Sebuah Tujuan

Processed with VSCO with p5 preset

Saya lahir dan sempat tinggal di Yogja sampai usia 4 tahun sebelum akhirnya pindah ke Semarang dan menetap di Jakarta hingga kini. Pindah tempat tinggal terjadi karena ibu dan ayah saya bercerai, lalu ibu mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru di sebuah MTS (SMP) di Semarang. Ketika akhirnya adik saya mulai tumbuh besar, ibu menyadari bahwa beliau tidak bisa hidup bertiga terus (saya, ibu dan adik) hingga akhirnya ibu memutuskan untuk kembali tinggal bersama nenek di Jakarta hingga saat ini.

Meskipun singkat dan kala itu saya masih kecil, tapi ada beberapa kenangan cukup manis yang lumayan membekas dalam ingatan saya tentang Yogja. Saya ingat dulu beberapa kali sering melihat ibu menangis tiap malam karena tidak bisa menghasilkan ASI untuk saya konsumsi dan juga karena stress mengurus tugas akhir kuliah, saya ingat dulu saya sering menghabiskan waktu di kebun binatang Gembira loka bersama ayah sambil menunggu ibu selesai kuliah.

Kebanyakan sih kenangan bersama ayah. Dan pada awal perpisahan ibu-ayah dulu, ibu sempat mencoba menghilangkan ingatan saya tentang ayah. Usaha ibu tidak berhasil sih. Tapi toh ingatan-ingatan itu akhirnya perlahan pudar juga diganti dengan banyak hal-hal lain yang jauh lebih menyenangkan. Tapi ada satu hal yang masih saya ingat. Dulu ayah saya pernah berjanji ingin merayakan ulang tahun saya saat sudah berusia 20 tahun di kebun binatang gembira loka. Makan donat bersama seperti saat saya ulang tahun ke-3 dulu.

Usia 20 sudah terlewat 2 tahun. Janji ayah saya tidak pernah terjadi. Dan pada 17 Agustus kemarin, 2 bulan pertama di usia 22 tahun, saya akhirnya berkunjung kembali ke Gembira loka setelah hampir 13 tahun tidak kesana.

***

Sejujurnya saya sendiri tidak tau apa tujuan pasti saya pergi kesana. Nostalgia? Mengunjungi tempat masa kecil? Liburan? Wisata? Entahlah. Saya sendiri sebenarnya ragu kalau ayah saya masih mengingat atau bahkan menganggap penting janjinya dulu. Tapi yang jelas ketika saya sampai di Gembira loka, berbagai macam perasaan langsung muncul di dada.

Saya berhasil mengelilingi Gembira loka dalam waktu singkat. Tempatnya sangat nyaman dan ramah untuk pejalan kaki. Beberapa kali saya berpapasan dengan rombongan keluarga kecil juga yang mau tak mau membuat saya tersenyum haru dan merasa sedikit tersentil. Suatu hari nanti mereka mungkin akan lupa atau bahkan sangat mengingat kenangan hari ini seperti saya kini,hhe

IMG_20180817_101604

Selesai keliling, saya ingat bahwa saya cukup lama berhenti di depan Gua kuda nil dan juga kandang kuda nil. Dua area ini dulu cukup favorit karena tempatnya rindang dan sangat oke buat makan bekal atau sekedar duduk. Tiga menit pertama berada di sana, saya awalnya merasa senang, terharu dan hasssshhh jadi sensitif mau nangis sendiri gitulah wqwq (nggak sampai nangis kok!)

Ada banyak tempat yang berubah menjadi lebih baik. Ada beberapa tempat yang tidak berubah sama sekali dan bahkan masih mampu membangkitkan kembali ingatan masa kecil saya saat pernah berada di sana. Ada juga beberapa tempat yang terasa asing, tetapi perasaan hangat di dada saat berada di sana masih sama. Meski sendiri, tapi ingatan akan keceriaan dan kehangatan saat berkunjung bersama ayah dan ibu dulu masih samar terasa di dada.

Tapi semakin lama saya ada di sana, mendadak saya malah jadi marah, sedih dan seperti kebingungan.

Tiba-tiba saya jadi marah pada ayah. Marah pada keluarga saya karena telah bercerai.

Tiba-tiba saya jadi sedih. Sedih karena masa bahagia itu tidak bisa terulang kembali. Sedih tanpa alasan.

Tiba-tiba saya menjadi bingung.

Saya itu ngapain kesini?

Apa kegunaan dari nostalgia ini?

Lalu setelah datang kesini kamu mau ngapain lagi?

Tiba-tiba saya menjadi kebingungan karena saya seperti tidak memiliki sebuah tujuan. Pada awal perjalanan saya sempat berpikir bahwa kepergian saya ke Yogya ini adalah sebuah kepulangan. Tapi saat saya terus menatap mulut goa kuda nil yang terus terbuka, saya akhirnya menyadari bahwa di sini pun sebenarnya bukan tempat saya.

Ini bukan sebuah perjalanan pulang.

IMG_20180817_093130

Sisa kunjungan saya ke Yogya saya berjalan dengan cukup baik. Saya pergi berkunjung ke dua pantai, mampir makan dan belanja di beberapa tempat, juga bertemu dengan beberapa kenalan yang awalnya kenalan dari dunia maya. Ada tiga kenalan yang saya temui. Ketiganya kenal dari twitter. Satu orang kenal karena berbagi referensi buku (2015), satu karena referensi komik dan idol (2016), satu lagi karena referensi film (2017).

Pertemuan kami bertiga sangat menyenangkan. Ada yang langsung akrab dan main ngajak pergi dan kemudian diakhiri dengan pelukan erat yang cukup lama saat akan berpisah, ada yang penuh tabrakan karena ternyata sama-sama memiliki kelebihan energi dan semangat, juga ada yang berjalan dengan awkward penuh rasa malu dan canggung.

Tetapi yang jelas, tiga pertemuan itu cukup membuka pikiran saya akan banyak hal. Tanpa sadar, saya bisa survive selama empat tahun terakhir ini ya karena kenal mereka. Karena berbagi dan cerita akan banyak hal meski belum pernah bertemu sama sekali.

Hampir semingu berlalu sejak hari itu. 5 jam setelah sampai Jakarta kemarin saya juga langsung bekerja karena banyak tumpukan berkas yang harus diurus. Tapi sampai tulisan ini saya buat, rasanya saya masih mengambang dan nyawa saya belum pulih.

Pikiran saya masih tertinggal di Yogya meski sebenarnya pas di sana kemarin saya nggak ngapa-ngapain juga wqwq.

Tapi rasanya ada yang hilang.

Ada yang janggal.

Masih ada sebuah kebingungan tentang kunjungan singkat saya ke Yogya kemarin.

Sebuah tujuan. Sebuah pertanyaan.

Tetapi ah, barangkali memang tidak semua perjalanan harus memiliki arti dan sebuah tujuan (setidaknya untuk saat ini?)

Mungkin yang kita perlukan memang hanya terus berjalan. Sesekali menoleh ke belakang tak masalah, tapi tidak perlu merutuki atau menyesali apa yang sudah terjadi saat itu. Apa yang telah terjadi ”di sana”, tanpa sadar telah berhasil membuat kakimu kuat untuk terus berjalan sejauh ini.

Jadi terus berjalan saja.

