Jalan-Jalan seru Site Visit Busway Down to Chinatown bersama Transjakarta dan itdpindonesia

cx3g37qvqaapmra

Pada Selasa 22 November lalu saat sedang terjebak dalam kemacetan di perjalanan menuju kantor, saya menemukan sebuah retweet dari akun twitter official Transjakarta tentang sebuah walking tour di twitter. Iseng, saya pun melihat-lihat dan berminat untuk ikut.

capture-20161128-120143

Yang membuat saya sedikit heran dan tertarik adalah cara pendafataran untuk tour ini. Peserta diharapkan untuk memiliki akun instagram, dan mendaftar melalui DM (pesan) akun instagram itdpindonesia. Saya heran kenapa harus lewat DM gitu ya, kenapa gak email.

Saya pun mengajak salah seorang sahabat saya. Kami mendaftar di waktu yang sama dan berharap terpilih berdua karena di persyaratan pendaftaran tertulis ”limited seat siapa cepat dia dapat”. Waktu kami mendaftar kira-kira pukul 11 pagi. Kami berharap semoga terpilih berdua.

Dan ternyata hanya saya saja yang terpilih..

screenshot_2016-11-28-10-24-21-496

Sewaktu hari H saat sudah mulai walking tour, saya sempat menguping pembicaraan seorang peserta yang bertanya kepada seorang panitia ”pemilihan peserta ini berdasarkan apa sih. soalnya saya daftar di menit-menit terakhir terpilih sementara teman saya daftar di 10 menit pertama setelah dibuka malah tidak terpilih” dan oleh mbak Fanny, salah satu panitia dari itdp menjelaskan bahwa peserta dipilih berdasarkan keaktifan posting di Instagram dan feed-nya. Apakah suka jalan-jalan atau tidak. Soalnya tour ini juga akan berkunjung ke beberapa tempat instagram-spot, diharapkan peserta bisa aktif mengambil gambar dan membaginya di sosial media yang dimiliki.

Setelah mendengar hal itu saya langsung membuka akun instagram saya dan membandingkan dengan beberapa peserta terpilih yang lain…wah saya kalah jauh feed-nya. Tapi saya senang dan merasa terhormat sekali bisa terpilih menjadi peserta. Soalnya katanya ini acara walking tour pertama edisi kuliner dan kemungkinan dibuat lagi masih belum pasti. Beruntungnyaa >,< XD

***

Saat hari H tiba, saya mengalami sebuah insiden kecil. Saya biasa berangkat kerja pukul 06.30 pagi. Kebetulan lokasi kerja saya di Glodok dan rumah saya di Ancol. Biasanya hanya butuh waktu 15-30 menit untuk sampai di lokasi kerja naik Transjakarta.

Sabtu itu saya berangkat seperti biasa saat bekerja. Sayangnya saya lupa kalau hari Sabtu dan Minggu, jumlah Transjakarta yang beroperasi hanya sedikit. Alhasil seharusnya 08.30 saya sudah di lokasi Meeting Point jadi terlambat dan masih terjebak kemacetan di Halte busway Harmoni.

Akhirnya saya diminta untuk menunggu di halte Monas dan tidak perlu ke Bundaran Senayan. Pukul 08.10 bus Vintage khusus tiba. Saya merasa sedikit malu dan canggung saat masuk dan duduk. Sempat tidak ”nyambung” juga dengan beberapa obrolan yang sedang berlangsung. Tapi untungnya tidak berlangsung lama karena ada penjelasan singkat dari mbak Anggi seputar rincian tour ini.

Tak lama kemudian bus pun tiba di halte Glodok. Kami segera turun untuk bertemu dengan tim dari meluculinary tours yang akan memandu perjalanan kami berikutnya. Dan tepat pukul 08.55, perjalanan menelusuri Glodok pun dimulai.

img_20161126_084142

Mbak Anggi dari tim itdpindonesia dan Mas Gerry (tengah) dan temannya dari tim meluculinary tour

Rombongan mulai berjalan menuju destinasi pertama, kedai es legendaris Kopi Es TAK KIE. Saya sendiri sudah penasaran sejak lama dengan tempat ini tapi belum kesampaian berkunjung padahal lokasinya dekat dari tempat kerja. Di tengah perjalanan menuju destinasi pertama, ada sedikit pemberitahuan bahwa ternyata di dekat lokasi tersebut ada yang sedang syuting untuk sebuah iklan. Dan tempatnya lumayan ramai. Jadi kemungkinan rombongan tidak bisa stay dan hanya lewat saja.

