[Product Reviews] Bio-Oil Dry Skin Gel

Sekitar awal bulan Oktober ini saya melihat instagram stories Amanda dwi arista, salah satu mantan personel JKT48 idola saya mempromosikan produk terbaru dari Bio-Oil. Kebetulan saya sendiri sudah cocok dengan produk Bio-Oil karena sangat multifungsi dengan harga yang cukup terjangkau. Jadi saya cukup penasaran dan antusias sekali dengan produk barunya. Tidak pakai lama, sehari setelah saya lihat iklan produk tersebut, saya langsung mencari dan membeli di situs jual beli favorit saya.

Saat tulisan ini dibuat, kurang lebih saya sudah pakai produk ini sekitar 18 hari dengan pemakaian rutin setiap malam dan ternyata klaim yang dijanjikan produk ini cukup terbukti di kulit saya. Sebagai gambaran, saya memiliki masalah kulit kering dan memiliki eksim. Kalau berada di tempat dengan perubahan cuaca yang cukup ekstrem (misal dari luar ruangan lalu masuk ruang ber-AC) biasanya kerap timbul gatal. Spot di tubuh saya yang sering gatal ini adalah leher, siku, bagian belakang dengkul, pangkal paha, paha dan sekitar pergelangan kaki. Yang di sekitar pergelangan kaki saya malah cukup parah sampai jadi luka kecil lecet yang kerap kambuh jika cuacanya terlalu kering.

Sebelum mengenal produk ini, biasanya saya menggunakan toner air mawar dan body lotion untuk mengatasi masalah gatal dan kering tersebut. Sayangnya hal ini kadang tidak terlalu berhasil dan kadang lumayan PR kalau harus semprot atau oles ulang di bagian yang terasa kering.

Produk Bio-Oil dry skin gel ini dikemas dalam kemasan pot berwarna putih-oren sama seperti kemasan yang versi cair. Produk tersedia dalam berbagai ukuran dan yang saya beli adalah varian 100ml dengan harga Rp104.000,- Jika Bio-Oil cair dikemas lagi dengan kardus tambahan, produk Bio-Oil gel tidak. Komposisi dan keterangan lain dari produk ini terdapat di badan kemasan.

Satu hal yang saya sadari, ketika produk ini datang ternyata isinya tidak utuh (kondisi kemasan tersegel). Isi produknya berwarna pink cerah bening yang cukup menggoda karena memberikan kesan gemas. Pink lucu menarik mata dan sedikit mengingatkanku pada gel rambut.

Membaca kata Gel, yang ada di benak saya adalah ”produknya berarti mungkin mirip Aloe vera gel” tapi ternyata cukup berbeda jauh. Dengan warna pink seperti ini saya kira saat dipakai ke kulit akan ada efek dingin seperti aloe tapi ternyata tidak karena Bio-Oil Dry skin gel ini oil based dengan komposisi hanya 3% air. Rasa hangat langsung terasa begitu produk ini dioleskan ke kulit. Tapi bukan hangat/panas yang cenderung menganggu ya. Malah menurutku produk ini lebih ngefek untuk efek calming ketika tanganku gatel ingin menggaruk spot gatal di tubuh. Efek hangatnya ini sangat membantu menenangkan dibanding aloe vera atau lotion. Soalnya biasanya jika efek dingin dari aloe sudah hilang, gatalnya kadang muncul lagi sementara ketika aku pakai Bio-Oil dry skin gel ini, gatalnya jadi hilang.

Hal lain yang bikin aku cukup suka sama produk ini adalah: dengan pemakaian sedikiiiiittt tapi bisa melembapkan banyak area tubuh. Produk ini sedikit mengingatkanku dengan salah satu body butter buatan lokal dari Jogja yang juga memiliki formulasi yang nyaris mirip, hanya perlu setitik kecil tapi mampu bekerja luar biasa untuk melindungi kulit.

Setitik kecil itu aku dapatkan setelah trial & error pada 2 hari pakai karena aku selalu pakai kebanyakan dan malah jadi bikin badan super berminyak. Cara pakai yang akhirnya aku temukan adalah: ambil setitik kecil, ratakan di kedua telapak tangan, baru dibalurkan dan oles di spot tubuh yang terasa kering atau gatal (untuk kasusku dengan pengunaan sebagai calming gel).

