[Product Review] Hatomugi Skin Conditioner

IMG_20180219_163135

Beberapa waktu terakhir saya sedang rajin menggunaka air mawar sebagai toner dan face mist. Selain karena lebih murah dan praktis, saya membelinya sekalian satu paket dengan beberapa masker organik yang kebetulan akhir – akhir ini sedang rajin saya coba pakai juga.

Sebulan terakhir ini stok air mawar tersebut habis sementara maskernya masih banyak dan karena malas kalau hanya membeli air mawar saja, akhirnya saya mencari alternatif lain produk yang bisa dijadikan sebagai toner. Mulanya saya mau kembali ke Viva tapi rasanya malas. Jadilah pas iseng mampir ke Guardian beberapa waktu lalu dan menemukan produk Hatomugi, saya langsung beli tanpa pikir panjang.

20180220_115925-COLLAGE

Ini produk pertama yang saya tau ya dari merk Hatomugi. Jenis Skin Conditioner sendiri juga baru saya dengar. Produk Hatomugi dikemas dalam botol plastik yang cukup kokoh dan lumayan besar dengan tutup botol dan desain kemasan berwarna ungu. Dengan berat total produk sebesar 500ml, Hatomugi dijual dengan harga Rp97.000/kemasan (harga berbeda tergantung lokasi beli dan diskon yang sedang berlangsung.)

Saya tertarik membeli ini karena isinya banyak dan harganya cukup murah. Pas saya beli sedang diskon jadi Rp80.000,- selain itu saya penasaran dengan kata – kata ”skin conditioner” ini. Penasaran, gunanya tuh buat apa sih?

Pada badan belakang kemasan ada penjelasan singkat tentang cara pakai dan kegunaan produk yang tertulis dalam bahasa indonesia. Sayangnya, kalau kemasan plastik kita buka, tulisan bahasa indonesia itu hilang dan tersisa tulisan Jepang saja.

20180220_115946-COLLAGE

Jadi menurut tulisan di badan botol tersebut, Hatomugi skin conditioner adalah cairan pelembab yang…saya sendiri bingung ini kategorinya air atau lotion. Soalnya produk ini cair seperti air tapi di badan botol tertulis lotion yang terbuat dari ekstrak tumbuhan Hatomugi atau Coix seed atau tanaman Jali – jali. Saya sendiri tidak tahu ya rupa dan bentuk tanaman ini seperti apa, tapi berdasarkan pencarian yang saya temukan di beberapa web yang menjual dan mengulas produk ini, tanaman hatomugi ini memang cukup populer dan dipakai di beberapa produk perawatan kulit di Jepang karena memiliki khasiat untuk mencegah jerawat, menghilangkan noda hitam dan mencegah penuaan pada kulit.

IMG_20180219_163438

Yang saya suka: produk ini cair seperti air, tidak lengket, tidak memiliki bau dan tidak menggunakan pewarna tambahan serta tidak membuat wajah panas atau kalau kena mata juga tidak perih. Pas pakai rasanya seperti cuci muka tapi kelembapan dan kesegaran di wajah lebih terasa dan lebih awet daripada pakai air biasa. Bisa dikatakan, ini mungkin seperti aloe vera tapi versi airnya kali ya.

Produk ini multifungsi. Bisa digunakan sebagai toner, face mist, tambahan masker atau malah sebagai masker sendiri juga bisa. Produk juga bisa dipakai ke badan dan kadang saya pakai untuk daerah sekitar dada dan leher. Kalau untuk masker, produk ini tinggal dituang ke kapas trus kapasnya tempel di wajah, diamkan sampai kapas kering. Nanti hasilnya segar sama kayak pakai sheet mask gitu, enak banget.

