22

Beberapa hari yang lalu saya genap berusia 22 tahun. Rasanya sungguh ajaib bahwa ternyata saya masih bisa terus lanjut sampai hari ini sebab beberapa tahun yang lalu sekitar dua minggu sebelum ulang tahun ke 17, saya pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan menenggak lotion nyamuk rasa jeruk.

Ada banyak hal yang membuat saya melakukan hal tersebut. Yang paling utama adalah saya takut dengan usia 17 tahun. Saya takut dengan sebuah tanggungjawab. Saya takut dengan masa depan, tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana. Masalah lain yang membuat saya semakin berani melakukan hal tersebut karena saya memiliki masalah keluarga yang cukup pelk, untuk pertama kalinya saya jadi ranking 2 di kelas (iya cuma turun 1 ranking saja tapi sudah stress), dan saya masih dihantui mantan pacar saya yang cukup posesif.

Saat usia 16 tahun saya pernah pacaran dengan seseorang yang cukup sakit dan meninggalkan trauma yang cukup membekas hingga saat ini. Saat akhirnya bisa lepas, rasanya senang sekali. Tapi rupanya ia tidak tinggal diam. Masih kerap mengejar saya dan membuat ketakutan. Parahnya, ketika itu saya tidak pernah berani untuk cerita pada siapapun.

Karena gabungan beberapa masalah dan ketakutan itulah saya memutuskan untuk mengakhiri hidup. Kala itu saya tidak takut dosa, masuk neraka atau hal-hal sejenis itu. Saya hanya ingin berlari. Menyudahi semua ketakutan dan rasa sakit karena merasa sendiri dan tidak mampu melewati. Menenggak lotion nyamuk saya pilih karena kala itu saya memiliki pikiran tidak ingin menyakiti tubuh fisik saya.

Mental dan hati saya sudah sakit dan tidak saya rawat dengan baik, saya tidak ingin melakukan hal yang sama untuk fisik saya. Menenggak lotion nyamuk juga saya pilih karena beberapa bulan sebelumnya, tetangga saya ada yang melakukan hal serupa juga karena masalah cinta yang cukup pelik dan ia memutuskan mengakhiri rasa sakit dengan menenggak anti nyamuk tapi versi cair. Saya memilih yang berbentuk lotion karena waktu itu saya sudah tidak memiliki waktu lagi untuk membeli dulu yang versi cair. Jadi saya memilih yang berbentuk lotion. Yang ada di kepala saya hanya satu: ini sama-sama anti nyamuk dan racun, jadi pasti bakal mati.

Proses eksekusi terjadi pada suatu hari Minggu sore yang sepi. Hanya ada saya di rumah. Saudara dan keluarga sedang bepergian dan memiliki aktivitas masing-masing. Saya melakukan eksekusi di kamar, langsung saya minum dua bungkus lotion nyamuk rasa jeruk. Saya ingat bahwa rasa panas langsung terasa sampai membuat telinga perih ketika pertama kali lotion tersebut menyentuh lidah. Setelah itu hitam. Saya pingsan dan baru tersadar empat hari kemudian.

Yang pertama kali saya rasakan ketika tersadar adalah sensasi rasa super panas di perut. Bukan panas seperti kalau terlalu banyak makan pedas. Tapi panas yang benar-benar seperti akan meledak. Lalu yang kedua adalah rasa haus tak terperi. Tenggorokan rasanya perih, panas tapi juga kering dehidrasi seperti sudah lama sekali tidak kena air. Dan yang ketiga adalah rasa perih di lidah, hidung dan telinga disusul dengan sensasi aroma Jeruk yang aneh. Ketika saya membuka mulut, menyeka hidung, menguap dan mencoba bersuara, aroma jeruk memabukkan langsung menguar hebat dan membuat saya pusing dan mual.

Saya menandai bahwa masa setelah saya siuman adalah salah satu masa terrrrrrrr terrrrr dalam hidup saya. Saya kurang suka buah Jeruk. Tapi karena tragedi itu, setiap saya mau beraktivitas apapun (bahkan buang air) jadi bau jeruk! Yang paling epik sih pas saya coba makan, Makanan pertama yang saya konsumsi kala itu adalah telur balado pedas dan nasi putih hangat. Tapi ketika saya coba makan, rasa pedasnya hilang malah berganti jeruk. Pokoknya dulu saya bingung banget setiap merasa lapar atau haus. Soalnya yang masuk mulut semua jadi rasa jeruk dan menimbulkan rasa mual.