Barangkali kalau saya terus berjalan berapa puluh ribu langkah lagi, saya baru akan menemukan jawaban dan tujuan dari semua ini.

Mungkin saja bukan?

IMG_20180821_130505_335

Terima kasih kepada yang telah singgah dan bersedia meluangkan waktu untuk bercengkrama atau sekedar salim singkat sebelum berpisah lagi.

Mari, lanjut berjalan lagi.

 

Advertisements

Sehari di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta

Seminggu yang lalu saya pergi berkunjung ke Jogja. Saya lahir dan pernah tinggal di Jogja sampai dengan usia sekitar 4 tahun sebelum akhirnya pindah ke Semarang lalu menetap hingga sekarang di Jakarta. Meski hanya sampai usia 4 tahun, tapi ada beberapa tempat di Jogja yang memiliki kesan cukup banyak di ingatan saya seperti kampus IAIN (UIN) Sunan Kalijaga, daerah sekitar Lembah sungai Gajah wong, Pasar Godean, pasar Gamping, dan kebun binatang Gembira Loka.

Yang memiliki ingatan cukup kental bagi saya mungkin kebun binatang Gembira Loka. Saat saya kecil, ayah saya sempat tidak memiliki pekerjaan sementara ibu saya harus segera menyelesaikan kuliah, saya kecil akhirnya diasuh ayah dan kami berdua sering menghabiskan waktu hampir seharian di depan kandang kuda nil, buaya atau onta. Ketika akhirnya ayah saya mendapat pekerjaan di sebuah studio foto pun kami masih sering menghabiskan waktu di kebun binatang. Ayah saya sering membuat eksperimen memotret dengan saya dan beberapa binatang di Gembira loka sebagai objeknya.

Hampir 13 tahun berlalu sejak ayah dan ibu saya bercerai dan saya pindah dari Jogja dan pada 17 Agustus 2018 kemarin, saya akhirnya berkunjung lagi kesana seorang diri, kebun binatang Gembira Loka.

This slideshow requires JavaScript.

Saya pergi ke Gembira loka naik ojek online dengan tarif Rp8.000,- dari penginapan saya yang lokasinya dekat alun-alun. Kalau tidak salah ingat, saya berangkat sejak pukul 9 pagi. Saya diturunkan di pintu Barat, pintu masuk yang kata supir ojek saya adalah pintu untuk pejalan kaki atau yang membawa motor pribadi. Katanya pintu timur lebih banyak untuk pengunjung yang datang dengan bus besar pariwisata.

Cuaca pagi itu cerah. Saat saya datang sudah ada beberapa keluarga kecil yang sibuk mengantre untuk masuk ke dalam. Segera saya membeli tiket dengan harga Rp30.000,- untuk harga pada akhir pekan dan yang membuat saya cukup kaget dan terkejut, setelah membayar saya diberi satu robekan karcis kecil dan sebuah peta!

IMG_20180817_090745

11

Ini sebuah nilai lebih untuk sebuah tempat wisata. Di Jakarta kalau sedang berkunjung ke tempat wisata bersama teman gitu kadang kita suka kebingungan dengan tempat apa yang kita kunjungi karena kadang tidak ada guide, papan petunjuk yang cukup jelas atau bahkan brosur informasi. Paling terbantu dengan informasi dari Google saja yang akhirnya membuat kunjungan jadi kurang menyenangkan karena tidak bertambahnya informasi baru.

Saya baru mengunjungi tiga buah kebun binatang yang ada di pulau Jawa yaitu kebun binatang Ragunan di Jakarta, kebun binatang Bandung di Bandung dan kebun binatang Gembira Loka ini di Jogja, Sejak kunjungan terakhir saya ke kebun binatang Bandung kemarin sebenarnya saya mau sempat berhenti untuk tidak akan lagi mengunjungi kebun binatang karena kondisi binatang di dalamnya sangat memprihatinkan dan membuat ngilu. Tapi pas saya dapat peta kebun binatang gembira loka ini tiba-tiba secercah harapan baik segera timbul dalam benak saya. Penasaran, saya akhirnya lanjut berjalan masuk.

Ketika saya masuk, yang pertama kali saya cari adalah toilet dan ketika akhirnya menemukan,,,,,,WOY GAK BERUBAH DARI 13 TAHUN YANG LALU!!!! xD

10

Saya ingat dulu saya sering kebelet buang air besar tapi kadang suka malas soalnya dulu toiletnya super licin dan agak kotor gitu. Lalu beberapa pintu juga ada yang rusak sehingga harus dijaga dari luar. Nah, kemarin pas saya coba masuk, saya mati-matian sambil menahan ketawa karena mengingat masa kecil dulu dan pas akhirnya masuk ke toilet,,,fyuuh, ternyata pintu rusaknya tidak saya temukan (gak saya coba semua juga sih wqwq). Tapi yang jelas tampilan toiletnya sudah lebih bersih dan rapi. Nyaman banget deh.

Oiya, di pintu toilet itu ada semacam kotak yang sepertinya untuk membayar(?) secara sukarela karena tidak ada orang yang berjaga atau tulisan untuk mewajibkan membayar setelah melakukan buang air. Kalau di kebun binatang Bandung dan Ragunan itu wajib membayar. Pas di Bandung dulu saya sempat bayar Rp3.000 untuk buang air besar (padahal saat itu saya cuma memasang pembalut karena sepertinya mau haid). Sementara di Ragunan itu kayaknya harus membayar pakai uang elektronik di tap gitu cuma kayaknya kebijakan ini sempat berhenti dan balik bayar pakai uang tunai juga.

Kemarin saya berhasil full keliling Gembira loka tanpa ada satupun wahana yang terlewat dan letak toilet sangat mudah sekali ditemukan. Kebersihan di setiap toilet pun sama dan semuanya ada kotak untuk membayar sukarela gitu juga walau tidak semua pengunjung ada yang mengisi. Lagi-lagi ini tambahan nilai positif dari saya untuk Gembira Loka.

Setelah selesai ke toilet, tempat pertama yang saya tuju adalah goa Kuda nil.

IMG_20180817_093130

Well, sebenarnya saya sendiri tidak tau ini tempat apa wqwq. Bukan wahana bermain gitu. Cuma sebuah goa berbentuk kuda nil, kita masuk dari mulut (berdekatan dengan dermaga bebek dan kantin) dan akan keluar di pantat kuda nil (berdekatan dengan kantin dan halte kereta keliling). Sudah itu saja. Tapi saya memiliki cukup banyak kenangan di sini. Tidak jauh dari goa ini dulu ada ruang terbuka hijau dan ada banyak patung-patung kurcaci dan binatang gitu. Biasa dipakai untuk berfoto atau istirahat. Biasanya juga saya dan ayah selalu istirahat di sana sambil makan bekal yang kami bawa dari rumah. Nah kemarin pas sampai sana ternyata ruang terbuka hijaunya sudah berubah menjadi kantin. Tapi yaudah gapapa, saya tetap senang dan berkali-kali cengengesan gakjelas sendiri sambil melihat goa kuda nil itu. Saya tidak berani masuk sih. Tidak ada apapun juga sih di dalamnya. Seingat saya, di dalam itu hawanya dingin dan bau pesing karena banyak yang suka pipis sembarangan di dalamnya.