Ketika ulasan ini dibuat, saya sudah memakai produk ini hampir sebulan dan hasilnya super memuaskan. Saya pakai ini sebagai toner tiap pagi dan malam dan saya pakai tiap selesai solat juga. Jadi karena produk ini ukurannya besar, saya tuang produk ke spray bekas dan saya bawa ke kantor. Tiap selesai wudhu gitu kan kadang wajah jadi kering, nah tinggal saya semprot pakai ini deh. Wajah jadi segar, kenyal dan lembab lagi.

20180220_115905-COLLAGE

Sayangnya produk ini tidak memiliki kelebihan lain selain untuk melembapkan kulit. Jadi gak bisa bikin wajah cerah gitu. Murni sebagai toner saja. Tapi di kulit saya sendiri cukup membantu mengurangi minyak pada wajah dan menyamarkan noda hitam. Jadi seandainya kamu mencari produk toner sekaligus pencerah, Hatomugi ini tidak cocok untuk dicoba tapi jika kamu mencari toner yang murah dan berukuran besar serta ingin melembapkan wajah, maka Hatomugi ini mungkin bisa kamu lirik.

Saya tertarik untuk beli lagi sih kalau produk ini habis. Lumayan irit dan bikin segar wajah soalnya. Dan produk berbahan dasar air gini kan memang sangat cocok untuk kulit berminyak. Sayangnya review atau sosial media Hatomugi sendiri kurang banyak tersedia di Indonesia. Produk ini buatan Jepang dan saya coba cari informasi tentang perusahaan yang mengimpor juga kurang lengkap. Tapi tenang saja, produk ini sudah memiliki izin BPOM kok, jadi aman untuk kulit.

Jika kamu tertarik membeli, kamu bisa mampir ke Guardian atau mungkin beli online di beberapa marketplace kesayangmu hehe.

Sampai bertemu di review lainnya!

Advertisements

[Product Review] Almond Oil, Grapeseed Oil, Avocado Oil and Ricebrain Oil from Purivera Botanicals (compare with Oil from Haple.id)

Akhir – akhir ini saya sedang ketagihan dengan pakai minyak-minyak gitu nih. Kalau tidak salah ingat karena ketagihan pas coba punya Organic Supply dan pas sudah habis, niat saya mau beli lagi eh malah menemukan beberapa toko online yang menjual produk organik lain. Yaudah jadinya saya coba satu persatu deh xD

Kalau beberapa bulan lalu saya sempat membahas dua cold press natural oil dari Haple, kali ini saya mau mengulas produk milik Purivera Botanicals. Pertengahan bulan lalu saya beli langsung empat varian yang mereka punya karena kebetulan sedang diskon.

20180202_134613-COLLAGEKalau Haple, selain menjual natural oil mereka juga menjual air mawar dan clay mask. Sementara Purivera ini hanya menjual natural oil saja. Harganya memiliki perbedaan cuma 2-3 ribu rupiah saja dan kalau kamu beli dalam paket begini jauh lebih murah.

Dari segi kemasan, kalau milik Haple dulu di dalam dus kemasan ada kertas petunjuk penggunaan dan manfaatnya gitu. Sementara milik Purivera ini tidak. Produk datang dalam kardus kemasan putih yang cukup kokoh. Di badan kardus terdapat petunjuk penggunaan dan komposisi. Sudah itu saja. Yang mengecewakan, di badan kardus juga tidak tertulis isi di dalamnya tuh minyak apa. Jadi harus kita buka kemasannya dulu. Ya gakpapa juga sih toh pas sudah dipakai, kardusnya dibuang.

IMG_20180201_161534

Nah untuk kemasan selanjutnya di bagian botol, punya Haple dan Purivera ini beda banget ya.

Milik Haple dikemas dalam botol kaca gelap, tutup pipet berbahan glossy cukup tebal dan susah dibuka serta pipet kemasan yang gemuk. Sementara milik Purivera dikemas dalam botol kaca bening, tutup pipet berbahan matte lebih tipis sedikit tapi juga susah dibuka serta pipet kemasan yang runcing. Seingat saya dulu produk dari Organic Supply tutupnya gampang dibuka. Produk dari Haple dan Purivera ini malah susaaaaah banget bukanya. Kalau kita tidak sabar bisa-bisa tumpah.