Drama jeruk ini baru bisa hilang selama hampir seminggu kemudian dengan bantuan banyak cairan pencuci mulut dan sikat gigi tak terhitung berapa kali dalam sehari. Tidak ada satu pun pihak keluarga saya mengetahui tentang ini. Pada saat saya tidak sadarkan diri hingga empat hari, kebetulan orang rumah tidak ada semua. Ada satu orang rumah tapi mengira saya pergi. Kebetulan beliau tidak main atau mampir ke kamar saya juga jadinya tidak tau. Sampai kini kisah ini juga tidak saya ceritakan kepada keluarga. Malu.

Tapi pihak sekolah dan beberapa teman saya tau. Soalnya saya sempat dipanggil wali kelas karena saya membolos lebih dari tiga hari. Waktu saya menghadap wali kelas saya dulu, entah kenapa saya langsung jujur dan cerita semua. Padahal tadinya saya mau alasan ada acara keluarga atau apa gitu. Tapi guru saya sudah curiga juga sih soalnya badan saya bau lotion nyamuk rasa jeruk banget. Saya ingat sekali saat saya cerita sambil menangis, guru saya menatap saya dengan pandangan campuran ingin tertawa, marah, heran dan berbagai ekspresi lainnya. Ketika saya selesai cerita, kepala saya langsung dipukul meledek dan saya dipeluk.

”Jangan ulangi lagi” begitu katanya dulu.

Karena takut saya masih belum stabil dan mengulangi lagi, wali kelas saya memanggil dua teman yang menurut beliau sangat dekat dengan saya. Sejak dulu saya tidak memiliki teman sekelas yang benar-benar dekat, saya kaget kenapa guru saya tersebut memilihkan dua orang itu sebagai orang yang menurutnya dekat dengan saya. Reaksi dua orang tersebut setelah dipanggil dan diceritakan kisah saya sangat ajaib. Mereka berdua memarahi, memukul dan malah meledek menyumpahi padahal hubungan kami bertiga tidak dekat-dekat amat.

”kenapa gak mati sekalian aja lo?” begitu kata mereka dulu dengan nada gemas dan kesal yang sampai sekarang masih selalu membuat saya malu sendiri dan menimbulkan perasaan hangat di dada kalau mengingat.

Saya tidak tau apa saja yang disampaikan wali kelas saya pada dua orang itu. Tapi kini dua orang tersebut menjadi sahabat baik saya hingga saat ini. Bersama mereka, saya tidak lagi merasa sendiri. Bersama mereka, saya tidak lagi ingin berlari, melakukan percobaan bodoh dan konyol yang membahayakan diri. Bersama mereka, saya ingin hidup lebih lama lagi.

***

Sudah hampir lima tahun berlalu sejak kasus itu terjadi. Pada setahun pertama menuju usia 18 tahun, kadang pikiran ingin mengakhiri hidup masih kerap hadir. Beberapa kali saya juga masih suka menulis ”ingin mati” ketika menulis curhatan di buku diari. Tapi seiring berjalannya waktu dan banyaknya orang baru yang saya kenal dan temui, keinginan untuk mengakhiri hidup sudah tidak hadir lagi.

Ada banyak kegiatan yang saya lakukan setelah tragedi itu terjadi. Saya mengawali dengan mencoba membuka diri pada orang lain, mencoba menjalin hubungan pertemanan dengan beberapa orang. Saya mencoba untuk berani jatuh cinta lagi dan melakukan keberanian menyatakan penolakan ketika mantan pacar saya yang sakit masih menghantui. Kalau mengingat itu kadang saya suka kagum dan suka tidak percaya kalau saya ternyata bisa dan berani untuk bersuara.

Setelah tragedi itu, saya mencoba banyak aktivitas baru. Ikut berbagai komunitas hobi, membaca banyak buku, menonton banyak film, belajar menekuni kegiatan memotret, mencoba menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga, bertemu banyak orang dengan berbagai macam latar belakang pendidikan, budaya dan usia yang berbeda. Dan yang terakhir saya lakukan dan membuat saya menjadi ingin terus bertahan hidup: saya akhirnya melanjutkan kuliah.

