[REVIEW] Satu Malam di Tokyo Cubo Hostel Bandung

Dua minggu yang lalu tepatnya pada tanggal 17 dan 18 Agustus 2019 saya pergi ke Bandung dan menginap satu malam di salah satu hostel kapsul, Tokyo Cubo. Selain karena harga yang ditawarkan untuk hari libur seperti itu cukup terjangkau, lokasi hostel ini juga sangat strategis dekat ke berbagai pusat kota dan stasiun.

Halaman depan Tokyo Cubo

Berbeda dengan jalan-jalan yang lain, kali ini saya bepergian bersama salah satu teman SMA saya. Karena bepergian berdua pun, jadinya kami menyewa sepeda motor untuk mengantarkan kegiatan berkeliling Bandung. Kebetulan beberapa bulan yang lalu saya akhirnya sudah berhasil memiliki SIM dan sudah bisa mengendarai sepeda motor meski masih sering melakukan beberapa kesalahan.

Sewa sepeda motor ini kami dapatkan lima jam sebelum kami tiba di Bandung, dapat motor honda Beat yang bisa dikatakan tampilan fisiknya sangat sedikit mengenaskan ditambah rem depan tidak terlalu berfungsi dengan baik serta helm yang sangat tidak aman. Kami mendapatkan seharga Rp135.000 untuk sewa selama dua hari.

Untuk penginapannya, seperti biasa saya memesan melalui aplikasi Booking, karena saya pesan penginapan ini 8 jam sebelum tiba di Bandung, jadi saya membayar full melalui kartu kredit. Sesuai dengan namanya, hostel ini mengambil dan memiliki konsep Jejepangan. Kalau saya sendiri sih tidak terlalu merasa bahwa ini Jepang banget sih, soalnya saya sempat mengira bakal ada pemandian atau tempat mandi air panasnya gitu tapi ternyata tidak.

Begitu sampai hostel, kita langsung check-in, diminta kartu tanda pengenal dan deposit uang sebesar Rp50.000/orang yang nantinya akan dikembalikan begitu kita check-out. Setelah itu kita akan diberi kartu akses dan kunci loker dan diantar oleh petugas yang berjaga menuju kapsul tempat kita istirahat.

Kamar yang tersedia di hostel ini ada tiga yang ketiganya diberi nama dengan kota bagian di Jepang yaitu Ginza, Shinjuku dan Harajuku. Ginza merupakan ruangan khusus wanita, Shinjuku Pria sementara yang Harajuku ini saya tidak tau karena ruangannya terus ditutup dan tidak terlihat ada banyak aktivitas.

Di setiap ruangan terdiri dari sekitar 16-20 tempat tidur bertingkat atau kapsul tempat menginap, loker, tiga toilet, tiga shower room, dua wastafel. Kebetulan saya mendapat kapsul nomor 1 yang terletak di bagian bawah sementara teman saya mendapat nomor 6 yang letaknya di atas.

Setiap pengunjung yang menginap mendapatkan satu selimut dan satu handuk mandi. Dibanding kapsul hostel pertama yang pernah saya coba, ukuran kapsul di Tokyo Cubo ini lumayan cukup luas dan tidak terlalu sempit. Masih dapat bergerak leluasa dengan nyaman.

Suasana temaram dan dingin yang bikin langsung tidur pules

Fasilitas lain yang terdapat di hostel ini adalah, toilet umum yang terletak dekat hall utama, jadi kalau mau ke toilet dan malas ke ruangan kamar, bisa pakai toilet ini. Ada juga ruang ibadah dan tempat makan. Tempat makan ini sendiri juga dapat difungsikan sebagai ruang kumpul karena tersedia beberapa meja, dispenser air minum, televisi dan buku bacaan. Terdapat peraturan tidak boleh makan dan minum di ruangan tidur/area kapsul jadi kalau mau makan ya bisa di luar atau di ruang berkumpul ini.

Karena kami sampai Bandung di malam hari, dan pas paginya kami full berkeliling Bandung, kami tidak terlalu banyak memakai fasilitas yang ada kecuali kasur dan kamar mandi.