Selesai dari goa ini saya lanjut ke kandang kuda nil yang tidak jauh dari lokasi ini. Sebenarnya mau mampir ke kandang onta dulu tapi ternyata sekarang kandang onta sudah ditiadakan dan ontanya menjadi hewan atraksi onta keliling gitu hhhh. Sempat sedih sih melihat onta itu terlihat ”sibuk” karena banyak anak kecil yang ingin naik. Tak bisa bebas saya amati dalam diam sambil makan seperti dulu.

Nah ketika akhirnya sampai di kandang kuda nil…WOAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHH dia lagi menguap lebar (yang tak sempat saya potret karena terlalu gembira) dan kemudian dia berjalan keluar dari kubangan air untuk makan siang yaitu rumput.

IMG_20180817_104058

Ini momen langka sekaligus pilu sih. Dulu saya pernah lihat kuda nil makan juga 2x tapi itu cuma sebentar. Nah kemarin ini saya berhasil nungguin dia makan sampai selesai selama hampir 40 menit tapi proses makannya itu ngilu banget. Gigi kuda nil tersebut sudah banyak yang tanggal dan dia kesulitan untuk mengambil rumput dan mengunyah. Asli, lihatnya ngilu banget. Pada saat momen tersebut saya tersadar bahwa bukan hanya saya saja yang tumbuh menjadi besar, binatang-binatang di sana yang pernah saya lihat hampir 13 tahun lalu juga tumbuh menjadi tua.

Saya berada di kandang ini kira-kira 60 menit sebelum akhirnya memutuskan lanjut berjalan kembali karena akhirnya ada rombongan pariwisata yang datang dan sibuk berfoto, merusak momen berdua saya bersama kuda nil. Setelah lanjut berjalan saya akhirnya malah tidak fokus melihat sekitar hhh. Tiba-tiba banyak sekali pikiran baru yang muncul di kepala saya. Ada rasa takut, rasa marah dan kesepian yang tiba-tiba menyelimuti.

***

Pikiran saya bisa teralihkan ketika sampai di dekat kandang gajah. Gajahnya ada banyak dan saat itu sedang sibuk mandi semua. Tapi saya tidak bertahan lama dan memutuskan lanjut terus berjalan untuk mencari buaya.

12

Saya menghabiskan waktu dan berhasil mengelilingi tempat ini sekitar 2 jam 40 menit, hampir 3 jam karena saya sempat tertahan cukup lama di kandang kuda nil. Beberapa kandang binatang lain saya lihat sambil lalu karena tidak terlalu tertarik dan terlalu ramai pengunjung lain. Di akhir perjalanan, saya memutuskan naik kereta keliling untuk mengantarkan ke pintu masuk utama, biar bisa lewat goa kuda nil lagi dan say bye bye hhe.

Tepat pukul 13.00 saya sampai di pintu keluar (sebelum melewati area oleh-oleh terlebih dahulu) dan pukul 13.20 saya sudah berada di lokasi lain.

Berdasarkan catatan dan pengamatan saya kemarin di sana, ada beberapa poin menarik yang saya temukan dan mungkin bisa menjadi pertimbangan yang baik untuk mengunjungi Gembira Loka. Sebagai perbandingan, saya ingin membandingkan dengan dua kebun binatang yang sudah saya kunjungi yaitu kebun binatang Ragunan dan kebun binatang Bandung.

  1. Kebun binatang Ragunan.
    – Lokasi di pinggir kota, bisa dijangkau dengan commuter line turun di stasiun Pasar Minggu lalu naik angkutan umum atau langsung naik transjakarta dan turun tepat di pintu masuk kebun binatang. Tarif angkutan sekitar Rp3.000-5.000 (untuk kendaraan pribadi atau bus besar tarif beda lagi menyesuaikan parkir dll)
    – Tiket masuk hanya bisa menggunakan uang elektronik JaKcard, uang elektronik keluaran dari bank DKI. Bisa dibeli di pintu masuk seharga Rp40.000 tapi saldonya hanya Rp10.000. Harga tiket masuknya sendiri untuk hari kerja dan libur sama yaitu Rp3.500,-. Tidak ada tiket dalam bentuk fisik.
    – Saya sudah 6x ke Ragunan dan belum pernah berhasil keliling full ke semua tempat karena tempat terlalu luas, kereta wisata tidak menjangkau seluruh area, hanya berputar di tempat itu-itu saja, papan penunjuk jalan tidak jelas.
    – Pedagang BEBAS berjualan di mana saja. Ini membuat area kebun binatang menjadi kotor, bising dan tidak teratur. Tidak ada satu area khusus untuk semua pedagang. Menjadi mudah sih kalau mau jajan, tapi jadi kotor dan berantakan.
    – Pedestrian atau jalan setapak masih belum mendukung untuk difabel dan stroller balita. Di beberapa tempat juga masih ada dalam bentuk tanah sehingga kalau hujan jadi becek.
    – Banyak nyamuk karena sampah cukup bertebaran. Jangan lupa selalu bawa lotion nyamuk atau baju yang cukup tertutup.
    -Area istirahat atau area terbuka hijau juga tidak terlalu jelas sehingga banyak pengunjung asal gelar tikar. Kalau sedang ramai pengunjung beneran super kacau. Sering terjadi kasus anak hilang atau kehilangan barang karena hal ini.
    – Kondisi binatang banyak yang cukup memprihatinkan. Beberapa kandang juga banyak yang berkarat. Sisi positifnya mungkin di kebun binatang ini ada jerapah saja hww
  2. Kebun binatang Bandung.
    – Bukan tempat yang bagus untuk para vegan dan penyayang binatang. Asli, kondisi binatang di sini memprihatinkan semua bikin nanges. Kurus dan seperti tak terawat.
    – Kandang dan banyak wahana di sini juga lebih nganu. Banyak yang sudah tua dan berkarat.
    – Relatif sepi dan kecil. Saya berhasil berkeliling dengan mudah. Seingat saya tidak ada kereta wisata keliling. Tapi siap-siap saja nyasar karena tidak ada papan penunjuk jalan atau peta yang cukup jelas untuk tiap lokasi.
    – Tempat ini sangat tidak ramah bagi pejalan kaki, difabel maupun pengunjung dengan stroller bayi. Jalanan penuh kerikil dan tanah. Kontur jalanan yang turun-naik juga membuat perjalanan tidak nyaman karena jadi mudah lelah.
    – Pedagang juga bebas berjualan. Ruang terbuka hijau juga sedikit trus BANYAK NYAMUK T_T. Asli kemarin pas pulang dari sini badan bentol semua perih hhh.
    – Bisa dijangkau dengan banyak angkutan umum. Lokasi dekat ITB. Harga tiket masuk tapi cukup mahal Rp40.000 untuk anak kecil dan dewasa. Tidak ada tiket fisik hanya dapat tiket dalam bentuk gelang dengan barcode.
  3. Kebun binatang Gembira loka.
    – TEMPATNYA BERSIH BANGEEET1111. GAK ADA NYAMUK SAMA SEKALI111111. PEDAGANG DAN RESTORAN DIBERI TEMPAT KHUSUS11111111
    – RAMAH UNTUK PEJALAN KAKI, DIFABEL DAN ORANGTUA MEMBAWA BALITA11111111111111111111
    – Harga tiket Rp30.000,- untuk akhir pekan dan dapat PETA111. Petanya sangat jelas, mudah dibaca dan dipahami juga. Tidak perlu takut nyasar karena papan penunjuk jalan tersedia hampir di semua sudut.
    – Koleksi binatang memang tidak terlalu lengkap, tapi kondisi binatangnya cukup sehat, tidak latah minta makan ketika ada pengunjung yang datang mendekat. Kandangnya juga terawat semua.

