[Review] Always Sunset on Third Street Film & Manga (2005, 2007, 2012)

cats

Perkenalan saya pertama kali dengan keluarga Suzuki Auto (tokoh sentral manga ini) terjadi ketika saya duduk di bangku kelas 2 SMP. Niat saya waktu itu adalah ke toko buku untuk membaca gratis komik Doraemon. Tapi karena semua komik doraemon yang nonsegel sedang dibaca oleh orang lain sementara saya tidak berani membuka segel baru, akhirnya saya berkeliling mencoba mencari bacaan lain dan menemukan komik ini.

Yang waktu itu saya lihat adalah komik Sunset on third street jilid ke 2 yang bersampul warna biru. Begitu mulai saya baca, sempat merasa keheranan kenapa gambarnya agak aneh dan tokohnya kelihatannya ”jelek” gini. Tapi lama-lama saya menikmati dan merasa bahwa mungkin ya memang begini gaya penulisnya.

Selesai 1 buku, saya mencoba mencari jilid yang lain tapi tak berhasil. Karena penasaran, selama beberapa hari berikutnya saya selalu datang kesitu untuk mencari serial lengkap yang ternyata belum semua terbit. Kala itu baru sampai jilid ke 2 saja yang sudah masuk ke Indonesia.

Saya pun berniat mengumpulkan versi cetaknya. Entah mengapa saya memiliki perasaan bahwa ini sangat menarik untuk di koleksi. Yang sayangnya sampai saya lulus SMA belum terwujud karena harga komik yang terlalu mahal dan uang jajan saya yang tak seberapa. Barulah ketika saya bekerja dan merasa ”gaji masih ada males ditabung jadi buat apa ya” yang akhirnya mulai saya alokasikan ”jajan” buku-buku yang sejak dulu ingin saya miliki tapi terbentur biaya, komik ini salah satunya.

***

Menceritakan tentang orang-orang yang tinggal di blok 3 kota Yuuhi dengan Suzuki Auto, pemilik bengkel mobil kecil sebagai tokoh sentralnya dengan latar waktu setelah perang dunia sekitar tahun 1956. Komik ini dibagi menjadi 5 jilid/volume. Bagian pertama berisi perkenalan tokoh dan momen berkesan dalam hidup mereka. Bagian kedua tentang kendaraan-kendaraan yang ada di masa itu. Bab ketiga tentang pertokoan di sekitar blok 3 kota Yuuhi. Bab keempat tentang Ayah-Ibu, diambil dari sudut pandang ibu atau ayah. Hampir persis seperti buku pertama yang pengenalan tokoh. Bab kelima atau buku terakhir tentang Kakak-adik.

Buku kesukaan saya yang ke 2,3 dan 4. Saya jadi semakin ingin mengenal sistem perkeretaapian sejak membaca vol 2. Kagum dengan semangat orang Jepang yang bangkit dan membangun pertokoannya kembali setelah perang juga semakin menghormati Ayah dan ibu saat membaca buku-buku ini. Saya tidak tau ini cerita fiksi atau nyata cuma saya seperti percaya kalau blok 3 kota Yuuhi beneran ada di Jepang Xd

Yang menarik dari komik ini, setiap beberapa cerita suka ada lembar khusus yang isinya penjelasan dan ilustrasi singkat gitu.

Tokohnya ada banyak dan beberapa ada yang memiliki porsi yang penting dalam komik. Tapi yang muncul di film hanya tokoh-tokoh yang ada di gambar atas. Padahal saya penasaran sama kisah tukang daging dan tukang cukur rambut. Di komik mereka terlihat begitu keren dan saya penasaran gimana versi manusianya eh di film malah sama sekali tidak muncul.

Saya mengetahui ini dibuat film dari seorang kenalan. Waktu itu saya dapat filmnya yang ke 2 dan beberapa hari yang lalu saya baru sempat menonton semua filmnya. Dari 5 komik dibuat menjadi sebuah Trilogi, Always sunset 1, Always sunset 2 (2 bagian) dan Always sunset 3 final.

Ada beberapa perubahan ya di film adaptasinya ini. Seperti misal di komik, tokoh pembantu yang bekerja di Suzuki Auto itu seorang laki-laki, tapi di film seorang perempuan dan bernama Mutsuko yang diperankan oleh Maki Horikita. Di komik, orangtua Junnosuke (ibunya) sempat muncul beberapa kali, tapi di film sama sekali tidak muncul dan seolah-olah mendapat gambaran bahwa ia ibu yang jahat. Padahal di komik dia begitu baik.Tapi selebihnya hampir sama sih.

***

Always Sunset dalam film menceritakan tentang Hoshino Mutsuko yang pergi ke Tokyo untuk bekerja di sebuah perusahaan mobil bernama Suzuki Auto. Dalam bayangannya, Mutsuko berpikir bahwa ia akan menjadi seorang sekretaris yang ternyata merupakan kesalahan karena Suzuki Auto hanya sebuah bengkel kecil biasa di pinggir kota dan Mutsuko bertugas menjadi seorang montir. Karena kesalahpahaman ini, Mutsuko sempat merasa putus asa dan ingin kembali ke rumahnya saja, tapi akhirnya keluarga Suzuki berhasil meyakinkan Mutsuko untuk tinggal.

