Bertemu Raffa

​Di hari ketiga lebaran ini saya memutuskan untuk pergi ke Taman Margasatwa Ragunan untuk mengunjungi dan bertemu Jerapah.

Waktu berusia 10 tahun dan tinggal di Semarang dulu, saya cukup sering pergi ke kebun binatang Gembira Loka entah itu untuk rekreasi atau memang hanya kepingin berkunjung iseng secara tiba-tiba.Karena sering berkunjung kesana, bapak sampai dekat dengan pawang Jerapah dan buaya. Mas Slamet dan Mas Deri.
Pada saat saya berulang tahun ke 6, saya, ibu dan bapak pergi ke kebun binatang seperti biasa. Kami sedang asyik duduk di depan kandang Jerapah ketika tiba-tiba dari speaker pemberitahuan mengalun lagu selamat ulang tahun dan suara mbak informan yang mengucapkan “selamat ulang tahun untuk salah satu pengunjung, adik kecil kita Maila’ul izza annabiila”. Tidak lama kemudian bapak pergi sebentar dan muncul lagi membawa satu boks berukuran sedang berisi donat beraneka rasa.

Donat tersebut dibagi ke beberapa pengunjung di sekitar, mas Slamet dan mas Deri juga mbak Informan yang sudah mau diajak kerja sama membuat kejutan. Tidak ada acara tiup lilin. Tapi bapak berkata “nanti kalau kamu udah gede kita rayain begini lagi ya” yang saya catat dalam hati dan ingat sampai saat ini. Tapi sayang hal itu tidak pernah terwujud.

***

Sejak hari itu, saya jadi memiliki kegilaan tersendiri terhadap Jerapah. Apa ya, semacam perasaan khusus yang sulit dijelaskan. Setiap melihat Jerapah, saya jadi ingat bapak dan masa saat kami sering berkunjung ke kebun binatang.

Kegilaan dan perasaan khusus ini sebenarnya tidak fanatik sih. Saya baru “menggilai” dan ingat tentang jerapah juga beberapa bulan terakhir ini saat saya mau memasuki usia 20.

Sementara sebelum usia 20, saya tidak terlalu ingat dan bahkan nyaris lupa tentang cerita Jerapah. Pergi ke kebun binatang juga tidak pernah terlintas dalam benak saya.

***
Pada kunjungan kedua saya ke Ragunan kali ini, saya berangkat dari rumah pukul 11 pagi. Naik Transjakarta menuju Central Senen karena kebetulan kemarin saya menemukan info dari twitter bahwa saat libur lebaran ini Transjakarta membuka rute khusus Central Senen-Ragunan.

Lihat Tweet @PT_TransJakarta: https://twitter.com/PT_TransJakarta/status/750854380199501824?s=09

Pukul 13.11 saya tiba di lokasi dan ugh. Adalah sebuah kesalahan pergi berkunjung ke tempat wisata sendirian di hari libur sementara sebagian besar pengunjung datang bersama rombongan teman, keluarga bahkan pacar.

Asli.
Saya merasa kikuk saat antre membeli tiket karena hanya berdiri sendirian.

Oiya, ada sebuah perubahan yang terjadi di loket. Sejak 27 April, masuk ke Ragunan tidak lagi menggunakan karcis tapi menggunakan JakCard, E-money keluaran bank DKI.

Yang tidak memiliki bisa membeli seharga Rp30.000,- berisi saldo Rp20.000. Tidak bisa menggunakan E-money keluaran bank lain (Flazz, Brizzi, Emoney) harus JakCard.

Mau tukar gambar Jerapah tapi stoknya kosong 😅

Karena saya berkunjung sendiri, mengeluarkan Rp30.000 cukup berat juga ya. Meskipun memang Jak Card ini bisa dipakai untuk yang lain (tol, parkir, kereta api). Saya bilang ini terlalu berat karena saya hanya membawa sedikit uang tunai sementara sejak tadi saya belum menemukan ATM center.

Pemberitahuan perihal Jak Card ini tidak terlalu jelas. Terlihat dari spanduk yang dipasang malah di samping loket, bukan di depan loketnya.

Foto di depan loket

Foto di samping loket

***
Begitu masuk, saya langsung ke kandang Jerapah. Tidak langsung sampai sana sih. Selama perjalanan menuju kandang jerapah-yang cukup jauh- saya berkali-kali merasa kikuk ketika berpapasan dengan  rombongan keluarga ataupun pasangan kekasih yang melintas. Saya seperti orang aneh karena berjalan sendirian😅

Yang seperti ini bikin iri hati😭

Setelah sampai di kandang jerapah, kebetulan ada tempat duduk kosong yang lokasinya cukup strategis. Segera saya duduk dan beristirahat sejenak sambil memandang si Jerapah di kejauhan.

Kandang Jerapahnya sendiri cukup besar. Tapi jerapah-jerapah di dalamnya lebih sering berada di sisi kanan kandang yang kebetulan berpagar cukup rendah sehingga banyak pengunjung yang berkumpul di sisi kanan kandang tersebut,termasuk saya.

Lebih dari 2 jam saya hanya duduk di kursi dan menyaksikan Jerapah di kejauhan. Entahlah. Rasanya senang saja melihat si leher panjang itu.

Kebetulan ketika pukul 2 siang ada kegiatan memberikan makan Jerapah (dilakukan oleh pawang). Melihat jerapah makan, saya menjadi gemas sendiri. Berkali-kali saya ikut monyong dan menggerakkan bibir mengikuti jerapah yang sedang makan.