13

Pintu masuk, papan penunjuk jalan yang cukup jelas dan ruang terbuka hijau untuk istirahat yang sangat nyaman dan rindang.

Tiket kereta wisata, jalanan yang rapi dan ramah difabel serta petugas yang rajin keliling siap membantu

15

Tempat sampah yang tersebar di banyak tempat, area oleh-oleh dan anak kecil yang sibuk membaca peta.

IMG_20180824_114740

Nulis begini jadi kangen main lagi T_T

Jumat kemarin tuh beneran Rp30.000. terbaik yang pernah saya keluarkan deh kayaknya. Masih jauh sih dari kata sempurna. Tapi dari dua kebun binatang lain yang saya kunjungi sebelumnya, Gembira Loka jaaaauuuuh terlihat lebih baik dan terawat. Sebenarnya pas dari Bandung kemarin saya sempat syok dan berjanji tidak akan ke kebun binatang lagi karena ngenes melihat kondisi binatang di sana. Tapi pas ke Gembira loka kemarin saya jadi memiliki pikiran positif bahwa dengan perawatan yang benar, sebuah kebun binatang bisa menjadi tempat wisata dan edukasi yang baik untuk memperkenalkan kita pada binatang.

Saya tau masalah kebun binatang ini sendiri masih menjadi isu sensitif. Banyak teman saya yang sebenarnya tidak mendukung. Saya juga sempat berpikir seperti itu sih karena toh binatang punya naluri bertahan hidup masing-masing. Tapi menurut saya kebun binatang tetap diperlukan, setidaknya, melihat kondisi Bumi dan alam kita saat ini yang sudah sangat memprihatinkan. Dengan adanya kebun binatang setidaknya tempat tinggal mereka ”sedikit” lebih terjamin meskipun ya begitulah.

Susah kalau mau berdebat soal ginian T_T.

Pulang dari sini saya langsung googling kebun binatang yang ada di Indonesia dan sepertinya tahun depan saya akan langsung menjajal main ke kebun binatang Surabaya dan kebun binatang Batu Malang.

Aminkan doa saya, dan semoga kondisi kebun binatang di sana jauh lebih baik ya,hehe.

Sampai bertemu di catatan dan jalan-jalan berikutnya!

[Review] Happy Tree Hostel dan Sonosewu Guesthouse, Penginapan Murah dan Terjangkau di Jogja

Hampir seminggu yang lalu saya melakukan perjalanan liburan ke Yogya. Tiket perjalanan dan pemesanan penginapan sendiri sudah saya pesan sejak akhir bulan Mei saat ada promo tiket kereta api di Tokopedia. Untuk penginapan, saya mempercayakan pada layanan di booking.com sama seperti ketika saya liburan ke Bandung akhir tahun lalu.

Karena saya berada di Yogya sekitar empat malam, saya merencanakan untuk menginap di dua tempat berbeda agar bisa berganti suasana. Penginapan yang saya pilih kala itu adalah Rumah Zen Hostel dan Sonosewu Guesthouse. Tapi karena satu dan hal lainnya, tiba-tiba pesanan saya di Rumah Zen mengalami penolakan dan akhirnya saya berpindah ke Happy Tree Hostel. Pemilihan penginapan ini saya sortir berdasarkan fasilitas dan harga. Dari ketiga penginapan itu, semua memiliki harga sewa di bawah Rp80.000/malam dan fasilitas yang saya cari adalah yang ada free Wifi. Oiya, pada ulasan kali ini sebenarnya perbandingannya tidak pas karena di penginapan Sonosewu, saya memesan kamar sendiri sementara di penginapan pertama saya menginap di kamar asrama bersama tujuh tamu lain. Tapi setidaknya saya ingin memberi gambaran dan kesan singkat yang saya dapat ketika menginap di sana.

  1. Happy Tree Hostel

Saya menginap pada tanggal 16 sampai 18 Agustus. Sebelum menginap saya sempat berkirim pesan dengan CS penginapan untuk mengkonfirmasi kedatangan karena jam operasional CS hanya dari pukul 8 pagi sampai 8 malam sementara saya sampai di Jogja lewat dari jam 8 malam. Ketika saya tiba, saya langsung mencari kunci di keybox sesuai janji pada chat dan mencari kamar saya sendiri cukup mudah karena di penginapan ini hanya tersedia 3 kamar dan tiap kamar kira-kira memiliki 8 kasur.

2

Tampilan depan penginapan.

Di Happy Tree Hostel ini memiliki dapur umum, Free kopi dan teh yang bisa dipakai kapan saja. Lokasi dapurnya sendiri ada di dalam ruangan utama tapi untuk kompor dan memasak ada di luar dekat ruang berkumpul. Meja layanan check-in tersedia di depan menyatu dengan aula kumpul para tamu dan menurut saya ini agak membingungkan. Sampai tulisan ini dibuat, saya masih selalu kesulitan menebak dan mengingat yang mana pemilik/pegawai penginapan dan yang mana yang merupakan tamu xD

3

Gambaran di dalam ruang utama. Ada ruang kosong yang bisa dijadikan tempat salat dan berkumpul, pojok untuk gosok baju, loker untuk menyimpan barang berharga, dan juga meja dapur. Selama menginap saya hanya pernah menggunakan refill air mineral secara gratis 2x saja. Untuk memasak atau membuat hal lain sama sekali tidak saya coba. Di dalam ruang utama ini juga tersedia satu buah kamar mandi, ketika ulasan ini saya buat dan pada kunjungan saya kemarin kondisi kamar mandinya kurang baik sih. Sangat licin dengan lumut tipis seperti tidak dibersihkan. Saya 2x hampir terpeleset. Tersedia sabun cuci muka dan sabun badan gratis yang bisa dipakai untuk semua tapi saya membawa milik sendiri. Oiya, fasilitas di sini tidak ada kran air panas.

IMG_20180818_071458

4

Selain itu masih ada satu kamar mandi lagi di luar tapi saya sama sekali belum pernah pakai. Oiya, ada juga peringatan untuk melepas alas kaki di dalam ruang utama tapi para tamu (bule) kebanyakan masih sering pakai sepatu ke dalam ruangan. Ini cukup bikin PR buat saya ketika habis wudhu dan mau salat soalnya tidak tau lantainya kena najis atau tidak.