Di seberang Suzuki Auto terdapat sebuah warung mainan dan makanan yang dimiliki oleh seorang penulis bernama Chagawa Ryunosuke. Ryu sangat menyukai sastra dan literasi Jepang, ia sudah sering mengirimkan karyanya namun hanya berakhir di kolom majalah bulanan saja sampai sampai suatu hari ia berhasil masuk nominasi penghargaan.

Inti dari film ini lebih banyak membahas tentang mereka berdua sih. Sisanya peran sambil lalu saja tapi cukup mampu mewarnai film ini dengan baik. Waktu membaca komiknya, saya tidak pernah fokus dengan ”keadaan sehabis perang”. Saya benar-benar membaca komik dan menikmati tokoh-tokohnya saja. Dan film adaptasinya ini benar-benar bagus. Tone gambar dan bekas suasana ”negara yang habis berperang” beneran kerasa. Baik dari segi kostum pemain, latar tempat maupun percakapan antar tokoh. Salut sih sama tim film dan sutradaranya yang bisa bikin begini dan bisa memenangkan penghargaan Best Film-Movie of the year >,<

Selain hal itu, yang membuat menarik lagi adalah perihal tokohnya. Di dalam komik, Suzuki Auto digambarkan sebagai orang yang mudah marah namun baik hati dan mudah luluh dengan istrinya. Ia sangat mudah marah dan tersinggung bila ada yang membahas perihal bengkel mobilnya. Sebab bengkel itu ia dirikan seorang diri dengan susah payah. Ryunosuke digambarkan sebagai penulis tua yang hobi menggerutu dan tidak menyukai anak-anak. Ia mudah tersinggung dan juga putus asa.

Di film, kedua sifat tokoh ini benar-benar tersampaikan dengan baik. Waktu pertama kali ada adegan Suzuki marah-marah, saya benar-benar kaget karena penjiwaannya dapet banget. Benar-benar diluar dugaan saya tapi juga menarik.

Peran nyonya Suzuki Tomoe juga bagus bangeeet! Sifat keibuan yang penurut pada suami tapi bisa tegas ketika suami mulai ”nakal” benar-benar bisa disampaikan dengan baik. Kelak suatu hari nanti saya juga mau dong punya keluarga seperti Suzuki-Tomoe ini hhe 😥

capture-20161011-142901screenshot_2016-10-19-18-34-53

Secara keseluruhan saya memberikan rate 4/5 untuk film ini. Minus 1-nya saya berikan karena saya sedikit kecewa dengan tokoh yang difilmkan. Kenapa tokoh-tokoh yang jadi kesukaan saya di komiknya tidak ada di film T_T. Tapi cukup memuaskan sih. Bisa menjadi alternatif pilihan tontonan di kala santai.

Oiya, ada beberapa bagian yang sangat menarik di film ini. Di Sunset yang 1, ada latar menara Tokyo yang belum di bangun, di sunset 2, menara Tokyo sudah hampir jadi hingga akhirnya selesai dan keluarga Suzuki mencoba naik kesana, sementara di sunset 3 digambarkan saat ada Olimpiade Jepang.

screenshot_2016-10-17-18-41-17screenshot_2016-10-17-18-43-21screenshot_2016-10-17-18-43-30

Saya suka yang Always sunset 3 saat olimpiade ini. Warga blok 3 kota Yuuhi terlihat begitu antusias dan semangat dalam mendukung pesertanya. Diadakan nobar juga. Di Indonesia juga begitu sih, cuma gatau kenapa kayaknya feel-nya kurang dapet wqwq.

Saya belajar banyak banget dari film ini. Seperti, menghargai dan percaya bahwa kemauan, kejujuran dan kerja keras itu tidak akan mengkhianati. Kebersamaan bersama keluarga itu penting dan juga menghormati tetangga juga merupakan suatu kepentingan yang tidak boleh dilupakan. Kadangkala, tetangga bisa menjadi keluarga yang sangat berarti dalam hidup kita.

Beberapa adegan kesukaan saat keluarga Suzuki membeli kulkas dan televisi hitam putih yang pertama kali lalu mengadakan nobar tinju. Walaupun televisinya kecil dan hitam putih, tapi mereka semua terlihat begitu semangat menonton seolah-olah menonton langsung. Akting mereka benar-benar ”dapet” dan bikin saya nangis. Mengharukan :’)

capture-20161011-150724capture-20161011-150936capture-20161011-151015capture-20161011-151201capture-20161011-153149capture-20161012-162154

Tokoh kesukaan

Mutsuko, Ippei, Nenek penjual rokok, Ibu Tomoe Suzuki

Saya sarankan sih baca komiknya dulu baru nonton filmnya. Biar ”feel” lebih terasa. Tapi sayang komik ini tidak ada scan online. Adanya versi cetak saja dan bisa dibeli di toko buku terdekat karena tahun kemarin baru cetak ulang…cuma harganya mahal banget T_T

Kalau nggak baca komiknya dulu juga gapapa sih, masih bisa dinikmati dengan baik kok,hhe. Selamat mencari di lapak terdekat!

img_20161021_093024img_20161021_093338

Cerita dan #OnePerfectShot di komik kesukaan saya yang bikin pengen jadi penjaga/kenek bus hhe

Intip sedikit trailer ke 1 dan 3 nya disini. Trailer ke 2 nggak saya temukan, adanya bagian pembuka film yang ke 2 aja 😥

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s