IMG_20180202_133854IMG_20180202_13393820180202_134528-COLLAGEPerbedaan ini tidak berpengaruh apapun sih pada isi produk. Hanya saja sepertinya saya dulu pernah membaca kalau minyak natural itu lebih baik dikemas dalam botol kaca gelap (alasannya kenapa saya lupa wqwq). Jadi saya agak kurang sreg dengan produk milik Purivera. Tapi kalau dari segi harga lebih murah milik Purivera jadi gimana dong saya bingung._.

Nah untuk minyak-minyaknya sendiri baik milik Purivera atau Haple tidak ada bedanya ya. Warnanya, aroma dan kekentalan atau tektur produk ketika menyentuh tangan sama. Sama-sama natural oil tanpa tambahan apapun. Jadi kalau kamu bingung mau beli produk yang mana ya sesuaikan dengan budget kamu saja~

Permasalahan kulit saya sendiri sebenarnya hanya komedo, pori-pori besar dan wajah kusam saja ya. Untuk jerawat, bekas jerawat atau bekas luka gitu tidak ada. Oh, sama saya pakai ini untuk anti aging juga sih hehe.

Saya pakai semua produk itu setiap malam gantian satu-satu. Misal Senin Avocado Oil, Selasa Rice bran Oil, Rabu Grapeseed oil dan seterusnya. Saya pakai untuk wajah, bibir, alis, bulu mata, siku, dengkul dan kaki. Lumayan bantu melembapkan dan pas pagi tidak perlu banyak-banyak pakai body butter, makeup jadi tahan lebih lama dan kulit juga jadi lebih halus!

Kegunaan masing – masing minyak ini beragam ya.

Almond untuk anti aging dan bisa menumbuhkan rambut alis dan bulu mata. Grapeseed bisa untuk menyembuhkan dan mencegah jerawat, mengecilkan pori-pori dan mengontrol minyak. Avocado bagus untuk memperbaiki sel kulit dan bisa membantu menghilangkan kantung hitam di wajah. Dan Rice bran bagus untuk membuat kulit halus dan sumber vitamin E. Mereka juga bisa dipakai sebagai anti ketombe dan merawat rambut.

Pemakaian produk ini bisa dicampur ya. Misal kamu mau campur Rice bran + Avocado Oil biar bisa dapat hasil yang lebih maksimal. Bila kamu tertarik membeli produk dari Purivera Botanicals, bisa langsung mampir ke akun instagram mereka ya. Customer Service mereka cukup ramah dan siap membantu jika kamu memiliki banyak keluhan juga mau memberikan rekomendasi minyak yang cocok untuk kulitmu. Meskipun sebenarnya semua minyak itu cocok saja sih dipakai untuk semua jenis kulit hehe.

Harga : Baik dari Haple atau Purivera Botanicals memasang mulai dari 45-60k.

Tempat membeli : Shopee, Instagram, Tokopedia cari dengan kata kunci Haple atau Purivera Botanicals.

Tingkat rekomendasi: SUPER REKOMEN! Apalagi kalau kamu tertarik untuk merawat kulit secara natural dan cari yang harganya murah!

Sepertinya itu saja untuk ulasan produk kali ini. Jadi kalau ada yang bingung mau beli natural oil merk apa ya? Maka jawaban saya adalah: yang sesuai budget kamu saja! Isi produknya sama saja kok^^

Sampai bertemu di ulasan produk berikutnya!

Belajar Membuat Podcast Bersama menyadapsuara

MENYADAPSUARA

Berawal dari iseng, tahun ini saya mencoba untuk membuat sebuah saluran podcast di Soundcloud. Niatnya sendiri sudah ada sejak awal kemunculan Soundcloud. Tapi karena waktu itu saya tidak memiliki peralatan merekam yang memadai, saya hanya bisa menjadi pendengar saja.

