, saya sempat memiliki sebuah pemikiran untuk tidak menikah.

Semacam apa ya. Saya tidak mau pergi meninggalkan ataupun ditinggal seseorang. Biarlah hidup sendiri saja dan yang kehilangan hanya pihak keluarga. Tidak membuat beban ataupun duka untuk banyak orang. Kehilangan tidak pernah menjadi suatu hal yang mudah untuk beberapa orang; termasuk saya.

Waktu saya mengatakan hal itu kepada sahabat saya, ia malah memarahi saya dan mengatakan,

”tau gak sih, tujuan kita menikah itu untuk memperoleh keturunan dan biar kalau mati ada yang doain. Lo mau mati trus gak ada yang doain?”

Saya langsung merasa ……

Benarkah memperoleh doa hanya bisa dari anak saja? Bagaimana dengan sedekah dan berbagi ilmu yang bermanfaat pada orang lain?

Saya juga cukup merasa miris saat mendengar jawaban teman saya tersebut. Memiliki anak hanya untuk mendoakan? Sesederhana itu?

***

Lepas dari masalah ini, 2016 pun saya jalani dengan hal lain yang (masih) membuat hidup saya tidak baik-baik saja. Saya mengalami putus cinta. Err, sebenarnya putus cinta ini sudah terjadi sejak pertengahan 2015. Tapi saya dan dia masih beberapa kali berkomunikasi satu sama lain meski hanya sekedar menanyakan kabar.

Pada Maret hingga Mei 2016 lah kami benar-benar lost contact, ia menghapus akun twitter tempat kami berkenalan dulu dan juga,,,ia memiliki calon perempuan baru.

Saya ingat bagaimana hidup saya kala itu. Kacau. Berantakan. Seperti tidak lagi memiliki alasan dan tujuan untuk hidup

Yang menarik adalah, saya justru tidak banyak menangis. Saat saya mengetahui siapa calonnya, kegiatan yang mereka lakukan berdua bahkan sampai status-status yang ia buat untuk menyatakan kerinduan,,,saya tidak merasakan rasa perih atau cemburu semacam itu. Saya justru malah penasaran dan tertarik dengan hubungan mereka.

Kayak apa ya, penasaran aja gitu. Dulu dia bilang selama ini jarang berinteraksi dengan perempuan, saya pacar pertamanya dan juga [insert janji-janji manis saat berpacaran disini]. Dan ketika akhirnya sekarang ia memiliki calon kekasih baru yang lokasinya tak jauh dari rumahnya bisa berinteraksi secara rutin…bagaimana ya? Saya jadi malah mbayangin dan diam-diam mendukung mereka gitu. Pasti lucu waktu mereka ketemuan dan ngobrol untuk yang pertama kalinya. Jadi gemas sendiri wq

Meski tidak menangis atau melakukan banyak hal konyol yang dilakukan oleh orang patah hati, saya tau ada yang berubah dan tidak beres dengan diri saya. Diam-diam tanpa saya sadari, saya jadi tidak pernah lagi nafsu untuk makan. Tidur lebih banyak dari biasanya dan sering bengong.

Puncaknya adalah ketika suatu hari saya diajak pergi oleh nenek dan saat saya hendak memakai celana kesukaan saya, celana tersebut mlorot dengan bebas dari pinggang. Ukurannya menjadi gombrong karena saya menjadi kurus. Padahal celana itu sudah ukuran terkecil.

Saya kurusan.

Dan tiba-tiba saya menangis. Saya ingat hari itu, 3 Juni 2016, saya menangis untuk yang pertama kali karena patah hati.

Setelah puas nangis, malamnya saya iseng ke klinik terdekat untuk cek dan timbang badan. Dan sebuah rekor berhasil dibuat.

Waktu kelas 6 SD, berat badan saya itu 32kg. Dan hari itu, berat badan saya adalah 28kg. Lebih kurus daripada saat saya kelas 6 SD! Surem bahkan ukuran sepatu saya lebih besar dari berat badan saya!