Jika Bio-Oil yang versi minyak biasanya aku pakai untuk tubuh, wajah dan bibir baik di pagi atau malam, untuk Bio-Oil dry skin ini aku cuma pakai di tubuh dan wajah saja di malam hari. Aku pernah tes 2x pakai di wajah saat pagi hari tipis-tipis sebagai base makeup sama seperti yang oil tapi ternyata terlalu berat dan malam membuat produksi minyak di wajahku makin membanyak serta makeup jadi tidak set dengan baik. Sementara kalau yang versi oil dulu, aku gak pernah ada masalah kalau dipakai di pagi hari. Malah biasanya makeup-ku jadi bagus dan tahan lama. Oiya, yang versi oil juga kerap kugunakan sebagai lipbalm di malam hari juga, oles ke bibir gitu. Sejauh ini tidak ada masalah, malah bisa membantu mengangkat kulit mati di bibir.

Alasan lain aku kurang suka pakai ini di pagi hari karena produk ini menurutku perlu waktu cukup lama untuk benar-benar meresap ke kulit, jadi kalau dipakai ke wajah cocoknya dipakai di malam hari. Selain itu, kalau aku sendiri melihat ada sedikit bau essential oil yang cukup menyengat dan bertahan lama di kulit yang ketika dibaurkan dengan produk kosmetika (jika dipakai sebagai base makeup) baunya jadi ganggu. Sementara yang oil tidak memiliki bau yang seperti ini.

Dengan pemakaian yang hanya setitik, saranku untuk yang ingin mencoba lebih baik beli versi 50ml karena masa ketahanan produk ini hanya 12 bulan setelah kemasan dibuka. Takutnya kalau kamu tidak cocok, jadi tidak terlalu mubazir.

Gambar di atas adalah perbedaan dari Bio-Oil dan Aloe vera Gel. Dapat dilihat bahwa Aloe vera gel-nya memiliki tekstur gel cair sementara Bio-oil gel padat yang stay di tempat ketika dioles. Ketika produk diratakan pun Bio-Oil lumayan lama meresap ke kulit dan menimbukan efek sedikit berminyak tapi tidak terlalu menganggu juga tidak ada kesan lengket. Efek ini cukup bagus banget buat kulit, tapi tidak untuk wajah.

Jadi jika dapat dibuat kesimpulan selama penggunaan produk Bio-Oil Dry Skin Gel di kulitku adalah:

  • Produk tersedia dalam berbagai kemasan dengan harga terjangkau. Pilihan seperti ini merupakan sebuah inovasi yang sangat bagus dan menarik karena sebagai konsumen, aku jadi bisa mencoba versi kecil dulu. Harganya juga bersahabat.
  • Kemasannya menurutku cukup informatif dan bagus meski aku sedikit kontra dengan kemasan jar begini karena jadi tidak bersih. Apalagi tidak ada tambahan spatula. Buat yang memiliki masalah kebersihan, mungkin ini akan jadi pertimbangan penting.
  • Komposisi produk sangat kaya dengan kandungan Niacinamide B3, chamomile, glycerine ini sangat ok banget buat dipakai di malam hari. Bisa jadi sleeping mask yang super mantab dengan hasil kulit wajah kenyal dan lembap di pagi hari.
  • Aku pribadi kurang suka dengan baunya jika dipakai saat siang hari karena meninggalkan residu/bau membakas di pakaian yang menimbulkan kesan apek ketika aku oleskan di spot tubuhku yang sering gatal. Sementara jika dipakai di malam hari, baunya malah menenangkan dan membantu tidur dengan pulas.
  • Karena tidak terlalu efektif dipakai di pagi hari, menurutku ini menjadi nilai kurang yang cukup menganggu sebab Bio-oil yang cair itu bisa aku pakai pagi dan malam hari dan jadi salah satu produk kesayanganku.
  • Jika Bio-Oil cair lebih sering aku gunakan sebagai base makeup, penghilang bekas jerawat, dan perawatan wajah, Bio-Oil dry skin gel ini mungkin lebih fokus sebagai calming gel membantu meredakan gatal dan kulit kering di tubuhku. Tidak ada manfaat tambahan lain.