Keinginan ingin mengakhiri hidup masih saya rasakan ketika saya tamat sekolah dan terpaksa tidak lanjut karena keterbatasan biaya dan juga saat mendapati bahwa dunia kerja ternyata begitu menyeramkan. Tapi untung saya segera mendapat atasan yang menyenangkan meski pekerjaannya masih membuat pusing.

Dari beberapa kali pindah kerja, saya jadi menyadari bahwa atasan dan rekan kerja yang menyenangkan jauh lebih penting dari jenis pekerjaan yang kamu lakukan. Atasan dan rekan kerja saya yang sekarang sangat baik dan mendukung perkembangan saya. Karena hal ini, beban kerja yang berat kadang jadi tidak terasa soalnya malah timbul motivasi ingin terus hidup dan memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Apalagi ketika saya akhirnya sudah memiliki biaya untuk kuliah dan atasan saya mendukung dengan baik. Rasanya jadi ingin terus hidup.

***

Beberapa minggu lalu sebelum saya ulang tahun ke 22, saya pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Saat melewati etalase pelengkap rumah tangga, saya tertegun saat melihat bahwa kini anti nyamuk rasa jeruk yang pernah saya pakai itu kini memiliki versi cair dalam kemasan spray. Sejak tragedi itu kebetulan saya berhenti menggunakan berbagai macam anti nyamuk, takut kalau suatu hari kalap. Jadi pas menemukan varian baru tersebut, saya langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai membuat beberapa pengunjung supermarket di sekitar menatap ke arah saya dengan heran.

capture-20180622-123337

Saya memutuskan untuk membeli anti nyamuk berbentuk spray tersebut. Setelah sampai rumah, segera saya potret dan kirim melalui pesan ke sahabat saya. Responnya luar biasa, salahs satu sahabat saya langsung melakukan panggilan telepon karena mengira saya akan mengulangi tragedi itu lagi hhhhhh. Setelah ia puas memarahi saya karena membuat dia kaget, kami akhirnya malah tertawa puas menertawakan kebodohan yang pernah saya lakukan kala itu. Saat teman saya menutup telepon, ia sempat mengancam,

”awas kalau habis telepon ini mati trus lo ikutan mati”

Yang membuat saya mau tidak mau jadi tersenyum sangat lebar. Tuhan, saya beruntung sekali masih diberi kesempatan hidup.

Setelah hari itu, banyak sekali hal ajaib yang terjadi pada hidup saya. Banyak juga masalah lain yang tidak kalah berat dari masalah dulu. Tapi ternyata saya bisa melalui semuanya dengan baik. Kalau ada satu masalah yang sudah beres, kadang saya kerap membatin, kenapa dulu kok rasanya bodoh banget ya pengen lari dan mengakhiri hidup? hh. Tapi di satu sisi, kadang saya sedikit bersyukur karena saya pernah melakukan percobaan bunuh diri itu.

Soalnya setelah tragedi itu, saya jadi lebih terbuka pada orang lain. Saya juga tidak malu menceritakan ini pada orang-orang. Tapi tetap sih masih saya rahasiakan ke pihak keluarga. Tidak siap dengar reaksi mereka soalnya meski sudah berlalu. Cerita ke keluarga takut tapi cerita ke kenalan atau orang asing malah berani. Kadang malah suka saya jadikan trivia dan bahan obrolan gitu. Saya tau ini agak bodoh. Hal memalukan gitu kok ya malah diumbar. Tapi saat melihat orang yang mendengar cerita saya tertawa lepas dengan tatapan tak percaya bahkan tanpa sadar malah membuat mereka jadi ceria, saya malah jadi bersyukur karena pernah melakukan kebodohan itu. Tragedi saya bisa membawa tawa untuk orang lain. Dan, hei, bukannya memang tragedi, hal bodoh dan memalukan yang sudah pernah kita lakukan itu memang harusnya kita tertawakan ya? Iya, harus kita tertawakan. Kita tertawakan dan tutup dengan rasa syukur karena ternyata masa itu sudah berlalu dan ternyata kita bisa melaluinya dengan baik.

Tapi bukan berarti saya jadi merekomendasikan untuk melakukan percobaan bunuh diri juga ya, hhh, jangan!

Belajarlah untuk berani terbuka pada orang lain. Jangan takut untuk membuka diri, meminta pertolongan dan mulai bercerita. Akan selalu ada orang yang bersedia menyediakan waktunya untukmu.