1

Ada 3 ruangan di dalam ruang utama. Seingat saya adalah: 1 ruang asrama putri dan 2 ruang asrama putra. Dalam satu ruangan ada 8 kasur tingkat. Saya kebagian di ruang Sawo kasur no 7 dibagian bawah terpisah sendiri dari 3 kasur tingkat lain. Kasur dan bantal sangat empuk. Selimutnya juga wangi dan bersih. Tapi saya kurang nyaman sih tidur terbuka seperti ini. Mungkin karena pengalaman menginap pertama kali saya kemarin di kapsul hotel yang meski bareng banyak orang, tapi ada sekat untuk menjaga privasi sesama tamu. Nah, pas dapat satu ruangan kumpul dengan 8 orang tanpa sekat apapun gini rasanya lumayan kaget juga xD

Secara keseluruhan, begini ulasan saya untuk Happy Tree Hostel:

  • Tempatnya mudah ditemukan karena tidak jauh dari pusat kota meskipun lokasi penginapan di dalam gang. Tersedia tempat parkir gratis yang cukup luas. Seingat saya sih mobil tidak bisa masuk. Ada pasar tradisional di ujung gang juga. Jadi kalau mau cari sarapan dan belanja kebutuhan lain sangat mudah meski pasarnya tidak terlalu besar.
  • Tersedia layanan cuci baju dan juga jasa sewa motor atau mobil untuk tamu dengan harga sangat terjangkau. Pihak hostel juga membuka open trip untuk tamu yang tidak memiliki tujuan pasti atau ingin variasi liburan yang berbeda. Hari kedua menginap saya sempat ditawari untuk ikut melihat matahari terbit di Borobudur tapi saya sudah memiliki agenda sendiri.
  • Tempat ini tidak saya rekomendasikan jika kamu mencari ketenangan. Luas penginapan ini cukup kecil dengan fasilitas yang juga tidak seberapa. Karena arus keluar-masuk tamu sangat cepat juga dari lintas negara, kamu akan sulit mencari ketenangan. Apalagi ruang aula sangat dekat dengan kamar istirahat. Obrolan sepelan apapun yang dari ruang aula bisa terdengar sampai kamar.
  • Tetapi tempat ini sangat saya rekomendasikan untuk kamu yang ingin mencari teman dan kenalan baru dari berbagai negara. Saya sendiri..entahlah…3x menginap di hostel tapi saya sama sekali tidak kenalan dengan tamu yang ada wqwq. Entah mengapa rasanya malas dan malah terganggu dengan kebisingan yang ada.
  • Tarif menginap per malam di tempat ini bervariasi menyesuaikan tanggal atau musim liburan. Kemarin saya memesan penginapan ini H-2, saat libur panjang akhir pekan dengan waktu penginapan 2 malam tarifnya adalah Rp150.000,- dengan pembayaran DP terlebih dulu sebesar 50% karena saya check-in lewat dari jam operasional. Ketika selesai check-in dan melakukan pelunasan, tamu yang ada harus membayar jaminan deposito sebesar Rp50.000,- yang akan dikembalikan setelah selesai menginap. Deposito ini tidak akan dikembalikan jika kita menghilangkan kunci.
  • Setelah check-in, kita akan mendapat 3 buah kunci yaitu: kunci ruangan utama, kunci loker dan kunci kamar. Selama saya menginap kunci tersebut sama sekali tidak terpakai dan bahkan saya tinggal di penginapan bersama barang-barang saya karena saya tidak memiliki barang berharga, saya tidak pernah pulang larut maupun bepergian di malam hari dan pintu ruang utama serta pintu kamar tidak pernah terkunci.
  • Di jalan utama sebelum masuk gang penginapan ini ada halte TransJogja yang cukup besar. Bisa dijadikan patokan dan alternatif transportasi. Sayangnya selama di Yogya kemarin saya lebih banyak berkendara menggunakan Ojek online dan juga diantar oleh teman.
  • Untuk kebersihan tempat sendiri menurut saya masih kurang. Sudah ada tanda dan pengingat untuk membersihkan sendiri barang hostel yang kita pakai tapi saya berkali-kali menemukan bekas gelas kopi tak tercuci entah milik siapa. Seperti yang tadi saya tulis, beberapa tamu bule juga ada yang tetap memakai alas kaki ketika di dalam ruangan padahal sudah jelas ada larangan. Ini cukup menjadi PR untuk yang ingin salat di dalam ruangan + lantai juga jadi penuh pasir.
  • Tersedia layanan internet/Wifi gratis 24 jam dengan kecepatan internet yang sangat kencang. Setiap ruangan juga dilengkapi AC tapi universal untuk semua. Pas hari kedua saya sempat sekamar dengan tamu bule yang memasang suhu AC dengan begitu dingin bikin gemetaran hebat. Ini bisa menjadi catatan sendiri juga dan bisa dimasukkan dalam doa tambahan semoga mendapat rekan sekamar yang menyenangkan.

Saya memberikan ulasan 3/5 untuk Happy Tree Hostel dengan pengalaman menginap 2 malam dan saya pribadi tidak ada rencana untuk mencoba menginap di tempat ini lagi. Fasilitas internet, kemudahan akses ke berbagai tempat dan kebersihan tempat tidurnya sangat memuaskan sih. Hanya saja untuk saya yang berniat mencari ketenangan, tempat ini sangat jauh dari apa yang saya harapkan. Harganya juga menurut saya lumayan mahal (soalnya di penginapan pertama yang saya pilih, Rumah Zen, tarifnya Rp40.000/malam wqwq).

Jika tertarik untuk menginap di sini, silakan mampir dan memesan melalui aplikasi travel kesukaan kamu!

   2. Sonosewu Guesthouse.

Waktu check-in di penginapan ini dimulai sejak pukul 12 siang sementara check-out sejak pagi sampai pukul 11 siang. Jam operasional CS-nya sendiri sepertinya bisa sampai malam karena pemilik penginapan juga tinggal di situ. Sementara kalau di Happy Tree Hostel kemarin, rumah itu murni penginapan saja. CS dan pemilik hostel tinggal di tempat lain.

6

Saya memilih penginapan ini karena harganya sangat terjangkau. Menurut ”perasaan” saya sih lokasinya masih dekat pusat kota tapi kata salah satu teman saya yang memang asli Yogya katanya ini termasuk agak ke pinggir kota.

Lokasi penginapan ini juga sama di dalam gang tapi mobil masih bisa masuk. Area parkir sangat super luas. Tersedia layanan jasa cuci-gosok baju dan penyewaan motor-mobil untuk tamu yang menginap juga dengan harga sangat terjangkau. Tersedia layanan antar-jemput juga tapi khusus ke bandara saja.

Ada berbagai jenis ruang menginap di tempat ini. Kebetulan di penginapan ini bisa untuk pasangan suami istri tapi harus menunjukkan bukti pernikahan. Kamar yang saya pesan untuk 2 malam kemarin adalah tipe standart: untuk satu orang dengan kamar mandi pribadi. Jenis kamar lain seingat saya adalah: jenis asrama, kamar standart+ (pakai AC dan ada televisi) serta kamar keluarga.

5

Satu hal yang langsung saya sadari ketika sampai di penginapan juga saat masuk ke kamar: tempatnya bersih, segar dan asri banget. Dengan dominasi banyak warna hijau pada dinding dan perabot rumah juga semakin menambah kesan segar. Oiya, ketika check-in, pengunjung juga dapat nota/struk bukti pembayaran juga lho. Ini pertama kalinya saya menginap dan dapat struk pembayaran. Pemesanan di sini saya lakukan 2 bulan sebelum menginap dengan lama waktu 2 malam totalnya adalah Rp120.000,- untuk satu buah kamar pribadi tipe standart. Lebih murah daripada penginapan yang kemarin xD

7

8

Fasilitas yang ditawarkan Sonosewu Guesthouse menurut saya cukup lengkap: ada dapur yang bisa dipakai 24 jam, area penginapan yang cukup luas di berbagai sudut, ada area refleksi ikan juga tapi saya tidak berani mencoba setiap baru celup langsung geli sendiri wqwq, meski cukup luas tapi kebersihan lingkungan penginapan benar-benar patut diacungi jempol, bersih banget, dan yang tak kalah penting fasilitas wifi internet yang sangat kencaaaanggg!