Jadi, secara keseluruhan ya memang produk ini sepertinya benar-benar cocok untuk pemilik kulit kering saja agar #NoMoreDrySkin with #BioOilDrySkinGel. Tidak terlalu memiliki manfaat lain dibandingkan Bio-Oil versi cair yang dapat digunakan sebagai perawatan wajah juga.

Meski begitu, menurutku produk ini layak untuk dicoba sebab formulanya yang kaya serta tekstur produknya yang unik ini terlalu sayang untuk dilewatkan sebab selain harganya yang bersahabat, produk ini juga bisa jadi andalan untuk kulit orang Indonesia yang biasanya memiliki keluhan kulit kering dan eksim. Jadi jika tertarik membeli, silakan mampir ke drugstore, supermarket terdekat atau di situs jual beli kesayanganmu.

Sampai bertemu di ulasan produk lainnya!

[Product Review] Oakenlab Shampoo Plein Air, Body Wash Far Afield, Deodorant Far Afield & Batavia Barber

Pada awal tahun lalu saya sempat menang Giveaway yang diadakan oleh Oakenlab berhadiah paket perawatan tubuh seperti shampo, sabun mandi serta deodoran seperti gambar di atas. Sebelum menang, sebenarnya saya sudah lebih dulu memiliki deodorant mereka tapi yang varian Batavia Barber. Saya sendiri cukup suka karena baunya enak dan klaimnya memang efektif membuat badan tetap segar saat seharian pakai.

Ketika tulisan ini saya buat, saya sudah memakai produk di atas sekitar enam bulan. Samponya sudah mau habis, begitu juga dengan deodorant yang sudah saya miliki sebelumnya. Sementara untuk sabun dan deodorant yang varian Far Afield masih cukup banyak karena saya memiliki stok lain.

Deodorant Batavia Barber & Far Afield

Dijual dengan harga Rp99.000 dengan isi sekitar 50 gram dan memiliki komposisi yang sangat ”kaya” seperti ini menurut saya adalah sebuah best deal karena produknya memang sangat bagus. Karena Oakenlab sendiri merupakan spealis produk yang segmentasinya adalah pria, bau produk yang mereka miliki mungkin bagi beberapa orang terlalu kuat sisi maskulinnya. Tapi buat saya sendiri sih tidak masalah, cocok di hidung saya karena aromanya sendiri cenderung santai. Tidak memiliki bau yang begitu mencolok atau menganggu tapi tetap terasa.

Deodorantnya berbentuk seperti krim tapi lebih tebal. Tidak terlalu kaku sehingga mudah dicolek tapi termasuk mudah sekali meleleh. Meski begitu, produk ini juga mudah untuk dibekukan lagi seperti semua. Jadi penyimpanan produk sangat perlu diperhatikan jika kamu takut kondisi atau performa produk berubah jika sudah pernah tanpa sengaja meleleh.

Dikemas dalam kemasan kaleng seperti ini menurut saya agak PR karena saya sendiri kadang kesulitan membuka tutup kalengnya karena agak licin. Tapi saya juga cukup suka dengan bentuk kemasan seperti ini, compact tidak terlalu makan tempat.

Sejauh ini, di kulit saya yang termasuk mudah berkeringat, produk ini bekerja dengan baik mampu menahan bau badan. Meski begitu, produk ini meninggalkan sedikit residu putih di kaus dalam maupun kemeja yang saya pakai. Mudah dibersihkan sih, tapi kadang agak risih saja.

SHAMPOO-NYA ENAK BANGET!!!!!!

Saya suka kemasannya. Meski dibuat dari plastik, tapi kesan yang saya dapatkan ketika memegang botol ini beda. Rasanya mewah dan ekslusif. Dengan harga Rp229.000/botol, produk ini memang terasa cukup mahal. Tapi selama 6 bulan pakai ini, saya hanya perlu pakai sedikit saja produk ini untuk rambut dengan panjang sampai telinga juga sudah cukup. Kalau dipakai untuk sendiri sih buat saya bisa termasuk hemat ya. Soalnya dengan pemakaian sedikit saja dapat menghasilkan busa yang cukup banyak. Biasanya saya keramas tiga hari sekali kalau pas pakai ini. Rambut jadi lama berminyak pas pakai. Wanginya bertahan super lama.