Saya juga masih ingat dengan jelas saat beberapa kali datang ke acara buka puasa bersama. Banyak orang yang kaget melihat diri saya dan bahkan ada yang memarahi katanya saya sengaja diet. Ada juga yang marah karena tidak lagi bisa mencubit pipi gembul milik saya.

Diet apaan 😥

Masa-masa itu adalah masa yang cukup…apa ya, menantang hidup saya banget. Saya ingat saya tidak lagi bisa duduk lama-lama di ubin tanpa alas. Tidak kuat mandi air dingin dan yang paling parah, saya tidak lagi punya celana panjang yang muat. Saya sampai ngecilin semua koleksi celana saya agar bisa dipakai yang ujungnya tetap gak muat juga dan sampai udah gak bisa dikecilin lagi saking terlalu sering dikecilin.

Saya juga jadi mudah masuk angin dan sakit-sakitan. Kalau pagi saat berangkat kerja harus selalu menggunakan jaket atau outer karena tidak kuat dengan AC pagi transjakarta atau krl. Badan saya jadi mudah ngilu dan pegal-pegal karena hanya tulang doang. Untung ini tidak berlangsung lama karena nafsu makan saya bisa pulih, tapi entah mengapa berat badan saya tidak juga kunjung bertambah.

Dan pada masa-masa itu, teman-teman dari twitter dan JKT48 lah yang membantu saya untuk pulih. Saya mengenal beberapa mbak penyuka JKT48. Kami mengadakan pertemuan dan nonton teater JKT48 bersama dan yah, saat melihat adik-adik yang ceria dan bersemangat di panggung untuk meraih mimpi…kok ya rasanya jadi malu sendiri.

Usia saya dan mereka tidak beda jauh tapi kenapa mereka terlihat begitu berbeda?

Ngapain sih galau karena mau ditinggal nikah dan diputusin pacar. Liat tuh mereka masih muda udah cakep-cakep dan semangat meraih mimpi.

Itu 2 pikiran yang terlintas di pikiran saya saat nonton teater untuk yang pertama kalinya hari itu. Dan yah perlahan saya langsung move on. Nggak langsung 100% move on sih karena saya pernah beberapa kali lanjut nonton teateran dan malah nangis mbayangin dia 

‘oy, itu oshimu tuh. coba kamu ada disini ya kita nonton bareng’

surem.

Ya gitulah hhhh

***

Hari yang menjadi awal perubahan diri saya untuk bangkit terjadi beberapa hari sebelum saya berulang tahun. Titik perubahan itu terjadi setelah saya membaca sebuah novel yang saya beli sebagai kado ulang tahun untuk diri saya sendiri, Restart karya mbak Nina Ardianti.

Cerita yang diangkat novel itu adalah tentang move on dan me-restart hidup setelah berpisah. Dan ya memang setelah sampai halaman terakhir membaca buku itu, saya langsung merasa lega, optimis dan apa ya,,,jadi senyum senyum sendiri gitu. Kalau tokoh fiksi saja bisa, maka saya yang menjadi tokoh dan sosok di dunia nyata juga pasti bisa untuk memulai hal baru dan bahagia.

Dan mulailah.

Saya juga me-restart hidup saya dengan mengalihkan perhatian melalui hobi: menghidupkan kembali blog ini, mulai banyak membaca buku, membuat 100 list yang tujuan awalnya iseng tapi banyak yang terkabul, hingga mencoba banyak hal yang dulunya tidak pernah saya suka; menonton film, pergi ke bioskop, dan juga belajar dandan.

Berat memang. Dan cukup sulit. Pada beberapa kesempatan saya masih sering terdiam dan diam-diam berharap dalam hati ”coba ada kamu disini” dan pernah beberapa kali juga tangan rasanya gatal ingin menyapa dan berbagi kejadian yang dirasakan hari ini pada dia.