Dan benar saja, sesampainya disana ternyata cukup ramai. Saya hanya bisa mengintip. Es TAK KIE-nya sendiri sudah dipesankan dalam kemasan untuk dinikmati sambil jalan. Sempat sedih. Tapi cukup senang juga akhirnya bisa tahu lokasi tersebut jadi besok-besok mungkin akan mampir dulu sebelum berangkat bekerja. Dan DOH…SETIAP HARI SAYA LEWAT SINI TAPI KOK NGGAK PERNAH NGEH SIH?!!! T_T >,<

Destinasi kedua kami adalah sebuah tempat makan bernama Kopitiam Gloria yang berlokasi persis di ujung gang Gloria. Makanan yang terkenal dari tempat ini adalah Cakwe yang rasanya begitu gurih. Ada banyak makanan lain juga yang tersedia. Waktu kami tiba disana, terlihat beberapa engkoh engkoh yang sedang sarapan sambil ngopi pagi. Rasanya seperti di film-film Jackhie Chan yang sering saya tonton XD

Salah satu peserta yang sedang ngobrol sambil makan cakwe

Tidak beberapa lama kemudian rombongan pun mulai berjalan lagi. Destinasi berikutnya adalah Gang Pancoran V dan IV. Ini adalah sebuah gang kecil yang di sisi kanan dan kiri jalan terdapat banyak pedagang yang menjual berbagai macam barang. Saya lupa untuk mengambil gambar tapi beberapa barang yang dijual di antaranya adalah peralatan untuk sembahyang (hio, dupa,dll), pakaian anak-anak dan perlengkapan imlek.

img_20161126_093800

Alih-alih memotret barang dagangan di sekitar gang, saya malah memotret punggung kak Gerry dari meluculinary tour yang semangat dan sering saya tanya seputar Glodok 😀

Dan akhirnya setelah berjalan beberapa waktu, tibalah kami di Vihara Tok Se Bio. Ini merupakan salah satu Vihara tertua di Jakarta. Sempat dihancurkan pada tahun…1940 (lupa) atau berapa gitu saat pemerintahan Belanda namun dibangun kembali. Saya tidak banyak memotret di tempat ini. Selain karena kompleknya lumayan kecil, disini juga banyak pengemis. Tapi sebenarnya cukup teratur dan bersih sih. Cuma keberadaan pengemisnya ini membuat saya sedikit segan untuk leluasa memotret.

img_20161126_094223

Oh iya sedikit cerita, lokasi Vihara ini terdapat di Jalan Kemenangan nomor 5 (atau 4? saya agak lupa). Nah, saya sempat bertanya kepada mbak Anggi, ada hubungannya nggak sih nama dan lokasi ini. Lalu mbak Anggi menjelaskan bahwa memang dulu ada kebiasaan untuk menamai jalan dengan hal-hal baik. Diharapkan semoga orang-orang yang tinggal di jalan itu bisa menjadi sesuai nama jalan tersebut. Dan memang benar sih, saya sempat menemukan nama jalan Kemurnian. Kemenangan, Keadilan. Lucu tapi juga menarik. Sebuah doa untuk kebaikan bersama.

Destinasi berikutnya yang kami kunjungi adalah Gereja St Maria De Fatimah. Saya tidak sempat masuk karena cuaca yang lumayan panas. Saya hanya berdiam diri di luar menghirup udara segar sambil mendengarkan suara-suara di sekitar. Entahlah, saya merasa seperti bukan di Jakarta banget. Suasananya begitu tenang dan damai.

img_20161126_095811

Lanjut berjalan, cuaca sudah mulai sedikit panas karena matahari yang mulai naik dan waktu yang menunjukkan pukul 10.30. Destinasi kami berikutnya adalah Vihara Dharma Bakti. Lokasinya lumayan jauh dari lokasi terakhir ditambah cuaca yang cukup terik membuat rombongan peserta terpecah menjadi 2 bagian. Ada yang di depan dan berjalan cepat agar cepat sampai dan ada juga yang sudah kelelahan dan jalan pelan-pelan di belakang.