Yup, alasan saya sangat menyukai shampoo ini karena baunya super enak. Bikin segar, calming, tahan lama dan juga cocok di rambut. Selama saya pakai ini, rambut rontok saya berkurang dan baru berminyak setelah 3 harian. Dengan shampoo lain, biasanya rambut saya sudah berminyak di hari kedua. Kondisi saya adalah memakai jilbab dan beraktivitas naik kendaraan bermotor. Rambut saya jadi sering terperangkap dalam helm dan jilbab. Saat rutin pakai shampoo ini, rambut saya jadi cukup jarang rontok.

Meskipun saya suka dengan baunya, tapi kadang saya suka kaget sendiri juga kalau malam hari mencium baunya. Produk lain yang saya pakai itu baunya gampang hilang. Jadi saat menemukan produk yang baunya awet lumayan bikin kaget.

Bau dari sabun mandinya sendiri tidak beda jauh dengan deodorant. Ada sedikit sensasi dingin seperti pakai mint ketika pakai sabun mandi ini. Hal lain yang menarik, biasanya kulit saya jadi lembap setelah pakai. Jadi kadang saya tidak pakai body lotion lagi karena kulit sudah cukup lembap pakai sabun ini.

Berdasarkan pengalaman saya, sabun mandinya tidak terlalu berkesan banget karena jika saya pakai di pagi hari dan saya lanjut pakai body lotion tambahan, bau sabun mandinya kalah. Tapi kalau dipakai saat mandi sore, baunya cukup enak dan bisa membantu relaks agar bisa tidur nyenyak.

Harga sebotolnya sendiri adalah Rp229.000,- Karena produknya tidak terlalu berkesan, menurut saya harganya jadi cukup mahal dibanding sabun batang natural lain yang biasa saya pakai dengan harga sekitar Rp35.000/batang.

Kesimpulan dari produk Oakenlab yang saya pakai:
– Jika kamu penyuka komposisi yang tidak biasa dari produk personal care, Oakenlab bisa menjadi alternatif
– Menurut saya, harganya sebanding dengan komposisi dan performa produk yang ditawarkan
– Brand-nya sendiri cukup rutin mengadakan pameran di berbagai kegiatan bazaar, jadi bisa follow media sosial mereka untuk datang dan melihat barangnya langsung sambil minta rekomendasi produk.

Sejauh ini, saya tertarik untuk membeli lagi deodorant mereka. Enak banget. Jika kamu juga tertarik dan ingin membeli produk mereka secara online, dapat kunjungi website mereka di sini dan ikuti instagram mereka di sini.

Sampai bertemu di ulasan produk lainnya!

[Product Review] The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1%

Sekitar empat bulan yang lalu serum wajah yang biasa saya pakai habis. Kemudian saat mampir ke marketplace langganan saya, ternyata sedang ada flash sale serum The Ordinary. Kebetulan memang saya sudah ingin mencoba produk tersebut sejak lama. Maka tanpa pikir panjang lagi segera saya beli sebanyak dua botol sekalian untuk stok.

Saya tertarik mencoba produk ini karena katanya kandungan Niacinamide itu sangat bagus untuk orang yang memiliki tipe kulit berminyak. Produk ini memiliki klaim dapat meratakan warna kulit, mengurangi bekas jerawat dan mengontrol sebum.

Sebenarnya sejak dulu masalah kulit saya hanya memiliki warna yang tidak merata, mulai ada jejak keriput di jidat serta produksi komedo yang kadang cepat muncul dan menganggu di sekitar hidung.

Produk ini dapat dipakai pada pagi dan malam hari, 2-3 tetes dan tidak disarankan dipakai bersamaan dengan produk yang mengandung vitamin C. Salah satu hal yang saya suka dari produk ini adalah karena teksturnya sangat ringan dan cepat sekali meresap sehingga dapat digunakan sebagai pelembap di pagi dan hari dan ketika ditimpa dengan skincare atau makeup lain pun tidak menganggu. Malah setelah rutin pakai ini di pagi hari sebagai dasar, makeup saya malah jadi lebih tahan lama dan ada kesan matte.