Jangan menyerah, yang menunggu di depan sana itu hal-hal yang menyenangkan. Terus berjalan.

***

Sudah hampir lima tahun berlalu sejak hari itu. Sudah tidak lagi takut dengan usia 17 tahun. Sekarang sudah tidak lagi bisa disebut sebagai anak kecil. Sekarang sudah mencoba banyak masalah lain yang jauh lebih serius dan berat dari masalah yang dulu terasa sangat berat.

Tidak banyak yang saya pinta pada usia baru ini.

Kepada Maila yang beberapa hari lalu tepat berusia 22,

Semoga di usia baru ini, kamu terus diberi nikmat sehat dan kekuatan untuk terus selalu berjalan. Banyak petualangan ajaib yang menunggu di depan sana. Saya yakin, seperti yang sudah-sudah: kamu pasti bisa melaluinya dengan baik.

Menjadi dewasa itu sulit, maka jalanilah dengan penuh rasa riang gembira dan ceria. Sesekali menangis tak apa, menangis terus juga tidak masalah. Tidak ada yang salah dengan mengeluarkan semua perasaan yang kamu miliki dan rasakan. Menangis bukan tanda kamu lemah. Berani mengeluarkan apa yang kamu rasakan bukan suatu kesalahan.

Menjadi dewasa itu tidak pernah mudah. Hidup itu keras dan akan ada banyak terus cobaan dan petualangan dengan level-level baru yag terus menunggu di depan sana. Selalu ingat untuk terus bersyukur dan berusaha untuk memberikan yang terbaik.

Beranjak dewasa itu sulit,
maka kamu harus riang dan gembira menjalaninya.

Kamu pasti bisa.

Advertisements

[Product Review] Hatomugi Skin Conditioning Gel

WhatsApp Image 2018-05-30 at 12.30.33

Beberapa bulan lalu saya sempat membuat review produk Hatomugi Skin Conditioner, karena saya cukup suka dengan produk ini, saya langsung coba mencari berbagai artikel dan review lain di google dan ternyata Hatomugi memiliki produk lain yaitu Hatomugi Skin Conditioning Gel.

Produk ini sebenarnya sama saja seperti Hatomugi Skin Conditioner, bedanya produk ini berbentuk gel sementara yang satu lagi cair. Cuma karena penasaran ya jadi tetap tak beli xD

20180511_131033-COLLAGE

Saya membeli produk ini titip dari Jepang langsung ya. Harga rupiah dengan tambahan jasa titip jadi RP170.000. Produk dijual dengan bonus Hatomugi skin conditiener dalam kemasan mini. Di Indonesia sendiri saya lihat ada tapi hanya ada di situs belanja online. Harga yang dipasang mulai dari Rp138.000,- sampai dengan Rp200.000,- tapi tidak mendapat bonus yang versi mini.

Produk dikemas dalam kemasan jar plastik yang sangat kokoh berwarna putih dengan tutup ungu. Ukuran kemasannya agak mirip sama kemasan Nature Republic aloe vera gel gitu. Yang saya kurang suka dari kemasan ini, kalau yang produk cairnya kan kemasannya bening ya, jadi bisa kelihatan isinya. Nah kalau kemasan yang gel ini tidak. Tidak bening tapi berwarna putih jadi kita tidak bisa melihat isinya.

20180511_131122-COLLAGE

Untuk produknya sendiri malah mengingatkan saya pada Laneige sleeping mask lho. Soalnya produk berwarna putih bening gitu. Bedanya kalau yang milik hatomugi ini sama sekali tidak mewiliki wangi tambahan, agak licin, lebih bening juga dan saat dipakai ke kulit menurut saya malah lebih melembapkan daripada Laneige.

Saya suka banget sama produk iniii!!!

Kalau yang versi cair saja sudah super bikin wajah lembab dan kenyal, versi yang gel ini jauuuuuhh lebih melembapkan kulit banget<3

Saya pakai ini sebagai pelembab harian dipakai sebelum pakai makeup juga saya pakai sebagai sleeping mask sebelum tidur. Bisa pakai buat mengatasi kulit terbakar juga lho. Sensasinya adeemmm.

Saya lebih suka ini daripada Aloe Vera gel kalau urusan melembapkan. Pokoknya super suka banget!