Harga menginap yang saya bayar per orang untuk satu malam di akhir pekan kemarin adalah Rp115.200 (sudah termasuk pajak dan biaya admin pesan melalui aplikasi booking). Kalau datang di hari kerja bukan akhir pekan, harga per malamnya kalau tidak salah adalah Rp90.000,-

Berikut beberapa catatan dan ulasan saya mengenai Tokyo Cubo Hostel Bandung:
– Menurut saya tidak terlalu ramah difabel karena ada beberapa ruangan memiliki tinggi yang berbeda. saya 2x kesandung karena hal ini.
– Memiliki tempat parkir sendiri tapi tidak terlalu luas dan menyatu dengan kedai kopi, kedai martabak dan tempat binatu pakaian (satu area ruko), jalanan di area parkirnya sendiri pun tidak rata.
– Tidak ada jendela di kamar(?) Menurut saya pemandangan kamarnya terlalu gelap. memang fokus buat istirahat saja tapi kadang rasanya jadi agak sepi.
– Free WiFi menjangkau seluruh area dan kecepatannya sangat stabil.
– Kamar mandi dan toilet lumayan bersih dan sangaaaaat nyaman.
– Ukuran kapsul lumayan besar tidak terlalu sempit, kasurnya empuk. Saya benar-benar tidur sangat pulas dan sebenarnya malas buat jalan-jalan lebih suka tidur wqwq
– fasilitas lainnya kurang menarik minat saya, jadi tempat ini bisa dijadikan pilihan kalau memang mau tidur.
– tidak dapat sarapan.
– Dekat ke berbagai tempat, minimarket terdekat sangat terjangkau, akses kendaraan umum juga banyak.

Ini adalah penginapan ketiga di Bandung yang sudah saya coba. Ketiganya sangat nyaman tapi tidak terlalu berkesan dengan baik dan belum bisa bikin saya pengen datang lagi kecuali kepepet wqwq.

Begitulah ulasan di #JalanJalanMai kali ini. Sampai bertemu di ulasan yang lainnya!

Advertisements

[Review] Satu Malam di Chez Bon Hostel Bandung

Beberapa bulan lalu akhirnya saya liburan lagi secara dadakan dan iseng ke Bandung. Karena uang saya sangat terbatas dan saya ingin kali ini bisa menjelajah beberapa sudut penting di Bandung, akhirnya saya memilih penginapan yang ada di pusat kota dan Chez Bon hostel menjadi pilihan karena selain berada di tengah kota, harga penginapan untuk semalamnya juga sangat terjangkau.

Seperti biasa, saya melakukan pemesanan penginapan melalui aplikasi Booking. Saat datang ke hostel tinggal kasih lihat email bukti pemesanan, dapat kunci, masuk kamar deh. Saya memesan tipe asrama bunk bed khusus wanita. Dalam satu kamar terdapat sekitar 10 bunk bed. Kebetulan saat itu saya dapat di bunk no 1 dekat pintu di kasur yang bawah.

Saya menginap di akhir pekan dan bukan saat liburan. Jadi pengunjung hostel tidak terlalu ramai bahkan masih ada beberapa kasur kosong. Dalam satu kamar itu tersedia satu kamar mandi, satu cermin, 10 kasur tingkat dan 10 loker untuk menyimpan barang.

Kalau tidak salah ingat, isi pengunjung di ruangan yang saya tempati ada sekitar 8 orang (termasuk saya). Ada beberapa pengunjung dari luar negeri yang sepertinya sedang melakukan liburan dan ada juga pengunjung dari salah satu stasiun televisi yang katanya sedang melakukan liputan sambil liburan di sekitar tempat penginapan.

Kebetulan saya sampai di penginapan sudah malam karena begitu sampai Bandung saya sempat jalan-jalan dulu mampir ke supermarket dan motoran keliling Bandung naik motor. Jadi pas sudah sampai penginapan, saya langsung tidur. Eh, saya sempat ke atap juga ding. Melihat pemandangan sekitar Braga.

Jadi hostel ini memiliki tinggi bangunan empat lantai. Lantai bawah itu parkiran motor, lantai dua lobi utama dan juga ruang penginapan khusus wanita. lantai tiga itu ruangan khusus pria dan lantai paling atas itu terdapat dapur, ruang solat, tempat mencuci dan juga tempat untuk nongkrong. Melihat pemandangan Bandung saat malam dan pagi hari dari atap sini lumayan seru. Dingin, hening tapi juga bising di kejauhan. Pemandangan di atap ini menurut saya adalah salah satu nilai jual lebih yang dimiliki hostel ini.