Review saya untuk produk ini:

  • Untuk kemasan produk dan lainnya jangan ditanya, saya sangat suka. Minimalis tapi juga memberikan kesan mahal. Botol kemasannya pun mudah dibuka tapi tetap kokoh jadi tidak takut tumpah. Ukurannya yang 30ml juga tidak terlalu makan tempat enak kalau dibawa bepergian.
  • Saya pakai ini pada pagi dan malam hari sekitar 2 tetes untuk seluruh wajah. Hasilnya, satu botol habis dalam waktu 28 hari. Ini saya pakai setiap hari ya, sejauh ini di kulit saya aman saja tidak ada masalah.
  • Produk ini tidak berwarna, bening seperti air tapi teksturnya cenderung seperti gel. Memiliki bau khas skincare yang tidak terlalu menganggu sebab setelah diaplikasikan ke wajah cepat meresap.
  • Sejauh ini berhasil membantu mengurangi produksi komedo di hidung dan juga tidak membuat jerawat saya terlalu banyak muncul saat sedang haid.
  • Efek lain yang saya suka, kalau dipakai sebagai dasar sebelum pakai makeup, pas pakai makeup jadi bagus. Hasil makeup jadi agak matte dan nantinya glowing segar gitu meski hanya pakai cushion dan blush on.
  • Harganya saat ini cukup terjangkau, di bawah Rp150.000

Jadi apakah saya akan membeli lagi produk ini? Katanya sih hasil dari suatu skincare itu baru bisa terlihat sekitar 3 bulan pemakaian. Sepertinya saya akan membeli satu kali lagi dulu biar genap 3 botol-3 bulan untuk melihat hasilnya. Di saya sih lumayan terlihat jelas hasilnya dan harganya juga murah (untuk kantong saya).

Jika tertarik mencoba produk ini, bisa dicari di beberapa marketplace. Tapi hati-hati sebab sudah banyak beredar produk palsunya lho. Teliti sebelum membeli ya!

Oiya, kalau kemarin saya beli 1 botol The Ordinary ini sebesar Rp99.000,-. Saya penasaran ingin mencoba varian lain The Ordinary juga sih, hhe. Sampai bertemu di review berikutnya!

[REVIEW] Satu Malam di Tokyo Cubo Hostel Bandung

Dua minggu yang lalu tepatnya pada tanggal 17 dan 18 Agustus 2019 saya pergi ke Bandung dan menginap satu malam di salah satu hostel kapsul, Tokyo Cubo. Selain karena harga yang ditawarkan untuk hari libur seperti itu cukup terjangkau, lokasi hostel ini juga sangat strategis dekat ke berbagai pusat kota dan stasiun.

Halaman depan Tokyo Cubo

Berbeda dengan jalan-jalan yang lain, kali ini saya bepergian bersama salah satu teman SMA saya. Karena bepergian berdua pun, jadinya kami menyewa sepeda motor untuk mengantarkan kegiatan berkeliling Bandung. Kebetulan beberapa bulan yang lalu saya akhirnya sudah berhasil memiliki SIM dan sudah bisa mengendarai sepeda motor meski masih sering melakukan beberapa kesalahan.

Sewa sepeda motor ini kami dapatkan lima jam sebelum kami tiba di Bandung, dapat motor honda Beat yang bisa dikatakan tampilan fisiknya sangat sedikit mengenaskan ditambah rem depan tidak terlalu berfungsi dengan baik serta helm yang sangat tidak aman. Kami mendapatkan seharga Rp135.000 untuk sewa selama dua hari.

Untuk penginapannya, seperti biasa saya memesan melalui aplikasi Booking, karena saya pesan penginapan ini 8 jam sebelum tiba di Bandung, jadi saya membayar full melalui kartu kredit. Sesuai dengan namanya, hostel ini mengambil dan memiliki konsep Jejepangan. Kalau saya sendiri sih tidak terlalu merasa bahwa ini Jepang banget sih, soalnya saya sempat mengira bakal ada pemandian atau tempat mandi air panasnya gitu tapi ternyata tidak.