9

Foto kamar mandi saya yang versi bagus terhapus belum sempat backup jadi adanya foto seadanya seperti di atas saja. Tapi yang jelas kamar mandi pribadi yang saya dapat sangat bagus dan nyaman. Bersih dan airnya juga tidak bau. Sayangnya, sama seperti penginapan di Happy Tree kemarin, di sini juga tidak tersedia layanan air panas. Padahal kalau mandi pagi lumayan dingin banget. Oiya, tersedia kamar mandi umum dan musala juga di dekat area parkir. Jadi tidak harus pergi ke kamar dulu jika mau salat atau ingin buang air.

Begini ulasan saya untuk Sonosewu Guesthouse:

  • Sangat saya rekomendasikan untuk menyepi sejenak karena tempatnya sangat tenang. Sepertinya pergi ke Yogya trus berdiam diri di penginapan gitu doang juga bakal puas deh wqwq. 2 malam terasa sangat kurang meskipun kasurnya menurut saya agak keras dan selimutnya juga tidak terlalu wangi tapi bau aneh gitu.
  • Entah perasaan saya saja atau bagaimana, karena lokasi menyendiri atau ruang bebas di tempat ini cukup banyak (di halaman, di beranda kanan, beranda kiri dan ruang tamu) setiap pengunjung rasanya malah jadi aneh kalau ada tempat seluas itu tapi kita malah ikutan nimbrung bareng mereka gitu. Sepertinya beberapa tamu yang menginap bareng saya kemarin seperti sedang lari dari sesuatu semua sehingga tidak mau diganggu. Saya juga gitu sih, sibuk duduk di pojok sambil lihat matahari dan menghirup udara sekitar menikmati kesendirian dengan baik tanpa mau diganggu atau mengobrol dengan yang lain wqwq. Jadi kalau mau mengajak kenalan tamu yang ada, pintar-pintar membaca situasi yap.
  • Tempatnya sangat bersih, asri, hijau dan sirkulasi udara tiap ruangan juga sangat terjamin. Bahkan pencahayaan dengan matahari di kamar juga dapat. Saya suka banget deh sama desain penginapan ini. Yang paling penting, meski banyak pepohonan di sekitar penginapan, kalau malam sama sekali tidak ada nyamuk. Mantap.
  • Seingat saya, air minum di tempat ini tidak free. Air minum tersedia gratis bareng dengan sarapan roti tawar yaitu sekitar pukul 8-10 pagi. Lewat dari jam itu kalau stok air minum habis ya kita harus membeli di kantin (dijual oleh pemilik penginapan).
  • Halte Transjogja terdekat juga tersedia, tapi harus jalan dulu lumayan jauh. Ojek biasa juga tersedia di ujung gang.
  • Pada beberapa hal, saya sempat merasa tempat ini terlalu sepi dan saya sempat ketakutan wqwq. Mungkin lebih bagus kalau di ruang tamu ada televisi. Jadi ada sedikit suara berisik gitu meskipun sebenarnya suara apapun di luar tidak terlalu terdengar dari dalam kamar dan layanan untuk kamar yang memiliki televisi juga ada.

Saya memberikan ulasan 5/5 untuk tempat ini dan akan datang lagi untuk menginap karena sangat puas. Minimarket serta warung terdekat juga cukup lengkap dan tersebar di sekitar penginapan. Sepertinya saya hampir tidak memiliki keluhan apapun karena untuk penginapan dengan harga di bawah Rp100.000/malam, fasilitas dan layanan yang ditawarkan Sonoseweu sangat memuaskan. Tidak tau sih layanan yang kamar asrama bagaimana. Tapi kalau menginap di sini lagi ya pasti saya mengambil kamar standart lagi soalnya enak sih hhe.

Dan jika kamu tertarik untuk menginap di sini, silakan pesan melalui layanan aplikasi travel kesukaanmu atau bisa melalui booking.com dengan cara membuat akun terlebih dahulu lalu menggunakan kode referral saya dan dapatkan cashback 15% setelah selesai menginap.

KODE REFERRAL BOOKING

Sekian ulasan tempat menginap saya kali ini. Yang jelas selama empat hari kemarin saya benar-benar dapat istirahat dengan sangat nyaman dengan biaya yang juga sangat terjangkau. Saya pribadi sangat merekomendasikan dan suka dengan Sonosewu Guesthouse. Tapi balik lagi sesuai selera masing-masing kalau memang mencari tempat yang ramai ya mungkin bisa ke happy Tree Hostel.

Sampai bertemu di ulasan dan #JalanJalanMai berikutnya!

 

 

22

Beberapa hari yang lalu saya genap berusia 22 tahun. Rasanya sungguh ajaib bahwa ternyata saya masih bisa terus lanjut sampai hari ini sebab beberapa tahun yang lalu sekitar dua minggu sebelum ulang tahun ke 17, saya pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan menenggak lotion nyamuk rasa jeruk.

Ada banyak hal yang membuat saya melakukan hal tersebut. Yang paling utama adalah saya takut dengan usia 17 tahun. Saya takut dengan sebuah tanggungjawab. Saya takut dengan masa depan, tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana. Masalah lain yang membuat saya semakin berani melakukan hal tersebut karena saya memiliki masalah keluarga yang cukup pelk, untuk pertama kalinya saya jadi ranking 2 di kelas (iya cuma turun 1 ranking saja tapi sudah stress), dan saya masih dihantui mantan pacar saya yang cukup posesif.

Saat usia 16 tahun saya pernah pacaran dengan seseorang yang cukup sakit dan meninggalkan trauma yang cukup membekas hingga saat ini. Saat akhirnya bisa lepas, rasanya senang sekali. Tapi rupanya ia tidak tinggal diam. Masih kerap mengejar saya dan membuat ketakutan. Parahnya, ketika itu saya tidak pernah berani untuk cerita pada siapapun.

Karena gabungan beberapa masalah dan ketakutan itulah saya memutuskan untuk mengakhiri hidup. Kala itu saya tidak takut dosa, masuk neraka atau hal-hal sejenis itu. Saya hanya ingin berlari. Menyudahi semua ketakutan dan rasa sakit karena merasa sendiri dan tidak mampu melewati. Menenggak lotion nyamuk saya pilih karena kala itu saya memiliki pikiran tidak ingin menyakiti tubuh fisik saya.

Mental dan hati saya sudah sakit dan tidak saya rawat dengan baik, saya tidak ingin melakukan hal yang sama untuk fisik saya. Menenggak lotion nyamuk juga saya pilih karena beberapa bulan sebelumnya, tetangga saya ada yang melakukan hal serupa juga karena masalah cinta yang cukup pelik dan ia memutuskan mengakhiri rasa sakit dengan menenggak anti nyamuk tapi versi cair. Saya memilih yang berbentuk lotion karena waktu itu saya sudah tidak memiliki waktu lagi untuk membeli dulu yang versi cair. Jadi saya memilih yang berbentuk lotion. Yang ada di kepala saya hanya satu: ini sama-sama anti nyamuk dan racun, jadi pasti bakal mati.