Berikut beberapa catatan dan ulasan saya selama menginap di tempat ini:

  • Penginapan ini tidak ramah difabel juga orangtua. Hanya tersedia tangga untuk mengakses ruangan ke atas dan tangganya sendiri ada beberapa yang cukup curam.
  • Free WiFi tapi tidak mengjangkau seluruh area.
  • Tersedia free service zone. Bebas jika mau masak apa saja dan ingat, cuci sendiri ya alat yang sudah dipakai.
  • Tersedia sarapan gratis berupa roti tawar dan selai juga minuman baik itu kopi atau teh.
  • Toilet yang tersedia sangat banyak. Ada toilet umum di setiap lantai dan juga toilet kamar (hanya satu) di satu ruangan. Jadi tidak perlu khawatir harus antre.
  • Pemandangan dari atap juara!
  • Letaknya sangat strategis dan juga cukup terjangkau.
  • Kasurnya cukup empuk, bersih dan tenang.

Biaya semalam saya menginap di sini adalah Rp116.000,- untuk menginap di asrama wanita. Harganya sendiri berubah terus ya tergantung hari dan kamar yang dipilih. Sejauh ini saya cukup puas menginap di sini, akses untuk keliling Bandungnya sangat mudah. Cuma saya harap sih jaringan WiFi-nya bisa menjangkau lebih luas lagi, hehe

Sampai bertemu di ulasan dan JalanJalanMai lainnya!

[Product Review] Kiehl’s Mask

Jadi sudah sekitar empat bulan terakhir ini saya mencoba masker wajah dari Kiehl’s. Waktu itu tiba-tiba saja saya mendapat iklan produk mereka di aplikasi media sosial, trus saya jadi penasaran dan karena mereka punya mini size untuk tiap produknya, jadi saya mulai coba beli dulu deh. Soalnya harga untuk kemasan full jar lumayan mahal.

Saya langsung beli semua varian masker yang mereka punya. Belinya di Shopee di berbagai toko yang berbeda. Untuk produk mini size seperti ini harga yang dijual beragam ya. Waktu saya beli sekitar empat bulan lalu sih saya masih menemukan harga termurah Rp45.000,- tapi pas tak cek pagi tadi, harga masker termurah yang saya temukan itu Rp60.000,-

Jadi jika kamu tertarik untuk membeli mini size mask seperti saya juga, silakan mencari sendiri di tokopedia, bukalapak atau shopee dan sortir dari harga yang termurah. Oiya, saya belinya pas shopee punya promo free ongkir tanpa minimal belanja dulu. Jadi bisa beli banyak produk dari banyak toko tanpa minimal belanja tertentu, hhe.

  1. Kiehl’s Turmeric & Cranberry Seed Energizing Radiance

Ini adalah varian masker Kiehl’s pertama yang saya coba dan masker berbahan dasar Turmeric kedua yang saya coba. Varian Turmeric pertama yang saya coba itu buatan lokal dari Evete Naturals.

Masker turmeric dari kiehl’s ini sesuai warna kemasannya ya. Karena kemasannya berwarna oranye, isi produk ini juga berwarna oranye yang berasal dari turmeric dan juga ada kandungan biji cranberry yang bisa digunakan juga sebagai scrub wajah. Biji cranberry-nya sendiri tidak terlalu besar jadi gak sakit pas dipakai buat scrub.

Review varian Turmeric:

  • Memiliki wangi yang sangaaaaaattt segar. Saya suka sekali sama wanginya, bikin tenang dan semangat.
  • Warna oranye-nya tidak membekas di kuku atau jari. Cepat hilang dan mudah dibersihkan.
  • Maskernya sendiri memiliki tekstur yang pas tidak terlalu cair atau padat sehingga gampang dicolek (saya tidak pakai spatula atau kuas)
  • Saat dipakai ke wajah, masker cepat kering. Gak bikin wajah saya perih atau panas.
  • Efek mencerahkan dan membuat wajah lebih bersinar benar terbukti di wajah. Saya biasa pakai masker ini kalau mau bepergian. Membantu banget meningkatkan sedikit tone wajah saya.
  • Bisa membantu mengempeskan dan menghilangkan bekas jerawat.
  • Apakah saya tertarik membeli lagi? Ya!