Begitu sampai hostel, kita langsung check-in, diminta kartu tanda pengenal dan deposit uang sebesar Rp50.000/orang yang nantinya akan dikembalikan begitu kita check-out. Setelah itu kita akan diberi kartu akses dan kunci loker dan diantar oleh petugas yang berjaga menuju kapsul tempat kita istirahat.

Kamar yang tersedia di hostel ini ada tiga yang ketiganya diberi nama dengan kota bagian di Jepang yaitu Ginza, Shinjuku dan Harajuku. Ginza merupakan ruangan khusus wanita, Shinjuku Pria sementara yang Harajuku ini saya tidak tau karena ruangannya terus ditutup dan tidak terlihat ada banyak aktivitas.

Di setiap ruangan terdiri dari sekitar 16-20 tempat tidur bertingkat atau kapsul tempat menginap, loker, tiga toilet, tiga shower room, dua wastafel. Kebetulan saya mendapat kapsul nomor 1 yang terletak di bagian bawah sementara teman saya mendapat nomor 6 yang letaknya di atas.

Setiap pengunjung yang menginap mendapatkan satu selimut dan satu handuk mandi. Dibanding kapsul hostel pertama yang pernah saya coba, ukuran kapsul di Tokyo Cubo ini lumayan cukup luas dan tidak terlalu sempit. Masih dapat bergerak leluasa dengan nyaman.

Suasana temaram dan dingin yang bikin langsung tidur pules

Fasilitas lain yang terdapat di hostel ini adalah, toilet umum yang terletak dekat hall utama, jadi kalau mau ke toilet dan malas ke ruangan kamar, bisa pakai toilet ini. Ada juga ruang ibadah dan tempat makan. Tempat makan ini sendiri juga dapat difungsikan sebagai ruang kumpul karena tersedia beberapa meja, dispenser air minum, televisi dan buku bacaan. Terdapat peraturan tidak boleh makan dan minum di ruangan tidur/area kapsul jadi kalau mau makan ya bisa di luar atau di ruang berkumpul ini.

Karena kami sampai Bandung di malam hari, dan pas paginya kami full berkeliling Bandung, kami tidak terlalu banyak memakai fasilitas yang ada kecuali kasur dan kamar mandi.

Harga menginap yang saya bayar per orang untuk satu malam di akhir pekan kemarin adalah Rp115.200 (sudah termasuk pajak dan biaya admin pesan melalui aplikasi booking). Kalau datang di hari kerja bukan akhir pekan, harga per malamnya kalau tidak salah adalah Rp90.000,-

Berikut beberapa catatan dan ulasan saya mengenai Tokyo Cubo Hostel Bandung:
– Menurut saya tidak terlalu ramah difabel karena ada beberapa ruangan memiliki tinggi yang berbeda. saya 2x kesandung karena hal ini.
– Memiliki tempat parkir sendiri tapi tidak terlalu luas dan menyatu dengan kedai kopi, kedai martabak dan tempat binatu pakaian (satu area ruko), jalanan di area parkirnya sendiri pun tidak rata.
– Tidak ada jendela di kamar(?) Menurut saya pemandangan kamarnya terlalu gelap. memang fokus buat istirahat saja tapi kadang rasanya jadi agak sepi.
– Free WiFi menjangkau seluruh area dan kecepatannya sangat stabil.
– Kamar mandi dan toilet lumayan bersih dan sangaaaaat nyaman.
– Ukuran kapsul lumayan besar tidak terlalu sempit, kasurnya empuk. Saya benar-benar tidur sangat pulas dan sebenarnya malas buat jalan-jalan lebih suka tidur wqwq
– fasilitas lainnya kurang menarik minat saya, jadi tempat ini bisa dijadikan pilihan kalau memang mau tidur.
– tidak dapat sarapan.
– Dekat ke berbagai tempat, minimarket terdekat sangat terjangkau, akses kendaraan umum juga banyak.

Ini adalah penginapan ketiga di Bandung yang sudah saya coba. Ketiganya sangat nyaman tapi tidak terlalu berkesan dengan baik dan belum bisa bikin saya pengen datang lagi kecuali kepepet wqwq.