Seperti banyak project yang membuat saya tertarik dan membuat saya penasaran, proses pembuatan podcast ini juga terjadi secara spontan tanpa persiapan apapun. Pada suatu sore yang sepi, tiba-tiba saya langsung mengambil handphone, merekam suara, berbicara apa saja dan wuzz, chapter pertama podcast saya sudah terbit.

Sehari setelah podcast tersebut saya unggah, timbul semacam candu dalam diri untuk terus berbicara. Jika sedang berjalan kaki atau dalam keadaan sendiri, kadang tanpa sadar saya jadi suka berbicara sendiri meski tidak saya rekam. Dan beberapa hari kemudian, saya langsung berhasil membuat chapter 2, 3, 4 dan 5 yang semuanya juga lagi-lagi saya buat secara spontan.

Ketika saya menulis ini dan mendengarkan ulang podcast-podcast tersebut, saya jadi belajar bahwa….podcast saya ancur banget xD

Saya paling tidak bisa dan tidak suka untuk membuat daftar rencana terlebih dahulu, sebab biasanya saya malah jadi terfokus kesitu dan malah kurang kreatif. Semacam jadi terkekang. Tapi setelah mendengarkan 5 podcast yang sudah saya unggah, saya menyadari bahwa kali ini saya harus membuat daftar perencanaan yang matang.

Saya harus mulai membuat daftar rencana perihal konten yang ingin saya unggah. Rencana perihal urutan pembahasan, salam pembuka, penutup atau yang lainnya. Saya mulai harus membuat daftar rencana dan riset tentang apa yang akan saya ucapkan dan bahas. Ketika podcast tersebut sudah saya unggah, maka saya harus bertanggung jawab dengan ”isinya”. Meski saya mengatakan saya akan bicara apa saja yang terlintas di kepala, tapi harus ada tanggung jawab, harus ada batasan tertentu juga tentang apa yang harus saya katakan dan rekam.

Selain itu, dulu saya sempat mengira bahwa membuat podcast itu mudah. Tinggal merekam suara dan bicara, selesai. Berbicara jarang sekali menjadi sebuah kesulitan untuk saya karena ya memang saya suka berbicara. Tapi setelah melihat kembali 5 podcast yang sudah tayang, saya menyadari bahwa cara berbicara saya masih memiliki banyak kesalahan.

Saya masih sering menggunakan banyak pengulangan kata, artikulasi saya masih banyak yang tidak jelas, kadangkala saya masih berbicara terlalu cepat dan mungkin akan sulit ditangkap oleh pendengar.

Ternyata untuk urusan kali ini saya tidak bisa ”spontan”. Harus ada rencana yang matang, harus ada rencana yang jelas dan terancang dengan pasti.

Ahahahah, ketika menyadari hal ini, saya benar-benar merasa tersentil. Sebagai orang yang tidak gemar membuat rencana dan cenderung tidak suka patuh pada aturan, kira-kira saya bisa tidak ya untuk melakukan perubahan ini? Tunduk dan taat pada komitmen?

Ketika saya membuat tulisan ini, saya memutuskan untuk berhenti sejenak sampai di chapter 5. Saya mau memikirkan ulang kembali, benarkah saya hanya ingin membuat podcast menyadapsuara ini sebagai kegiatan iseng saja? Maksudnya, saya tidak berharap ini menjadi sesuatu yang wah gitu juga sih. Hanya saja saya tidak ingin membuat podcast yang terlalu ”asal”, setidaknya harus ada manfaatnya gitu lah hhh

Kira-kira saya sanggup tidak ya?

Hhh, kadang saya suka membenci sifat spontan dan asal-asalan yang saya miliki ini 😥

Jika tertarik untuk mendengarkan beberapa podcast yang sudah saya buat, silakan mampir!