Oiya, beberapa peserta juga mulai memakai topi dari goodie bag. Karena saya datang terlambat dan kebetulan goodie bag ditinggal di halte Bundaran Senayan, jadi saya tidak bisa ikutan pakai. Huhu akibat terlambat 😥

Goodie bag untuk tiap peserta (topi, pin up, buku memo, totebag, Money Electronic dengan desain bus vintage bekerja sama dengan Bank DKI (jakcard) senilai 50ribu, jas hujan sekali pakai, air minum dan pamflet perkenalan apa itu itdpindonesia)

Tidak lama kemudian rombongan akhirnya sampai

img_20161126_101011img_20161126_101058img_20161126_101411img_20161126_102717

Vihara ini juga merupakan salah satu vihara tertua di Jakarta dan juga vihara yang memiliki komplek yang luas. Sayang sekali taman dan halaman vihara ini kurang tertata dengan baik dan cukup kumuh. Banyak sampah, pengemis dan juga kotoran ayam dimana-mana.

Tapi saya sangat menyukai tempat ini. Suasananya tenang, damai dan hawanya adem gitu. Saya bisa membayangkan kalau sore hari akan ada anak-anak kampung yang bermain bola di halaman atau ramainya warga sekitar yang datang kesini saat ada perayaan tertentu di vihara.

Saya juga jadi kangen waktu tinggal di Jogja. Kebetulan di Jogja dulu, tepat di depan rumah saya adalah vihara kecil. Sayang halaman vihara tersebut kecil sementara halaman rumah saya luas bukan main. Tapi ibu saya begitu ramah dan suka berbagi kepada pengunjung vihara. Kalau sore hari biasanya anak-anak kecil yang selesai ibadah suka bermain di halaman rumah saya dengan adik. Kalau ada perayaan tertentu juga kadang ibu saya kerap dapat bingkisan dari pihak vihara. Saya ingat kalau dulu saya berteman dengan siapa saja tanpa membedakan ras,suku maupun agama. Sampai sekarang juga masih sih, tapi entah kenapa akhir-akhir ini ibu saya cukup sensitif kalau tau saya berteman dengan orang yang berbeda. Hhh, kangen.

Setelah puas mengisi energi dan bersantai sejenak sambil menyaksikan beberapa orang yang sedang beribadah, kami lanjut jalan lagi ke destinasi terakhir untuk makan siang, ke Candranaya dan kedai KopieOey.

Candranaya sendiri adalah sebuah situs sejarah milik seorang bangsawan Cina. Saya kurang menyimak penjelasan tempat ini itu apa karena kebetulan peserta juga sudah langsung mulai sibuk masing-masing sambil melepas lelah. Yang saya dengar sedikit hanya bahwa tempat ini milik seorang bangsawan Cina dan menolak untuk menjualnya. Akhirnya tempat ini tetap dipertahankan seperti aslinya walaupun di kanan kirinya ini sekarang terdapat hotel.

Iya, lokasi tempat ini sangat terpencil dan bahkan kalau nggak ikut tour ini mungkin saya nggak akan tau kalau ada tempat tersembunyi begini XD. Memang benar kata nenek saya. Kalau jalan itu jangan asal nunduk dan lurus terus, lihat kanan kiri karena siapa tau menemukan harta tak terduga dan tersembunyi 😀

Setelah berkeliling dalam Candranaya, makan siang pun sudah siap dan kami mulai berkumpul untuk makan di kedai KopiOey. Wah, dalam ruangan KopiOey ini mantap banget. Mungkin karena saya juga jarang makan di luar kali ya jadi saya cukup terkesan banget dengan tempat ini. Hawanya adem dan suasana jadulnya terasa banget. Apalagi ditambah musik keroncong(?) yang diputar. Kesan yang saya dapatkan dari tempat ini itu murni. Kayak apa ya, kesan jadulnya itu tidak dibuat-buat agar telihat ”fancy” dan kekinian. Tapi memang ini sudah menjadi gaya mereka sejak dulu. Suka banget pokoknya.