Proses eksekusi terjadi pada suatu hari Minggu sore yang sepi. Hanya ada saya di rumah. Saudara dan keluarga sedang bepergian dan memiliki aktivitas masing-masing. Saya melakukan eksekusi di kamar, langsung saya minum dua bungkus lotion nyamuk rasa jeruk. Saya ingat bahwa rasa panas langsung terasa sampai membuat telinga perih ketika pertama kali lotion tersebut menyentuh lidah. Setelah itu hitam. Saya pingsan dan baru tersadar empat hari kemudian.

Yang pertama kali saya rasakan ketika tersadar adalah sensasi rasa super panas di perut. Bukan panas seperti kalau terlalu banyak makan pedas. Tapi panas yang benar-benar seperti akan meledak. Lalu yang kedua adalah rasa haus tak terperi. Tenggorokan rasanya perih, panas tapi juga kering dehidrasi seperti sudah lama sekali tidak kena air. Dan yang ketiga adalah rasa perih di lidah, hidung dan telinga disusul dengan sensasi aroma Jeruk yang aneh. Ketika saya membuka mulut, menyeka hidung, menguap dan mencoba bersuara, aroma jeruk memabukkan langsung menguar hebat dan membuat saya pusing dan mual.

Saya menandai bahwa masa setelah saya siuman adalah salah satu masa terrrrrrrr terrrrr dalam hidup saya. Saya kurang suka buah Jeruk. Tapi karena tragedi itu, setiap saya mau beraktivitas apapun (bahkan buang air) jadi bau jeruk! Yang paling epik sih pas saya coba makan, Makanan pertama yang saya konsumsi kala itu adalah telur balado pedas dan nasi putih hangat. Tapi ketika saya coba makan, rasa pedasnya hilang malah berganti jeruk. Pokoknya dulu saya bingung banget setiap merasa lapar atau haus. Soalnya yang masuk mulut semua jadi rasa jeruk dan menimbulkan rasa mual.

Drama jeruk ini baru bisa hilang selama hampir seminggu kemudian dengan bantuan banyak cairan pencuci mulut dan sikat gigi tak terhitung berapa kali dalam sehari. Tidak ada satu pun pihak keluarga saya mengetahui tentang ini. Pada saat saya tidak sadarkan diri hingga empat hari, kebetulan orang rumah tidak ada semua. Ada satu orang rumah tapi mengira saya pergi. Kebetulan beliau tidak main atau mampir ke kamar saya juga jadinya tidak tau. Sampai kini kisah ini juga tidak saya ceritakan kepada keluarga. Malu.

Tapi pihak sekolah dan beberapa teman saya tau. Soalnya saya sempat dipanggil wali kelas karena saya membolos lebih dari tiga hari. Waktu saya menghadap wali kelas saya dulu, entah kenapa saya langsung jujur dan cerita semua. Padahal tadinya saya mau alasan ada acara keluarga atau apa gitu. Tapi guru saya sudah curiga juga sih soalnya badan saya bau lotion nyamuk rasa jeruk banget. Saya ingat sekali saat saya cerita sambil menangis, guru saya menatap saya dengan pandangan campuran ingin tertawa, marah, heran dan berbagai ekspresi lainnya. Ketika saya selesai cerita, kepala saya langsung dipukul meledek dan saya dipeluk.

”Jangan ulangi lagi” begitu katanya dulu.

Karena takut saya masih belum stabil dan mengulangi lagi, wali kelas saya memanggil dua teman yang menurut beliau sangat dekat dengan saya. Sejak dulu saya tidak memiliki teman sekelas yang benar-benar dekat, saya kaget kenapa guru saya tersebut memilihkan dua orang itu sebagai orang yang menurutnya dekat dengan saya. Reaksi dua orang tersebut setelah dipanggil dan diceritakan kisah saya sangat ajaib. Mereka berdua memarahi, memukul dan malah meledek menyumpahi padahal hubungan kami bertiga tidak dekat-dekat amat.

”kenapa gak mati sekalian aja lo?” begitu kata mereka dulu dengan nada gemas dan kesal yang sampai sekarang masih selalu membuat saya malu sendiri dan menimbulkan perasaan hangat di dada kalau mengingat.

Saya tidak tau apa saja yang disampaikan wali kelas saya pada dua orang itu. Tapi kini dua orang tersebut menjadi sahabat baik saya hingga saat ini. Bersama mereka, saya tidak lagi merasa sendiri. Bersama mereka, saya tidak lagi ingin berlari, melakukan percobaan bodoh dan konyol yang membahayakan diri. Bersama mereka, saya ingin hidup lebih lama lagi.

***

Sudah hampir lima tahun berlalu sejak kasus itu terjadi. Pada setahun pertama menuju usia 18 tahun, kadang pikiran ingin mengakhiri hidup masih kerap hadir. Beberapa kali saya juga masih suka menulis ”ingin mati” ketika menulis curhatan di buku diari. Tapi seiring berjalannya waktu dan banyaknya orang baru yang saya kenal dan temui, keinginan untuk mengakhiri hidup sudah tidak hadir lagi.

Ada banyak kegiatan yang saya lakukan setelah tragedi itu terjadi. Saya mengawali dengan mencoba membuka diri pada orang lain, mencoba menjalin hubungan pertemanan dengan beberapa orang. Saya mencoba untuk berani jatuh cinta lagi dan melakukan keberanian menyatakan penolakan ketika mantan pacar saya yang sakit masih menghantui. Kalau mengingat itu kadang saya suka kagum dan suka tidak percaya kalau saya ternyata bisa dan berani untuk bersuara.

Setelah tragedi itu, saya mencoba banyak aktivitas baru. Ikut berbagai komunitas hobi, membaca banyak buku, menonton banyak film, belajar menekuni kegiatan memotret, mencoba menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga, bertemu banyak orang dengan berbagai macam latar belakang pendidikan, budaya dan usia yang berbeda. Dan yang terakhir saya lakukan dan membuat saya menjadi ingin terus bertahan hidup: saya akhirnya melanjutkan kuliah.

Keinginan ingin mengakhiri hidup masih saya rasakan ketika saya tamat sekolah dan terpaksa tidak lanjut karena keterbatasan biaya dan juga saat mendapati bahwa dunia kerja ternyata begitu menyeramkan. Tapi untung saya segera mendapat atasan yang menyenangkan meski pekerjaannya masih membuat pusing.

Dari beberapa kali pindah kerja, saya jadi menyadari bahwa atasan dan rekan kerja yang menyenangkan jauh lebih penting dari jenis pekerjaan yang kamu lakukan. Atasan dan rekan kerja saya yang sekarang sangat baik dan mendukung perkembangan saya. Karena hal ini, beban kerja yang berat kadang jadi tidak terasa soalnya malah timbul motivasi ingin terus hidup dan memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Apalagi ketika saya akhirnya sudah memiliki biaya untuk kuliah dan atasan saya mendukung dengan baik. Rasanya jadi ingin terus hidup.

