Jalan-jalan naik bus Transjakarta khusus wanita

Pada 21 April yang lalu, Pemda DKI mengeluarkan bus transjakarta khusus wanita sekaligus menambah armada dan membuka rute baru transjabodetabek. Beberapa rute diantaranya yang sudah saya coba (dan saya ingat) adalah jurusan Kota-Pinang Ranti dan Ancol-Kampung rambutan juga transjabodetabek melayani Jakarta-depok, Jakarta-bekasi.

Untuk jumlah armada tambahan yang sudah saya lihat dan rasakan sendiri adalah penambahan jumlah bus transjakarta ukuran mini (feeder kopaja) yang melayani rute Pluit-Tanjung Priuk.

Feeder transkopaja. Sumber gambar google

Dulu armada koridor 12 yang melayani Pluit-Tanjung priuk ini jumlahnya sangat sedikit. Yang agak menyenangkan, bus yang dipakai adalah bus ukuran besar dan panjang sehingga dapat mengangkut banyak penumpang.

Tetapi tetap saja, bila bus datangnya hanya 1 jam sekali penumpukan penumpang di tiap halte pun muncul. Pernah saya menunggu hampir 2 jam untuk menunggu kedatangan, dan baru bisa naik setelah tepat 3 jam karena bus selalu penuh.

Nah, semenjak 21 April kemarin jumlah armada untuk koridor 12 diganti bukan lagi bus transjakarta panjang dan ukuran besar tapi bus feeder kopaja ukuran mini dan jumlahnya diperbanyak.

Berdasarkan perhitungan saya selama 1 bulan terakhir, bus biasanya datang tiap 2-7 menit sekali di jam-jam sibuk dan 7-10 menit sekali di jam siang atau malam hari.

Rasanya jadi cukup menyenangkan karena transportasi jadi mudah dan tidak ada lagi penumpukan penumpang karena bus yang selalu ada terus. Meskipun begitu, ada ketakutan tersendiri tiap saya naik bus feeder trans kopaja ini.

Karena ukurannya yang kecil (bahkan lebih kecil daripada bus kopaja), kalau dibawa ngebut goncangannya terasa sekali. Harus pintar membawa diri ketika duduk/berdiri bila tidak mau jatuh atau merasa mual bahkan mabuk.

***

Selain bus trans kopaja ukuran mini, pada 21 April kemarin juga diluncurkan bus transjakarta khusus penumpang wanita. Bus ini berbentuk panjang dan berwarna pink dengan desain beberapa kutipan penyemangat di pinggir bus.

Transjakarta khusus wanita. Sumber gambar google

Saya baru bisa mencicipi bus ini beberapa minggu yang lalu saat berangkat ke kantor. Tapi tidak menimbulkan banyak kesan karena saya juga tidak sempat meng-eksplor lebih jauh sebab saya sudah buru-buru. 

Nah, kebetulan tadi siang saya berkesempatan untuk menaiki bus transjakarta khusus wanita ini saat akan ke Blok M. Pas lah, saya naik dari halte pertama (Kota) dan bisa menikmati hingga halte terakhir.

Waktu saya menunggu untuk menaiki bus ini, keadaan halte cukup sepi. Jadi tidak ada penumpang yang berebut untuk masuk dan mendapatkan tempat duduk. Yang membuat saya kaget, ternyata bentuk kursi di bagian depannya tidak menyamping seperti yang terdapat pada bus transjakarta biasa. Bentuknya seperti bus kota pada umumnya yaitu memanjang ke depan.

Menurut saya bentuk yang seperti ini justru malah membuat sempit dan tidak nyaman. Karena kapasitas penumpang berdirinya menjadi berkurang karena jalanannya sempit.

Sayapun akhirnya memilih tempat duduk di belakang. Oiya, selama ini kalau saya naik bus memang selalu memilih tempat di belakang. Alasannya karena saya tidak bisa duduk miring. Malah pusing😅

Makanya saya juga jarang duduk bila naik transjakarta. Pasti berdiri dekat pintu sebelah kiri (yang tidak pernah terbuka) agar tidak menganggu penumpang dan bisa nyender.

***

Ada beberapa pengalaman menarik selama saya menaiki transjakarta khusus wanita ini.

Pertama, karena biasanya bagian belakang transjakarta di khususkan untuk penumpang wanita, banyak sekali penumpang wanita yang berjubel di bagian depan. Mereka lupa kalau mereka naik bus khusus wanita yang berarti bagian belakang bus juga boleh diisi wanita. Berkali-kali pramudi bus mengingatkan,

“Tolong isi bagian belakang ya bu, jangan menumpuk di tengah”

Kedua, entah perasaan saya saja atau memang iya, kecepatan bus khusus wanita ini sedikit lebih pelan daripada bus biasa. Darimana saya tahu? Saya menyadari ini ketika bus melewati sepanjang jalan menuju halte Monas. Bus berjalan begitu pelan dan tidak membuat saya mual. 

Mengapa saya mengatakan begitu? Sebab biasanya bus transjakarta akan berjalan lebih cepat ketika melewati jalan menuju halte monas (berdasarkan pengalaman pribadi saya). Tidak peduli bus dalam keadaan penuh/tidak dan di depan ada bus lain/tidak. Nah tadi, bus terus menerus berjalan dalam keadaan normal baik saat jalanan macet atau lancar. 

