Sehari di Taman Mini

Senin 5 September 2016 untuk pertama kalinya selama hampir 10 tahun tinggal di Jakarta, saya akhirnya mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah. Kunjungan ke Taman mini sendiri sudah saya masukkan dalam daftar tempat-tempat yang ingin saya kunjungi sejak lama, tapi baru bisa terwujud sekarang.

Saya pergi bersama salah satu sahabat saya menggunakan Transjakarta jurusan Ancol-PGC, transit di halte BNN lalu naik Transjakarta lagi jurusan Pinang Ranti-Pluit dan turun di halte Garuda Taman mini. Setelah itu naik angkutan umum nomor 40 dan turun di gerbang pintu masuk gate 3 TMII. Tarif angkutan umumnya sendiri Rp4.000,-/orang.

Kami berangkat pukul 9 pagi dan sampai di lokasi pukul 10.30. Kami sengaja memilih hari Senin karena tidak mau bertemu banyak orang dan ternyata saat sampai di TMII, ada cukup banyak bus pariwisata yang sudah berada disana. Beberapa kali kami juga berpapasan dengan rombongan tur entah darimana.

klik untuk memperbesar gambar

img_20160905_105117

Begitu tiba, kami langsung belok ke arah kiri ke tempat penyewaan sepeda dan memotret peta lokasi yang terdapat tidak jauh dari tempat parkir. Harga tiket masuknya Rp10.000 untuk pejalan kaki dan amat disayangkan di pintu masuk, pengunjung tidak mendapat flyer peta ataupun selebaran informasi tentang TMII.

Saya lupa memotretnya tapi saya melihat ada larangan masuk bagi orang-orang yang menyewakan motor pribadi secara ilegal. Tapi belum ada 10 menit kami berada di TMII, kami sudah ditawari 4x sewa motor pribadi seharian dengan tarif Rp150.000,- yang bisa kita kendarai sendiri.

Kebingungan menentukan tujuan sekaligus pusing karena cuaca yang panas, kami akhirnya beristirahat sejenak di bawah pohon-pohon dekat pintu masuk Snowbay. Kunjungan kami ke TMII ini tidak ada jadwal khusus harus kemana dan mau apa. Tidak ada papan petunjuk atau hal-hal sejenis itu pula yang membuat kami kebingungan mau kemana.

Yang lebih parah adalah saya dan sahabat saya bingung mau naik kendaraan apa untuk berkeliling karena TMII ini luas bukan main. Sayapun iseng mencari di google dan ternyata ada bus keliling yang bernama Bus Nusantara yang memasang tarif Rp10.000,-. Tapi kami tidak menemukan halte tempat menunggu ataupun tanda-tanda kemunculan bus itu.

Karena banyaknya waktu yang terbuang, akhirnya kami memutuskan memasuki museum pertama yang tepat berada di depan Snowbay, Museum Indonesia.

img_20160905_125128

Harga tiket masuk ke museum Indonesia lumayan mahal, Rp15.000,-. Saya tidak tau apakah harga tiket masuk semua museum sama atau berbeda, tapi kalau satu museum Rp15.000 lumayan juga T_T. Menurut saya seharusnya harga tiket masuknya di bawah Rp10.000 biar pengunjung lebih puas dan bisa mengunjungi banyak museum yang ada.

Coba bayangkan kalau 1 museum memasang harga Rp15.000/orang. Ada sebuah keluarga lengkap yang datang, katakanlah ibu,bapak,kakak dan adik. Lalu berkeliling ke 5 museum. Rp360.000,- sudah habis untuk berkeliling seperti itu. Mending kalau di dalam Museumnya ada semacam guide atau dapat flyer info. Ini nggak ada T_T. Pantas saja tempat-tempat seperti ini kurang diminati. Untuk beberapa orang, Rp360.000,- rasanya lebih ikhlas dikeluarkan untuk belanja di mall daripada di museum seperti ini.

Saat sudah memasuki museum, rupanya sudah ada beberapa rombongan di dalam. Ada 1 rombongan keluarga dan 1 rombongan turis yang sepertinya menyewa guide khusus untuk menjelaskan tentang isi museum.

Museum Indonesia yang memiliki 3 lantai itu kebanyakan berisi tentang budaya Indonesia. Lantai 1 seputar pakaian dan alat musik khas Indonesia. Lantai 2 dari tempat tinggal dan alat khas Indonesia. Lantai 3 berisi seni kerajinan mulai dari kerajinan barang yang dipajang hingga bisa dipakai.

Perhatian saya cukup tersita ketika memasuki lantai 2. Melihat rumah-rumah khasi Indonesia, alat-alat dan beberapa kegiatan budaya beberapa provinsi Indonesia membuat saya kangen kampung halaman.