***

Beberapa minggu lalu sebelum saya ulang tahun ke 22, saya pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Saat melewati etalase pelengkap rumah tangga, saya tertegun saat melihat bahwa kini anti nyamuk rasa jeruk yang pernah saya pakai itu kini memiliki versi cair dalam kemasan spray. Sejak tragedi itu kebetulan saya berhenti menggunakan berbagai macam anti nyamuk, takut kalau suatu hari kalap. Jadi pas menemukan varian baru tersebut, saya langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai membuat beberapa pengunjung supermarket di sekitar menatap ke arah saya dengan heran.

capture-20180622-123337

Saya memutuskan untuk membeli anti nyamuk berbentuk spray tersebut. Setelah sampai rumah, segera saya potret dan kirim melalui pesan ke sahabat saya. Responnya luar biasa, salahs satu sahabat saya langsung melakukan panggilan telepon karena mengira saya akan mengulangi tragedi itu lagi hhhhhh. Setelah ia puas memarahi saya karena membuat dia kaget, kami akhirnya malah tertawa puas menertawakan kebodohan yang pernah saya lakukan kala itu. Saat teman saya menutup telepon, ia sempat mengancam,

”awas kalau habis telepon ini mati trus lo ikutan mati”

Yang membuat saya mau tidak mau jadi tersenyum sangat lebar. Tuhan, saya beruntung sekali masih diberi kesempatan hidup.

Setelah hari itu, banyak sekali hal ajaib yang terjadi pada hidup saya. Banyak juga masalah lain yang tidak kalah berat dari masalah dulu. Tapi ternyata saya bisa melalui semuanya dengan baik. Kalau ada satu masalah yang sudah beres, kadang saya kerap membatin, kenapa dulu kok rasanya bodoh banget ya pengen lari dan mengakhiri hidup? hh. Tapi di satu sisi, kadang saya sedikit bersyukur karena saya pernah melakukan percobaan bunuh diri itu.

Soalnya setelah tragedi itu, saya jadi lebih terbuka pada orang lain. Saya juga tidak malu menceritakan ini pada orang-orang. Tapi tetap sih masih saya rahasiakan ke pihak keluarga. Tidak siap dengar reaksi mereka soalnya meski sudah berlalu. Cerita ke keluarga takut tapi cerita ke kenalan atau orang asing malah berani. Kadang malah suka saya jadikan trivia dan bahan obrolan gitu. Saya tau ini agak bodoh. Hal memalukan gitu kok ya malah diumbar. Tapi saat melihat orang yang mendengar cerita saya tertawa lepas dengan tatapan tak percaya bahkan tanpa sadar malah membuat mereka jadi ceria, saya malah jadi bersyukur karena pernah melakukan kebodohan itu. Tragedi saya bisa membawa tawa untuk orang lain. Dan, hei, bukannya memang tragedi, hal bodoh dan memalukan yang sudah pernah kita lakukan itu memang harusnya kita tertawakan ya? Iya, harus kita tertawakan. Kita tertawakan dan tutup dengan rasa syukur karena ternyata masa itu sudah berlalu dan ternyata kita bisa melaluinya dengan baik.

Tapi bukan berarti saya jadi merekomendasikan untuk melakukan percobaan bunuh diri juga ya, hhh, jangan!

Belajarlah untuk berani terbuka pada orang lain. Jangan takut untuk membuka diri, meminta pertolongan dan mulai bercerita. Akan selalu ada orang yang bersedia menyediakan waktunya untukmu.

Jangan menyerah, yang menunggu di depan sana itu hal-hal yang menyenangkan. Terus berjalan.

***

Sudah hampir lima tahun berlalu sejak hari itu. Sudah tidak lagi takut dengan usia 17 tahun. Sekarang sudah tidak lagi bisa disebut sebagai anak kecil. Sekarang sudah mencoba banyak masalah lain yang jauh lebih serius dan berat dari masalah yang dulu terasa sangat berat.

Tidak banyak yang saya pinta pada usia baru ini.

Kepada Maila yang beberapa hari lalu tepat berusia 22,

Semoga di usia baru ini, kamu terus diberi nikmat sehat dan kekuatan untuk terus selalu berjalan. Banyak petualangan ajaib yang menunggu di depan sana. Saya yakin, seperti yang sudah-sudah: kamu pasti bisa melaluinya dengan baik.

Menjadi dewasa itu sulit, maka jalanilah dengan penuh rasa riang gembira dan ceria. Sesekali menangis tak apa, menangis terus juga tidak masalah. Tidak ada yang salah dengan mengeluarkan semua perasaan yang kamu miliki dan rasakan. Menangis bukan tanda kamu lemah. Berani mengeluarkan apa yang kamu rasakan bukan suatu kesalahan.

Menjadi dewasa itu tidak pernah mudah. Hidup itu keras dan akan ada banyak terus cobaan dan petualangan dengan level-level baru yag terus menunggu di depan sana. Selalu ingat untuk terus bersyukur dan berusaha untuk memberikan yang terbaik.

Beranjak dewasa itu sulit,
maka kamu harus riang dan gembira menjalaninya.

Kamu pasti bisa.

[Product Review] Hatomugi Skin Conditioning Gel

WhatsApp Image 2018-05-30 at 12.30.33

Beberapa bulan lalu saya sempat membuat review produk Hatomugi Skin Conditioner, karena saya cukup suka dengan produk ini, saya langsung coba mencari berbagai artikel dan review lain di google dan ternyata Hatomugi memiliki produk lain yaitu Hatomugi Skin Conditioning Gel.

Produk ini sebenarnya sama saja seperti Hatomugi Skin Conditioner, bedanya produk ini berbentuk gel sementara yang satu lagi cair. Cuma karena penasaran ya jadi tetap tak beli xD

20180511_131033-COLLAGE

Saya membeli produk ini titip dari Jepang langsung ya. Harga rupiah dengan tambahan jasa titip jadi RP170.000. Produk dijual dengan bonus Hatomugi skin conditiener dalam kemasan mini. Di Indonesia sendiri saya lihat ada tapi hanya ada di situs belanja online. Harga yang dipasang mulai dari Rp138.000,- sampai dengan Rp200.000,- tapi tidak mendapat bonus yang versi mini.

Produk dikemas dalam kemasan jar plastik yang sangat kokoh berwarna putih dengan tutup ungu. Ukuran kemasannya agak mirip sama kemasan Nature Republic aloe vera gel gitu. Yang saya kurang suka dari kemasan ini, kalau yang produk cairnya kan kemasannya bening ya, jadi bisa kelihatan isinya. Nah kalau kemasan yang gel ini tidak. Tidak bening tapi berwarna putih jadi kita tidak bisa melihat isinya.

20180511_131122-COLLAGE

Untuk produknya sendiri malah mengingatkan saya pada Laneige sleeping mask lho. Soalnya produk berwarna putih bening gitu. Bedanya kalau yang milik hatomugi ini sama sekali tidak mewiliki wangi tambahan, agak licin, lebih bening juga dan saat dipakai ke kulit menurut saya malah lebih melembapkan daripada Laneige.

Saya suka banget sama produk iniii!!!

Kalau yang versi cair saja sudah super bikin wajah lembab dan kenyal, versi yang gel ini jauuuuuhh lebih melembapkan kulit banget<3

Saya pakai ini sebagai pelembab harian dipakai sebelum pakai makeup juga saya pakai sebagai sleeping mask sebelum tidur. Bisa pakai buat mengatasi kulit terbakar juga lho. Sensasinya adeemmm.

Saya lebih suka ini daripada Aloe Vera gel kalau urusan melembapkan. Pokoknya super suka banget!

Jika tertarik mencoba, silakan cari di situs belanja online langganan kamu ya. Setahu saya ada beberapa toko yang menjual share in jar juga kalau kamu merasa harganya terlalu mahal. Jadi bisa beli yang versi kecil dulu deh, hhe

Sampai bertemu di ulasan produk berikutnya!