2. Kiehl’s Ginger Leaf & Hibiscus Firming Mask

Ini varian masker kedua dari Kiehl’s yang saya coba dan ternyata ini tuh semacam sleeping mask gitu. Hal pertama yang saya sadari begitu produk ini tiba adalah wanginya. Bikin tenang dan langsung bikin ngantuk gitu wqwq. Warna produknya sendiri sama seperti kemasannya ya, agak ungu.

Hal kedua yang saya sadari dari produk ini adalah tekstur produknya. SUPER THICK & VELVETTTT!!! Seumur-umur pakai produk kosmetika gini belum pernah sih saya nemu produk yang tekturnya super padat gini. Kamu colek sedikit aja bisa buat seluruh wajah lho!

Review varian Ginger leaf

  • Bau ginger-nya lumayan terasa. Buat beberapa orang mungkin agak kurang suka bauya, tapi saya sendiri gak masalah malah bikin tenang dan ngantuk.
  • Teksturnya juara. Super padat, super melembapkan dan kamu pakai sedikiiit aja bisa buat seluruh wajah.
  • Masker ini seperti sleeping mask ya, jadi dipakai di malam hari trus dipakai buat tidur, baru dibilas besok paginya.
  • Varian sleeping mask lain yang pernah saya coba itu ada dari Viva dan Laneige tapi saya lebih suka sama masker ini. JUARA!
  • Tidak meninggalkan noda residu di bantal, produk benar-benar menyerap ke wajah dengan baik.
  • Begitu bangun, kulit wajah saya selalu terasa halus, kenyal, bersih, dan pas pakai makeup jadi lebih bagus.
  • Wanginya membantu saya buat bisa cepat tidur.
  • Apakah saya berniat beli lagi? Ya!

3. Kiehl’s Calendula & Aloe Soothing Hydration Mask

Varian ketiga yang saya coba dan katanya ini tuh best seller banyak yang pakai dengan toner calendula-nya. Warna produk ini juga kuning sama seperti kemasannya dan sampai ulasan ini saya buat, saya malah kurang suka sama yang varian ini. Entah kenapa tidak memiliki efek yang cukup terlihat di wajah saya.

Review varian Calendula

  • Teksturnya berbentuk gel. Varian ini termasuk yang jarang saya pakai tapi entah kenapa malah jadi yang pertama habis.
  • Memiliki klaim dapat merevitalisasi dan menghaluskan tekstur kulit tapi saya tidak merasakan hal tersebut.
  • Cepat menyerap dan mudah dibersihkan.
  • Cocok dipakai kalau habis pakai masker yang sifatnya keras. Kandungan aloe vera bisa membantu mendinginkan kulit.
  • Sebelum pakai, biasanya tak taruh kulkas dulu biar pas pakai ada sensasi dinginnya.
  • Apakah tertarik beli lagi? Tidak.

4. Kiehl’s Cilantro & Orange Extract Pollutant Defending Mask

Ini pertama kalinya saya pakai masker dengan tekstur kayak balsem gini. Hal pertama yang saya sadari begitu saya buka dan coba produk ini adalah: wanginya kayak obat banget hhh. Wanginya kurang enak tapi klaim dan efek ke wajahnya beneran kerasa ya.

Seperti namanya yang memiliki klaim anti pollutant, masker ini sangat cocok dipakai untuk kamu yang mungkin sering motoran, beraktivitas di luar ruangan, kena matahari dan debu. Ini termasuk masker yang bisa dipakai sambil tidur juga dan baru dibilas keesokan harinya ya.

Review varian Cilantro

  • Teksturnya seperti balsam tapi agak cair dan berminyak.
  • Wanginya sangat tidak enak dan lengket.
  • Agak bikin perih dan panas cekit-cekit di wajah tapi tidak bertahan lama.
  • Tidak menyerap ke wajah jadi meninggalkan sisa residu di bantal kalau dibawa sambil tidur.
  • Mudah dibersihkan dan dibilas.
  • EFEK MENCERAHKAN, MEMBERSIHKANNYA BENAR TERBUKTI!!
  • Saya selalu pakai kalau habis terjebak macet atau capek gitu. Setelah pakai, wajah jadi bersih, jarang komedo dan jerawatan meski motoran terus menerus.
  • Apakah tertarik beli lagi? Ya!

5. Kiehl’s Rare Earth Deep Pore Cleansing Mask

Varian Kiehl’s terakhir yang saya coba. Sudah banyak ya clay mask yang saya coba jadi saya gak terlalu berharap banyak sama Kiehl’s ini karena saya pikir ya pasti rasanya sama saja. Eh ternyata beda lho dan saya cukup suka sama varian ini.