Waktu melihat kendi dan panci untuk mengukus nasi, saya sempat menangis. Ingat nenek. Ingat kakek. Ingat kampung halaman hhh. Sudah lama saya tidak mudik. Selain karena semua keluarga sekarang sudah di Jakarta, di kampung halaman pun sudah tidak ada lagi rumah yang bisa dikunjungi. Nenek sudah menjual untuk biaya ke Jakarta dan untungnya sukses hingga bisa membeli rumah disini. Jadi tiap kami mudik biasanya kami menumpang tinggal di rumah-rumah adik/kakak dari nenek.

Selesai berkeliling museum, kami memutuskan beristirahat sejenak di masjid yang kebetulan terlihat jelas dari belakang museum, Masjid Hasanudin(?) atau apa gitu saya lupa wq. Masjid tersebut merupakan bagian dari Area rumah ibadah di TMII

img_20160905_131031

Selesai sholat, kami akhirnya memutuskan untuk mengunjungi semua area tempat ibadah. Mampir ke vihara dan pura serta kelenteng. Sayangnya saat mau masuk ke Pura tempatnya di kunci. Pas mau ke vihara juga, cuma ternyata gemboknya bisa dibuka dan saya iseng membuka kuncinya dan main masuk wq. Waktu mencium bau hio(?) yang di bakar, saya jadi makin kangen kampung halaman.

Dulu di kampung halaman, tepat di depan rumah saya itu vihara. Biasanya setiap sore, sabtu dan minggu selalu ramai. Yang pasti ramai sih tiap sore, banyak anak-anak yang beribadah dan kadang main di halaman rumah saya. Tiap ada acara keagamaan kadang dari vihara juga suka membagi ke rumah kami. Kadang malah saya suka iseng ikut masuk ke dalam wqwq

Selesai dari vihara, kami bingung mau lanjut kemana. Cuaca makin panas, mau mampir ke Anjungan tiap provinsi rasanya malas. Oiya, banyak anjungan yang sedang di renovasi juga. Anjungan provinsi yang tersedia tidak jauh dari area tempat ibadah rata-rata sedang di renovasi.

Saat sedang kebingungan mau lanjut jalan atau mencoba masuk ke teater keong mas (yang kebetulan berada tidak jauh dari kelenteng), akhirnya kami melihat adanya bus nusantara. Kebetulan dekat situ ada satpam, saya bertanya bagaimana caranya kalau mau naik dan ternyata kalau mau naik bisa dimana saja tinggal kita stop seperti naik angkutan umum. Akhirnya kami naik deh.

img_20160905_135227

pak supir dan kondektur

img_20160905_134350

Harga tiketnya Rp10.000,- dan bisa dipakai sampai 3x. Jadi setiap naik, tiket akan dirobek sekali. Dan selain untuk bus nusantara, katanya bisa untuk kereta-keretaan juga(?) atau entahlah saya kurang menangkap karena kondekturnya bicara tidak cukup jelas dan kami cukup lelah untuk bertanya lagi.

Saat itu kami tidak memiliki tujuan. Niatnya sih mau keliling aja naik bus sampai balik lagi ke tempat semula karena rasanya adem dan semriwing yang menyegarkan dari angin di sekitar. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi museum IPTEK karena sahabat saya penasaran.

Oiya, selama bus berjalan, saya sempat sedikit curiga dan heran kenapa pak supir jalannya ngebut dan beberapa kali ada rombongan keluarga yang menyetop mau naik tapi pak supirnya malah pura-pura tidak melihat.Perasaan saya tidak enak wq. Tapi akhirnya kami selamat sampai tujuan dan tiba di museum IPTEK.

MbJs4Amd.jpg

Harga tiketnya lebih mahal, Rp16.500,- T_T

img_20160905_135659

Begitu masuk langsung disambut Dino.

Kami akhirnya berkeliling dan tidak lama terdengar pemberitahuan kalau di lantai 2 akan ada percobaan ilmiah bersama salah seorang kakak-lupa nama-. Kami akhirnya memutuskan ikut bergabung.

Show percobaan ilmiah ini diadakan setiap hari dengan jam-jam tertentu (lihat pada gambar dan klik untuk memperbesar). Percobaan yang kami ikuti saat itu bertema tentang ruang hampa dan tekanan. Ada 3 jenis percobaan dan saya cukup menikmati dengan baik meskipun ketika diadakan sesi tanya jawab saya tidak bisa 100% menjawab betul.