Tapi toh ternyata saya berhasil melaluinya setelah mencoba memaksakan diri dan nawaitu tolong segera di ikhlaskan-in. Bahkan sudah berapa lama ya saya tidak men-stalk akun instagram miliknya(?)

Saya ingat, dulu hampir tiap 10 menit sekali saya pasti membuka instagram dan stalk akun miliknya walaupun tidak ada post terbaru. Saya juga tidak pernah lagi memimpikan dia. Mengingat dia di kala sedih ataupun senang juga sudah tidak lagi…bahkan namanya sudah tidak lagi otomatis muncul di kepala saat saya sedang merasa sedih ataupun gembira.

Saya ingat kalau dulu saya sering-teramat sering terbangun saat tengah malam dan tiba-tiba menangis memanggil namanya sampai membuat orang serumah bangun. Semacam kangen. Tidak siap untuk saling tidak mengenal dan berpisah. Tidak siap untuk kehilangan.

Dan ternyata semuanya sudah berlalu dan saya masih baik-baik saja.

Pada beberapa kesempatan, saya sering dapat pertanyaan ataupun terlintas sklebat dalam pikiran ”kamu nggak cari pacar baru mai?” yang saya pikir…nggak usah lah ya.

Bukan karena saya takut menyakiti atau disakiti lagi sih. Tapi karena, ya saya merasa untuk saat ini, nggak butuh banget sosok seorang pacar. Waktu saya mengiyakan untuk berpacaran dulu saya juga sempat merasa ragu karena terakhir pacaran itu 2012 dan sudah terlanjur nyaman dengan keadaan sendiri.

Dan saat ini..ya bisa dikatakan saya sudah kembali lagi menjadi saya yang dulu yang sudah menyesuaikan dan membiasakan untuk sendiri. Ah, tapi saya nggak 100% sendiri juga sih. Masih ada terlalu banyak tokoh fiksi di dalam film dan buku yang menunggu untuk saya kenal hhe.

Sendiri nggak menyedihkan banget kok. Ya walaupun ada beberapa artikel dan film yang saya tonton dan bertema kesedihan yang mengatakan bahwa sendiri itu bisa menjadi berbahaya.

Dan ya, walaupun kalau lagi nonton ataupun membaca buku roman rasanya jadi aneh karena tidak punya sosok yang ”jelas” untuk dibayangkan. Soalnya dulu kalau membaca hal-hal berbau roman pasti membayangkan dia.

Tapi yaudahlah, saya masih muda. Masih banyak yang belum saya coba dan saya raih. Ghaida dan Yona saja udah S2 dan peringkat 3 SSK JKT48, masak kamu kamu mau gini-gini aja Mai.

Semua orang pernah patah hati. All you have to do is move on.

Yang bisa menyembuhkan patah hati itu 2 hal, kalau nggak waktu ya ketemu orang baru.

Dan waktu lah yang menjadi penyembuh patah hati saya kali ini*

*Dan buku Restart-nya Mbak Nina Ardianti, teman-teman twitter dan member JKT48 hhe

screenshot_2016-09-19-22-25-26

dari twit @aMrazing di twitter

***

Hal lain yang terjadi di tahun 2016….apa ya..yang benar-benar berdampak positif dan bermanfaat untuk diri saya sepertinya nggak ada sih. Kuliah masih belum jadi (padahal udah janji mau barengan ama Desy JKT48/cry/).

Tapi saya senang sih, tahun ini saya banyak sekali mencoba hal baru. Seperti menang kuis dan giveaway, Saya banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman saya, saya mencoba mengenal dunia skincare dan kosmetik juga berbagai model jilbab baru (ada yang pernah bilang kalau patah hati bisa membuatmu menjadi cantik,eh?) hingga membaca banyak buku (target tahun ini 750 buku!) dan film.

Saya juga berhasil mencoba membaca banyak jenis buku dari penulis maupun dengan tema yang dulu tidak saya sukai, Fantasi. Saya juga menemukan beberapa penulis baru kesukaan.