Ketiga, persaingan dan kesadaran untuk memberi tempat duduk berkurang. Saat memasuki halte Dukuh atas yang lumayan sepi, banyak sekali penumpang yang berebut masuk dan mencari tempat duduk. Ketika ada beberapa penumpang prioritas, penumpang lain tidak segera memberikan. Bahkan ketika ditegur, saya sempat melihat penumpang tersebut melihat dulu ke orang yang dianggap prioritas untuk menilai apakah memang dia layak diberi tempat duduk ini.

Saya tidak tau sih ini benar atau perasaan saya saja. Tapi dulu saya pernah menguping pembicaraan beberapa pengguna commuter line gerbong wanita yang mengatakan kalau mereka agak malas memberikan tempat duduk. Soalnya ini kan gerbong wanita-semua wanita berhak disini. Jadi siapa cepat dia dapat.

Makanya saya sebenarnya cukup malas naik ke gerbong khusus wanita karena penumpang wanitanya cukup “ganas” semua😅

Keempat, entah pemberitahuan bus transjakarta khusus wanita ini yang belum menyebar luas atau karena jumlah armadanya yang hanya sedikit (saat ini baru tersedia untuk melayani rute koridor 1 Blok M-Kota saja), banyak penumpang pria yang sepertinya belum mengetahui tentang hal ini.

Beberapa kali di halte pemberhentian ada penumpang laki-laki yang tetap naik dan turun lagi setelah diberi tahu bahwa bus khusus wanita. Karena saya duduk di belakang, saya juga sempat melihat beberapa penumpang pria yang marah dan mengumpat saat mengetahui bus itu khusus wanita saja. 

Ada satu umpatan yang terdengar dan teringat jelas oleh saya

“Cewek mulu yang diistimewain? Berarti bis yang biru buat cowok? Capek nih gue nunggu lama”

Umpatan itu dilontarkan seorang bapak di halte Polda Metro yang sudah banjir keringat dan membawa barang bawaan cukup banyak di punggung serta kanan kirinya. Sepertinya ia sudah terlanjur lelah menunggu dan membawa beban banyak.

Well, saya sendiri bukannya tidak senang sih diberi keistimewaan fasilitas seperti ini. Toh ini demi keamanan kami sebagai perempuan juga. Tapi apakah memberikan bus transjakarta khusus pria bisa dijadikan solusi? Lucu juga melihat kaum pria iri begini😄

***

Jadi, itulah pengalaman kedua saya menaiki bus transjakarta khusus wanita. Senang karena busnya cukup nyaman dan memuaskan meskipun persaingan mendapatkan tempat duduknya lumayan ganas. 

Sedih juga melihat ada penumpang laki-laki yang merasa “iri” dan tidak adil karena hanya wanita saja yang mendapat keistimewaan. 

Sewaktu terjebak macet saat akan memasuki halte akhir Blok M, saya sempat mengajak ngobrol beberapa penumpang di sekitar saya meminta pendapat mengenai bus khusus wanita ini.

Ternyata responnya cukup positif. Mereka berharap tiap koridor memiliki minimal 2 bus seperti ini agar para perempuan yang bekerja bisa berangkat-pulang kerja dengan nyaman. 

Ada satu komentar menarik juga dari seorang ibu yang kebetulan memang seorang TraJaMania (Transjakarta Mania. Ini sebutan saya sendiri untuk penumpang transjakarta sih😅). Ibu itu mengatakan bangkunya kurang nyaman untuk duduk dalam waktu yang lama.

“Masih enak bangku bus lama. Khususnya bus yang suka lewat pinang ranti-pluit sama melayu-rambutan. Empuk tuh neng, gak kerasa kalau tidur lama-lama”

Karena penasaran, setelah dari Blok M tadi saya iseng jalan-jalan main ke ke Pinang ranti (menggunakan Transjakarta) untuk melihat kursi yang dimaksudkan ibu tersebut. Seperti ini bentuknya. Ada busa yang menonjol di bagian bawah dan punggung sehingga enak dan empuk untuk nyender dan tidur😆

Bus transjakarta panjang biasa yang tadi ada di rute Pluit-Pinang ranti yang saya coba. Sumber gambar google

Sumber foto pribadi

Well, bagaimana kelanjutan bus khusus wanita ini saya masih tidak tau. Yang jelas semoga yang baik dari transportasi Jakarta bisa ditingkatkan dan yang kurang bisa diperbaiki!

Dan seperti papan iklan di Halte busway Pal Putih, mari menggunakan Transportasi umum sebagai pilihan berkendara kita!

Yo! #nocrop #opencamera #canon

A post shared by mai (@memotrettt) on

Advertisements

3 comments

  1. Klo sepengetahuanku bus khusus wanita tersebut kalau jam jam siang banyak yg kosong apalagi itu bus gandeng, toh jg penumpang wanita yg mau naik pasti/kebanyakan naik bus yg datang duluan bkn nunggu bus khusus wanita, klo alasan keamanan selama ini ga pernah terjadi kerugian yg melibatkan perempuan, mungkin karena ruangnya sdh dipisah/kesadaran. Jadi menurutku bus khusus wanita tersebut kurang efektif saat ini, klo mau ada bus wanita mungkin bisa pakai bus yg biasa bukan bus yg gandeng

    Like

    1. Kalau siang memang kurang efektif. Tapi saya jarang lihat sih kalau siang. Lebih sering beroperasi di jam sibuk pagi-sore

      Biasanya kalau siang aktif banget di akhir pekan

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s