Percobaan yang dilakukan lebih ke pelajaran fisika, bikin kangen masa SMP. Berkali-kali saya dan sahabat saya saling lirik dan tersenyum. Kami merasa seperti kembali lagi ke bangku sekolah,hhe

Selesai mengikuti show tersebut, kami lanjut berkeliling dan sempat bermain di area tentang waktu dan bencana alam

mencoba menghitung ketepatan jam pasir

mencoba simulasi gempa bumi dan simulasi tsunami

Bosan berkeliling dan karena hampir semua tempat sudah dijelajahi, kami akhirnya keluar dan kebetulan sekitar 1 jam lagi memasuki waktu ashar. Kami memutuskan memilih taman Burung sebagai tempat terakhir yang kami kunjungi sekaligus sebagai penutupan sebelum pulang ke rumah puas-puasin bermain di alam dulu.

Nah, saat sedang berjalan menuju taman burung, kami melihat di kejauhan ada bus nusantara. Bimbang, akhirnya kami memilih batal ke taman burung dan mau naik bus saja berkeliling.

NAH, DISINILAH KETAKUTAN SAYA TERJADI.

Bus tidak berhenti padahal sudah jelas di depan mata bahkan saya sampai berdiri di tengah jalan untuk memblokir, tapi bus tetap melaju bahkan agak ngebut. Kondisi bus memang cukup ramai tapi masih ada tempat duduk yang kosong. Yang mengesalkan, supirnya itu udah melihat keberadaan saya bahkan beberapa penumpang ada yang bertetiak mengingatkan ada penumpang tapi supirnya tetap melaju.

Kan kesel.

Saya curiga sumpir tidak mau ambil penumpang karena merasa dirugikan dengan tiket(?). Entahlah tapi yang jelas saya berburungsangka seperti itu saking kesalnya. Akhirnya mood berkunjung ke taman burung pun hilang. Kami memutskan untuk jalan pelan-pelan berkeliling tapi juga ke arah pintu masuk.

Nah, sepanjang jalan (silahkan liat di peta dari museum IPTEK ke pintu masuk seberapa jauh). kami sama sekali tidak menemukan lagi bus nusantara. Penyewaan sepeda juga tidak ada. Dan ya kami akhirnya jalan selama nyaris hampir 57 menit dan hanya beristirahat sekali untuk minum dan membetulkan tali sepatu (saya nyalakan stopwatch untuk menghitung jarak tempuh)

Capek? Banget!

Tapi bukan perkara masalah capeknya sih. Saya lebih ke kesal sama supir bus nusantara itu dan kenapa tidak ada lagi bus yang muncul hh. Padahal belum terlalu sore. Saat itu masih pukul 3 dan TMII tutup pukul 6,eh atau 5(?). Harusnya di jam-jam menuju tutup busnya semakin rajin keliling dong untuk mengantar pengunjung pulang. Ini nggak. Sebal.

Sepanjang perjalanan cuacanya tidak panas sih. Tapi berkali-kali kami dihampiri orang yang menawarkan jasa motor dan juga dilirik aneh oleh pengunjung yang naik sepeda. Sebal [999]

img_20160905_152952

Pukul 16.00 akhirnya kami sampai di pintu keluar dan masih belum menemukan bus nusantara juga. Kami sempat bertemu beberapa rombongan pengunjung yang sedang piknik juga sedang bersantai di taman. Rasanya iri hhh

Saat sudah keluar, kami sempat kebingungan mau naik apa sampai sahabat saya tidak sengaja melihat ada transjakarta di kejauhan. Iseng kami hampiri ternyata bisa langsung naik dari situ. Bus Transjakarta tersebut merupakan rute baru Grogol-Taman Mini. Kami pun langsung naik dan saya langsung tidur pulas karena kelelahan dan dibangunkan sahabat saya di halte BNN untuk transit.

tempat tap e-ticket dan bagian dalam bus transjakarta

***

Bisa dikatakan ini pengalaman pertama ke TMII yang cukup berkesan. Selain karena dilaksanakan di hari kerja (saya ambil libur), dan dilakukan tanpa tau apa yang menanti (kami riset tentang TMII di google tapi masih belum mudeng), ada banyak hal ajaib juga yang terjadi. Seperti misal, tidak di-notice oleh supir bus (cry) sampai kangen kampung halaman saat di museum Indonesia.

Apakah saya akan berkunjung kembali ke sini,,,jawabannya cukup membingungkan juga. Mungkin akan berkunjung tapi beberapa tahun lagi menunggu pelayanannya sudah bagus wq. Habis payah banget sih pelayanannya hhh. Kalau kesini nanti mungkin saya akan mengajak adik dan ibu sekalian piknik. Tapi harus siap banyak uang juga untuk tiket masuk tiap museum.

Dan ya, begitulah. Sampai bertemu di JalanJalanMai berikutnya~

Bonus, saya temukan di museum Iptek

img_20160905_120954

kaca yg ada di museum Indonesia yang terlalu sayang untuk dilewatkan wq

Sampai jumpa!

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s