Jadwal makan Jerapah

Selama 2 jam duduk menyaksikan Jerapah itu, saya berkesempatan melihat ia bersin, lari, lari sambil kejar-kejaran, duduk, menggoyangkan leher dan nyengir. Hhh saya jadi ingin mengelusnya. Ingin memegang dan memeluk. Ingin ke Afrika melihat dan mengamati lebih banyak lagi aktivitas Jerapah secara langsung😭

***

Pukul 3 sore saya memutuskan untuk pulang karena takut penumpang Transjakarta penuh dan harus menunggu lama. Setelah menimbang-nimbang, saya akhirnya mampir ke kandang Gajah sejenak sambil makan Kerak telur yang membuka lapak di samping kandang gajah.

Sialnya, ketika saya sedang asyik makan, salah satu gajah ada yang buang air besar. Bau kotorannya khan maen menyengat hingga membuat pusing. Dan saya melihatnya serta mencium baunya. Nafsu makan saya langsung hilang😂

Selama ini jika saya bepergian ke suatu tempat, saya jarang sekali membeli oleh-oleh. Berfoto di tempat tersebut juga jarang. Apa ya, saya tidak pede kalau diminta dan diajak foto bersama. 

Itulah hal yang menyiksa saya hari ini. Niat saya ke Ragunan hari ini sebenarnya ingin foto bersama Jerapah. Tapi karena pergi sendiri (karena semua teman saya mudik dan adik saya kelelahan) jadi tidak ada yang bisa dimintai tolong untuk mengabadikan saya bersama jerapah.

Sementara bila saya berfoto sendiri menggunakan kamera depan handphone tidak pede. Kebetulan saya juga tidak memiliki tongsis. Jadi ya akhirnya saya hanya mengabadikan jerapahnya saja. Padahal ada beberapa kesempatan bagus saat jerapah begitu dekat dengan saya😿

Selama perjalanan menuju pintu keluar untuk pulang, saya akhirnya tertarik untuk membeli oleh-oleh di booth Official Merchant Ragunan Zoo yang terletak tidak jauh dari kandang Jerapah.

Ada beberapa cinderamata yang tersedia (saya lupa foto booth-nya) seperti sandal anak, baju kaus anak & dewasa, gantungan kunci, boneka, bando, magnet kulkas dan topi yang semuanya memiliki desain karakter binatang seperti gajah,rusa, harimau, jerapah, kelinci.

Bando jerapah menjadi pilihan saya. Sebetulnya saya tertarik dan suka mengoleksi gantungan kunci (Ini penting. Kalau mau beliin saya oleh-oleh, gantungan kunci yang unik+bersuara seperti ada loncengnya gitu bisa jadi pilihan. Kalau gak gantungan kunci, boleh lah beliin oleh-oleh jilbab pashmina/syal atau hadiah buku. Siapa tau loh ya kamu mau ngasih saya oleh-oleh saat liburan :p). Sayangnya gantungan kunci Jerapah sedang kosong.

Bando Jerapah ini dihargai Rp20.000,- Harga termurah dari semua koleksi merchant Ragunan Zoo. Harga lainnya bervariasi sampai dengan Rp150.000,-

Setelah selesai membeli oleh-oleh dan sampai pintu keluar, tantangan berikutnya menunggu saya. Antrean penumpang yang hendak naik bus Transjakarta terlihat begitu “menggoda” di kejauhan. Tumpah ruah dan terlihat sangat sumpek karena kebetulan Halte busway Ragunan berukuran kecil. Jadi kelebihan penumpang ini terlihat sangat tidak beraturan.

Saya akhirnya memutuskan untuk shalat dulu. Mushola kecil tersedia tepat di belakang halte busway. Setelah shalat, antrean malah semakin bertambah banyak bahkan petugas sampai membuat garis batas agar penumpang antre lebih tertib dan tidak saling serobot.

Karena tidak mau berdesakan dan menunggu lama, saya akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki menuju halte berikutnya saja yaitu halte Departemen pertanian sekalian mencari ATM.

Selama naik Transjakarta, saya menganggap jarak dari halte Departemen pertanian-Ragunan itu dekat. Ternyata ketika jalan kaki, jaraknya lumayan jauh juga. Apalagi medannya cukup berat mengingat kontur jalanan daerah Ragunan ini naik-turun.

Tapi syukurlah saya bisa menikmatinya dengan baik. Sepanjang jalan banyak pedagang yang menjual cinderamata yang lumayan menghibur mata saya. Lagipula cuacanya juga enak. Sekalian jalan-jalan sore. Sudah lama juga saya tidak jalan kaki sejauh ini.

***

Sampai di halte Departemen pertanian, saya istirahat sejenak sambil menunggu Transjakarta yang menuju Central Senen. Dan ketika bus datang, ternyata penumpang di dalamnya tidak penuh bahkan saya mendapat tempat duduk. Dan tepat pukul 17.30 saya sampai di rumah dengan selamat.

Ketika saya menulis ini, saya jadi ingat akan banyak hal. Bapak, masa kecil saya, rombongan keluarga yang tadi berpapasan dengan saya di jalanan juga masa depan. Saya jadi menghayal dan menebak, kira-kira kalau saya sudah besar nanti, saya akan ngajak anak saya jalan-jalan ke kebun binatang juga tidak ya.

Waktu di bus transjakarta dan melihat anak kecil yang tidur pulas kelelahan setelah seharian bermain di Ragunan, saya sempat tersenyum. Kelak, suatu hari nanti, hari ini akan dikenang oleh anak itu sebagai masa menyenangkan yang dimilikinya saat liburan ke kebun binatang.

Ini saya ngomong apaan sih wqwq

Jadi ya begitulah. Belum apa-apa udah kangen Jerapah lagi 😥

Tertidur pulas setelah lelah bermain

Giraffa

Giraffa 😅

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s