Begitulah ulasan di #JalanJalanMai kali ini. Sampai bertemu di ulasan yang lainnya!

[Review] Satu Malam di Chez Bon Hostel Bandung

Beberapa bulan lalu akhirnya saya liburan lagi secara dadakan dan iseng ke Bandung. Karena uang saya sangat terbatas dan saya ingin kali ini bisa menjelajah beberapa sudut penting di Bandung, akhirnya saya memilih penginapan yang ada di pusat kota dan Chez Bon hostel menjadi pilihan karena selain berada di tengah kota, harga penginapan untuk semalamnya juga sangat terjangkau.

Seperti biasa, saya melakukan pemesanan penginapan melalui aplikasi Booking. Saat datang ke hostel tinggal kasih lihat email bukti pemesanan, dapat kunci, masuk kamar deh. Saya memesan tipe asrama bunk bed khusus wanita. Dalam satu kamar terdapat sekitar 10 bunk bed. Kebetulan saat itu saya dapat di bunk no 1 dekat pintu di kasur yang bawah.

Saya menginap di akhir pekan dan bukan saat liburan. Jadi pengunjung hostel tidak terlalu ramai bahkan masih ada beberapa kasur kosong. Dalam satu kamar itu tersedia satu kamar mandi, satu cermin, 10 kasur tingkat dan 10 loker untuk menyimpan barang.

Kalau tidak salah ingat, isi pengunjung di ruangan yang saya tempati ada sekitar 8 orang (termasuk saya). Ada beberapa pengunjung dari luar negeri yang sepertinya sedang melakukan liburan dan ada juga pengunjung dari salah satu stasiun televisi yang katanya sedang melakukan liputan sambil liburan di sekitar tempat penginapan.

Kebetulan saya sampai di penginapan sudah malam karena begitu sampai Bandung saya sempat jalan-jalan dulu mampir ke supermarket dan motoran keliling Bandung naik motor. Jadi pas sudah sampai penginapan, saya langsung tidur. Eh, saya sempat ke atap juga ding. Melihat pemandangan sekitar Braga.

Jadi hostel ini memiliki tinggi bangunan empat lantai. Lantai bawah itu parkiran motor, lantai dua lobi utama dan juga ruang penginapan khusus wanita. lantai tiga itu ruangan khusus pria dan lantai paling atas itu terdapat dapur, ruang solat, tempat mencuci dan juga tempat untuk nongkrong. Melihat pemandangan Bandung saat malam dan pagi hari dari atap sini lumayan seru. Dingin, hening tapi juga bising di kejauhan. Pemandangan di atap ini menurut saya adalah salah satu nilai jual lebih yang dimiliki hostel ini.

Berikut beberapa catatan dan ulasan saya selama menginap di tempat ini:

  • Penginapan ini tidak ramah difabel juga orangtua. Hanya tersedia tangga untuk mengakses ruangan ke atas dan tangganya sendiri ada beberapa yang cukup curam.
  • Free WiFi tapi tidak mengjangkau seluruh area.
  • Tersedia free service zone. Bebas jika mau masak apa saja dan ingat, cuci sendiri ya alat yang sudah dipakai.
  • Tersedia sarapan gratis berupa roti tawar dan selai juga minuman baik itu kopi atau teh.
  • Toilet yang tersedia sangat banyak. Ada toilet umum di setiap lantai dan juga toilet kamar (hanya satu) di satu ruangan. Jadi tidak perlu khawatir harus antre.
  • Pemandangan dari atap juara!
  • Letaknya sangat strategis dan juga cukup terjangkau.
  • Kasurnya cukup empuk, bersih dan tenang.

Biaya semalam saya menginap di sini adalah Rp116.000,- untuk menginap di asrama wanita. Harganya sendiri berubah terus ya tergantung hari dan kamar yang dipilih. Sejauh ini saya cukup puas menginap di sini, akses untuk keliling Bandungnya sangat mudah. Cuma saya harap sih jaringan WiFi-nya bisa menjangkau lebih luas lagi, hehe

Sampai bertemu di ulasan dan JalanJalanMai lainnya!