Review varian Rare earth:

  • Tekstur claynya sangat haluuuuuuuussssss banget. Sedikit agak kental tapi masih mudah untuk dicolek.
  • Cepat kering dan gampang dibilas.
  • Tidak bikin wajah saya panas atau perih.
  • Wangi clay-nya kerasa bahkan meski sudah 4 bulanan pakai, di beberapa sudut maskernya masih ada sensasi panas khas clay.
  • Sangat membantu mengurangi produksi minyak di wajah dan membersihkan bekas jerawat.
  • Apakah tertarik beli lagi? Tidak.

Sejauh ini yang paling jadi favorit banget sih yang varian Cilantro (hijau) dan Ginger leaf (ungu). Kedua varian itu pasti saya pakai seminggu sekali sementara yang lain kalau lagi inget aja. Oiya, masker-masker di atas bisa dipakai secara multi mask juga lho. Jadi dicampur dan dipakai di area wajah tertentu saja tidak full harus pakai satu masker untuk satu wajah. Karena pada dasarnya kan penggunaan dan formula setiap masker itu disesuaikan untuk kebutuhan kulit.

Sejauh ini saya cukup suka dan lumayan jadi tertarik untuk mencoba produk Kiehls’s yang lainnya juga tapi ya masih cari uangnya dulu sih soalnya harga produk Kiehl’s lumayan wqwq. Oiya, untuk 5 masker itu total biaya yang saya keluarkan sekitar Rp230.000 sudah termasuk ongkir beli di 4 lapak di shopee yang berbeda saat sedang ada promo free ongkir tanpa nominal belanja ya. Kalau kamu berniat membeli juga, rajin-rajin membandingkan harga dan tunggu saat sedang promo free ongkir biar lebih murah.

Sampai bertemu di ulasan produk lainnya!

#2018

Halo!

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis xD

Sebenarnya karena terlalu banyak alasan sih wqwq. Setiap membuka komputer pasti sibuk dengan banyak urusan lain dan jadi mengabaikan kegiatan menulis di blog ini. Padahal ada banyak sekali ulasan barang yang ingin saya tulis.

2018 tersisa beberapa hari lagi dan karena saya pikir untuk beberapa hari ke depan saya tidak akan memiliki waktu seluang sekarang, jadi mending saya tulis sekarang, hhe.

2018 sejauh ini menyenangkan. Saya akhirnya kuliah setelah sempat menunda sekitar tiga tahun. Salah satu sahabat terbaik saya menikah di usia 21 dan sahabat lain resmi menyandang gelar sarjana ekonomi pada 18 Desember lalu. Tiga sahabat lain yang kebetulan kenal dari internet juga baru wisuda beberapa bulan yang lalu. Rasanya senang sekaligus sedikit khawatir, ketika wisuda saya nanti tiba, berapa ya usia saya, hhhh

Kuliah sejauh ini menyenangkan meski beberapa kali ada efek yang cukup terasa ke tubuh. Saya mulai terbiasa berkutat dengan beberapa situs yang menyediakan bacaan jurnal online, mengatur waktu dan memastikan untuk teliti tidak salah mengumpulkan tugas, juga membagi cara belajar saat saya baru sadar kalau ada satu hari di mana saya mengambil empat mata kuliah yang semuanya tiga sks. Modyar.

Sejauh ini pekerjaan juga berjalan menyenangkan. Bos saya melebarkan jenis usaha baru dan saya ikut membantu. Beberapa kali sempat terlibat konflik dan juga belajar membuat iklan kecil-kecilan juga. Sudah empat tahun saya ikut bos saya bekerja. Kira-kira akan bertahan sampai kapan ya?

Keuangan saya tahun ini kacau. Beberapa kali beli banyak barang yang tidak penting. Tahun ini baru mulai hidup dengan gerakan zero waste dan ingin galak hidup minimalisma. Yang jelas, jumlah uang belanja barang tidak penting saya tahun ini jauh lebih banyak hampir 70% dari tabungan saya, hhhhh.

Tahun ini saya akhirnya pulang ke Yogya. Bertemu beberapa saudara, ziarah ke makam kakek, bermain ke laut dan juga pergi melihat kuda nil. Rencananya sisa enam hari terakhir di 2018 ini juga ingin saya habiskan untuk liburan. Tapi sayang terhalang biaya dan juga jadwal kuliah, tidak libur.