Jika tertarik mencoba, silakan cari di situs belanja online langganan kamu ya. Setahu saya ada beberapa toko yang menjual share in jar juga kalau kamu merasa harganya terlalu mahal. Jadi bisa beli yang versi kecil dulu deh, hhe

Sampai bertemu di ulasan produk berikutnya!

 

[Product Review] Lady Speed Stick Antiperspirant Deodorant Invisible Dry

20180530_112002-COLLAGE

Karena Crystal body deodoran saya sudah mau habis dan mulai agak bosan gitu walaupun produk tersebut belum mengecewakan, saya mencoba iseng mencari review produk deodoran lain yang kira-kira mirip Crystal dan tidak menimbulkan iritasi. Dan pilihan saya jatuh pada Lady Speed Stick ini.

Saya tahu produk ini tidak sengaja muncul di kolom rekomendasi saat mencari di Tokopedia xD. Pas saya coba cari reviewnya ternyata menarik yaudah saya iseng beli. Karena super penasaran dan perbedaan harganya juga, saya akhirnya langsung membeli yang kemasan full.

20180530_112023-COLLAGE

Produk ini dikemas dalam kemasan plastik kokoh warna ungu dengan desain yang mudah digenggam. Menurut beberapa review yang saya temukan sih desain produknya memang dikemas untuk mudah digenggam dengan ukuran yang tidak terlalu besar pas untuk ketiak wanita.

Produk ini memberi klaim 24 jam protection dari keringat dan bau badan. Produk ini juga memiliki klaim bahwa tidak meninggalkan bekas noda pada baju. Produknya sendiri berwarna putih dengan tekstur lembek dan agak lengket. Wanginya cukup segar dan pas sudah diaplikasikan pada ketiak sih aromanya sudah tidak terlalu tercium tapi tetap menimbulkan efek menyegarkan.

IMG_20180530_101820IMG_20180530_101535

Saya pesan ini melalui tokopedia dengan harga saat itu sedang promo menjadi Rp70.000,- untuk kemasan full. Pas barangnya datang, bisa dilihat pada gambar atas, itu di dalam kemasannya stiknya patah. Tidak tahu sih kenapa bisa begitu tapi ya nanti sepertinya bisa saya akali dengan colek menggunakan tangan atau barang lain ketika produk ini sudah tinggal sedikit.

Produk memang berwarna putih, tapi saat saya coba oles ke tangan sama sekali tidak berwarna. Dan meski pas dipegang lengket, tapi pas saya coba oles ke tangan. produk langsung meresap tapi tidak menimbulkan kesan lengket.

Ketika review ini saya tulis, kira-kira sudah dua minggu saya pakai produk ini dan pada dua minggu itu saya sengaja bereksperimen mencoba pakaian berbagai macam warna untuk mengetes apakah produk ini meninggalkan noda di baju atau tidak dan ternyata tidak!

Tapi jenis kain pada pakaian yang saya coba linen dan katun semua sih. Tidak mencoba jenis kain yang lain. Tapi sejauh ini untuk linen dan katun, produk ini tidak meninggalkan bekas.

Untuk klaim menjaga tetap kering selama 24 jam ini tidak terlalu menjanjikan ya. Kebetulan saya kerja di pagi dan siang hari sementara sore sampai malam pukul 10 saya kuliah. Biasanya dalam perjalanan ke kampus, ketiak saya sudah mulai basah. Jadi ya tidak terlalu wow banget hhe.

Untuk keluhan lain apakah menimbulkan iritasi bagi kulit saya….sejauh ini belum ada ya. Soalnya kalau saya gak cocok sama suatu produk, di hari pertama biasanya langsung gatal. Tapi sejauh ini masih baik-baik saja.

Jadi kesimpulan produk ini adalah: cukup baik dan menyenangkan untuk dipakai dengan aroma yang menyegarkan meski tidak sesuai janji untuk menjaga tetap kering selama 24 jam. Sayangnya memang harganya cukup mahal untuk kategori deodoran yang masih menggunakan pewangi, bukan deodoran natural. Oiya, selain membeli dari situs belanja online, ternyata di beberapa Guardian juga menjual produk ini meskipun yang kemarin saya temukan itu varian lain dan yang kemasan kecil. Jika tertarik mencoba mungkin bisa mampir ke Guardian terdekat.

Sampai bertemu di ulasan produk lainnya!