Menunggu makanan dalam hening dan pesanan saya Soto Tangkar. (klik untuk memperbesar)

Sambil menunggu makanan disajikan, pihak itdpindonesia juga mengadakan kuis foto. Jadi peserta diharapkan untuk membagikan foto yang sudah mereka ambil ke instagram dengan tagar khusus dan nanti akan dipilih untuk mendapatkan beberapa doorprize.Doorprize yang tersedia ada kupon belanja dari PT.Transjakarta, kupon makan dari KopiOey dan hadiah hiburan kaus dan kupon makan juga dari KopiOey. Sayang saya tidak terpilih. Tapi saya juga cukup puas dengan para pemenang karena fotonya menarik semua. Beberapa foto para peserta bisa dilihat disini ya.

Dan setelah selesai, kamipun kembali naik bus transjakarta vintage menuju ke titik awal lagi. Sebelum berpisah kami juga sempat berfoto di depan Chandranaya dan di depan (err,samping sih XD) bus transjakarta edisi vintage.

cylmusgusaepv7qcylms5rvqaee5rz

sumber foto: twitter itdpindonesia (hayo saya yang mana XD)

Oiya, ternyata jumlah peserta tour ini tidak hanya yang dari undangan instagram saja. Kalau saya tidak salah hitung (dan maaf bila ada yang tidak saya sebutkan), rombongan ini terdiri dari perwakilan tim Jakarta Smart City (dari balaikota dan Pemda DKI), tim itdpindonesia, perwakilan dari Transjakarta, KopiOey dan meluculinary Tour. Ada juga dari teman-teman startup Trafi, Parkiran, dan yukmakan.com juga teman-teman komunitas JakartaExplore dan Fujifilm Indonesia (Instagram) dan dari Forum diskusi transportasi Jakarta.

Acaranya seruu!

Eh iya, saya juga sempat bertanya dengan kak Sisco salah satu perwakilan dari Transjakarta kenapa kalau hari Sabtu dan Minggu jumlah transjakarta yang beroperasi sedikit. Dan ternyata jumlah transjakarta yang dikurangi pada saat weekend dikarenakan hari itu merupakan hari libur untuk beberapa karyawan (pengemudi maupun penjaga pintu dan ticketing). Sebab mulai November awal lalu jam operasional Transjakarta ditambah dan menjadi 4 shift. Jadi untuk beberapa bus dilakukan pengurangan operasi di hari libur agar karyawan bisa beristirahat.

Hm, jadi semakin ingin bekerja di Transjakarta juga. Waktu kecil saya pernah punya cita-cita jadi kondektur bus. Sepertinya seru. Dan waktu pembukaan lowongan jadi penjaga pintu Transjakarta kemarin saya juga sempat ingin mendaftar tapi masih terikat kontrak dengan pekerjaan yang sekarang. Apa ya, rasanya sepertinya seru saja sih bisa bertemu banyak orang, keliling Jakarta dan ”mengatur” penumpang yang tidak duduk pada tempatnya XD

Dan akhirnya tepat pukul 14.00 acara selesai. Rombongan pun berpisah di halte Bundaran Senayan. Ada beberapa yang langsung pulang ada juga yang melanjutkan acara bersama kenalan baru dan saling bertukar kontak. Saya sendiri juga langsung pulang karena ada janji dengan teman.

Benar-benar satu hari yang menyenangkan. Dapat beberapa pengetahuan baru, jajan kuliner gratis dan enak, berjalan kaki keliling Jakarta juga dan pastinya juga bertemu beberapa teman baru.

Terima kasih untuk satu hari menyenangkan dan kesempatannya itdpindonesia dan transjakarta!

<Juga kepada pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu>

Sampai bertemu di #JalanJalanMai berikutnya!

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s