Tahun ini jumlah bacaan saya masih seputar komik dan buku puisi saja. Jumlah novel yang saya baca sepertinya hanya empat, biografi hanya dua dan kumpulan cerita pendek ada enam. Sisanya komik. Tapi tahun ini saya cukup berhasil galak pada diri sendiri untuk riset dan membaca buku-buku kuliah. Beberapa memang banyak yang membosankan wqwq. Tapi ya namanya sekolah kan ya?

Tahun ini saya juga banyak menonton film, sekitar 150an. Beberapa saya tonton karena saya berlangganan Netflix. Sisanya menonton secara ilegal di situs khusus film Jepang. Tidak banyak film yang meninggalkan kesan yang cukup baik tapi tahun ini saya berhasil untuk menonton bukan hanya film Asia.

Tahun ini saya juga beberapa kali pergi menonton ke bioskop. Rasanya senang. Beberapa yang saya tonton sih film Indonesia atau film aksi bersama adik.

Iya, akhir-akhir ini saya jadi sering menghabiskan waktu bersama adik saya entah itu untuk menonton film di bioskop bersama, sekadar keliling tengah malam cari angin atau sambil maskeran di kamar berdua dan menonton kanal youtube. Hubungan saya dengan ibu juga lumayan, meski sempat tiga kali salah paham dan cekcok.

Tahun ini ada tiga anggota keluarga besar saya yang berpulang dan ada dua kelahiran bayi laki-laki. Rumah saya akhirnya ramai. Saya senang sekali dengan kehadiran bayi-bayi tersebut meski kadang kalau mereka agak demam dan nangis semalaman tidak bisa tidur, saya ikutan pusing dan rasanya sebal tak karuan wqwq. Kehadiran bayi-bayi itu membuat saya bersemangat.

Tahun ini oshi (member yang disukai) JKT48 saya lulus dan sudah tidak lagi jadi anggota JKT48, Lidya Maulida. Saya sempat menonton acara teater terakhirnya dan entah kenapa kurang berkesan wqwq. Masih lebih berkesan dari Ghaida tiga tahun lalu. Dan oshi baru saya, Cindy Yuvia menempati posisi pertama pada pemilihan member favorit JKT48 gitu. Rasanya senang melihat anggota JKT48 kesukaan saya semuanya berkembang. Mereka hebat, saya akan menyusul mereka.

Tahun ini saya akhirnya bertemu juga dengan beberapa kenalan yang dulu berkenalan dari twitter. Kebanyakan pria. Semuanya menyenangkan, baik. Saya senang masih diberi kesempatan untuk berkenalan dengan mereka.

Tahun ini, saya beberapa kali gagal mengikuti lomba dan giveaway baik acara resmi atau untuk hadiah hiburan. Seingat saya hanya menang dua kali saja padahal tahun-tahun sebelumnya lumayan sering menang. Tahun ini saya juga dua kali mengalami kehilangan, handphone saat di kereta dan uang dengan nominal yang lumayan yang rencananya mau saya pakai untuk bayar kuliah. Kalau diingat rasanya masih suka sesak hhhh.

Tahun ini saya akhirnya memakai kacamata. Ketika tulisan ini saya buat, saya baru pakai sekitar tiga bulan. Rasanya sungguh wow. Dunia terasa lebih jelas dan indah. Tahun ini saya juga mencoba merokok. Masih belum terlalu kecanduan sih, tapi yang jelas kalau sedang stress, kadang saya langsung berlari ke rokok. Entahlah, padahal dulu paling anti sama merokok wqwq.

Tahun ini saya genap berusia 22 tahun. Sudah enam bulan pertama di usia 22 telah dilalui dan sejauh ini saya cukup puas meskipun saya masih sering mengecewakan orang lain. Masih belum bisa untuk menjaga sebuah amanat. Masih sering malas dan boros. Masih sering tidak peduli pada dunia sekitar. Masih terlalu fokus pada diri sendiri.

Tahun ini saya genap berusia 22 tahun, kalau sedang istirahat makan siang atau saat tengah malam setelah pulang kuliah, saya masih sering menatap hampa pada langit-langit dan memikirkan apa yang sedang saya lakukan dalam hidup ini. Apakah sudah benar? Mau jadi apa? Trus nanti ngapain? Dan banyak pertanyaan tidak jelas lainnya yang selalu muncul di kepala.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa saya jawab. Dan jika sambil mengingat bahwa kini saya sudah berusia 22, kadang rasanya malah makin membuat perih dan takut.