Saya juga berhasil menonton banyak film yang dulu saya hindari, menemukan banyak aktor-aktor ganteng yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Fangirl-ing memang 11111oNEEE1111OnEEEee111. Yah, walaupun rasanya kadang menjemukan sih, kayak, yaelah mereka aja bahkan nggak tau kalau kita ini ada wq. Tapi gapapa. Fangirl tetap asyik.

Lalu mengenai bude, pertengahan Maret lalu bude sudah kembali bekerja lagi. Deposito dan tabungan peninggalan Pakde diniatkan untuk tidak dipakai dulu. Bude saya telah siap untuk menjadi single fighter untuk membesarkan kedua anaknya yang masih kecil.

Pada beberapa kesempatan, saya masih sering mendapati beliau menangis tengah malam sambil memeluk Raffa, putra bungsunya yang baru beberapa hari yang lalu genap satu tahun. Tapi saya tau bude saya pasti bisa. Bude saya selalu percaya bahwa Pakde saya tidak pergi. Ia tetap ada: dalam wujud mata bulat dan rambut keriting milik Raffa dan keceriaan serta candaan garing milik Adit.

Semalam, saat peringatan 1 tahun kematian pakde pun bude saya bisa tersenyum dengan ceria saat menyambut banyak tamu yang datang. Bude bilang, tidak ada gunanya terus bersedih dan meratap. Tidak akan mengubah apapun. Lagipula masih ada Adit dan Raffa yang harus bude bimbing.

Benar memang kata sebuah pepatah: Anak adalah sumber kekuatan terhebat di kala kesedihan datang menerpa. Saya banyak belajar dari kehilangan yang dirasakan bude. Meskipun saya salut dengan bude saya yang mau segera bangkit demi anak-anaknya, sampai saat ini saya masih belum memiliki keinginan untuk menikah. Masih takut. Takut saya tidak bisa menjadi sekuat beliau.

Tapi yang jelas, setelah kepergian orang yang pernah menjadi sosok yang begitu penting dalam hidup, ternyata dunia tetap berjalan seperti biasanya. Dunia tidak berhenti berputar untuk ikut menangis atau meratap bersamamu.

Jadi yang harus kita lakukan ya bangkit, menyambut dan ikut berputar bersama dunia. Mencoba banyak hal baru, mengunjungi banyak hati dan pintu yang sudah maupun yang belum terbuka dan juga lebih menikmati hidup.

2016 juga mengajarkan saya akan banyak hal-selain patah hati. Tahun ini saya naik gaji dan naik pangkat!. Saya belajar banyak tentang kewajiban dan tanggung jawab dalam bekerja juga pentingnya menjaga kepercayaan. Untuk naik pangkatnya sendiri sih bukan sesuatu yang cukup menyenangkan karena saya harus sering lembur ikut ke proyek hingga tengah malam. Tapi lumayan. Sangat menyenangkan.

Dan ya, kira-kira begitulah komposisi dari tahun 2016 milik saya ini.

Meskipun 2016 masih tersisa 30 hari lagi, tapi saya sudah merasa sangat senang dan beruntung karena masih bisa bertahan sampai hari ini. Yang jelas, 2016 ini benar-benar tahun yang sangat mantap. Dan oh, ngomong-ngomong tahun ini saya juga tepat berusia 20 tahun. 6 bulan pertama di usia 20, saya sudah merasakan banyak pengalaman unik.

Penasaran, kira-kira sisa 6 bulan di usia 20 yang akan datang, petualangan macam apa ya yang menunggu saya?

Meskipun rasanya menyakitkan dan sepertinya sulit untuk dilalui, tapi saya siap untuk menghadapi berbagai macam hal ajaib yang menunggu di depan sana: ketidakpastian, tantangan baru, kehilangan, harapan yang tidak menjadi kenyataan dan keajaiban yang entah kapan datang. Saya siap. Saya kuat.

Dan kalau 19 tahun terakhir saja kamu bisa bertahan, pasti 19 tahun yang akan datang juga bisa kan, Mai?

***

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie

Advertisements

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s