Libur lebaran = Menghabiskan tumpukan buku yang belum terbaca

Saya senang membeli buku namun bukan orang yang gemar menimbunnya. Seperti apa yang pernah saya tulis di post sebelumnya, saya selalu merasa bersalah jika sudah memiliki tumpukan buku yang belum terbaca namun saya malah membeli dan menambah tumpukan. Saya seolah bisa mendengar buku-buku yang belum terbaca itu berteriak meronta “bacalah aku!!! Buka dan hirup bau diriku!!!!”. Jadi biasanya saya selalu menghabiskan buku yang belum terbaca dulu sebelum membeli buku baru.

Tapi kegemaran tidak menimbun buku itu saya langgar ketika saya menemukan aplikasi perpustakaan digital,iJak di play store. iJak adalah perpustakaan digital dari Badan Perpustakaan Dan Arsip Daerah DKI Jakarta yang dibuat untuk menggerakan semangat membaca dimana saja. Meskipun dari pemda Jakarta, aplikasi ini bisa digunakan tidak hanya untuk warga Jakarta.

Koleksi buku yang tersedia di iJak ini lumayan banyak meski mungkin ada beberapa buku yang tersedia 1 copy/buku sehingga bila ingin meminjam harus antri. Bila tertarik, anda bisa mengunggah gratis aplikasi ini di play store, log in menggunakan Facebook/email. Cari buku yang ingin anda baca, dan pinjam secara gratis dengan waktu peminjaman 3 hari dengan batas 1 orang bisa meminjam 3 buku dalam 1 hari.

Karena saya menemukan banyak sekali buku incaran yang ingin saya baca tapi belum pernah kesampaian karena harganya yang lumayan, saya pun terus meminjam buku di iJak untuk menuntaskan rasa penasaran saya.

Akhir-akhir ini jumlah buku di perpustakaan iJak terus bertambah. Bahkan beberapa buku best seller yang baru terbit juga sudah tersedia dan di akses secara gratis disana. Ini membuat saya merasa beruntung dan bisa menghapus anggaran “belanja buku” dan mengalokasikan dana tersebut untuk hal yang lain.

Tapi ternyata mata berkata lain ketika saya menemukan promo diskon belanja buku hingga 70% di tempat belanja buku langganan😅

Akhirnya muncullah tumpukan buku yang belum terbaca di pojok kamar saya. Dan entah mengapa saya “malas” sekali untuk membacanya semenjak mengenal iJak ini.

Dulu saya selalu membawa 1 buku jika bepergian. Kebetulan saya juga paling tidak bisa bermain gawai di tempat umum. Agak sedikit parno saja takut kalau tiba-tiba di hipnotis atau di jambret. Makanya saya selalu menyibukkan diri dengan membaca buku biar tidak terlihat bengong atau diam yang mungkin bisa jadi sasaran hipnotis orang juga.

Nah, semenjak mengenal iJak ini saya jarang sekali memegang buku cetak. Waktu luang banyak saya habiskan dengan memegang gawai. Pada beberapa hal saya merasa lebih praktis. Jadi tidak perlu membawa banyak barang. Tapi membaca melalui gawai ini juga memberikan dampak negatif yang cukup merepotkan.

Kalau membaca pakai buku cetak, saya masih bisa tahu tempat. Tapi membaca melalui gawai kadang saya lakukan dimana saja bahkan sambil berjalan saking asyik dan mudahnya. Pernah beberapa kali saya sedang jalan dan membaca lalu menabrak orang dan pintu karena tidak melihat jalan. Pernah juga saya ketinggalan halte busway. Seharusnya turun di Monas tapi lanjut sampai GBK karena asyik membaca dan tidak memperhatikan sekitar.

Rasanya jadi malas sendiri membawa buku cetak bila bepergian. Tapi pembelian buku-buku cetak ini terus berlanjut walau tidak tau kapan bisa membacanya. Hasilnya? Tumpukan buku-buku tersebut memenuhi kamar saya

***

Libur lebaran sudah saya rasakan sejak beberapa hari yang lalu. Bila sedang bekerja, rasanya entah mengapa ingin sekali segera liburan. Agar bisa beristirahat di rumah tanpa keharusan bangun pagi.

Tapi setelah beberapa hari di rumah, cucian baju dan setrikaan sudah kosong, seisi rumah sudah kinclong dan siap menunggu lebaran…bingung juga mau ngapain liburan begini.

Kebetulan saya tidak mudik tahun ini. Selain itu, saya bukan tipe orang yang senang pergi ke mall. Belanja kebutuhan dan baju lebaran pun sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Jadi 2 hari terakhir setelah semua pekerjaan rumah beres ini lebih banyak saya habiskan dengan tidur😄

Sampai akhirnya tadi saya menyadari bahwa tumpukan buku cetak sudah menggunung. Akhirnya saya memutuskan untuk mengisi liburan kali ini dengan membaca buku-buku tersebut dan A Man Called Ove ini adalah buku pertama yang saya baca kali ini.