Apakah semua akan baik-baik saja?

Saya rasa untuk tau jawabannya adalah dengan terus melangkah. Daripada dipenuhi dengan rasa takut, lebih baik hadapi dan sambut. Ketidakpastian memang menyebalkan. Tetapi barangkali itu yang diperlukan dalam hidup.

Untuk beberapa yang pergi dan beberapa yang masih mau tetap tinggal, untuk beberapa yang sudah mau meluangkan banyak waktu untuk mendengarkan, untuk beberapa yang sering saya repotkan dan tanpa sadar sering saya sakiti, terima kasih sudah mau meluangkan waktunya untuk saya.

Terima kasih #2018

Tahun depan, ayo jadi lebih baik lagi.

Sebuah Tujuan

Processed with VSCO with p5 preset

Saya lahir dan sempat tinggal di Yogja sampai usia 4 tahun sebelum akhirnya pindah ke Semarang dan menetap di Jakarta hingga kini. Pindah tempat tinggal terjadi karena ibu dan ayah saya bercerai, lalu ibu mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru di sebuah MTS (SMP) di Semarang. Ketika akhirnya adik saya mulai tumbuh besar, ibu menyadari bahwa beliau tidak bisa hidup bertiga terus (saya, ibu dan adik) hingga akhirnya ibu memutuskan untuk kembali tinggal bersama nenek di Jakarta hingga saat ini.

Meskipun singkat dan kala itu saya masih kecil, tapi ada beberapa kenangan cukup manis yang lumayan membekas dalam ingatan saya tentang Yogja. Saya ingat dulu beberapa kali sering melihat ibu menangis tiap malam karena tidak bisa menghasilkan ASI untuk saya konsumsi dan juga karena stress mengurus tugas akhir kuliah, saya ingat dulu saya sering menghabiskan waktu di kebun binatang Gembira loka bersama ayah sambil menunggu ibu selesai kuliah.

Kebanyakan sih kenangan bersama ayah. Dan pada awal perpisahan ibu-ayah dulu, ibu sempat mencoba menghilangkan ingatan saya tentang ayah. Usaha ibu tidak berhasil sih. Tapi toh ingatan-ingatan itu akhirnya perlahan pudar juga diganti dengan banyak hal-hal lain yang jauh lebih menyenangkan. Tapi ada satu hal yang masih saya ingat. Dulu ayah saya pernah berjanji ingin merayakan ulang tahun saya saat sudah berusia 20 tahun di kebun binatang gembira loka. Makan donat bersama seperti saat saya ulang tahun ke-3 dulu.

Usia 20 sudah terlewat 2 tahun. Janji ayah saya tidak pernah terjadi. Dan pada 17 Agustus kemarin, 2 bulan pertama di usia 22 tahun, saya akhirnya berkunjung kembali ke Gembira loka setelah hampir 13 tahun tidak kesana.

***

Sejujurnya saya sendiri tidak tau apa tujuan pasti saya pergi kesana. Nostalgia? Mengunjungi tempat masa kecil? Liburan? Wisata? Entahlah. Saya sendiri sebenarnya ragu kalau ayah saya masih mengingat atau bahkan menganggap penting janjinya dulu. Tapi yang jelas ketika saya sampai di Gembira loka, berbagai macam perasaan langsung muncul di dada.

Saya berhasil mengelilingi Gembira loka dalam waktu singkat. Tempatnya sangat nyaman dan ramah untuk pejalan kaki. Beberapa kali saya berpapasan dengan rombongan keluarga kecil juga yang mau tak mau membuat saya tersenyum haru dan merasa sedikit tersentil. Suatu hari nanti mereka mungkin akan lupa atau bahkan sangat mengingat kenangan hari ini seperti saya kini,hhe

IMG_20180817_101604

Selesai keliling, saya ingat bahwa saya cukup lama berhenti di depan Gua kuda nil dan juga kandang kuda nil. Dua area ini dulu cukup favorit karena tempatnya rindang dan sangat oke buat makan bekal atau sekedar duduk. Tiga menit pertama berada di sana, saya awalnya merasa senang, terharu dan hasssshhh jadi sensitif mau nangis sendiri gitulah wqwq (nggak sampai nangis kok!)

