Married

img_20160913_230343

Minggu lalu saya dikejutkan dengan sebuah undangan yang terselip di depan pintu kamar saya. Sebuah undangan pernikahan berwarna Abu-abu dengan nama pasangan yang sudah tidak asing lagi. Segera saja saya bergegas berganti baju dan pergi menuju ke rumah si pemilik acara.

Entah kebetulan atau memang dia yang sengaja menunggu, orang yang saya cari ternyata sedang berada di depan rumah ketika saya baru saja membuka pintu. Kaget. Itu ekspresi yang tergambar di wajah kami masing-masing.

”kok gue nggak jadi pager ayunya sih?” todong saya kesal sambil menunjukkan undangan pernikahannya yang masih saya pegang.

Yang ditanya hanya diam dan mendadak tertarik dengan pola tembok rumah saya.

”heh, kalau ada yang mengajak berbicara itu mbok ya dijawab”

”dan lagi, kenapa nikahnya buru-buru banget sih?” lanjut saya dengan tatapan kesal sekaligus heran.

***

Namanya Indah. Kami tidak bersahabat dekat atau bahkan menjadi seorang teman. Tapi bagaimanapun hubungan kami, ada satu ikatan tak kasat mata yang menghubungkan kami berdua.

Di tempat tinggal saya, jumlah anak kecil perempuannya dulu sedikit. Hal ini membuat anak perempuan memiliki semacam…rasa kesetiakawanan yang cukup tinggi. Sebagai pendatang yang baru pindah ke Jakarta, keberadaan saya cukup di perhitungkan.

Dengan adanya saya, jumlah anak perempuan di tempat tinggal saya akhirnya berjumlah genap. Kalau main karet akhirnya semua bisa ikutan. Tapi sayangnya, saya tidak pernah tertarik untuk bergabung dengan anak perempuan. Saya menjadi tomboy dan lebih suka menghabiskan waktu dengan anak-anak laki-laki.

Saya pun dibenci, dimusuhi gitu. Dan Indah merupakan anak perempuan yang memiliki pengaruh besar disitu. Kami berdua jadi musuh bebuyutan. Saling benci. Biasalah, pertemanan anak kecil.

Beranjak remaja, kami berdua masih kerap saling tak tegur sapa. Tapi meski begitu, kadang saya cukup peduli dengan dia. Bila kebetulan dia sedang berpacaran atau diisengi beberapa laki-laki remaja yang norak, entah mengapa saya kadang membela dia.

Ya pokoknya gitu lah. Tanpa pernah saling bicara satu sama lain, diam-diam sebenarnya kami saling melindungi. Indah adalah perempuan remaja tercantik di tempat saya. Banyak laki-laki remaja yang suka iseng menggoda atau menjadikannya pacar hanya untuk pamer dan menyakiti hatinya.

Nah, kalau Indah sedang digoda atau saya mendengar desas-desus bahwa si A hanya akan menyakiti Indah, kadang saya suka geram dan jadi kesal sendiri lalu mencoba melindungi Indah gitu wqwq.

Ketika akhirnya saya masuk SMA, saya dan Indah akhirnya mulai mengobrol. Tidak sampai dekat atau bahkan sampai menginap dan bertukar rahasia pribadi gitu sih. Tapi yang jelas hubungan kami sudah lumayan mendingan daripada dulu.

Entah sejak kapan, hubungan kami malah tambah semakin dekat meski lebih di dominasi oleh Indah. Ia sering bercerita apa saja kepada saya. Mimpi-mimpinya, pacar atau mantan pacar terbarunya, hingga cerita sehari-hari yang terjadi di rumahnya. Salah satu masalah yang menarik minat saya kala itu adalah masalah asmaranya. Ia jatuh cinta dengan suami orang.

Kisah lengkap secara rincinya mungkin tidak bisa saya jabarkan disini. Tapi pada akhirnya, sosok yang disukai Indah itu bercerai dengan istrinya, hak asuh anak jatuh ke tangannya dan ia menjalin hubungan dengan Indah, sampai hari ini mereka akan menikah.

Sebagai seorang anak yang besar tanpa keluarga lengkap (dan seorang anak yang mengalami bapak meninggalkan ibu-lalu menikah dengan orang lain), tentu saja saya sedikit tidak setuju dengan hubungan mereka.

Tapi ya, begitulah. Seiring berjalannya waktu, saya akhirnya mencoba mengerti hubungan mereka. Dan lagipula, mereka terlihat bahagia. Dan meski sudah pernah menikah, Si pria yang kelak menjadi suami Indah tetap menghormati pilihan-pilihan Indah. Indah juga bisa diterima dengan baik oleh si anak yang baru berusia 7 tahun.

Mereka terlihat bahagia, seharusnya saya juga ikut berbahagia,kan?

***

”Heh, ini malah diem aja. Kenapa gue gak jadi pager ayunya? masih nganggep gue tomboy ya lo? hh. Mana nulis namanya salah lagi. Nama gue itu Maila. dan ini apaan coba pake partner segala?!” cerocos saya sambil mengacungkan undangan pernikahan ke wajahnya.

Yang ditanya akhirnya menjawab,

”cukup jadi tamu dan doain yang terbaik buat gue aja. nggak kok gue nggak nganggep lo tomboy. sekarang kan lo udah jadi cantik. Kalau udah cantik berarti udah punya partner dong ya?” jawabnya sambil menggodaku.

HHHHHH. YHA.

Selamat menempuh hidup baru,Ndah. semoga bahagia!

ps: tulisan ini saya publikasikan berdasarkan persetujuan dari Indah.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s