Menceritakan tentang Ove, laki-laki pendiam dan antisosial yang mungkin akan dibenci bila ia menjadi tetanggamu.

Well, saya tidak akan menceritakan dengan jelas isi buku ini tentang apa, anda bisa mencarinya sendiri. Saya hanya ingin berbagi apa yang saya dapatkan setelah membaca buku ini.

Apa yang saya dapatkan? Banyak!

Bahkan semua jenis emosi saya rasakan saat membaca kisah hidup Ove. Iri, sedih, gembira, terharu, tersindir, rindu, berharap, rindu lagi, iri lagi, berharap lagi,tertawa, menangis, iri lagi, rindu lagi.

Di bagian sampul belakang buku ini terdapat penggalan kalimat bahwa Ove mungkin bukan tipe lelaki kesukaanmu yang akan menuliskan puisi dan lagi cinta untukmu. Dan mungkin kamu tidak tertarik untuk mengenalnya.

Tapi bagaimana kalau saya katakan bahwa selama hampir 20 tahun hidup ini saya bertemu laki-laki seperti Ove terus?

Dan bagaimana bila saya katakan bahwa laki-laki seperti Ove ini adalah “tipe” saya?

Ove adalah laki-laki yang menganut prinsip kebenaran dan memegang teguh prinsip tersebut. Ia memegang kejujuran, menganut paham tidak mengadukan perbuatan orang lain dan tidak membuat keributan serta memegang teguh bahwa seseorang dinilai berdasarkan apa yang dia lakukan,bukan yang ia ucapkan.

Ia keras. Terlihat kasar dan tidak ramah. Tapi dibalik itu semua ia merupakan orang yang penyayang dan orang yang paling sangat peduli dengan orang lain. Meskipun ucapannya tidak berkata demikian. Ia juga adalah lelaki yang setia dan sangat menyayangi istrinya.

Membaca ini mengingatkan saya pada kakek saya sendiri. Pada kakek dalam film UP. Pada seseorang di masa lalu. Juga pada saya-yang sayangnya menjadi manusia yang banyak omong tapi tidak ada action.

Banyak kutipan dan juga prinsip hidup yang menampar di buku ini. Yang menarik, semuanya ditulis dalam gaya bahasa yang sedikit sarkas dan satir sehingga membuat kita tidak merasa digurui tapi sangat membekas ke dalam diri.

Ini merupakan salah satu buku terbaik yang saya temukan dan baca di tahun ini. Dan saya rasa, saya akan merekomendasikan ini ke banyak orang jika mereka bertanya buku apa yang saya sukai.

Beberapa orang mengatakan bahwa ini adalah novel romance. Tapi menurut saya ini adalah buku motivasi yang penuh sarkas. Buku ini menurut saya juga sangat dark. Apa ya, semacam, dibalik rasa cinta Ove terhadap istrinya, sebenarnya tersimpan sesuatu yang amat sangat menyedihkan.

Apanya yang menyedihkan? Well, saya rasa anda harus membacanya sendiri😉

Saya memberikan 5 bintang untuk buku ini di goodreads meski saya masih kurang sreg dengan beberapa terjemahan yang ada. Yang jelas, saya senang karena sudah berhasil mengurangi tumpukan buku yang belum saya baca dan akhirnya memiliki kesibukan untuk mengisi waktu libur lebaran ini*yeay*

Oiya, ini adalah post pertama saya dalam mengikuti #JuliNgeblog yang diadakan mbak Nita. Ini adalah post rekomendasi buku yang saya buat pertama kalinya juga😁

Semoga saya bisa konsisten menulis hal seperti ini. Dan bila anda tertarik membaca kisah hidup Ove, bisa segera dibeli di toko buku terdekat😆

Lalu, masih inginkah kau mengenal lelaki bernama Ove ini?

Advertisements

5 comments

  1. samaaaa.. ijak bikin ketagihan baca buku 😀 terus berhasil memenuhi wish list yang selama ini masuk kategori pengen baca tapi belum yakin buat beli.. Hahahah 😀

    YA ove juga salah satu buku terbaik yang Hana baca di tahun ini 😀

    Like

    1. Emang iJak bikin nagih banget. Yang sedih, sering banget nemu buku yg pernah saya beli bekas dan mahal tp ada di iJak semua. Rasanya jd kesal sendiri XD

      Like

      1. sedih karena biar bisa buat beli buku yang ngga di ijak ya? 😀 tapi menurut hana ngga rugi kok 😀 buku bagus sih worth to have 😀 kesel kalau bukunya ngga bagus 🙂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s