Ada banyak tempat yang berubah menjadi lebih baik. Ada beberapa tempat yang tidak berubah sama sekali dan bahkan masih mampu membangkitkan kembali ingatan masa kecil saya saat pernah berada di sana. Ada juga beberapa tempat yang terasa asing, tetapi perasaan hangat di dada saat berada di sana masih sama. Meski sendiri, tapi ingatan akan keceriaan dan kehangatan saat berkunjung bersama ayah dan ibu dulu masih samar terasa di dada.

Tapi semakin lama saya ada di sana, mendadak saya malah jadi marah, sedih dan seperti kebingungan.

Tiba-tiba saya jadi marah pada ayah. Marah pada keluarga saya karena telah bercerai.

Tiba-tiba saya jadi sedih. Sedih karena masa bahagia itu tidak bisa terulang kembali. Sedih tanpa alasan.

Tiba-tiba saya menjadi bingung.

Saya itu ngapain kesini?

Apa kegunaan dari nostalgia ini?

Lalu setelah datang kesini kamu mau ngapain lagi?

Tiba-tiba saya menjadi kebingungan karena saya seperti tidak memiliki sebuah tujuan. Pada awal perjalanan saya sempat berpikir bahwa kepergian saya ke Yogya ini adalah sebuah kepulangan. Tapi saat saya terus menatap mulut goa kuda nil yang terus terbuka, saya akhirnya menyadari bahwa di sini pun sebenarnya bukan tempat saya.

Ini bukan sebuah perjalanan pulang.

IMG_20180817_093130

Sisa kunjungan saya ke Yogya saya berjalan dengan cukup baik. Saya pergi berkunjung ke dua pantai, mampir makan dan belanja di beberapa tempat, juga bertemu dengan beberapa kenalan yang awalnya kenalan dari dunia maya. Ada tiga kenalan yang saya temui. Ketiganya kenal dari twitter. Satu orang kenal karena berbagi referensi buku (2015), satu karena referensi komik dan idol (2016), satu lagi karena referensi film (2017).

Pertemuan kami bertiga sangat menyenangkan. Ada yang langsung akrab dan main ngajak pergi dan kemudian diakhiri dengan pelukan erat yang cukup lama saat akan berpisah, ada yang penuh tabrakan karena ternyata sama-sama memiliki kelebihan energi dan semangat, juga ada yang berjalan dengan awkward penuh rasa malu dan canggung.

Tetapi yang jelas, tiga pertemuan itu cukup membuka pikiran saya akan banyak hal. Tanpa sadar, saya bisa survive selama empat tahun terakhir ini ya karena kenal mereka. Karena berbagi dan cerita akan banyak hal meski belum pernah bertemu sama sekali.

Hampir semingu berlalu sejak hari itu. 5 jam setelah sampai Jakarta kemarin saya juga langsung bekerja karena banyak tumpukan berkas yang harus diurus. Tapi sampai tulisan ini saya buat, rasanya saya masih mengambang dan nyawa saya belum pulih.

Pikiran saya masih tertinggal di Yogya meski sebenarnya pas di sana kemarin saya nggak ngapa-ngapain juga wqwq.

Tapi rasanya ada yang hilang.

Ada yang janggal.

Masih ada sebuah kebingungan tentang kunjungan singkat saya ke Yogya kemarin.

Sebuah tujuan. Sebuah pertanyaan.

Tetapi ah, barangkali memang tidak semua perjalanan harus memiliki arti dan sebuah tujuan (setidaknya untuk saat ini?)

Mungkin yang kita perlukan memang hanya terus berjalan. Sesekali menoleh ke belakang tak masalah, tapi tidak perlu merutuki atau menyesali apa yang sudah terjadi saat itu. Apa yang telah terjadi ”di sana”, tanpa sadar telah berhasil membuat kakimu kuat untuk terus berjalan sejauh ini.

Jadi terus berjalan saja.

Barangkali kalau saya terus berjalan berapa puluh ribu langkah lagi, saya baru akan menemukan jawaban dan tujuan dari semua ini.

Mungkin saja bukan?

IMG_20180821_130505_335

Terima kasih kepada yang telah singgah dan bersedia meluangkan waktu untuk bercengkrama atau sekedar salim singkat sebelum berpisah lagi.

Mari, lanjut berjalan lagi.